7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 1, 2018
in Esai
Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap

Foto koleksi penulis

ADA kisah puncak Merapi lenyap.

R.W. van Bemmelen, dalam bukunya The Geology of Indonesia’ (1949), menyebutkan super-volcano Merapi ini pernah meletus dasyat sampai pucaknya jadi berkeping-keping, berhamburan ke angkasa. Saking dasyat, letusan ini bahkan disebutkan telah menyebabkan terjadi pergeseran lapisan tanah ke arah barat daya, dan terbentuk lipatan lain, yang membentuk Gunung Gendol.

Maha dasyat letusan diawali dengan dentum tabuh kawah, goyang gempa bumi, banjir lahar, longsor tebing dan luapan sungai-sungai, taburan hujan abu, matahari berbulan tidak tampak, digantikan hamburan batu-batuan api yang tiada henti memerciki langit. Berbulan, bahkan bertahun, terjadi tiada henti. Penduduk diliputi ketakutan sangat mendalam.

Seperti mendapat murka sang gunung, korban tiada terhitung, wabah menyebar dan kesengsaraan melanda. Tumbuh-tumbuhan tertutup abu sampai layu. Binatang gunung terbakar dalam pelariannya, ikan-ikan terkubur di aliran sungai yang telah menjadi jalur lahar panas, burung yang bermigrasi tewas di angkasa disambar pijar bebatuan, persawahan lenyap, candi-candi dan kota terkubur dari muka bumi.

Bencana tersebut diperkirakan menyebabkan penduduk Mĕdang bermigrasi ke timur, menjauh dari Merapi. Menurut Boechari—seorang arkeolog yang mendalami bidang epigrafi—diperkirakan letusan tersebut meluluh lantak dan mengubur ibu kota Mĕdang dan banyak daerah permukiman di Jawa Tengah. Bencana hebat itu diperkirakan melanda Mataram pada abad ke 9—10.

Prasasti Rukam (829 Śaka atau 907 Masehi) menyebutkan sebuah peristiwa “peresmian”, mungkin saja “ruwat”, Desa Rukam oleh Nini Haji Rakryan Sanjiwana karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunungapi. Para ahli efigrafi menebak kemungkinan besar gunungapi dimaksud tak lain Merapi. Prasasti Rukam ditemukan di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Mungkin saja prasasti ini tentang ruwat dan pembukaan pemukiman baru bagi gelombang migrasi tersebut.

Belasan kilometer dari Merapi, terdapat Candi Sambisari, dibangun abad ke-8, tertimbun letusan sampai 7 meter. Candi ini tidak jauh dari Bandara Adisucipto dan beberapa kilometer dari Candi Prambanan, ketika ditemukan terkubur dalam kedalaman 7 meter di bawah permukaan hamparan lahan pertanian. Puncak Candi tidak sengaja ditemukan oleh petani. Saat digali hampir keseluruhan bentuknya relatif utuh, tertimbun berkubik-kubik material gunungapi yang menutupinya.

Sekarang untuk mencapai ke dalam komplek terdalam candi ini kita harus menuruni tangga, yang mana pada masa didirikan diperkirakan lahan perkebunan atau hamparan tanah di sekitar candi sejajar dengan candi ini.

Prof Mundarjito ketika menulis disertasinya, “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, tahun 1993, mengkaji dengan rinci sebanyak 218 situs di daerah Sleman terletak di lahan dataran fluvio vulkanik, lereng kaki fluvio gunungapi, dan lereng bawah gunungapi. Ketika terjadi letusan Merapi, bisa dipastikan semua situs tersebut terdampak letusan sesuai ketinggian dan letak atau persebarannya.

Data arkeologi Jawa Tengah dan Yogyakarta menyebutkan terhitung candi-candi di Kabupaten Magelang yang pernah terkubur oleh letusan Merapi diantaranya Candi Pendem, Candi Kajangkoso, Candi Asu, dan lain-lain. Terletak di sekitar lereng tengah berjarak sekitar 5 – 10 kilometer dari puncak Merapi, jaraknya yang sangat dekat dengan puncak Merapi. Candi-candi di Kabupaten Sleman yang juga pernah terkubur oleh letusan Gunungapi Merapi diantaranya Candi Sambisari, Candi Kedungan, Candi Kedulan, Candi Kadisoka, Candi Kaliworo, Candi Ijo dan lain-lain berjarak antara 15–30 kilometer dari puncak Merapi.

Peristiwa lenyapnya pucak Merapi dan terkuburnya kawasan peradaban serta percandian Sleman, Yogyakarta dan Magelang, dan berdampak pada seluruh tanah Jawa ini dikenal dengan nama Pralaya Jawa.

Candi Barong yang tadi pagi kami kunjungi, yang terletak di Dusun Sumberwatu, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, berdiri di perbukitan sebelah selatan kawasan Candi Prambanan, dengan ketinggian 189 meter di atas permukaan laut. Sekalipun relatif tinggi, tampaknya bisa dipastikan sempat tertimbun debu letusan Merapi. Mengingat berada di perbukitan yang berteras-teras kemungkinan bekas debu letusan hanyut terkikis ketika terjadi hujan lebat, lalu candi menyebul lagi ke permukaan.

Peneliti Belanda tampaknya menamai candi ini sebagai Candi Sari Sorogedung, karena dekat perkebunan Sorogedung, tapi penduduk setempat menamainya Candi Barong karena ada setidaknya ada 8 relief patra Boma yang mengelilingi 2 bangunan candi, yang orang setempat sebut sebagai Barong.

Dari titik ini terlihat jelas puncak Merapi. Ada beberapa petak sawah sedang menghijau yang relatif subur, mendapat air dari rembesan air sekitar candi. Kemungkinan rembesan di musim hujan, dan kering di musim kemarau. Dari tangga masuk matahari pagi menyembul persis di belakang candi. Situs itu membentang arah timur-barat mengikuti bentang perbukitan. Candi Ratu Boko terletak sekitar 1 kilometer di sebelah barat laut candi ini. Sisi selatan bawah perbukitan ini membentang persawahan dengan Candi Banyunibo (Jawa : “Air Menetes Jatuh”) berada di tengah-tengahnya.

Candi Banyunibo masuk wilayah dusun dan desa seberang, Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, masuk kecamatan yang sama, Prambanan. Dari Banyunibo mencapai Candi Barong harus mendaki terjal perbukitan yang sebenarnya tidak jauh, sekitar 1,5 kilometer. Ada beberapa situs lain tidak jauh dari sini, seperti situs Arca Ganeśa, sekitar 250 meter dari Barong.

Candi Barong diperkirakan dibangun sekitar abad ke 9, peninggalan Kerajaan Mĕdang, atau kadang disebut candi dari periode Mataram. Dari temuan di komplek candi diperkirakan candi ini adalah candi pemujaan Dewa Wisnu dan Laksmi, yang dikenal juga sebagai Dewi Sri (Dewi Kemakmuran Pertanian). Candi ini, dengan demikian, termasuk kompleks pemujaan Dewa Wisnu yang sedikit ditemukan keberadaanya dibanding banyaknya candi pemujaan Dewa Śiwa yang sangat banyak ditemukan di Jawa.

Candi ini arsitektur istimewa, mengingatkan tri mandala atau tri angga seperti diterapkan dalam pendirian Pura-Pura di Bali, terbagi menjadi 3 bagian: Mandala Utama, Madya, Bawah (Jero, Jaba Tengah, Jabaan). Candi Ijo yang berada 2,5 kilometer di tenggara Candi Barong juga punya pembagian Tri Angga atau Tri Mandala seperti ini. Di Jawa Timur, Candi Penataran atau Rambut Palah, juga memiliki pembagian mandala yang sama.

Pembagian tri mandala atau tri angga ini seakan menjadi jejak tua percandian yang kemungkinan menjadi “template awal” atau model awal dari konsep tri mandala parahyangan (bangunan suci) di Bali. Apakah arsitektur berkonsep Tri Angga dan Tri Mandala parahyangan (Pura) di Bali dibawa dari sini? Bisa jadi, saya pikir demikian, dan tentunya perlu lebih mendalam diteliti secara ilmiah sebelum berkesimpulan bahwa cikal-bakal arsitektur parahyangan berkonsep ‘tri mandala’ di Jawa Timur dan Bali berasal dari sini.

Pagi dan senja hari, puncak Merapi tampak sangat indah dari Candi Barong. Sekaligus, dari candi ini, bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya suasana api bersemburan dan puncak Merapi terlempar berkeping-keping melayang ke angkasa ketika terjadi ‘Pralaya Jawa’. Bisa dibayangkan kesedihan dan duka mendalam yang dialami telah mendorong paksa penduduk Mĕdang bermigrasi ke timur pulau Jawa dan mungkin ke Bali.

Teori umum tentang istana Medang di Mataram (yang diperkirakan sekitar Yogyakarta-Prambanan-Ratu Boko) hancur akibat letusan Gunung Merapi, namun sejauh penelusuran saya, belum ada yang berani final mengatakan bencana itu terjadi di era pemerintahan Dyah Wawa atau Mpu Sindok.

Perkiraan atau pendapat umum mengatakan Rakai Pikatan memindahkan pusat pemerintahan ke Mamrati (sekarang termasuk daerah Kedu), Dyah Balitung dikabarkan memindahkannya lagi masih diseputar Kedu, bernama kawasan Poh Pitu. Konon ada juga perpindahan kembali ke Mataram, pada zaman Dyah Wawa. Bolak-balik pindah ini tentu ada faktor penyebab, biasanya kalau tidak perang, paling umum bencana alam.

Mpu Sindok yang memerintah di Jawa bagian timur disebutkan sebagai penguasa yang tak lain dari kelanjutan dari Medang yang ada di Jawa Tengah. Teori itu berdasar adanya sebuah kalimat pada prasasti yang merujuk dikeluarkan oleh Mpu Sindok: “Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh” (Prasasti Anjukladang, tahun 937). Sebelumnya, dalam Prasasti Turyan (tahun 929), disebutkan Mpu Sindok membangun ibu kota baru, di sekitar daerah Tamwlang.

Mĕdang, dari beberapa sumber lontar wariga dan palintihan di Bali, disebutkan sebagai asal-mula atau Mĕdangkĕmulan. Kĕmulan berarti “muasal” dan “pemujaan leluhur” dalam bahasa Bali. Dari Mĕdangkĕmulan konon dibawa ke Bali pengetahuan wariga dan berbagai pelintangan, juga pengetahuan ritual dan puja. Jika kita telisik dalam lontar, seperti ‘Lĕlintih Mĕdang Kĕmulan’ dan Wariga Mĕdang Kĕmulan, dalam bingkai mitos dan pembabaran wariga, disebutkan bahwa Mĕdang sebagai muasal dan salah satu akar pokok yang penting dalam pembentuk kalender kebudayaan dan konsepsi kosmologi manusia Bali.

Masyarakat Desa Julah adalah salah satunya yang mengamini hal ini. Di desa Bali Kuno, yang terletak di pesisir timur Buleleng, yang telah ada di abad ke 10, sebagaimana ditulis dalam Prasasti Sembiran (yang kini sebagian disimpan di parahyangan di Desa Sembiran dan sebagian di Julah), memiliki sejarah lisan bahwa leluhur mereka datang langsung dari Mĕdang. Raja Mĕdang (ada yang menyebutkan putra mahkotanya) telah meninggalkan mahkotanya sebagai kenangan di desa Julah. (Kini replikanya masih dikeramatkan di Pura Desa Julah, aslinya mahkota emas kuno itu beberapa tahun lalu lenyap digondol maling).

Selain masyarakat Bali Aga di Julah, masyarakat Bali Aga di Desa Trunyan, yang terletak di Danau Batur, legendanya bertutur tentang kedatangan leluhur masyarakat yang berasal dari Solo. Bukan dari Kediri atau Majapahit. Mereka mengklaim bahwa leluhur mereka terbang dari langit dan berasal dari garis Dalĕm Solo, jauh berabad-abad sebelum Kerajaan Kediri dan Majapahit berdiri.

Di beberapa tempat di Bali juga ada parahyangan khusus untuk Dalĕm Solo dan juga pelinggih atau altar pemujaan Bhatara Solo juga ada di banyak tempat di Bali. Demikian juga pengakuan dalam sejarah lisan Bali Aga di Desa Goblég dan sekitarnya yang mengatakan bahwa Dalĕm Solo menurunkan anak cucu di sana. Solo itu samakah dengan Mĕdang? Atau migrasi mereka dalam kurun atau periode letusan Merapi?

Bisa jadi sebagian leluhur Bali Aga berasal langsung dari Mĕdang ke Bali, seperti dikatakan dalam sejarah lisan desa Julah, tapi Mĕdang periode pemerintahan dan berpusat dimana ketika itu belum jelas. Atau migrasi Dalĕm Solo? Bisa jadi keduanya masyarakat dari periode yang sama yang membentuk Bali Kuno (?). Jika mitos dan sejarah lisan tentang Mĕdang ini benar adanya, artinya migrasi penduduk Mědang turut membentuk dan mewarnai kebudayaan Bali Kuno, terlepas dari Mĕdang era yang mana.

Di satu sisi, dipercaya melalui pejalanan waktu, dari Pralaya Jawa dan lenyapnya Mĕdang di Jawa Tengah, berselang kemudian muncul peradaban di Jawa Timur dalam prasasti Gajayana, yang bisa jadi tidak lain dari bagian dari lalu Kerajaan Medang garis silsilah Mpu Sindok (?), yang bersambung dengan periode rajakula Isana dan Dharmawangsa, yang besan dengan rajakula Warmadewa, lalu sambung-menyambung menjadi Kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit, kesemuannya di Jawa Timur, dan bersambung ke Kerajaan Gelgel di Bali, yang dipercaya tak terpisah telah membentuk kebudayaan Bali sampai Bali terkini.

Puncak Merapi boleh lenyap. Kerajaan Mĕdang boleh bubar. Tapi ia tidak benar-benar lenyap. Ia masih terjaga dalam ingatan, dalam sebentuk mitos dan dongeng, dalam cara menghitung kalender dan rumus mencari hari baik, yang mengaliri lontar-lontar dan kisah-kisah leluhur Bali. Ia masih hadir dalam puja dan doa-doa untuk para leluhur. (T)

Catatan Harian 16 Pebruari 2018.

Tags: bali agaGunung MerapiJawa Tengahkerajaan
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Next Post

400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails
Next Post
400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co