10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Tokoh, Dua Cerita Rakyat

Surya Gemilang by Surya Gemilang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 Cerpen: Surya Gemilang

          PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—mata ketiganya terletak di tengah dahi—tak berhidung, dan tak bermulut—pada area di mana seharusnya hidung dan mulut berada, hanyalah terdapat permukaan kulit yang rata.

Pria itu amatlah terkenal di provinsi yang bernama Gopakopa ini. Namun tak ada yang tahu bahwa dirinya ada di dunia nyata, sebab orang-orang hanya mengenalinya melalui salah satu cerita rakyat Gopakopa.

“Jong Arong!” salah seorang gadis yang berada di Taman Palakosa sontak memekikkan nama tokoh cerita rakyat itu ketika Jong Arong melintas beberapa sentimeter di depannya. Namun Jong Arong tak menanggapi pekikan itu; ia terus berjalan lurus.

Lensa-lensa kamera para pengunjung taman begitu liar menelan gambaran dirinya, sementara angin sibuk mengibarkan rambut hitamnya yang lurus, yang panjangnya hampir mencapai pantat. Beberapa pengunjung Taman Palakosa menduga kuat bahwa pria itu adalah salah seorang anggota suatu kelompok seni yang ingin membuat “pertunjukan kejutan”.

Jong Arong pun sampai di titik tengah Taman Palakosa dan berhenti melangkah, kemudian duduk bersila dan memejamkan ketiga matanya—bermeditasi. Orang-orang lalu pada mengerubunginya. Menjauhlah kalian semua dariku! hardik Jong Arong. Karena ia tak mempunyai mulut—dan sering lupa bahwa dirinya tak bermulut—kalimat itu hanya terdengar di batok kepalanya.

Dan, ia semakin panas sebab siraman cahaya dari kamera para pengunjung taman semakin liar menyerbunya, mengganggu konsentrasinya dalam bermeditasi. Mendadak ketiga matanya membelalak. Dengan gerakan cepat, ia berdiri dan menangkap lengan seorang wanita pengunjung taman yang memotretnya dengan kamera ponsel dari jarak yang paling dekat. Ia lantas melempar wanita itu ke atas hingga menembus awan-gemawan dan tak kunjung turun kembali*, seakan gravitasi sudah kadaluarsa.

Orang-orang yang mengerubungi Jong Arong pun menjerit-jerit ketakutan dan berlari menjauhinya secepat mungkin.

***

           “Pada suatu hari, di sebuah desa di bagian barat Gopakopa, hiduplah seorang wanita kaya yang bernama Pon Arong. Wanita itu acap menghina orang-orang yang fisiknya cacat, alih-alih membantu mereka dengan kekayaannya.”

Kurang lebih seperti itulah kalimat pembuka yang terlontar dari mulut para pencerita yang sedang menceritakan cerita rakyat Jong Arong.

Dilanjutkan dengan, “Suaminya yang bernama Ger Arong pun tak berbeda. Karena ketidakterpujian sifat mereka, maka ketika Pon Arong melahirkan, yang keluar dari rahimnya adalah bayi abnormal. Bayi itu bermata tiga—mata ketiganya terletak di tengah dahi—serta tak memiliki hidung dan mulut. Bayi itu diberi nama Jong Arong.”

Sungguh aneh sebab belum pernah ada seorang pendengar cerita rakyat Jong Arong pun yang menanyakan bagaimana cara sang tokoh makan jika tak mempunyai mulut. Seandainya ada yang bertanya seperti itu, pastilah sang pencerita tak bisa menjawab. Jadi, tak perlulah kau menanyakannya.

***

            Berita mengenai Jong Arong yang kini berada di Taman Palakosa—dan sempat melempar seorang wanita ke langit hingga tak kunjung turun kembali—sungguhlah menggegerkan masyarakat Gopakopa.

Apakah berita itu membuat semua orang jadi tak berani berkunjung ke Taman Palakosa? Rupanya tidak. Ada beberapa orang yang malah memutuskan untuk datang ke Taman Palakosa demi melihat Jong Arong secara langsung. Dan, orang-orang itu tidak akan dilempar ke langit—hingga tak kunjung turun kembali—oleh Jong Arong kalau saja mereka menjaga jarak dan tidak mengganggunya dengan siraman cahaya putih dari kamera masing-masing.

Apakah setelah kejadian itu tak ada lagi yang berani berkunjung ke Taman Palakosa? Tidak juga. Pada suatu pagi, aparat keamanan dikerahkan untuk mengamankan Jong Arong—yang sedang bermeditasi. Kemudian, mereka yang hendak mengamankan Jong Arong pun pada dilempar ke langit, hingga tak kunjung turun kembali pula.

***

            Tak jauh dari desa tempat Jong Arong dan keluarganya tinggal, terdapat sebuah gunung yang dinamai Kabut oleh masyarakat setempat, tiada lain karena gunung itu diselimuti oleh kabut mahatebal. Jangankan puncaknya, kakinya pun sulit untuk dijelajahi karena adanya kabut itu. Belum ada seorang pendaki pun yang pulang setelah menembus tirai kabut di Gunung Kabut; entah mereka mati atau …

Ketika masih anak-anak, Jong Arong selalu diusili oleh anak-anak yang lain karena dirinya tampak begitu buruk, melebihi para penderita cacat. Pon Arong dan Ger Arong tak pernah membelanya, bahkan memedulikannya pun tidak, sebab sepasang suami-istri itu sesungguhnya merasa malu akan anak mereka dan sebisa mungkin menunjukkan kepada orang-orang bahwa Jong Arong bukanlah bagian dari keluarga mereka—meski orang-orang sudah (terlanjur) mengetahui kenyataannya.

Suatu malam, Jong Arong mendapat bisikan dari kekosongan. Kekosongan menyuruhnya pergi ke puncak Gunung Kabut. Ia merasa bisikan itu harus diikuti sebab tiap kali ia mencoba untuk mengabaikannya, mendadak kepalanya terasa amat sakit.

Ketika Jong Arong mengintip ke luar melalui jendela kamarnya, betapa terkejutnya ia karena dirinya dapat melihat keseluruhan Gunung Kabut dengan amat jelas, meski gunung itu diselimuti oleh kegelapan—selain kabut mahatebal. Konon, mata ketiganya—yang terdapat di tengah dahinya—itu mendadak sakti sehingga dapat melihat menembus kabut dan kegelapan.

Maka, malam itu pula, Jong Arong berangkat ke puncak Gunung Kabut. Sesampainya ia di puncak Gunung Kabut, kekosongan membisikinya lagi, menyuruhnya bertapa selama puluhan tahun. Jong Arong menurut; itulah kenapa ia tak pulang selama puluhan tahun—toh, kedua orangtuanya bahagia dengan kepergiannya, sementara yang lainnya pada tak peduli.

Alih-alih mengurus, tubuh Jong Arong malah mengekar. Bahkan rambutnya tidak menjadi gimbal, melainkan lurus, sehitam malam, dan halus. Selain itu, Jong Arong diberikan kekuatan fisik yang sangat dahsyat oleh dewa yang berkenan dengan tapanya!

Ketika Jong Arong kembali ke desa tempat dirinya dilahirkan, ia langsung menghancurkan sekujur desa itu beserta para penduduknya demi melampiaskan rasa sakit hati yang lama terpendam, lantas menghilang entah ke mana.

Kini, tempat di mana seharusnya desa itu berada telah menjadi sebuah danau angker.

***

             Senja itu, seorang lelaki bertubuh kerempeng terlihat menghampiri Jong Arong yang masih bermeditasi.

“Wah! Berani sekali orang itu!” seru seseorang.

“Dia sedang cari mati!”

“Hei! Hati-hati!”

“Mundur! Mundur!”

“Jangan gegabah!”

“Awas!!!”

Lelaki kerempeng itu berhenti empat meter di depan Jong Arong, lalu membusungkan dadanya. Orang-orang semakin heboh ketika tiba-tiba saja sekujur tubuh sang lelaki kerempeng diliputi kobaran api, namun ia maupun pakaiannya tak kunjung gosong. Sadarlah orang-orang bahwa ia adalah …

“Kon Tenga!” seorang wanita memekik.

“Si Manusia Api ternyata benar-benar ada di dunia nyata, sebagaimana Jong Arong!” seorang pria tua berseru.

***

            Selain cerita rakyat Jong Arong, ada pula cerita rakyat Kon Tenga yang tak kalah populernya di Provinsi Gopakopa.

Kedua orangtua Kon Tenga adalah penyihir jahat yang menumbalkan Kon Tenga bayi dalam sebuah ritual; ia dilemparkan ke sebuah sumur yang penuh oleh kobaran api. Sayang, ritual tersebut gagal; kedua orangtua Kon Tenga mati, sebagaimana api yang berkobar-kobar di dalam sumur itu, tetapi tidak dengan Kon Tenga bayi. Keesokan harinya, ia dipungut oleh dua orang petani—sepasang suami-istri—miskin yang kebetulan lewat dan mendengar tangisannya yang berasal dari dasar sumur.

Kon Tenga diketahui memiliki kekuatan istimewa—memunculkan kobaran api dari tubuhnya—ketika ia berusia 7 tahun.

Di akhir cerita, Kon Tenga, yang sudah hampir dewasa, membakar ayah dan ibu tirinya karena ia marah akibat sedari kecil diperintahkan terus untuk membakar ladang milik petani-petani lain sehingga jumlah segala hasil ladang di pasar menipis drastis, dan kedua orangtua tirinya dapat menjual hasil ladang mereka dengan harga selangit—dan pasti laku.

***

            “Pergilah dari sini, Jong Arong!” bentak Kon Tenga. “Aku juga ingin bermeditasi di titik tengah taman ini! Kalau kau tidak mau pergi, ayo kita bertarung!”

Mendadak ketiga mata Jong Arong membelalak.

***

            Aku adalah seorang astronaut. Hari ini, dari ruang angkasa, aku menyaksikan Bumi meledak laksana balon pecah!

Catatan:

*) Meminjam salah satu adegan di novel Kitab Omong Kosong (Bentang Pustaka, 2004) karya Seno Gumira Ajidarma.

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Warna-warni KKN: Cinlok dan Uji Kesetiaan

Next Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co