25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baper

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Baper

KOPLAK  mengusap peluh di dahinya. Melirik jam tangan di tangan kirinya. Berkali-kali dia melirik jam tangan itu sambil berpikir dan merengut. Ekspresinya terlihat seperti mengandung beban berat.

***

“Bape,karena Bape sudah menjadi ayah terbaik di seluruh dunia, Tiang, ingin sekali memberi hadiah istimewa untuk Bape? Bape boleh pilih. Bape mau hadiah apa?” Koplak terbelalak. Hadiah? Hadiah untuk apa? Dalam rangka apa? Untuk peristiwa apa? Baginya selama tahun 2017 sampai bulan Pebruari 2018 , Koplak merasa belum memiliki prestasi yang patut dibanggakan. Juga tidak ada hal-hal atau pun keputusanya yang cergas, lagas, dan bernas. Lalu, untuk apa anak perempuan semata wayangnya, Ni Luh Putu Kemitir ingin memberikan hadiah.

“Maksudmu, apa?” Koplak menatap Kemitir serius, sambil mengangumi kecantikannya, dan berharap jika waktunya telah tiba, Kemitir akan menemukan seorang lelaki yang diharapkan bisa menjaga Kemitir penuh cinta. Sama seperti cinta Koplak untuk Kemitir. Tulus, lurus.

“Kamu merasa tulus memberi cinta untuk anak perempuanmu?” tanya Pan Balung suatu senja.

“Cintaku pada anak perempuanku tidak tergantikan.”

“Tetapi kamu pamrih. Persis seperti orang-orang politik itu, kerjanya menebar janji. Mereka juga selalu membawa ketulusan, kedamaikan, cinta—kasih yang mereka tebarkan bak seorang dewa yang benar-benar sempurna. Turun ke pasar becek. Makan di warung kaki lima yang biasanya diperuntukkan untuk rakyat. Pulang dari warung dan makan di kaki lima yang hiruk-pikuk di pasar dijamin mereka pasti minum obat mencret.” Pan Balung terbahak-bahak.

“Jangan menghina seperti itu. Kemarin aku ikut rapat di kantor kecamatan. Kata Pak Camat, sebagai aparat pemerintah mulai saat ini entah sampai kapan, kami para Kades disuruh hati-hati berbicara. Hati-hati menyebar info di media sosial. Karena akan ada penerapan pidana terhadap pelaku penghinaan penyelenggara negara?”

“Hah?! Serius?”

“Serius. Pak Camat hanya memberi pengarahan seperti itu. Aturannya belum jelas.Tetapi aparat desa diminta hati-hati.”

“Waduh! Ini berarti kemunduran, Koplak?”

“Kemunduran?”

“Ya.“ Pan Balung berkata serius sambil menatap mata Koplak serius. Pan Balung terlihat sangat serius, Koplak terdiam. Matanya memandang Pan Balung penuh tanda tanya. Dahi Pan Balung berkerut keras. Sampai terlihat dengan jelas potret usia Pan Balung. Tidak biasanya Pan Balung berkerut seperti itu. Biasanya hal-hal remeh selalu jadi bahan tertawaannya. Kali ini Pan Balung serius. Koplak merasa ini pertanda ada sesuatu yang tidak beres merembes sangat dalam ke palung jiwa dan pikirannya.

“Maksudmu, apa? Tidak biasanya kau serius seperti ini. Sepertinya negara dalam kondisi bencana berat saja. Kau jangan menambah ketakutan dan teror.” Koplak berkata datar sambil menenangkan pikiran dan hatinya sendiri.

Pan Balung bagi Koplak adalah penunjuk arah selama dia ikut berpolitik. Walau pun cuma sebagai Kades di desa terpencil yang tidak pernah terjamah koran lokal, apalagi koran nasional. Kalau istilah orang politik tingkat tinggi Pan Balung ibarat penasehat yang mengingatkan Koplak pada Presiden Joko Widodo  yang sejak jadi presiden secara resmi didampingi sembilan orang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Nah, Pan Balung ini namanya Wantimdes spesial, karena Koplak hanya memiliki satu Wantimdes. Kalau Watimpres dibayar, Watimdes “ngayah” dan Pan Balung juga tidak pernah protes tentang jabatan tidak resmi yang disandangnya. Pan Balung juga tidak menuntut eksis atau dilantik dan masuk TV atau koran lokal. Pan Balung melalukannya dengan tulus, ikhlas dan riang. Demi persaabatan demi kemajuan desa Sawut, desa tempat lahir dan kelak kematian Pan Balung.

“Balung, apa yang kau tangkap dari rapat dengan Pak Camat?” Koplak ikut mengeryitkan dahinya.

“Ini berarti negara kita makin mundur Koplak. Jika penerapan pidana itu berlaku. Demokrasi yang telah kita perjuangkan sejak 1998, tidak berarti. omong kosong, mimpi siang bolong. Kebebasan menyampikan aspirasi itu jalan hidup bagi kemajuan sebuah negara, jalan hidup berdemokrasi seharusnya dijamin negara. Harusnya di depan hukum setiap orang memiliki hak sama, baik warga biasa, presiden maupun anggota DPR. Jika pasal penghinaan terhadap penyelenggara negara diterapkan, hal itu bisa mengancam demokrasi karena hal yang harus diingat adalah pada hakikatnya setiap orang di depan hukum sama,”

Koplak terdiam.

Pan Balung sarjana hukum di sebuah universitas ternama di negera ini berkata pelan dan hati-hati. Berharap Koplak paham. Pan Balung berusaha menata diksi bahasa Indonesia sesederhana mungkin, semudah mungkin biar bisa diserap Koplak, “Demokrasi yang sehat itu membutuhkan kritik dan aspirasi masyarakat untuk mengontrol kekuasaan. Kalau penyelenggara negara tidak mau dikritik, siapa yang akan mengingatkan mereka? Siapa yang akan mencaci kerja dan kekuasaan mereka? Karena kekuasaan cenderung membuat seseorang berprilaku korup. Kau bisa hitung, berapa ratus penyelenggara negara yang ditangkap KPK. Bayangkan kebayangan OTT, operasi tangkap tangan. Memalukan! Apa jadinya negara ini kalau orang-orang seperti kita tidak boleh bersuara? Sadar nggak sih mereka, sesungguhnya mereka ada karena kita, rakyat! Mereka bisa dapat fasilitas karena uang dari kita, rakyat!” Pan Balung menggelengkan kepalanya.

“Ya, aku paham.” Koplak berkata serius.

“Dari tadi kau melirik jam terus. Apa kau ada acara? Atau menunggu seseorang?” Pan Balung menatap Koplak. Koplak terdiam. Pan Balung tersenyum,“Jam tanganmu bagus, pasti hadiah dari orang spesial, ya? Sejak kematian istrimu, Ni Luh Wayan Langir. Aku tidak pernah mendengar kau dekat dengan perempuan. Baguslah kalau kau mulai mencoba mencari istri lagi. Minimal untuk teman hidupmu jika kau tua.” Pan Balung tersenyum jenaka lalu pamit pulang, sambil terus menggoda Koplak.

Koplak  menarik nafas. Ingat kata-kata Kemitir.

“Bape harus pakai hadiah ini. Ini jam mahal. Bape jangan baper?”

“Baper?”

“Iya bawa perasaan. Itu uang halal, Kemitir tidak korupsi, tidak juga jual diri.”

“Berat sekali jam ini?”

“Jam mahal, Bape. Buatan luar negeri.” Kemitir tersenyum sambil memeluk ayahnya dan membisikkan harga jam tangan itu. Hampir saja jantung Koplak keluar dari rangkanya. Ada rasa tidak enak memakai jam tangan seharga jutaan. Koplak tidak habis pikir bagaimana nurani orang korupsi itu ya? Apakah mereka tidak enak hati ketika mencuri duit rakyat?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu dipulangkan pada Kemitir, bocah perempuan yang sudah menjelma jadi gadis cantik itu berkata lugas.

“Bape terlalu baper. Makanya tidak kaya-kaya.” Kemitir tertawa santai Koplak mendelik sampai melorot kaca mata minusnya. Kemitir pun kembali berteriak, “Selamat hari valentine, Bape tercinta. Selamat merayakan imlek juga ya?” Kemitir pun berlalu. Hari Valentine? Memangnya dirinya abg? Koplak membiarkan Kemitir berlalu sambil melirik jam di tangannya. Baper? Koplak benar-benar merasa baper akut! (T)

Denpasar, 10/2/2018

 

Tags: Anti KorupsiKorupsiPolitik
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

First Part of “PlayPlay: Charcoal For Children 2017/2018” was a Success

Next Post

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Poster  “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co