17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 1, 2018
in Esai
Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap

Foto koleksi penulis

ADA kisah puncak Merapi lenyap.

R.W. van Bemmelen, dalam bukunya The Geology of Indonesia’ (1949), menyebutkan super-volcano Merapi ini pernah meletus dasyat sampai pucaknya jadi berkeping-keping, berhamburan ke angkasa. Saking dasyat, letusan ini bahkan disebutkan telah menyebabkan terjadi pergeseran lapisan tanah ke arah barat daya, dan terbentuk lipatan lain, yang membentuk Gunung Gendol.

Maha dasyat letusan diawali dengan dentum tabuh kawah, goyang gempa bumi, banjir lahar, longsor tebing dan luapan sungai-sungai, taburan hujan abu, matahari berbulan tidak tampak, digantikan hamburan batu-batuan api yang tiada henti memerciki langit. Berbulan, bahkan bertahun, terjadi tiada henti. Penduduk diliputi ketakutan sangat mendalam.

Seperti mendapat murka sang gunung, korban tiada terhitung, wabah menyebar dan kesengsaraan melanda. Tumbuh-tumbuhan tertutup abu sampai layu. Binatang gunung terbakar dalam pelariannya, ikan-ikan terkubur di aliran sungai yang telah menjadi jalur lahar panas, burung yang bermigrasi tewas di angkasa disambar pijar bebatuan, persawahan lenyap, candi-candi dan kota terkubur dari muka bumi.

Bencana tersebut diperkirakan menyebabkan penduduk Mĕdang bermigrasi ke timur, menjauh dari Merapi. Menurut Boechari—seorang arkeolog yang mendalami bidang epigrafi—diperkirakan letusan tersebut meluluh lantak dan mengubur ibu kota Mĕdang dan banyak daerah permukiman di Jawa Tengah. Bencana hebat itu diperkirakan melanda Mataram pada abad ke 9—10.

Prasasti Rukam (829 Śaka atau 907 Masehi) menyebutkan sebuah peristiwa “peresmian”, mungkin saja “ruwat”, Desa Rukam oleh Nini Haji Rakryan Sanjiwana karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunungapi. Para ahli efigrafi menebak kemungkinan besar gunungapi dimaksud tak lain Merapi. Prasasti Rukam ditemukan di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Mungkin saja prasasti ini tentang ruwat dan pembukaan pemukiman baru bagi gelombang migrasi tersebut.

Belasan kilometer dari Merapi, terdapat Candi Sambisari, dibangun abad ke-8, tertimbun letusan sampai 7 meter. Candi ini tidak jauh dari Bandara Adisucipto dan beberapa kilometer dari Candi Prambanan, ketika ditemukan terkubur dalam kedalaman 7 meter di bawah permukaan hamparan lahan pertanian. Puncak Candi tidak sengaja ditemukan oleh petani. Saat digali hampir keseluruhan bentuknya relatif utuh, tertimbun berkubik-kubik material gunungapi yang menutupinya.

Sekarang untuk mencapai ke dalam komplek terdalam candi ini kita harus menuruni tangga, yang mana pada masa didirikan diperkirakan lahan perkebunan atau hamparan tanah di sekitar candi sejajar dengan candi ini.

Prof Mundarjito ketika menulis disertasinya, “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, tahun 1993, mengkaji dengan rinci sebanyak 218 situs di daerah Sleman terletak di lahan dataran fluvio vulkanik, lereng kaki fluvio gunungapi, dan lereng bawah gunungapi. Ketika terjadi letusan Merapi, bisa dipastikan semua situs tersebut terdampak letusan sesuai ketinggian dan letak atau persebarannya.

Data arkeologi Jawa Tengah dan Yogyakarta menyebutkan terhitung candi-candi di Kabupaten Magelang yang pernah terkubur oleh letusan Merapi diantaranya Candi Pendem, Candi Kajangkoso, Candi Asu, dan lain-lain. Terletak di sekitar lereng tengah berjarak sekitar 5 – 10 kilometer dari puncak Merapi, jaraknya yang sangat dekat dengan puncak Merapi. Candi-candi di Kabupaten Sleman yang juga pernah terkubur oleh letusan Gunungapi Merapi diantaranya Candi Sambisari, Candi Kedungan, Candi Kedulan, Candi Kadisoka, Candi Kaliworo, Candi Ijo dan lain-lain berjarak antara 15–30 kilometer dari puncak Merapi.

Peristiwa lenyapnya pucak Merapi dan terkuburnya kawasan peradaban serta percandian Sleman, Yogyakarta dan Magelang, dan berdampak pada seluruh tanah Jawa ini dikenal dengan nama Pralaya Jawa.

Candi Barong yang tadi pagi kami kunjungi, yang terletak di Dusun Sumberwatu, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, berdiri di perbukitan sebelah selatan kawasan Candi Prambanan, dengan ketinggian 189 meter di atas permukaan laut. Sekalipun relatif tinggi, tampaknya bisa dipastikan sempat tertimbun debu letusan Merapi. Mengingat berada di perbukitan yang berteras-teras kemungkinan bekas debu letusan hanyut terkikis ketika terjadi hujan lebat, lalu candi menyebul lagi ke permukaan.

Peneliti Belanda tampaknya menamai candi ini sebagai Candi Sari Sorogedung, karena dekat perkebunan Sorogedung, tapi penduduk setempat menamainya Candi Barong karena ada setidaknya ada 8 relief patra Boma yang mengelilingi 2 bangunan candi, yang orang setempat sebut sebagai Barong.

Dari titik ini terlihat jelas puncak Merapi. Ada beberapa petak sawah sedang menghijau yang relatif subur, mendapat air dari rembesan air sekitar candi. Kemungkinan rembesan di musim hujan, dan kering di musim kemarau. Dari tangga masuk matahari pagi menyembul persis di belakang candi. Situs itu membentang arah timur-barat mengikuti bentang perbukitan. Candi Ratu Boko terletak sekitar 1 kilometer di sebelah barat laut candi ini. Sisi selatan bawah perbukitan ini membentang persawahan dengan Candi Banyunibo (Jawa : “Air Menetes Jatuh”) berada di tengah-tengahnya.

Candi Banyunibo masuk wilayah dusun dan desa seberang, Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, masuk kecamatan yang sama, Prambanan. Dari Banyunibo mencapai Candi Barong harus mendaki terjal perbukitan yang sebenarnya tidak jauh, sekitar 1,5 kilometer. Ada beberapa situs lain tidak jauh dari sini, seperti situs Arca Ganeśa, sekitar 250 meter dari Barong.

Candi Barong diperkirakan dibangun sekitar abad ke 9, peninggalan Kerajaan Mĕdang, atau kadang disebut candi dari periode Mataram. Dari temuan di komplek candi diperkirakan candi ini adalah candi pemujaan Dewa Wisnu dan Laksmi, yang dikenal juga sebagai Dewi Sri (Dewi Kemakmuran Pertanian). Candi ini, dengan demikian, termasuk kompleks pemujaan Dewa Wisnu yang sedikit ditemukan keberadaanya dibanding banyaknya candi pemujaan Dewa Śiwa yang sangat banyak ditemukan di Jawa.

Candi ini arsitektur istimewa, mengingatkan tri mandala atau tri angga seperti diterapkan dalam pendirian Pura-Pura di Bali, terbagi menjadi 3 bagian: Mandala Utama, Madya, Bawah (Jero, Jaba Tengah, Jabaan). Candi Ijo yang berada 2,5 kilometer di tenggara Candi Barong juga punya pembagian Tri Angga atau Tri Mandala seperti ini. Di Jawa Timur, Candi Penataran atau Rambut Palah, juga memiliki pembagian mandala yang sama.

Pembagian tri mandala atau tri angga ini seakan menjadi jejak tua percandian yang kemungkinan menjadi “template awal” atau model awal dari konsep tri mandala parahyangan (bangunan suci) di Bali. Apakah arsitektur berkonsep Tri Angga dan Tri Mandala parahyangan (Pura) di Bali dibawa dari sini? Bisa jadi, saya pikir demikian, dan tentunya perlu lebih mendalam diteliti secara ilmiah sebelum berkesimpulan bahwa cikal-bakal arsitektur parahyangan berkonsep ‘tri mandala’ di Jawa Timur dan Bali berasal dari sini.

Pagi dan senja hari, puncak Merapi tampak sangat indah dari Candi Barong. Sekaligus, dari candi ini, bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya suasana api bersemburan dan puncak Merapi terlempar berkeping-keping melayang ke angkasa ketika terjadi ‘Pralaya Jawa’. Bisa dibayangkan kesedihan dan duka mendalam yang dialami telah mendorong paksa penduduk Mĕdang bermigrasi ke timur pulau Jawa dan mungkin ke Bali.

Teori umum tentang istana Medang di Mataram (yang diperkirakan sekitar Yogyakarta-Prambanan-Ratu Boko) hancur akibat letusan Gunung Merapi, namun sejauh penelusuran saya, belum ada yang berani final mengatakan bencana itu terjadi di era pemerintahan Dyah Wawa atau Mpu Sindok.

Perkiraan atau pendapat umum mengatakan Rakai Pikatan memindahkan pusat pemerintahan ke Mamrati (sekarang termasuk daerah Kedu), Dyah Balitung dikabarkan memindahkannya lagi masih diseputar Kedu, bernama kawasan Poh Pitu. Konon ada juga perpindahan kembali ke Mataram, pada zaman Dyah Wawa. Bolak-balik pindah ini tentu ada faktor penyebab, biasanya kalau tidak perang, paling umum bencana alam.

Mpu Sindok yang memerintah di Jawa bagian timur disebutkan sebagai penguasa yang tak lain dari kelanjutan dari Medang yang ada di Jawa Tengah. Teori itu berdasar adanya sebuah kalimat pada prasasti yang merujuk dikeluarkan oleh Mpu Sindok: “Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh” (Prasasti Anjukladang, tahun 937). Sebelumnya, dalam Prasasti Turyan (tahun 929), disebutkan Mpu Sindok membangun ibu kota baru, di sekitar daerah Tamwlang.

Mĕdang, dari beberapa sumber lontar wariga dan palintihan di Bali, disebutkan sebagai asal-mula atau Mĕdangkĕmulan. Kĕmulan berarti “muasal” dan “pemujaan leluhur” dalam bahasa Bali. Dari Mĕdangkĕmulan konon dibawa ke Bali pengetahuan wariga dan berbagai pelintangan, juga pengetahuan ritual dan puja. Jika kita telisik dalam lontar, seperti ‘Lĕlintih Mĕdang Kĕmulan’ dan Wariga Mĕdang Kĕmulan, dalam bingkai mitos dan pembabaran wariga, disebutkan bahwa Mĕdang sebagai muasal dan salah satu akar pokok yang penting dalam pembentuk kalender kebudayaan dan konsepsi kosmologi manusia Bali.

Masyarakat Desa Julah adalah salah satunya yang mengamini hal ini. Di desa Bali Kuno, yang terletak di pesisir timur Buleleng, yang telah ada di abad ke 10, sebagaimana ditulis dalam Prasasti Sembiran (yang kini sebagian disimpan di parahyangan di Desa Sembiran dan sebagian di Julah), memiliki sejarah lisan bahwa leluhur mereka datang langsung dari Mĕdang. Raja Mĕdang (ada yang menyebutkan putra mahkotanya) telah meninggalkan mahkotanya sebagai kenangan di desa Julah. (Kini replikanya masih dikeramatkan di Pura Desa Julah, aslinya mahkota emas kuno itu beberapa tahun lalu lenyap digondol maling).

Selain masyarakat Bali Aga di Julah, masyarakat Bali Aga di Desa Trunyan, yang terletak di Danau Batur, legendanya bertutur tentang kedatangan leluhur masyarakat yang berasal dari Solo. Bukan dari Kediri atau Majapahit. Mereka mengklaim bahwa leluhur mereka terbang dari langit dan berasal dari garis Dalĕm Solo, jauh berabad-abad sebelum Kerajaan Kediri dan Majapahit berdiri.

Di beberapa tempat di Bali juga ada parahyangan khusus untuk Dalĕm Solo dan juga pelinggih atau altar pemujaan Bhatara Solo juga ada di banyak tempat di Bali. Demikian juga pengakuan dalam sejarah lisan Bali Aga di Desa Goblég dan sekitarnya yang mengatakan bahwa Dalĕm Solo menurunkan anak cucu di sana. Solo itu samakah dengan Mĕdang? Atau migrasi mereka dalam kurun atau periode letusan Merapi?

Bisa jadi sebagian leluhur Bali Aga berasal langsung dari Mĕdang ke Bali, seperti dikatakan dalam sejarah lisan desa Julah, tapi Mĕdang periode pemerintahan dan berpusat dimana ketika itu belum jelas. Atau migrasi Dalĕm Solo? Bisa jadi keduanya masyarakat dari periode yang sama yang membentuk Bali Kuno (?). Jika mitos dan sejarah lisan tentang Mĕdang ini benar adanya, artinya migrasi penduduk Mědang turut membentuk dan mewarnai kebudayaan Bali Kuno, terlepas dari Mĕdang era yang mana.

Di satu sisi, dipercaya melalui pejalanan waktu, dari Pralaya Jawa dan lenyapnya Mĕdang di Jawa Tengah, berselang kemudian muncul peradaban di Jawa Timur dalam prasasti Gajayana, yang bisa jadi tidak lain dari bagian dari lalu Kerajaan Medang garis silsilah Mpu Sindok (?), yang bersambung dengan periode rajakula Isana dan Dharmawangsa, yang besan dengan rajakula Warmadewa, lalu sambung-menyambung menjadi Kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit, kesemuannya di Jawa Timur, dan bersambung ke Kerajaan Gelgel di Bali, yang dipercaya tak terpisah telah membentuk kebudayaan Bali sampai Bali terkini.

Puncak Merapi boleh lenyap. Kerajaan Mĕdang boleh bubar. Tapi ia tidak benar-benar lenyap. Ia masih terjaga dalam ingatan, dalam sebentuk mitos dan dongeng, dalam cara menghitung kalender dan rumus mencari hari baik, yang mengaliri lontar-lontar dan kisah-kisah leluhur Bali. Ia masih hadir dalam puja dan doa-doa untuk para leluhur. (T)

Catatan Harian 16 Pebruari 2018.

Tags: bali agaGunung MerapiJawa Tengahkerajaan
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Next Post

400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

400 Buah Durian Siap, Festival Makan Duren Siap, ke Tajun Siap Graaak…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co