21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Tokoh, Dua Cerita Rakyat

Surya Gemilang by Surya Gemilang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 Cerpen: Surya Gemilang

          PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—mata ketiganya terletak di tengah dahi—tak berhidung, dan tak bermulut—pada area di mana seharusnya hidung dan mulut berada, hanyalah terdapat permukaan kulit yang rata.

Pria itu amatlah terkenal di provinsi yang bernama Gopakopa ini. Namun tak ada yang tahu bahwa dirinya ada di dunia nyata, sebab orang-orang hanya mengenalinya melalui salah satu cerita rakyat Gopakopa.

“Jong Arong!” salah seorang gadis yang berada di Taman Palakosa sontak memekikkan nama tokoh cerita rakyat itu ketika Jong Arong melintas beberapa sentimeter di depannya. Namun Jong Arong tak menanggapi pekikan itu; ia terus berjalan lurus.

Lensa-lensa kamera para pengunjung taman begitu liar menelan gambaran dirinya, sementara angin sibuk mengibarkan rambut hitamnya yang lurus, yang panjangnya hampir mencapai pantat. Beberapa pengunjung Taman Palakosa menduga kuat bahwa pria itu adalah salah seorang anggota suatu kelompok seni yang ingin membuat “pertunjukan kejutan”.

Jong Arong pun sampai di titik tengah Taman Palakosa dan berhenti melangkah, kemudian duduk bersila dan memejamkan ketiga matanya—bermeditasi. Orang-orang lalu pada mengerubunginya. Menjauhlah kalian semua dariku! hardik Jong Arong. Karena ia tak mempunyai mulut—dan sering lupa bahwa dirinya tak bermulut—kalimat itu hanya terdengar di batok kepalanya.

Dan, ia semakin panas sebab siraman cahaya dari kamera para pengunjung taman semakin liar menyerbunya, mengganggu konsentrasinya dalam bermeditasi. Mendadak ketiga matanya membelalak. Dengan gerakan cepat, ia berdiri dan menangkap lengan seorang wanita pengunjung taman yang memotretnya dengan kamera ponsel dari jarak yang paling dekat. Ia lantas melempar wanita itu ke atas hingga menembus awan-gemawan dan tak kunjung turun kembali*, seakan gravitasi sudah kadaluarsa.

Orang-orang yang mengerubungi Jong Arong pun menjerit-jerit ketakutan dan berlari menjauhinya secepat mungkin.

***

           “Pada suatu hari, di sebuah desa di bagian barat Gopakopa, hiduplah seorang wanita kaya yang bernama Pon Arong. Wanita itu acap menghina orang-orang yang fisiknya cacat, alih-alih membantu mereka dengan kekayaannya.”

Kurang lebih seperti itulah kalimat pembuka yang terlontar dari mulut para pencerita yang sedang menceritakan cerita rakyat Jong Arong.

Dilanjutkan dengan, “Suaminya yang bernama Ger Arong pun tak berbeda. Karena ketidakterpujian sifat mereka, maka ketika Pon Arong melahirkan, yang keluar dari rahimnya adalah bayi abnormal. Bayi itu bermata tiga—mata ketiganya terletak di tengah dahi—serta tak memiliki hidung dan mulut. Bayi itu diberi nama Jong Arong.”

Sungguh aneh sebab belum pernah ada seorang pendengar cerita rakyat Jong Arong pun yang menanyakan bagaimana cara sang tokoh makan jika tak mempunyai mulut. Seandainya ada yang bertanya seperti itu, pastilah sang pencerita tak bisa menjawab. Jadi, tak perlulah kau menanyakannya.

***

            Berita mengenai Jong Arong yang kini berada di Taman Palakosa—dan sempat melempar seorang wanita ke langit hingga tak kunjung turun kembali—sungguhlah menggegerkan masyarakat Gopakopa.

Apakah berita itu membuat semua orang jadi tak berani berkunjung ke Taman Palakosa? Rupanya tidak. Ada beberapa orang yang malah memutuskan untuk datang ke Taman Palakosa demi melihat Jong Arong secara langsung. Dan, orang-orang itu tidak akan dilempar ke langit—hingga tak kunjung turun kembali—oleh Jong Arong kalau saja mereka menjaga jarak dan tidak mengganggunya dengan siraman cahaya putih dari kamera masing-masing.

Apakah setelah kejadian itu tak ada lagi yang berani berkunjung ke Taman Palakosa? Tidak juga. Pada suatu pagi, aparat keamanan dikerahkan untuk mengamankan Jong Arong—yang sedang bermeditasi. Kemudian, mereka yang hendak mengamankan Jong Arong pun pada dilempar ke langit, hingga tak kunjung turun kembali pula.

***

            Tak jauh dari desa tempat Jong Arong dan keluarganya tinggal, terdapat sebuah gunung yang dinamai Kabut oleh masyarakat setempat, tiada lain karena gunung itu diselimuti oleh kabut mahatebal. Jangankan puncaknya, kakinya pun sulit untuk dijelajahi karena adanya kabut itu. Belum ada seorang pendaki pun yang pulang setelah menembus tirai kabut di Gunung Kabut; entah mereka mati atau …

Ketika masih anak-anak, Jong Arong selalu diusili oleh anak-anak yang lain karena dirinya tampak begitu buruk, melebihi para penderita cacat. Pon Arong dan Ger Arong tak pernah membelanya, bahkan memedulikannya pun tidak, sebab sepasang suami-istri itu sesungguhnya merasa malu akan anak mereka dan sebisa mungkin menunjukkan kepada orang-orang bahwa Jong Arong bukanlah bagian dari keluarga mereka—meski orang-orang sudah (terlanjur) mengetahui kenyataannya.

Suatu malam, Jong Arong mendapat bisikan dari kekosongan. Kekosongan menyuruhnya pergi ke puncak Gunung Kabut. Ia merasa bisikan itu harus diikuti sebab tiap kali ia mencoba untuk mengabaikannya, mendadak kepalanya terasa amat sakit.

Ketika Jong Arong mengintip ke luar melalui jendela kamarnya, betapa terkejutnya ia karena dirinya dapat melihat keseluruhan Gunung Kabut dengan amat jelas, meski gunung itu diselimuti oleh kegelapan—selain kabut mahatebal. Konon, mata ketiganya—yang terdapat di tengah dahinya—itu mendadak sakti sehingga dapat melihat menembus kabut dan kegelapan.

Maka, malam itu pula, Jong Arong berangkat ke puncak Gunung Kabut. Sesampainya ia di puncak Gunung Kabut, kekosongan membisikinya lagi, menyuruhnya bertapa selama puluhan tahun. Jong Arong menurut; itulah kenapa ia tak pulang selama puluhan tahun—toh, kedua orangtuanya bahagia dengan kepergiannya, sementara yang lainnya pada tak peduli.

Alih-alih mengurus, tubuh Jong Arong malah mengekar. Bahkan rambutnya tidak menjadi gimbal, melainkan lurus, sehitam malam, dan halus. Selain itu, Jong Arong diberikan kekuatan fisik yang sangat dahsyat oleh dewa yang berkenan dengan tapanya!

Ketika Jong Arong kembali ke desa tempat dirinya dilahirkan, ia langsung menghancurkan sekujur desa itu beserta para penduduknya demi melampiaskan rasa sakit hati yang lama terpendam, lantas menghilang entah ke mana.

Kini, tempat di mana seharusnya desa itu berada telah menjadi sebuah danau angker.

***

             Senja itu, seorang lelaki bertubuh kerempeng terlihat menghampiri Jong Arong yang masih bermeditasi.

“Wah! Berani sekali orang itu!” seru seseorang.

“Dia sedang cari mati!”

“Hei! Hati-hati!”

“Mundur! Mundur!”

“Jangan gegabah!”

“Awas!!!”

Lelaki kerempeng itu berhenti empat meter di depan Jong Arong, lalu membusungkan dadanya. Orang-orang semakin heboh ketika tiba-tiba saja sekujur tubuh sang lelaki kerempeng diliputi kobaran api, namun ia maupun pakaiannya tak kunjung gosong. Sadarlah orang-orang bahwa ia adalah …

“Kon Tenga!” seorang wanita memekik.

“Si Manusia Api ternyata benar-benar ada di dunia nyata, sebagaimana Jong Arong!” seorang pria tua berseru.

***

            Selain cerita rakyat Jong Arong, ada pula cerita rakyat Kon Tenga yang tak kalah populernya di Provinsi Gopakopa.

Kedua orangtua Kon Tenga adalah penyihir jahat yang menumbalkan Kon Tenga bayi dalam sebuah ritual; ia dilemparkan ke sebuah sumur yang penuh oleh kobaran api. Sayang, ritual tersebut gagal; kedua orangtua Kon Tenga mati, sebagaimana api yang berkobar-kobar di dalam sumur itu, tetapi tidak dengan Kon Tenga bayi. Keesokan harinya, ia dipungut oleh dua orang petani—sepasang suami-istri—miskin yang kebetulan lewat dan mendengar tangisannya yang berasal dari dasar sumur.

Kon Tenga diketahui memiliki kekuatan istimewa—memunculkan kobaran api dari tubuhnya—ketika ia berusia 7 tahun.

Di akhir cerita, Kon Tenga, yang sudah hampir dewasa, membakar ayah dan ibu tirinya karena ia marah akibat sedari kecil diperintahkan terus untuk membakar ladang milik petani-petani lain sehingga jumlah segala hasil ladang di pasar menipis drastis, dan kedua orangtua tirinya dapat menjual hasil ladang mereka dengan harga selangit—dan pasti laku.

***

            “Pergilah dari sini, Jong Arong!” bentak Kon Tenga. “Aku juga ingin bermeditasi di titik tengah taman ini! Kalau kau tidak mau pergi, ayo kita bertarung!”

Mendadak ketiga mata Jong Arong membelalak.

***

            Aku adalah seorang astronaut. Hari ini, dari ruang angkasa, aku menyaksikan Bumi meledak laksana balon pecah!

Catatan:

*) Meminjam salah satu adegan di novel Kitab Omong Kosong (Bentang Pustaka, 2004) karya Seno Gumira Ajidarma.

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Warna-warni KKN: Cinlok dan Uji Kesetiaan

Next Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co