5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi 4 Sekawan Mahasiswa Muslim di Bali – Sekadar Cerita yang Tak Berat

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
March 9, 2019
in Esai
Nyepi 4 Sekawan Mahasiswa Muslim di Bali – Sekadar Cerita yang Tak Berat

Ilustrasi foto: tatkala

Hari Raya Nyepi di Bali itu tidak sama dengan hari Minggu, apalagi malam minggu, wong Nyepi kok disamain dengan malam minggu. Enggak mungkinlah yaa…

Berbicara tentang Hari Raya Nyepi memang sungguh berkesan. Buktinya, menjelang Hari Raya Nyepi saja, tatkala.co sudah diserbu habis-habisan oleh tulisan-tulisan cantik.

Berikut ini, saya telah merangkum lima tulisan cantik yang memiliki kaitan dengan penyambutan Hari Raya Nyepi dari media tatkala.co:

Pertama:Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon” dari Putu Lilik Surya Ariani – seorang wartawan baik hati. Tulisan tersebut menyuarakan kalau tampilan melasti saat sekarang lebih ramah, simpel dan mengerti sesama, serta mengurangi perlombaan tebar pesona harta benda. Dengan seperti itu, melasti sekarang tidak menjadi ajang pameran harta benda. Nyepi bisa lebih tentram terasa.

Kedua:Panduan Nyepi ala Cangak karya IGA Darma Putra – penulis keren dari Bangli. Tulisan ini menawarkan delapan metode Nyepi yang perlu dilakukan supaya Anda tidak terkena kartu merah. Apalagi kartu merahnya di garis penalti, nanti suporter e bisa marah-marah.

Ketiga: Nyepi Diri karyaDewa Putu Sahadewa yang mengajak kita untuk nyepi diri dengan cara menarik diri ke dalam, sehingga kita bisa sampai ke titik hening alam raya. Tidak seperti anu-anu itu, yang selalu menarik masalalu sehingga masa sekarang menjadi tidak menentu.

Keempat:Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban dari Pak Dokter Putu Arya Nugraha. Tulisan ini menerangkan tentang filosofi Nyepi sebagai terapi efektif untuk bumi dan bahkan untuk jiwa dan raga manusia. Bukan nyepi gara-gara jomlo yaa… itu mah, beda lagi cerita.

Kelima:Belajar Iklas dari Pertiwi karya I Gusti Agung Paramita – pengajar di FIAK Unhi Denpasar. Tulisan ini mengatakan, sebenarnya kita bisa belajar kebhinekaan dan keragaman dari tanah. Karena, dari tanahlah kita bisa menumbuhkan sikap nrimo dan iklas atas apapun yang meresapi. Cobak, mana ada tanah yang mengeluarkan jurus seribu bayangan atau jurus pendekar dari Gua Hantu ketika dikencingi. Atau mana ada tanah yang mengutuki kaki-kaki yang menginjaknya walaupun di antara kaki-kaki itu ada kaki orang ateis–nya. Kalau begitu, resepnya apa, bli? Yaa, Nyepi dong…

Tunggu sebentar! Ini sampean mau cerita apa, sih? Kok malah nggak nyambung sama judul.

Begini:

Karena membaca tulisan-tulisan filosofis itu, saya bersemangat menikmati Nyepi di Bali – jadi tidak berniat untuk keluar Bali, apalagi harus pulang kampung ke desa saya di Sumatera sana. Meski tidak sekhidmat warga Hindu di Bali, setidaknya saya akan merasakan aura Nyepi, yang tentu saja memang sepi.

Maka, menjelang Hari Raya Nyepi, saya bersama tiga orang sahabat saya dari Compok Basi (sebuah komunitas kreatif, hehehe, di Singaraja) sepakat menyusun strategi. Karena kami berempat (kebetulan) beragama Islam, maka kami pun merencanakan untuk Nyepi bersama-sama di Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi, salah seorang dari sahabat saya itu. Kebetulan juga dia sudah lama tidak pulang kampung.

Pada hari Rabu, 6 Maret 2018, sehari menjelang Nyepi, sekitar jam 11 siang, saya, Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rozi, dan B.B. Soegiono berangkat dari Singaraja menuju Gerokgak. Kami berangkat menggunakan dua kendaraan sepeda motor. Kendaraan kami melaju secara beriring-iringan.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun melanda, angin pun berhembus kencang serta menerpa dedaunan di pinggiran jalan. Kami pun memutuskan untuk singgah di salah satu supermarket yang ada di Lovina. Karena hujan tidak juga kunjung reda, kami kemudian membeli mantel hujan di supermarket tempat kami singgah itu. Setelah mantel hujan kami dapatkan, kemudian kami melanjutkan perjalanan meskipun pada saat itu hujannya masih sangat-sangat lebat.

Setelah agak lama di perjalanan, tiba-tiba hujan pun reda, dan kami berempat tetap melanjutkan perjalanan. Tidak lama setelah itu, kemudian hujan lebat kembali turun melanda. Aduuhh e… Hujan lagi!

Di sepanjang perjalanan kami menyaksikan bagaimaba warga mempersiapkan pawai ogoh-ogoh yang biasanya dilaksanakan sore hari, yakni sehari sebelum Nyepi. Kasian anak-anak muda itu, karena hujan, persiapan mereka jadi sedikit terganggu.

Kira-kira pukul 13.30, akhirnya kami tiba di Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi. Ketika itu, di rumah dia tidak ada siapa-siapa. Berdasarkan apa yang dia disampaikan ketika saya tanya kenapa tidak ada siapa-siapa di sana, dia pun menjawab kalau ayahnya sedang bekerja dan belum pulang dari pekerjaan. Karena kami berempat sama-sama merasa lelah, kemudian kami beristirahat sebentar di pelantaran rumah sahabat saya itu.

Pantai yang Sepi

Tepat pukul 14. 30, kami berangkat ke sebuah pantai dengan berjalan kaki, dan sampai di tempat tujuan sekitar dua puluh menit kemudian. Pantai itu sungguh indah. Pohon-pohon bakau tumbuh subur di sana serta lumut-lumut hijau mengapung di permukaan air laut bagian tepi.

Pantai itu sepi. Ternyata masih ada pantai yang sepi di Bali. Bayangan saya, dulu, semua pantai di Bali itu seperti Kuta atau Nusa Dua. Kalau pantai di Kuta itu pastilah sepi pada saat Nyepi. Namun pantai di sudut Gerokgak ini benar-benar sepi, padahal Nyepi belum mulai.

Pemandangannya pun indah dan memanjakan mata kami. Tidak hanya itu! Ternyata ada hal lain lagi yang lebih menggoda. Di atas lumut-lumut hijau yang mengapung itu, tampak bertebaran sekian banyak kepiting dan lobster. Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rosi, B.B. Soegiono, dan saya, ketika itu langsung berburu kepiting dan lobster.

Tetapi, kami tidak mengambil semuanya, karena kami tidak serakus itu. Kami hanya mengambil secukupnya saja untuk kami masak nanti malam apabila sudah kembali ke rumah Fathorrahman Zairazi.

Ketika sinar matahari sudah tidak terang lagi, kami pun kembali pulang. Ketika sedang dalam perjalanan, Muhammad Fathur Rosi mengatakan kepada kami kalau pantai yang baru saja kami datangi itu tidak boleh diketahui oleh para pemodal nakal.

B.B. Soegiono kemudian meneruskan perkataan itu dengan celotehan: kalau itu diketahui oleh para pemodal nakal, takutnya nanti di Bali ini tidak ada lagi pantai yang indah bagi warga sekitarnya. Kami serentak tertawa.

Nyepi dengan Cerita Sastra

Pada hari Kamis, 7 Maret 2018, Nyepi sudah diselenggarakan. Kami baru bangun tidur kira-kira pukul 10 siang. Keadaan benar-benar sepi. Tidak ada suara kendaraan dari luar. Jaringan internet pun ikut-ikutan sepi, eh bukan sepi lagi malahan, tapi mampus.

Pada siang hari itu, kami makan bersama dengan ayah Fathorrahman Zairazi. Kami tidak terlalu banyak berbincang. Setelah makan siang usai, kami mulai sibuk dengan kesibukan kami masing-masing. Ada yang menulis. Ada yang membaca buku. Ada juga yang menonton vidio.

Ketika malam hari sudah tiba, keadaan terasa semakin sepi, dari jendela kamar saya mengintip ke luar, dan keadaan di luar benar-benar gelap sekali. Di dalam rumah, kami menggunakan penerangan secukupnya. Kami menggunakan penerangan kecil saja, hanya di dalam kamar, dan sinarnya sekiranya tidak sampai memancar ke luar rumah. Kenyataannya bagaimana, saya tidak tahu betul, karena tidak ada di antara kami yang mencoba melihatnya dari luar.

Setelah selesai makan malam, kemudian Ayah Fathorrahman Zairazi bercerita. Pertama-tama dia bercerita tentang sastra. Dia menceritakan kisah Zainudin dalam novel Tenggelamnja Kapal Van der Wijck karangan Buya Hamka dan kisah cinta Kais dalam buku Layla dan Majnun.

Airmata lelaki tua itu tampak membayang-bayang pada kedua belah matanya. Dia bergetar menceritakan kisah percintaan yang baru saja dia ceritakan. Dia secara terbuka mengatakan kepada kami bahwa dia mengalami kisah seperti itu.

Setelah beberapa lama berlalu, kemudian pembicaraan kami berganti topik. Kami mulai membicarakan tentang kerukunan penduduk beragama Hindu dengan penduduk beragama Islam di Gerokgak.

Di Gerokgak, kerukunan penduduknya sangat toleran. Apabila ada upacara keagamaan dari agama Hindu, maka orang-orang muslim di sana ikut membantu, dan apabila ada upacara keagamaan Islam, maka orang-orang beragama Hindu ikut pula membantu.

BACA:

  • Di Pemuteran, Sekaa Teruna dan Pemuda Ansor Riang Bersama dalam Pawai Ogoh-ogoh

Kira-kira pukul 23.00 kami pun segera berbaring di atas tempat tidur. Tidak terasa kami berempat tertidur karena kelelahan. Keesokan harinya, ketika kami bagun, tiba-tiba jaringan internet sudah muncul di ponsel kami masing-masing. Nyepi pun sudah berlalu. Kami kembali sibuk dengan ponsel milik kami masing-masing.

Kalau Anda ingin melakukan perjalanan beriringan dengan kami, itu sudah terlambat, kami sudah pada balik ke Singaraja. Namun, di lain waktu, kami akan senang kalau ditemani oleh Anda. Apalagi Anda-Anda cewe cantik yang masih jomlo. Hehehee… enggak lucu ya? Yuk ketawain saja saya… [T]

Tags: balibulelengHari Raya NyepihinduMuslim
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Solidaritas Nak Buleleng

Next Post

Acintya

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Acintya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co