13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prof. Sudiana: KKN Dulu dan Kini Beda, Yang Sama ya Kisah Cinlok

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 9, 2019
in Esai

Kegiatan mahasiswa KKN Undiksha 2016 di Desa Batunya, Baturiti, Tabanan.#Foto: dok Surya Pratama

KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mahasiswa KKN dianggap sangat membantu pembangunan desa. Namun kini, karena banyak desa sudah kaya dan maju, ditambah program pemerintah untuk pembangunan desa berjalan lancar, KKN dipandang dengan picingan mata.

Yang sama dan tak berubah hanya soal pahit-manis cinta lokasi (cinlok). Dari dulu hingga sekarang, cinlok senantiasa memberi warna pada KKN. Tentu, karena cinlok erat kaitan dengan perasaan: cinta segitiga, cinta tak terbalas, pengkhianatan, dan sakit hati. Cinta adalah perasaan yang hakiki dalam diri manusia, sejak manusia zaman batu hingga zaman pokemon.

Apa beda KKN dulu dan sekarang?

Dulu, mahasiswa KKN biasa membantu pembangunan fisik, seperti membantu pembangunan poskamling hingga balai desa. Yang terbanyak mendirikan tapal pembatas desa dan mengecat papan nama di kantor desa. Kini, karena SDM di desa sudah bagus dan dana pembangunan sudah lancar, masyarakat desa bisa membangun balai desa dan tapal batas secara mandiri bahkan membangun pembatas desa dengan pintu gerbang yang sangat megah.

Dulu, mahasiswa KKN biasa ikut mencongkel batu ke sungai atau menambang paras di tebing jurang. Mahasiswa ikut tergopoh-gopoh naik-turun bukit untuk mencari mata air, lalu bergotong-royong pasang pipa agar air bersih bisa mengalir ke desa. Bahkan jika ada warga menggelar upacara adat, seperti menikah atau ngaben, mahasiswa ikut sibuk membantu upacara. Mahasiswa benar-benar menjadi warga desa di mana mereka KKN.  Yang mengesankan, mahasiswa kadang ikut turun ke sawah, membantu petani tanam padi.

Kini, mahasiswa tak perlu capek-capek ikut gotong pipa atau angkut batu dari sungai. Pembangunan fisik di desa kini tak dilakukan secara gotong-royong. Warga tinggal serahkan ke kontraktor. Warga desa tinggal terima beres. Tanam padi kini diserahkan ke buruh tanam padi, dan panen padi diserahkan ke tukang ijon. Beres.

Di sebuah desa di Tabanan, ada warga nyeletuk jika desanya tak perlu mahasiswa KKN. Warga itu menilai desanya sudah maju. “Untuk apa ada mahasiswa KKN, kantor desa sudah meprada, gerbang desa sudah berukir, Pura sudah melengis, Indomaret buka 24 jam, restoran ada, hotel ada, pegawai negeri sudah banyak,” kata warga itu.

Warga itu tentu melihat kemajuan hanya dari pembangunan fisik. Untuk itulah, mahasiswa KKN sekarang memiliki tantangan besar membuat program agar sebuah desa tidak hanya maju secara fisik, melainkan juga secara mental. Perlu kreatifitas tinggi untuk membuat program. Jika tak kreatif, mahasiswa KKN bisa hanya bengong-bengong saja di desa seperti burung bangau main di pohon beringin.

Mantan Rektor Undiksha Singaraja, Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, membenarkan perbedaan yang sangat jauh antara KKN sekarang dengan yang dulu. Sekitar tahun 1976, saat ia masih mahasiswa di FKIP Unud (cikal bakal Undiksha), KKN itu benar-benar ditunggu masyarakat. “Masyarakat menghargai mahasiswa, di sisi lain mahasiswa juga benar-benar membantu masyarakat secara fisik maupun mental,” ujarnya.

Menurutnya benar jika mahasiswa KKN dulu lebih banyak disibukkan dengan kerja fisik. Tapi itu dilakukan dengan senang, karena mahasiswa dulu memang kebanyakan berasal dari desa yang sudah terbiasa naik-turun bukit gotong batu, atau naik-turun sawah bajak tanah. Kini mungkin banyak mahasiswa tak sanggup melakukannya.

Yang beda lagi, dulu mahasiswa KKN gampang mencari bantuan ke pemerintah, baik bantuan material maupun dukungan moral. Selain itu KKN juga dibiayai oleh lembaga kampus. Cari sponsor ke perusahaan swasta pun dapat sambutan yang baik. Kini pemerintah seakan tak rungu dengan KKN. Perusahaan swasta pun kini banyak yang lebih suka menyeponsori festival musik ketimbang pembangunan desa.

Dengan perbedaan seperti itu, kata Sudiana, Undiksha terus mencari terobosan baru agar KKN tetap berguna bagi pembangunan desa. Misalnya sekitar lima tahun lalu, KKN dijadikan program pengentasan buta aksara di semua desa-desa di Bali. Setelah program itu selesai, mahasiswa KKN tetap harus memiliki program untuk mencerdaskan warga desa. Misalnya membuat program pembelajaran bahasa, baik bahasa Bali, Indonesia, maupun Inggris. Selain itu ada juga program seni budaya, pembelajaran berorganisasi, kampanye kebersihan, dan sejenisnya.

Soal cinlok?

“Nah itu sama saja dulu dan sekarang ha ha ha,” kata Sudiana yang kini mengajar di jurusan Bahasa Indonesia.

Bahkan dulu cinlok bisa lebih seru. Dulu KKN berlangsung selama sekitar tiga bulan. Karena alat transportasi dulu tak sebagus sekarang, juga alat telekomunikasi semacam HP belum ada, maka selama tiga bulan penuh mahasiswa ngendon di desa tempat KKN. Jika mau pulang kampung, atau balik ke kampus, atau sekadar nengok pacar, sangat susah. Angkutan umum di desa sulit, apalagi jika desanya terpencil. Mahasiswa dulu juga hampir semuanya tak punya motor.

Dengan kondisi seperti itu mahasiswa beda jurusan yang sebelumnya tak saling kenal itu punya banyak kesempatan dan waktu yang lama untuk bersama-sama. “Banyak yang cinlok sampai menikah dan hidup bahagia hingga sekarang,” kata Sudiana.

Apakah Bapak dan istri hasil cinlok?

“Ah, saya sih nggak…” jawab Sudiana cepat. He he he

Tags: cintakampusKKNmahasiswa
Share327TweetSendShareSend
Previous Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Next Post

Semua Orang Bali Selebritis

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post

Semua Orang Bali Selebritis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co