tatkala

 

TEMAN saya, sebut saja bernama Agus, punya profesi yang unik. Profesi utamanya, tengkulak buah-buahan. Profesi sampingannya yang tak kalah utama, pawang hujan.

Di tempat saya tinggal, Agus cukup dikenal sebagai pengusaha buah sukses dan pawang hujan yang tokcer. Apabila punya hajatan, serahkan saja pada Agus. Niscaya hujan tak berani turun.

Portofolio Agus dalam menaklukkan hujan, cukup panjang. Teman-teman saya selalu mempercayakan masalah pencegahan hujan pada Agus. Selain hajatan pribadi, dia juga beberapa kali menangani hajatan pemerintah.

Agus juga dipercaya mengawal hujan saat Iwan Fals konser di Kota Singaraja tahun lalu. Konon saat itu hujan badai nyaris turun. Tapi bukan Agus namanya kalau tak mampu menghalau badai. Dengan seluruh kekuatannya, ia berhasil mencegah hujan.

Berminggu-minggu setelah konser itu selesai, Agus mengaku tidak mandi selama tiga hari. Selama tiga hari pula dia tidak minum air. Bila haus, dia harus makan tape. Butuh seminggu masa pemulihan gara-gara panas dalam.

Saya pernah menggunakan jasanya sekali. Saat resepsi pernikahan. Ketika itu hujan benar-benar tidak turun. Saya tidak tahu, apakah itu karena jasa Agus atau gara-gara resepsi saya lakukan saat musim kemarau.

Selama musim penghujan ini, Agus punya kebiasaan yang bisa dikaitkan dengan gejala alam. Apabila ada jas hujan yang diikat pada tangki atau jok belakang motor Suzuki Thunder miliknya, itu berarti akan turun hujan. Bila tidak ada jas hujan, hari akan terang. Maklum, Agus kan pawang hujan. Masalah turun atau tidaknya hujan, tentu dia ahlinya.

Suatu ketika, pada akhir November lalu, saya dan Agus berencana ke Pos Pengungsian Erupsi Gunung Agung di Desa Les. Agus menawari agar saya berboncengan dengan dia. Ajakan yang langsung saya setujui.

Sebelum berangkat saya sempat melihat awan mendung tebal di arah timur. Tapi saat melirik motor Agus, saya tak mendapati jas hujan terpasang. Artinya, hujan tak akan turun. Jadi buat apa repot-repot bawa jas hujan. Hanya memenuhi tas saja.

Kalau toh turun hujan, saya yakin Agus akan menghalaunya. Kan pawang hujan. Mana mungkin mau basah kuyup kehujanan.

Ternyata tebakan saya salah. Separo perjalanan menuju Desa Les, tepatnya di Desa Pacung, hujan lebat tiba-tiba turun. Agus segera menepikan kendaraan, mencari tempat berteduh.

Saya kira saat itu Agus akan merapal mantra atau mengeluarkan aji-ajian penghalau hujan. Ternyata tebakan saya salah. Agus justru mengeluarkan jas hujan training dari dalam tasnya. Sementara saya terbengong-bengong, karena tidak bawa jas hujan.

Perjalanan pun berlanjut di bawah guyuran hujan. Agus tetap santai karena sudah pakai jas hujan. Saya di belakang basah kuyup menggigil kedinginan. (T)

Amanat dari tulisan ini:

  • Bawalah jas hujan jika naik motor, tak peduli siapa pun yang membonceng
  • Jangan coba-coba menebak kode-kode dari orang sakti jika kesaktian kita belum sederajat dengannya
  • Pawang hujan juga manusia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY