29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 1, 2018
in Esai
Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap

Foto koleksi penulis

ADA kisah puncak Merapi lenyap.

R.W. van Bemmelen, dalam bukunya The Geology of Indonesia’ (1949), menyebutkan super-volcano Merapi ini pernah meletus dasyat sampai pucaknya jadi berkeping-keping, berhamburan ke angkasa. Saking dasyat, letusan ini bahkan disebutkan telah menyebabkan terjadi pergeseran lapisan tanah ke arah barat daya, dan terbentuk lipatan lain, yang membentuk Gunung Gendol.

Maha dasyat letusan diawali dengan dentum tabuh kawah, goyang gempa bumi, banjir lahar, longsor tebing dan luapan sungai-sungai, taburan hujan abu, matahari berbulan tidak tampak, digantikan hamburan batu-batuan api yang tiada henti memerciki langit. Berbulan, bahkan bertahun, terjadi tiada henti. Penduduk diliputi ketakutan sangat mendalam.

Seperti mendapat murka sang gunung, korban tiada terhitung, wabah menyebar dan kesengsaraan melanda. Tumbuh-tumbuhan tertutup abu sampai layu. Binatang gunung terbakar dalam pelariannya, ikan-ikan terkubur di aliran sungai yang telah menjadi jalur lahar panas, burung yang bermigrasi tewas di angkasa disambar pijar bebatuan, persawahan lenyap, candi-candi dan kota terkubur dari muka bumi.

Bencana tersebut diperkirakan menyebabkan penduduk Mĕdang bermigrasi ke timur, menjauh dari Merapi. Menurut Boechari—seorang arkeolog yang mendalami bidang epigrafi—diperkirakan letusan tersebut meluluh lantak dan mengubur ibu kota Mĕdang dan banyak daerah permukiman di Jawa Tengah. Bencana hebat itu diperkirakan melanda Mataram pada abad ke 9—10.

Prasasti Rukam (829 Śaka atau 907 Masehi) menyebutkan sebuah peristiwa “peresmian”, mungkin saja “ruwat”, Desa Rukam oleh Nini Haji Rakryan Sanjiwana karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunungapi. Para ahli efigrafi menebak kemungkinan besar gunungapi dimaksud tak lain Merapi. Prasasti Rukam ditemukan di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Mungkin saja prasasti ini tentang ruwat dan pembukaan pemukiman baru bagi gelombang migrasi tersebut.

Belasan kilometer dari Merapi, terdapat Candi Sambisari, dibangun abad ke-8, tertimbun letusan sampai 7 meter. Candi ini tidak jauh dari Bandara Adisucipto dan beberapa kilometer dari Candi Prambanan, ketika ditemukan terkubur dalam kedalaman 7 meter di bawah permukaan hamparan lahan pertanian. Puncak Candi tidak sengaja ditemukan oleh petani. Saat digali hampir keseluruhan bentuknya relatif utuh, tertimbun berkubik-kubik material gunungapi yang menutupinya.

Sekarang untuk mencapai ke dalam komplek terdalam candi ini kita harus menuruni tangga, yang mana pada masa didirikan diperkirakan lahan perkebunan atau hamparan tanah di sekitar candi sejajar dengan candi ini.

Prof Mundarjito ketika menulis disertasinya, “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, tahun 1993, mengkaji dengan rinci sebanyak 218 situs di daerah Sleman terletak di lahan dataran fluvio vulkanik, lereng kaki fluvio gunungapi, dan lereng bawah gunungapi. Ketika terjadi letusan Merapi, bisa dipastikan semua situs tersebut terdampak letusan sesuai ketinggian dan letak atau persebarannya.

Data arkeologi Jawa Tengah dan Yogyakarta menyebutkan terhitung candi-candi di Kabupaten Magelang yang pernah terkubur oleh letusan Merapi diantaranya Candi Pendem, Candi Kajangkoso, Candi Asu, dan lain-lain. Terletak di sekitar lereng tengah berjarak sekitar 5 – 10 kilometer dari puncak Merapi, jaraknya yang sangat dekat dengan puncak Merapi. Candi-candi di Kabupaten Sleman yang juga pernah terkubur oleh letusan Gunungapi Merapi diantaranya Candi Sambisari, Candi Kedungan, Candi Kedulan, Candi Kadisoka, Candi Kaliworo, Candi Ijo dan lain-lain berjarak antara 15–30 kilometer dari puncak Merapi.

Peristiwa lenyapnya pucak Merapi dan terkuburnya kawasan peradaban serta percandian Sleman, Yogyakarta dan Magelang, dan berdampak pada seluruh tanah Jawa ini dikenal dengan nama Pralaya Jawa.

Candi Barong yang tadi pagi kami kunjungi, yang terletak di Dusun Sumberwatu, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, berdiri di perbukitan sebelah selatan kawasan Candi Prambanan, dengan ketinggian 189 meter di atas permukaan laut. Sekalipun relatif tinggi, tampaknya bisa dipastikan sempat tertimbun debu letusan Merapi. Mengingat berada di perbukitan yang berteras-teras kemungkinan bekas debu letusan hanyut terkikis ketika terjadi hujan lebat, lalu candi menyebul lagi ke permukaan.

Peneliti Belanda tampaknya menamai candi ini sebagai Candi Sari Sorogedung, karena dekat perkebunan Sorogedung, tapi penduduk setempat menamainya Candi Barong karena ada setidaknya ada 8 relief patra Boma yang mengelilingi 2 bangunan candi, yang orang setempat sebut sebagai Barong.

Dari titik ini terlihat jelas puncak Merapi. Ada beberapa petak sawah sedang menghijau yang relatif subur, mendapat air dari rembesan air sekitar candi. Kemungkinan rembesan di musim hujan, dan kering di musim kemarau. Dari tangga masuk matahari pagi menyembul persis di belakang candi. Situs itu membentang arah timur-barat mengikuti bentang perbukitan. Candi Ratu Boko terletak sekitar 1 kilometer di sebelah barat laut candi ini. Sisi selatan bawah perbukitan ini membentang persawahan dengan Candi Banyunibo (Jawa : “Air Menetes Jatuh”) berada di tengah-tengahnya.

Candi Banyunibo masuk wilayah dusun dan desa seberang, Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, masuk kecamatan yang sama, Prambanan. Dari Banyunibo mencapai Candi Barong harus mendaki terjal perbukitan yang sebenarnya tidak jauh, sekitar 1,5 kilometer. Ada beberapa situs lain tidak jauh dari sini, seperti situs Arca Ganeśa, sekitar 250 meter dari Barong.

Candi Barong diperkirakan dibangun sekitar abad ke 9, peninggalan Kerajaan Mĕdang, atau kadang disebut candi dari periode Mataram. Dari temuan di komplek candi diperkirakan candi ini adalah candi pemujaan Dewa Wisnu dan Laksmi, yang dikenal juga sebagai Dewi Sri (Dewi Kemakmuran Pertanian). Candi ini, dengan demikian, termasuk kompleks pemujaan Dewa Wisnu yang sedikit ditemukan keberadaanya dibanding banyaknya candi pemujaan Dewa Śiwa yang sangat banyak ditemukan di Jawa.

Candi ini arsitektur istimewa, mengingatkan tri mandala atau tri angga seperti diterapkan dalam pendirian Pura-Pura di Bali, terbagi menjadi 3 bagian: Mandala Utama, Madya, Bawah (Jero, Jaba Tengah, Jabaan). Candi Ijo yang berada 2,5 kilometer di tenggara Candi Barong juga punya pembagian Tri Angga atau Tri Mandala seperti ini. Di Jawa Timur, Candi Penataran atau Rambut Palah, juga memiliki pembagian mandala yang sama.

Pembagian tri mandala atau tri angga ini seakan menjadi jejak tua percandian yang kemungkinan menjadi “template awal” atau model awal dari konsep tri mandala parahyangan (bangunan suci) di Bali. Apakah arsitektur berkonsep Tri Angga dan Tri Mandala parahyangan (Pura) di Bali dibawa dari sini? Bisa jadi, saya pikir demikian, dan tentunya perlu lebih mendalam diteliti secara ilmiah sebelum berkesimpulan bahwa cikal-bakal arsitektur parahyangan berkonsep ‘tri mandala’ di Jawa Timur dan Bali berasal dari sini.

Pagi dan senja hari, puncak Merapi tampak sangat indah dari Candi Barong. Sekaligus, dari candi ini, bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya suasana api bersemburan dan puncak Merapi terlempar berkeping-keping melayang ke angkasa ketika terjadi ‘Pralaya Jawa’. Bisa dibayangkan kesedihan dan duka mendalam yang dialami telah mendorong paksa penduduk Mĕdang bermigrasi ke timur pulau Jawa dan mungkin ke Bali.

Teori umum tentang istana Medang di Mataram (yang diperkirakan sekitar Yogyakarta-Prambanan-Ratu Boko) hancur akibat letusan Gunung Merapi, namun sejauh penelusuran saya, belum ada yang berani final mengatakan bencana itu terjadi di era pemerintahan Dyah Wawa atau Mpu Sindok.

Perkiraan atau pendapat umum mengatakan Rakai Pikatan memindahkan pusat pemerintahan ke Mamrati (sekarang termasuk daerah Kedu), Dyah Balitung dikabarkan memindahkannya lagi masih diseputar Kedu, bernama kawasan Poh Pitu. Konon ada juga perpindahan kembali ke Mataram, pada zaman Dyah Wawa. Bolak-balik pindah ini tentu ada faktor penyebab, biasanya kalau tidak perang, paling umum bencana alam.

Mpu Sindok yang memerintah di Jawa bagian timur disebutkan sebagai penguasa yang tak lain dari kelanjutan dari Medang yang ada di Jawa Tengah. Teori itu berdasar adanya sebuah kalimat pada prasasti yang merujuk dikeluarkan oleh Mpu Sindok: “Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh” (Prasasti Anjukladang, tahun 937). Sebelumnya, dalam Prasasti Turyan (tahun 929), disebutkan Mpu Sindok membangun ibu kota baru, di sekitar daerah Tamwlang.

Mĕdang, dari beberapa sumber lontar wariga dan palintihan di Bali, disebutkan sebagai asal-mula atau Mĕdangkĕmulan. Kĕmulan berarti “muasal” dan “pemujaan leluhur” dalam bahasa Bali. Dari Mĕdangkĕmulan konon dibawa ke Bali pengetahuan wariga dan berbagai pelintangan, juga pengetahuan ritual dan puja. Jika kita telisik dalam lontar, seperti ‘Lĕlintih Mĕdang Kĕmulan’ dan Wariga Mĕdang Kĕmulan, dalam bingkai mitos dan pembabaran wariga, disebutkan bahwa Mĕdang sebagai muasal dan salah satu akar pokok yang penting dalam pembentuk kalender kebudayaan dan konsepsi kosmologi manusia Bali.

Masyarakat Desa Julah adalah salah satunya yang mengamini hal ini. Di desa Bali Kuno, yang terletak di pesisir timur Buleleng, yang telah ada di abad ke 10, sebagaimana ditulis dalam Prasasti Sembiran (yang kini sebagian disimpan di parahyangan di Desa Sembiran dan sebagian di Julah), memiliki sejarah lisan bahwa leluhur mereka datang langsung dari Mĕdang. Raja Mĕdang (ada yang menyebutkan putra mahkotanya) telah meninggalkan mahkotanya sebagai kenangan di desa Julah. (Kini replikanya masih dikeramatkan di Pura Desa Julah, aslinya mahkota emas kuno itu beberapa tahun lalu lenyap digondol maling).

Selain masyarakat Bali Aga di Julah, masyarakat Bali Aga di Desa Trunyan, yang terletak di Danau Batur, legendanya bertutur tentang kedatangan leluhur masyarakat yang berasal dari Solo. Bukan dari Kediri atau Majapahit. Mereka mengklaim bahwa leluhur mereka terbang dari langit dan berasal dari garis Dalĕm Solo, jauh berabad-abad sebelum Kerajaan Kediri dan Majapahit berdiri.

Di beberapa tempat di Bali juga ada parahyangan khusus untuk Dalĕm Solo dan juga pelinggih atau altar pemujaan Bhatara Solo juga ada di banyak tempat di Bali. Demikian juga pengakuan dalam sejarah lisan Bali Aga di Desa Goblég dan sekitarnya yang mengatakan bahwa Dalĕm Solo menurunkan anak cucu di sana. Solo itu samakah dengan Mĕdang? Atau migrasi mereka dalam kurun atau periode letusan Merapi?

Bisa jadi sebagian leluhur Bali Aga berasal langsung dari Mĕdang ke Bali, seperti dikatakan dalam sejarah lisan desa Julah, tapi Mĕdang periode pemerintahan dan berpusat dimana ketika itu belum jelas. Atau migrasi Dalĕm Solo? Bisa jadi keduanya masyarakat dari periode yang sama yang membentuk Bali Kuno (?). Jika mitos dan sejarah lisan tentang Mĕdang ini benar adanya, artinya migrasi penduduk Mědang turut membentuk dan mewarnai kebudayaan Bali Kuno, terlepas dari Mĕdang era yang mana.

Di satu sisi, dipercaya melalui pejalanan waktu, dari Pralaya Jawa dan lenyapnya Mĕdang di Jawa Tengah, berselang kemudian muncul peradaban di Jawa Timur dalam prasasti Gajayana, yang bisa jadi tidak lain dari bagian dari lalu Kerajaan Medang garis silsilah Mpu Sindok (?), yang bersambung dengan periode rajakula Isana dan Dharmawangsa, yang besan dengan rajakula Warmadewa, lalu sambung-menyambung menjadi Kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit, kesemuannya di Jawa Timur, dan bersambung ke Kerajaan Gelgel di Bali, yang dipercaya tak terpisah telah membentuk kebudayaan Bali sampai Bali terkini.

Puncak Merapi boleh lenyap. Kerajaan Mĕdang boleh bubar. Tapi ia tidak benar-benar lenyap. Ia masih terjaga dalam ingatan, dalam sebentuk mitos dan dongeng, dalam cara menghitung kalender dan rumus mencari hari baik, yang mengaliri lontar-lontar dan kisah-kisah leluhur Bali. Ia masih hadir dalam puja dan doa-doa untuk para leluhur. (T)

Catatan Harian 16 Pebruari 2018.

Tags: bali agaGunung MerapiJawa Tengahkerajaan
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Next Post

400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co