24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prof. Sudiana: KKN Dulu dan Kini Beda, Yang Sama ya Kisah Cinlok

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 9, 2019
in Esai

Kegiatan mahasiswa KKN Undiksha 2016 di Desa Batunya, Baturiti, Tabanan.#Foto: dok Surya Pratama

KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mahasiswa KKN dianggap sangat membantu pembangunan desa. Namun kini, karena banyak desa sudah kaya dan maju, ditambah program pemerintah untuk pembangunan desa berjalan lancar, KKN dipandang dengan picingan mata.

Yang sama dan tak berubah hanya soal pahit-manis cinta lokasi (cinlok). Dari dulu hingga sekarang, cinlok senantiasa memberi warna pada KKN. Tentu, karena cinlok erat kaitan dengan perasaan: cinta segitiga, cinta tak terbalas, pengkhianatan, dan sakit hati. Cinta adalah perasaan yang hakiki dalam diri manusia, sejak manusia zaman batu hingga zaman pokemon.

Apa beda KKN dulu dan sekarang?

Dulu, mahasiswa KKN biasa membantu pembangunan fisik, seperti membantu pembangunan poskamling hingga balai desa. Yang terbanyak mendirikan tapal pembatas desa dan mengecat papan nama di kantor desa. Kini, karena SDM di desa sudah bagus dan dana pembangunan sudah lancar, masyarakat desa bisa membangun balai desa dan tapal batas secara mandiri bahkan membangun pembatas desa dengan pintu gerbang yang sangat megah.

Dulu, mahasiswa KKN biasa ikut mencongkel batu ke sungai atau menambang paras di tebing jurang. Mahasiswa ikut tergopoh-gopoh naik-turun bukit untuk mencari mata air, lalu bergotong-royong pasang pipa agar air bersih bisa mengalir ke desa. Bahkan jika ada warga menggelar upacara adat, seperti menikah atau ngaben, mahasiswa ikut sibuk membantu upacara. Mahasiswa benar-benar menjadi warga desa di mana mereka KKN.  Yang mengesankan, mahasiswa kadang ikut turun ke sawah, membantu petani tanam padi.

Kini, mahasiswa tak perlu capek-capek ikut gotong pipa atau angkut batu dari sungai. Pembangunan fisik di desa kini tak dilakukan secara gotong-royong. Warga tinggal serahkan ke kontraktor. Warga desa tinggal terima beres. Tanam padi kini diserahkan ke buruh tanam padi, dan panen padi diserahkan ke tukang ijon. Beres.

Di sebuah desa di Tabanan, ada warga nyeletuk jika desanya tak perlu mahasiswa KKN. Warga itu menilai desanya sudah maju. “Untuk apa ada mahasiswa KKN, kantor desa sudah meprada, gerbang desa sudah berukir, Pura sudah melengis, Indomaret buka 24 jam, restoran ada, hotel ada, pegawai negeri sudah banyak,” kata warga itu.

Warga itu tentu melihat kemajuan hanya dari pembangunan fisik. Untuk itulah, mahasiswa KKN sekarang memiliki tantangan besar membuat program agar sebuah desa tidak hanya maju secara fisik, melainkan juga secara mental. Perlu kreatifitas tinggi untuk membuat program. Jika tak kreatif, mahasiswa KKN bisa hanya bengong-bengong saja di desa seperti burung bangau main di pohon beringin.

Mantan Rektor Undiksha Singaraja, Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, membenarkan perbedaan yang sangat jauh antara KKN sekarang dengan yang dulu. Sekitar tahun 1976, saat ia masih mahasiswa di FKIP Unud (cikal bakal Undiksha), KKN itu benar-benar ditunggu masyarakat. “Masyarakat menghargai mahasiswa, di sisi lain mahasiswa juga benar-benar membantu masyarakat secara fisik maupun mental,” ujarnya.

Menurutnya benar jika mahasiswa KKN dulu lebih banyak disibukkan dengan kerja fisik. Tapi itu dilakukan dengan senang, karena mahasiswa dulu memang kebanyakan berasal dari desa yang sudah terbiasa naik-turun bukit gotong batu, atau naik-turun sawah bajak tanah. Kini mungkin banyak mahasiswa tak sanggup melakukannya.

Yang beda lagi, dulu mahasiswa KKN gampang mencari bantuan ke pemerintah, baik bantuan material maupun dukungan moral. Selain itu KKN juga dibiayai oleh lembaga kampus. Cari sponsor ke perusahaan swasta pun dapat sambutan yang baik. Kini pemerintah seakan tak rungu dengan KKN. Perusahaan swasta pun kini banyak yang lebih suka menyeponsori festival musik ketimbang pembangunan desa.

Dengan perbedaan seperti itu, kata Sudiana, Undiksha terus mencari terobosan baru agar KKN tetap berguna bagi pembangunan desa. Misalnya sekitar lima tahun lalu, KKN dijadikan program pengentasan buta aksara di semua desa-desa di Bali. Setelah program itu selesai, mahasiswa KKN tetap harus memiliki program untuk mencerdaskan warga desa. Misalnya membuat program pembelajaran bahasa, baik bahasa Bali, Indonesia, maupun Inggris. Selain itu ada juga program seni budaya, pembelajaran berorganisasi, kampanye kebersihan, dan sejenisnya.

Soal cinlok?

“Nah itu sama saja dulu dan sekarang ha ha ha,” kata Sudiana yang kini mengajar di jurusan Bahasa Indonesia.

Bahkan dulu cinlok bisa lebih seru. Dulu KKN berlangsung selama sekitar tiga bulan. Karena alat transportasi dulu tak sebagus sekarang, juga alat telekomunikasi semacam HP belum ada, maka selama tiga bulan penuh mahasiswa ngendon di desa tempat KKN. Jika mau pulang kampung, atau balik ke kampus, atau sekadar nengok pacar, sangat susah. Angkutan umum di desa sulit, apalagi jika desanya terpencil. Mahasiswa dulu juga hampir semuanya tak punya motor.

Dengan kondisi seperti itu mahasiswa beda jurusan yang sebelumnya tak saling kenal itu punya banyak kesempatan dan waktu yang lama untuk bersama-sama. “Banyak yang cinlok sampai menikah dan hidup bahagia hingga sekarang,” kata Sudiana.

Apakah Bapak dan istri hasil cinlok?

“Ah, saya sih nggak…” jawab Sudiana cepat. He he he

Tags: cintakampusKKNmahasiswa
Share327TweetSendShareSend
Previous Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Next Post

Semua Orang Bali Selebritis

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post

Semua Orang Bali Selebritis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co