30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Tokoh, Dua Cerita Rakyat

Surya Gemilang by Surya Gemilang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 Cerpen: Surya Gemilang

          PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—mata ketiganya terletak di tengah dahi—tak berhidung, dan tak bermulut—pada area di mana seharusnya hidung dan mulut berada, hanyalah terdapat permukaan kulit yang rata.

Pria itu amatlah terkenal di provinsi yang bernama Gopakopa ini. Namun tak ada yang tahu bahwa dirinya ada di dunia nyata, sebab orang-orang hanya mengenalinya melalui salah satu cerita rakyat Gopakopa.

“Jong Arong!” salah seorang gadis yang berada di Taman Palakosa sontak memekikkan nama tokoh cerita rakyat itu ketika Jong Arong melintas beberapa sentimeter di depannya. Namun Jong Arong tak menanggapi pekikan itu; ia terus berjalan lurus.

Lensa-lensa kamera para pengunjung taman begitu liar menelan gambaran dirinya, sementara angin sibuk mengibarkan rambut hitamnya yang lurus, yang panjangnya hampir mencapai pantat. Beberapa pengunjung Taman Palakosa menduga kuat bahwa pria itu adalah salah seorang anggota suatu kelompok seni yang ingin membuat “pertunjukan kejutan”.

Jong Arong pun sampai di titik tengah Taman Palakosa dan berhenti melangkah, kemudian duduk bersila dan memejamkan ketiga matanya—bermeditasi. Orang-orang lalu pada mengerubunginya. Menjauhlah kalian semua dariku! hardik Jong Arong. Karena ia tak mempunyai mulut—dan sering lupa bahwa dirinya tak bermulut—kalimat itu hanya terdengar di batok kepalanya.

Dan, ia semakin panas sebab siraman cahaya dari kamera para pengunjung taman semakin liar menyerbunya, mengganggu konsentrasinya dalam bermeditasi. Mendadak ketiga matanya membelalak. Dengan gerakan cepat, ia berdiri dan menangkap lengan seorang wanita pengunjung taman yang memotretnya dengan kamera ponsel dari jarak yang paling dekat. Ia lantas melempar wanita itu ke atas hingga menembus awan-gemawan dan tak kunjung turun kembali*, seakan gravitasi sudah kadaluarsa.

Orang-orang yang mengerubungi Jong Arong pun menjerit-jerit ketakutan dan berlari menjauhinya secepat mungkin.

***

           “Pada suatu hari, di sebuah desa di bagian barat Gopakopa, hiduplah seorang wanita kaya yang bernama Pon Arong. Wanita itu acap menghina orang-orang yang fisiknya cacat, alih-alih membantu mereka dengan kekayaannya.”

Kurang lebih seperti itulah kalimat pembuka yang terlontar dari mulut para pencerita yang sedang menceritakan cerita rakyat Jong Arong.

Dilanjutkan dengan, “Suaminya yang bernama Ger Arong pun tak berbeda. Karena ketidakterpujian sifat mereka, maka ketika Pon Arong melahirkan, yang keluar dari rahimnya adalah bayi abnormal. Bayi itu bermata tiga—mata ketiganya terletak di tengah dahi—serta tak memiliki hidung dan mulut. Bayi itu diberi nama Jong Arong.”

Sungguh aneh sebab belum pernah ada seorang pendengar cerita rakyat Jong Arong pun yang menanyakan bagaimana cara sang tokoh makan jika tak mempunyai mulut. Seandainya ada yang bertanya seperti itu, pastilah sang pencerita tak bisa menjawab. Jadi, tak perlulah kau menanyakannya.

***

            Berita mengenai Jong Arong yang kini berada di Taman Palakosa—dan sempat melempar seorang wanita ke langit hingga tak kunjung turun kembali—sungguhlah menggegerkan masyarakat Gopakopa.

Apakah berita itu membuat semua orang jadi tak berani berkunjung ke Taman Palakosa? Rupanya tidak. Ada beberapa orang yang malah memutuskan untuk datang ke Taman Palakosa demi melihat Jong Arong secara langsung. Dan, orang-orang itu tidak akan dilempar ke langit—hingga tak kunjung turun kembali—oleh Jong Arong kalau saja mereka menjaga jarak dan tidak mengganggunya dengan siraman cahaya putih dari kamera masing-masing.

Apakah setelah kejadian itu tak ada lagi yang berani berkunjung ke Taman Palakosa? Tidak juga. Pada suatu pagi, aparat keamanan dikerahkan untuk mengamankan Jong Arong—yang sedang bermeditasi. Kemudian, mereka yang hendak mengamankan Jong Arong pun pada dilempar ke langit, hingga tak kunjung turun kembali pula.

***

            Tak jauh dari desa tempat Jong Arong dan keluarganya tinggal, terdapat sebuah gunung yang dinamai Kabut oleh masyarakat setempat, tiada lain karena gunung itu diselimuti oleh kabut mahatebal. Jangankan puncaknya, kakinya pun sulit untuk dijelajahi karena adanya kabut itu. Belum ada seorang pendaki pun yang pulang setelah menembus tirai kabut di Gunung Kabut; entah mereka mati atau …

Ketika masih anak-anak, Jong Arong selalu diusili oleh anak-anak yang lain karena dirinya tampak begitu buruk, melebihi para penderita cacat. Pon Arong dan Ger Arong tak pernah membelanya, bahkan memedulikannya pun tidak, sebab sepasang suami-istri itu sesungguhnya merasa malu akan anak mereka dan sebisa mungkin menunjukkan kepada orang-orang bahwa Jong Arong bukanlah bagian dari keluarga mereka—meski orang-orang sudah (terlanjur) mengetahui kenyataannya.

Suatu malam, Jong Arong mendapat bisikan dari kekosongan. Kekosongan menyuruhnya pergi ke puncak Gunung Kabut. Ia merasa bisikan itu harus diikuti sebab tiap kali ia mencoba untuk mengabaikannya, mendadak kepalanya terasa amat sakit.

Ketika Jong Arong mengintip ke luar melalui jendela kamarnya, betapa terkejutnya ia karena dirinya dapat melihat keseluruhan Gunung Kabut dengan amat jelas, meski gunung itu diselimuti oleh kegelapan—selain kabut mahatebal. Konon, mata ketiganya—yang terdapat di tengah dahinya—itu mendadak sakti sehingga dapat melihat menembus kabut dan kegelapan.

Maka, malam itu pula, Jong Arong berangkat ke puncak Gunung Kabut. Sesampainya ia di puncak Gunung Kabut, kekosongan membisikinya lagi, menyuruhnya bertapa selama puluhan tahun. Jong Arong menurut; itulah kenapa ia tak pulang selama puluhan tahun—toh, kedua orangtuanya bahagia dengan kepergiannya, sementara yang lainnya pada tak peduli.

Alih-alih mengurus, tubuh Jong Arong malah mengekar. Bahkan rambutnya tidak menjadi gimbal, melainkan lurus, sehitam malam, dan halus. Selain itu, Jong Arong diberikan kekuatan fisik yang sangat dahsyat oleh dewa yang berkenan dengan tapanya!

Ketika Jong Arong kembali ke desa tempat dirinya dilahirkan, ia langsung menghancurkan sekujur desa itu beserta para penduduknya demi melampiaskan rasa sakit hati yang lama terpendam, lantas menghilang entah ke mana.

Kini, tempat di mana seharusnya desa itu berada telah menjadi sebuah danau angker.

***

             Senja itu, seorang lelaki bertubuh kerempeng terlihat menghampiri Jong Arong yang masih bermeditasi.

“Wah! Berani sekali orang itu!” seru seseorang.

“Dia sedang cari mati!”

“Hei! Hati-hati!”

“Mundur! Mundur!”

“Jangan gegabah!”

“Awas!!!”

Lelaki kerempeng itu berhenti empat meter di depan Jong Arong, lalu membusungkan dadanya. Orang-orang semakin heboh ketika tiba-tiba saja sekujur tubuh sang lelaki kerempeng diliputi kobaran api, namun ia maupun pakaiannya tak kunjung gosong. Sadarlah orang-orang bahwa ia adalah …

“Kon Tenga!” seorang wanita memekik.

“Si Manusia Api ternyata benar-benar ada di dunia nyata, sebagaimana Jong Arong!” seorang pria tua berseru.

***

            Selain cerita rakyat Jong Arong, ada pula cerita rakyat Kon Tenga yang tak kalah populernya di Provinsi Gopakopa.

Kedua orangtua Kon Tenga adalah penyihir jahat yang menumbalkan Kon Tenga bayi dalam sebuah ritual; ia dilemparkan ke sebuah sumur yang penuh oleh kobaran api. Sayang, ritual tersebut gagal; kedua orangtua Kon Tenga mati, sebagaimana api yang berkobar-kobar di dalam sumur itu, tetapi tidak dengan Kon Tenga bayi. Keesokan harinya, ia dipungut oleh dua orang petani—sepasang suami-istri—miskin yang kebetulan lewat dan mendengar tangisannya yang berasal dari dasar sumur.

Kon Tenga diketahui memiliki kekuatan istimewa—memunculkan kobaran api dari tubuhnya—ketika ia berusia 7 tahun.

Di akhir cerita, Kon Tenga, yang sudah hampir dewasa, membakar ayah dan ibu tirinya karena ia marah akibat sedari kecil diperintahkan terus untuk membakar ladang milik petani-petani lain sehingga jumlah segala hasil ladang di pasar menipis drastis, dan kedua orangtua tirinya dapat menjual hasil ladang mereka dengan harga selangit—dan pasti laku.

***

            “Pergilah dari sini, Jong Arong!” bentak Kon Tenga. “Aku juga ingin bermeditasi di titik tengah taman ini! Kalau kau tidak mau pergi, ayo kita bertarung!”

Mendadak ketiga mata Jong Arong membelalak.

***

            Aku adalah seorang astronaut. Hari ini, dari ruang angkasa, aku menyaksikan Bumi meledak laksana balon pecah!

Catatan:

*) Meminjam salah satu adegan di novel Kitab Omong Kosong (Bentang Pustaka, 2004) karya Seno Gumira Ajidarma.

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Warna-warni KKN: Cinlok dan Uji Kesetiaan

Next Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co