23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cita-cita Toya Bungkah, Cita-cita Kebudayaan Bangsa Indonesia

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
April 8, 2019
in Esai
Cita-cita Toya Bungkah, Cita-cita Kebudayaan Bangsa Indonesia

Toyabungkah. (Foto: FB/Kurnia Effendi)

Tahun 1938, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) mengunjungi Kintamani untuk pertamakalinya ditemani sastrawan Panji Tisna. Rupanya mereka mengunjungi Toya Bungkah (kadang ditulis Toyabungkah), yang ketika itu masih perladangan dengan topografi tanah yang landai di kaki gugusan perbukitan Kintamani. Posisinya berhadapan-hadapan dengan desa Trunyan yang mempunyai tradisi “merawat mayat” berusia 10 abad di seberang Danau Batur.

Di bawah suhu pegunungan yang sejuk, Toya Bungkah yang mempunyai banyak sumber air panas alami, tampak istimewa karena seakan – akan menjadi simbol perpaduan dua kutub energi: panas dan dingin. Sementara keberadaan budaya Bali Aga (budaya pegunungan atau budaya Bali mula) di seberang danaunya yang tenang, menghadirkan suatu panorama waktu yang ideal bagi seorang perenung. Tradisi-tradisi Bali Aga yang masih tetap bertahan di Trunyan itu, yang siginifikan berbeda dengan tradisi besar di bagian selatan, seakan menampilkan sisi waktu yang lain di pulau Bali, yakni “waktu statis”, sebagai padanan dari waktu Bali yang dinamis.

Bagi seorang sastrawan, filsuf dan futurolog seperti STA, lanskap yang seperti itu pastilah sangat menarik. Terbukti, tiga puluh dua tahun kemudian, ia kembali mengunjungi Toya Bungkah, membeli sehamparan tanah di lerengnya dan kemudian mendirikan Balai Seni Toya Bungkah pada tahun 1973.

Tidak banyak sastrawan maupun pengamat seni yang tertarik pada topik STA berkaitan dengan gagasannya mendirikan Balai Seni Toya Bungkah itu. Lain dengan Siti Zainon Ismail, penyair Malaysia yang melihat Toya Bungkah sebagai titik balik dalam perjalanan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana. Secara khusus, ia menulis sajak berjudul  “Nafas Toyabungkah – di Taman Pak Takdir” sebagai bentuk interpretasinya atas sosok STA yang kontroversial itu.

…

kau lihat batu-batu cadas itu

yang dibentuk oleh api dan air

atau pohon kembali

mengenal akar,

setia nelayan

memintal lumut di hujung kail

mujahir danau

tiba-tiba muncul setelah kebakaran

Ditulis pada 1985, sajak ini mencoba merekam sisi dialektika dari dunia batin STA melalui pemandangan sehari-hari di Toya Bungkah. Yakni pemandangan hidup yang bersumber dari ketenangan masa lampau, warisan masyarakat pra Indonesia, yang selama ini dikecam STA kurang “mendayagunakan otak lantaran terbiasa menjadi sleursmans, manusia yang hamba kebiasaan”. [1]  

Apakah dengan demikian, Toya Bungkah dapat dikatakan sebuah titik balik dari pemikiran STA tentang kemajuan? Bila mengikut kerangka interpretasi Siti Zainon tentu jawabnya adalah iya. Tetapi perlu diingat, STA sendiri menolak disebut telah mengubah pendirian awalnya mengenai cita-cita kemajuan kebudayaan Indonesia.  Dalam sebuah  esai yang ditulisnya pada 1982, ia menekankan kembali pentingnya muncul suatu avangart baru di dalam kebudayaan. Dan itu mestilah diikuti kaum seniman, lebih-lebih kaum sasterawan dalam rekonstruksi kehidupan pribadi, masyarakat dan kebudayaan yang baru… yang bahu membahu bekerja dengan ahli-ahli ekonomi, politik, agama, dan pemimpin-pemimpin masyarakat[2]

Ia menolak spesialisasi di lapangan kebudayaan. Karena kerisis yang melanda manusia kontemporer menurutnya memerlukan peninjauan menyeluruh serta global pula sifatnya, tidak dapat dijawab oleh spesialisma. Dalam visi seperti ini pula Balai Seni Toya Bungkah digagas, yang makin ditegaskannya dengan mendirikan International Association of Art and the Future pada 1978 bersama masyarakat intelek dan seni internasional.

Dapat dikatakan Balai Seni Toya Bungkah merupakan titik kulminasi dalam perjalanan pemikiran dan perenungan STA selaku seorang visioner kebangsaan dan kebudayaan. Di samping tujuan untuk menciptakan avangart budaya,  ia sekaligus merepresentasikan STA selaku manusia nusantara yang tidak dapat disedot sepenuhnya oleh modernisme dan westernisasi, tetapi ingin menjadi bagian aktif dan progresif dalam tataran global.  Di sisi lain, gagasan pendirian  Balai Seni Toya Bungkah, bukan pula merupakan suatu perangkap tradisional yang hendak menjerat kita dalam romantika masa lalu belaka. Yang dulu, yang sekarang, yang nanti justru berpadu di situ. STA mewujudkannya melalui cita-cita seni yang bercorak eksperimental, dengan mengelaborasi lalu mengkolaborasikan sisi-sisi paling original, mutual dan penuh visi dari sebuah pencapaian seni. Baik yang tradisi maupun yang kontemporer.

Barangkali karena itu pula ia memilih puisi untuk dieksperimentasi dengan tarian saat mengundang Ni Ketut Reneng (yang maestro tari tradisi) mencipta dan melatih di Toya Bungkah. Sebab bagaimanapun kekuatan puisi yang mampu mensublimasi ragam peristiwa dari ragam lapangan kehidupan dalam satu memontum estetika yang unik, juga terdapat dalam seni tari dan seni masa lampau kita. Dalam hal ini, Ni Reneng tentu sosok yang sangat tepat karena taksu masa lampau yang hidup di dalam dirinya.

Terlepas dari tidak ada pernyataan eksplisit mengenai pengaruh Ni Reneng dalam kehidupan pemikiran STA, kita tetap dapat menjangka, bahwa melalui Ni Reneng, STA telah melihat sepirit seni Bali yang memenuhi kriterianya perihal “seni yang bertanggungjawab kepada masyarakat dan keindahan itu sendiri”.

Tak pelak, sajak Siti Zainon Ismail juga menyiratkan hal itu, sebagaimana tampak dalam bait di bawah ini:

ketika seniman tua itu mengumpul batu-batu

mengatur kemboja di halaman

keinginan yang hangat, apakah kita

yang muda hanya terpukau

kagum lalu melupakan?

Malam itu

kusimpul senyum Nyi Gadung

kenangan masa lalunya

ada ilmu yang harus kusimpulkan

benarkan cahaya itu merimbas

hingga darahku

memercik ke danaumu!

Kritikus Dami N.Toda mengira bahwa sosok yang dimaksud bait tersebut adalah STA di masa tuanya (Dewan Sastera, Oktober 2002). Tetapi saya lebih suka melihat figur itu sebagai sosok simbolik yang mewakil “taksu masa lalu”, kepada siapa si aku menemukan keinginan yang hangat itu, dan perlu menyimpul ilmu demi membenarkan cahaya yang merimbas itu. Tak terkecuali bagi seorang STA tentunya.

Toya Bungkah yang terpencil di hulu Kintamani itu, kini memang terabaikan seperti cita dan cinta yang belum kesampaian. Sebagian lahannya mungkin sudah dialihguna, papan mereknya tertutup semak, dan panggung, properti serta buku-buku di perpustakaan sudah dimakan rayap. Namun gagasan pendiriannya layak direfleksi, sebuah monumen visi yang penting dalam usaha menemukan karakter kemajuan kebudayaan Indonesia.


[1] STA, Semboyan Yang Tegas

Kritik terhadap beberapa prae-advies Kongres Permusyarawarat Perguran  Indonesia. Lampiran pada buku Sang Pujangga. Terbitan Pustaka Pelajar. 2005

[2] Ilmu Dan Budaya 4/TH.IV/Juli 1982

Tags: baliBanglikebudayaanKintamanisastraSutan Takdir AlisyahbanaToyabungkah
Share100TweetSendShareSend
Previous Post

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Next Post

Kisah Caleg Perjuangkan Bebotoh dan Legalkan Tajen: Bukan Kampanye Buduh-buduhan

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Caleg Perjuangkan Bebotoh dan Legalkan Tajen: Bukan Kampanye Buduh-buduhan

Kisah Caleg Perjuangkan Bebotoh dan Legalkan Tajen: Bukan Kampanye Buduh-buduhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co