23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Solusinya? Ya, Baca Bukulah…

Ahmad Sugeng Riady by Ahmad Sugeng Riady
March 18, 2019
in Ulasan
Solusinya? Ya, Baca Bukulah…
  • Judul : Out Of The Lunch Box; Esai-Esai Sosial, Politik, & Agama
  • Penulis : Iqbal Aji Daryono
  • Penerbit : Shira Media
  • Cetakan : cetakan pertama, Juni 2018
  • Tebal : xvi +244 halaman
  • ISBN : 978-602-5868-16-0

—

Pada hakikatnya, tiap manusia memiliki kebebasan berekspresi. Wujudnya bisa dalam menyanyi lagu, bermain musik, menulis cerita, mencetak buku, berdebat, dan seabrek jenis kebebasan-kebebasan ekspresi lainnya. Namun banyak yang luput untuk menekuni kecenderungan ekspresinya. Sehingga tidak jarang ada manusia yang belum berhasil. Hanya karena kurang ketekunan.

Jika ditilik sejarah panjang negeri ini, memang ada satu momen yang kentara sekali upaya pengekangan terhadap kebebasan berekspresi. Iya, di masa orde baru. Tiap wujud kebebasan ekspresi yang mengkritik, atau malah menentang pemerintahan maka halal untuk ditangkap, dipenjarakan, disingkirkan, bahkan kalau perlu dilenyapkan nyawanya. Masa yang benar-benar memilukan.

Berbeda dengan hari ini, era milenial. Era yang memiliki kecenderungan akut pada dunia digital. Kebebasan ekspresi tiap manusia mendapatkan ruang gerak dan haknya. Meski pun kebebasan yang disediakan masih belum penuh dan utuh. Tapi setidaknya manusia sudah tidak takut lagi untuk menyuarakan kritik, dan menentang sesuatu yang mencederai akal sehat.

Salah satu wujud kebebasan berekspresi manusia adalah menulis. Seperti yang dilakukan oleh Iqbal Aji Daryono di bukunya‘Out of the Lunch Box; Esai-Esai Sosial, Politik, dan Agama’. Ia menuangkan kritik sekaligus ide-ide kreatifnya. Tulisannya dari media online dikumpulkan, kemudian dicetak menjadi buku. ‘Menulis adalah menjadi merdeka’, kira-kira begitu. Sesuai kata pembuka buku ini.

Konten buku ini beragam. Kebanyakan berasal dari topik sederhana yang mungkin menurut beberapa penulis lain tidak perlu disoroti lebih mendalam. Beberapa tulisannya ada juga yang mengulas topik hangat pada masanya dan ramai diperbincangkan oleh banyak pihak. Kepiawaiannya mengulasdengan gaya tulisan nyantai, topik apapun itu, selalu membuat pembacabetah berlama-lamamenikmati irama di tiap tulisannya.

Misalnya ketika ia mengulas pernyataan Buya Syafii, tentang ucapan Ahok di Kepulauan Seribu dan sikap kebanyakan masyarakat setelah kasus itu. Ternyata menurutnya yang lahir bukan malah kecerdasan untuk berfikir mengolah sekaligus menyikapi kasus, namun justru cara berfikir hitam putih yang merebak (hlm. 1-6) hampir di seluruh elemen masyarakat kala itu. Bahkan menjamur sampai hari ini. Siapapun orangnya yang tidak sepakat dengan kelompoknya, maka dianggap lawan dan halal untuk dihujat habis-habisan.

Kasus politik memang memiliki kecenderungan seperti itu. Memicu pro dan kontra, hitam putih. Di sisi lain juga memerlukan penalaran dan sikap yang tepat. Bahwa politik itu penuh intrik untuk menjatuhkan lawan, memang benar adanya. Namun itu berlaku bagi mereka-mereka yang memiliki kepentingan. Lantas bagaimana dengan manusia awam, yang menjadi korban, untuk mengambil sikap tanpa harus gontok-gontokan? Itu yang sulit dilakukan.

Cara berfikir hitam putih hari ini juga menjadi tren dalam kehidupan antar umat beragama. Ia mencontohkan kasus halal dan tidak halal dalam pelabelan produk tisu dan panci. Sederhana. Tapi jika dicermati, efek yang ditimbulkan cukup besar di masyarakat. Sebab tidak menutup kemungkinan bahwa produk-produk lain –selain makanan, obat-obatan- akan meminta label halal dan tidak halal.Bisa jadi ada bus halal, helm halal, baju halal, dan produk semacamnya dihalalkan.

Selain itu, akses pelabelan halal mudah dilakukan oleh industri menengah ke atas. Namun lumayan sulit bagi industri kecil. Padahal label halal dan tidak halal kadangkala tidak berkaitan dengan kualitas produk, namun hanya upaya marketing di pasaran. Sehingga industri kecil bisa tersingkir hanya karena tidak mencantumkan label halal di produknya (hlm.126-131).

Mengingat negara ini terdiri dari beragam bahasa, agama, budaya, dan semacamnya. Sekaligus banyaknya jumlah penduduk, dan letak geografis berpulau-pulau. Maka saya rasa perlu untuk merubah cara berfikir hitam putih ini. Berbeda pendapat bukan berati lawan. Mengikuti mayoritas belum tentu benar. Minoritas belum pasti salah. Begitupun berlaku sebaliknya.

Lantas bagaimana caranya?

Caranya melalui baca buku. Memang pengalaman itu penting. Jalinan pertemanan yang banyak juga perlu. Namun membaca buku itu menjadi gerbang awal bagi manusia untuk mencerna segala pengalaman dan memuliakan pertemanan. Di samping itu, buku juga menjadi jantungnya peradaban.

Namun saya –mudah-mudahan sudah berubah- pernah membaca hasil riset bahwa daya baca masyarakat di negeri ini rendah. Urutan 61 dari 62 negara. Bahkan kalah dengan negara tetangga, Malaysia. Bagaimana mungkin, negara ini yang mayoritas umat beragama Islam dengan wahyu pertama iqra’ (bacalah), tapi daya bacanya rendah? Tidak perlu terlalu menggerutu, mungkin benar seperti itu.

Buku masih belum menjadi kebutuhan primer. Buku dibeli jika ada perlu untuk menyeleseikan tugas kuliah. Membeli dan membaca buku hanya diperuntukkan bagi mereka-mereka yang sekolah, di kampus, dan di tempat-tempat pendidikan formal. Bahkan hiburan, fashion, dan konsumsi yang harganya selangit rela dan ikhlas untuk dibeli. Sedangkan harga buku yang kisaran 40-80 ribu, membelinya masih dipikir-pikir ulang (hlm.173).

Padahal dengan memperbanyak bacaan buku, referensi, daya kritis, dan koleksi pengetahuan manusia jadi lebih banyak. Sehingga memandang problem, kasus, fenomena yang sedang, maupun telah terjadi di masyarakat tidak melulu dengan kacamata hitam putih, benar salah. Karena ada perspektif lain, ada alternatif solusi, sekaligus ada cara menyikapi dengan bentuk lebih baik.

Buku ini tidak memuat bahasa formal, ejaan yang terlalu rumit, dan tata cara kepenulisan dengan standar baku. Judul di tiap-tiap tulisan pun suka-suka si penulis. Tapi justru karena itulah, pembaca jadi penasaran untuk merampungkan tiap tulisan di buku ini. Pembaca dimanjakan oleh penulisnya dengan tidak mewajibkan membaca urut dari halaman awal sampai akhir.Tanpa harus khawatir kehilangan konten dan pesannya.

Jawaban semua tantangan, problem, fenomena, dan keingintahuan yang mendalam mungkin tidak bisa hanya dengan buku ini. Sebab adanya kertebatasan pengetahuan dari si penulis. Oleh karena itu, silahkan membeli, membuka, dan membaca buku-buku lain. Karena perbuatan demikian menjadi bagian dari kebebasan berekspresi. Orientasinya agar tidak terjebak pada kacamata hitam putih. Maka perbanyaklah membaca buku yang berkualitas. [T]

Tags: BukumembacaPolitikresensiresensi bukusosial
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Garis Waktu

Next Post

Reformasi dan Raja Kecil

Ahmad Sugeng Riady

Ahmad Sugeng Riady

Mahasiswa Aktif Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan pegiat literasi di MJS Press

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Reformasi dan Raja Kecil

Reformasi dan Raja Kecil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co