2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ditunggu Karena Makna, Isi Angpao itu Bonus | Cerita Engkong Tentang Imlek

Julio Saputra by Julio Saputra
February 10, 2021
in Esai

Foto koleksi penulis

SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya.

Sebagai warga keturunan Tionghoa, sudah pasti saya merayakan hari terpenting dalam tradisi Cina, yaitu Tahun Baru Cina atau yang biasa disebut Imlek. Tapi, sebagai warga keuturunan juga, saya tak sepenuhnya paham tentang sejumlah hal di hari raya itu, sehingga sejak kecil saya rajin bertanya.

Orang yang menjadi sasaran pertanyaan saya adalah engkong saya. Karena engkong saya-lah di keluarga saya orang Tionghoa tulen, bukan campuran seperti saya.

Pertanyaannya standar-standar saja, seperti pertanyaan anak-anak pada umumnya. Kenapa Imlek dirayakan secara meriah bahkan sudah ditungu-tunggu dan disiapkan jauh-jauh hari sebelum Imlek tiba? Kenapa Imlek itu penting? Kenapa menggunakan ini? Kenapa menggunakan itu dan lain sebagainya?

Misalnya saya melihat berbagai dekorasi dan pernak-pernik khas hari raya berwarna merah, seperti lampion, pohon angpao, ucapan-ucapan selamat tahun baru, atau dekorasi berupa barangsai dan naga. Semua dekorasi tersebut dapat saya jumpai di mana-mana, mulai dari rumah, restorant, bandara, lobi hotel, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Kenapa ya? Kenapa Imlek ditunggu-tunggu? Apakah karena saat Imlek ada pembagian angpao? Atau karena saat Imlek akan ada berbagai hidangan lezat?

Jawaban engkong saya, ya singkat saja. “Semua itu karena makna!” katanya.

Ya, kata engkong, karena makna. Katanya, maknalah yang membuat Imlek itu penting. Katanya, segala sesuatu dalam Imlek memiliki makna. Maknalah yang membuat Imlek penuh sukacita.

Maknalah yang membuat Imlek selalu ditunggu-tunggu, bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus.

Kembali muncul pertanyaan dalam pikiran saya, memang maknanya apa sampai-sampai masyarakat Tionghoa termasuk keluargaku merayakannya dengan sangat bahagia? Maka engkong pun bercerita agak panjang.

Asal Mula Imlek

Kata engkong, Imlek dirayakan untuk memperingati kemenangan manusia melawan hewan mitos bernama Nian. Hewan itu selalu muncul saat hari pertama tahun baru, memakan semua ternak warga, hasil pertanian, bahkan ia juga memakan orang saat itu, terutama anak-anak. Agar mereka semua selamat, orang-orang mulai menaruh sejumlah makanan di depan pintu rumah mereka, berharap Nian akan memakan makanan yang mereka berikan.

Mereka percaya bahwa Nian yang sudah memakan makanan yang di depan rumah tidak akan lagi memangsa ternak mereka. Katanya lagi, pernah ada yang melihat Nian lari ketakutan dan lari dari seorang anak kecil berbaju merah. Sejak itu, orang-orang menggantung lentera atau lampion merah di depan rumah mereka, dan sejak itu pula, Nian tak pernah lagi muncul di desa mereka.

Itulah mengapa warna merah dipercaya dapat mengusir setan atau roh jahat, selain membawa keberuntungan, berkah, dan kesejahteraan, katanya.

Kemudian, engkong melanjutkan dengan makna-makna yang bisa dijumpai saat Imlek. Saya mendengarkan engkong penuh rasa penasaran, dan satupun tidak saya lewatkan. Engkong memberi tahu makna-makna dalam jeruk mandarin, mie, kue keranjang, permen dan manisan, angpao, tebu, dan lampion.

Jeruk Mandarin

Katanya, jeruk mandarin merupakan simbol kekayaan dalam kepercayaan dan budaya Cina. Kenapa? Karena jeruk mandarin terlihat seperti bola-bola emas, dan dalam bahasa mandarin kata jeruk dan emas memilki kesamaan. Engkong juga bercerita bahwa jeruk mandarin sebaiknya dihaturkan atau dihidangkan lengkap dengan daunnya, karena jeruk yang lengkap dengan daunnya dapat menggambarkan keawetan. Orang-orang Tionghoa selalu mengharapkan keawetan.

Mie

Katanya lagi, mie merupakan simbol panjang umur bagi orang-orang Tionghoa. Itulah mengapa mie saat Imlek kerap kali disebut sebagai mie panjang umur, dibuat sepanjang mungkin dengan harapan orang-orang yang memakannya akan memiliki umur yang panjang. Berarti saya harus banyak-banyak makan mie panjang umur agar saya berumur panjang. Hhhmm, saya kan tidak suka mie. Tapi, saya ingat, itulah makna.

Kue Keranjang

Kue keranjang, kata engkong, harus dimakan sebelum memakan nasi dan lauk pauknya. Katanya sebagai sebuah penghargaan agar selalu beruntung dalam melakukan pekerjaan apapun. Kue keranjang selalu disusun bertingkat dan tinggi. Katanya lagi, makin ke atas makin mengecil kue yang disusun. Itu menunjukan peningkatan rezeki dan peningkatan kemakmuran bagi orang-orang Tionghoa. Selain itu, kata engkong lagi, kue keranjang juga bermakan kerekatan hubungan dalam keluarga, persaudaraan bahkan juga pertemanan. Hhmmmm, begitu rupanya.

Permen dan Manisan

“Permen dan Manis tentu rasanya manis,” kata engkong. Saya bergumam dalam hati, “Tentu saja, kalau asin itu namanya asinan Kong, bukan manisan”. Kemudian engkong melanjutkan lagi, permen dan manisan ini katanya mewakili harapan, keingan dan cita-cita orang-orang Tionghoa yang ingin diraih di tahun yang baru. Kenapa manisan? Agar harapan dan cita-cita yang diraih juga terasa manis. Manis dalam artian penuh suka cita.

Angpao

Nah, untuk yang satu ini sebenarnya saya berharap engkong bercerita sambil memberikan satu atau dua angpao ke saya. Katanya, Hongbao (Hong = Merah, Bao = tas, kantung) atau yang lumrah disebut angpao, bermakna hadiah bagi anak-anak karena umur mereka bertambah.

Kalau dulu, katanya anak-anak diberikan yang manis-manis, seperti makanan, manisan dan lain-lain. “Lalu kenapa sekarang uang?” tanyaku lagi.
Katanya, lebih baik memberikan anak-anak uang agar mereka lebih mudah memilih atau membeli hadiah yang mereka inginkan. Angpao juga berwarna merah karena warna merah katanya membawa berkah dan rezeki.

Saya bergumam, “Kalau angapo warna merah isinya juga merah, ya bagus, kalau angpao warna merah tapi isinya warna biru apalagi hijau, kan sedih,”. Namun, saya ingat lagi kata engkong: bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus. Jadi, saya tetap dapat makna, meski bonusnya sedikit.

Tebu

Setiap Imlek, biasanya orang-orang akan memasang pohon tebu di pintu masuk pekarangan rumah meraka. Kata engkong, tebu memilki makna sebagai keberuntungan dan symbol panjang umur. “Semakin panjang dan semakin banyak ruas pada tebu yang kau pakai, semakin beruntung juga kau nanti,” tambah engkong. Tebu juga manis, diharapkan hidup yang dijalani orang Tionghoa juga manis, seperti tebu.

Lampion

Lampion, kata engkong, menggambarkan kebahagian seseorang. Itulah mengapa lampion-lampion tidak hanya ditemukan saat Imlek saja, tetapi juga dalam acara-acara kebahagiaan, seperti pernikahan, peresmian sebuah tempat suci dan lain-lain. Adanya lampion katanya juga diharapkan sebagai penerang jalan orang0orang Tionghoa agar tidak tersesat dalam kegelapan.

Akhirnya saya simpulkan sendiri, Imlek selalu dirayakan penuh sukacita karena ternyata memang karena Imlek penuh makna yang sangat mendalam. Kepercayaannya selalu memiliki nilai yang sangat berharga bagi orang-orang Tionghoa.  Saya tak lagi heran, mengapa Imlek selalu dinanti-nanti orang-orang Tionghoa, karena engkong sudah memberikan jawabannya: penuh makna.

Tentu masih ada banyak makna dalam Imlek yang belum disampaikan engkong. Biarlah nanti saya cari sendiri. Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai. (T)

Baca juga: Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Tags: baliImlekTionghoa
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co