25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature
In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Istimewa

SAYA tak ingat turnamen jenis apa itu. Yang jelas ada pertandingan sepakbola. Tempatnya di  Stadion Mayor Metra, sekira tahun 2002/2003. Mungkin karena dana minim, di lapangan tak tampak ada persiapan megah, padahal pertandingan sudah akan dimulai.

Bahkan meja duduk untuk instruktur pertandingan pun belum ada. Konon tak ada yang sewa meja karena duit belum ada. Seseorang bergerak, entah dengan cara apa. Tiba-tiba sekitar setengah jam kemudian datang mobil pick-up membawa meja dan sejumlah perlengkapan lain.

Sopir pick-up itu saya kenal dan ingat wajahnya hingga kini. Tapi saya lupa namanya. Yang benar-benar saya ingat, di pintu belakang pick-up tertulis tiga huruf besar: MKS.

Saya ingat tiga huruf itu karena pada saat itu seseorang nyeletuk gembira. “Yen sube mobil MKS datang, mekejang beres,” Artinya, kalau sudah mobil MKS datang semuanya beres.

Sebagai orang yang baru sekitar setahun-dua tahun di Buleleng, saya heran kenapa MKS begitu sakti. Apalagi kemudian dalam beberapa perhelatan event olahraga, baik cabang sepakbola, bulutangkis maupun  cabang lain, nama MKS selalu disebut-sebut.

Apa itu MKS. Saya tahu kemudian bahwa MKS adalah singkatan dari Menang Kalah Sehat. Itu semacam persatuan olahraga (POR) yang dibentuk Agus Sadikin Bakti, atau dikenal dengan nama Asbak. POR MKS dibentuk sekitar tahun 1975-an mengusung olahraga santai dengan prinsip kegembiraan, tanpa punya ambisi besar untuk jadi besar (apalagi dengan segala cara).

Agus Sadikin Bakti sangat mencintai MKS sebagaimana ia mencintai kegembiraan. Bahkan nama anaknya yang lahir di kisaran tahun itu diberi nama sesuai dengan inisial MKS, yakni Mila Krisna Silayati. POR MKS mewadahi berbagai cabang olahraga, antara lain sepakbola dan bulutangkis. Pada masa tahun 1980-an, semua klub yang berada di bawah naungan MKS selalu berjaya, hingga nama MKS sangat terkenal di Buleleng dan selalu melekat dengan sosok Agus Sadikin.

Selain mencintai MKS, tentu saja Agus Sadikin Bakti mencintai olahraga dan atlet-atlet yang berkembang di Buleleng. Ia pernah jadi pengurus KONI dan cukup lama terbenam dalam urusan-urusan PBSI Buleleng. Untuk dua cabang ini ia banyak berkorban, bukan hanya tenaga namun juga materi. Namun ia tak pernah bermasalah dengan pengorbanannya itu. Prinsipnya tetap MKS, menang kalah, termasuk dalam urusan materi, tak apa-apa, yang penting sehat.

Pribadi yang Unik

Kini Agus Sadikin Bakti meninggakan dunia olahraga yang dicintainya untuk selamanya. Ia meninggal dalam usia 77 tahun,  Jumat 2 Februari, ukul 05.05 wita, setelah sempat dirawat di RSUD Buleleng akibat Parkinson yang dideritanya sejak lama. Agus Sadikin Bakti meninggalkan seorang istri, Ni Luh Dwiasmi, dengan 6 anak dan 15 cucu.

Saya pernah mewancarai Agus Sadikin Bakti cukup intens tentang kiprahnya di dunia olahraga di Buleleng. Dari wawancara itu saya tahu Agus Sadikin Bakti adalah pribadi yang unik. Ia lahir di keluarga pengusaha, namun amat cinta pada olahraga dan juga seni. Bahkan kadang ia rela meninggalkan usahanya untuk mengurus olahraga, hingga omset usahanya berkali-kali sempat turun.

Dari sejumlah teman Agus Sadikin Bakti diketahui keluarga Agus Sadikin dulu punya toko besar bernama Toko Bakti di Jalan Diponogoro. Itu toko besar yang menjual segala jenis barang. Agus Sadikin Bakti kemudian juga mendirikan Toko Bahtera di Jalan Dewi Sartika Singaraja yang menjual alat-alat perlengkapan olahraga.

Terkadang, dalam sebuah kegiatan olahraga yang minim dana, alat dan perlengkapan olahraga untuk memperlancar kegiatan itu biasanya diambil terlebih dahulu di Toko Bahtera. Kadang dibayar kemudian, kadang tak dibayar hingga dilupakan sama sekali.

Istri Pertama

Untuk urusan pembinaan atlet, Agus Sadikin juga mengerahkan jiwa-raganya agar atlet-atlet Buleleng selalu berjaya. Terutama di bidang bulutangkis.  Baginya, bulutangkis adalah istri pertamanya.

“Ibu saya sering bilang, kalau bulutangkis itu adalah istri pertama bapak. Karena hampir tiap hari itu selalu bulutangkis, entah latihan, pertandingan dan lainya,” kata Chandra Berata, putra kedua Agus Sadikin.

Agus Sadikin sejak umur sekitar 15 tahun memang sudah mengenal buliutangkis dengan prestasi cukup gemilang, bahkan masuk dalam jajaran atlit bulutangkis yang cukup disegani lawan-lawannya.

Putra Dana (seorang pengurus inti PBSI Buleleng), mengakui Agus Sadikin Bakti dikenal sebagai tokoh panutan bagi insan pebulutangkis Bali umumnya dan Buleleng khususnya. Agus dinilai berani berkorban untuk kemajuan atlet-atlet bulutangkis. “Kalau materi jangan ditanya. Waktunya selalu ia luangkan untuk bulutangkis,” kata Putra Dana.

Pada suatu ketika, kata Putra Dana, tim bulutangkis Buleleng bertanding ke Denpasar. Agus Sadikin ikut sampai menutup tokonya selama dua hari. Agus Sadikin adalah panutan dan contoh yang mungkin sekarang kita tidak akan temui.

Kata-kata yang tidak pernah dilupakan oleh Putra Dana dari Agus Sadikin adalah “Yen sing ngelah modal de ngai model,” Artinya, jika tak punya modal, jangan bikin aneh-aneh.

Untuk urusan membuat kata-kata penuh makna dan motivasi, Agus Sadikin tak bisa dianggap remeh. Jika pernah masuk ke Gedung Bulutangkis di kawasan GOR Bhuwana Patra, di sejumlah dinding terdapat kata-kata movitasi bagi para atlet yang bertanding di gedung itu. Kata-katanya tak melulu serius, bahkan kerap mengandung kelucuan.

Dengan pribadi semacam itu, tak salah Joger sempat memberikan Agus Sadikin Bakti sertifikat yang diumumkan dalam kolom di media massa. Di situ ditulis pekerjaan Agus Sadikin: Pengusaha di waktu luang. Hobby: Main, Membina, dan melatih Bulutangkis.

Penghargaan yang lebih serius diperoleh dari PWI Bali. Ia dianugerahi penghargaan sebagai pengerak terbaik olahraga di Bali, pada tahun 1981. Kemudian Pemkab Buleleng juga memberikan penghargaan Satya Krida Nugraha, pada tahun 2008.

Akhirnya, selamat jalan Agus Sadikin Bakti. Santai saja. Tetap berolahraga di nirwana, dan ingat MKS, Menang Kalah Sehat. (T)

 

Tags: bulelengin memoriamolahragatokoh
Share162TweetSendShareSend
Previous Post

Sang Naga dari Tajun

Next Post

“Catatan Pulang” Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails
Next Post
“Catatan Pulang” Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

"Catatan Pulang" Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co