GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar dan kuat masih berdiri. Pohon beringin usia puluhan tahun tetap kokoh tumbuh di pojok depan sekolah. Lapangan yang dulu sering dipakai upacara juga masih ada, meski kini sudah dicor semen.
Sumur tua yang telah ditutup masih dibiarkan di belakang sekolah, walau sudah tidak dipakai lagi. Pak Pardi, penjaga sekolah dahulu menyebut sumur tua itu station water. Hingga kini semua alumni SMP itu masih ingat betul sosok Pak Pardi yang lugu dan lucu.
Beberapa ruang kelas masih tetap letaknya, namun sudah direnovasi dengan tambahan AC dan mengganti meja kursi dengan yang lebih kekinian. Namun demikian, kesan angker SMP di tengah kota itu masih tampak. Sekolah itu merupakan SMP pertama dan tertua di Cilacap. Meski terkesan angker, SMP itu menjadi favorit para siswa. Apalagi alumni sekolah itu banyak yang menjadi pejabat dan pengusaha ternama di Jakarta.
Malam Minggu depan alumni SMP lulusan tahun 1975 akan mengadakan reuni. Lebih dari 50 tahun tak bertemu, rencana reuni itu disambut gembira oleh para alumni. Rasa kangen ingin bertemu teman-teman sekolah mulai ramai dibicarakan di WA grup. Ada yang rindu pada kelas mereka, ada yang kangen pada taman tempat mengobrol, ada pula yang rindu kepada teman yang pernah ditaksirnya.
Susunan panitia reuni segera dibentuk. Mulyana didapuk menjadi ketua panitia. Orangnya ramah, berkumis tebal, dan sangat sosial kepada teman-temannya. Sebagai bendahara ditunjuk Suharyati yang manis dan murah senyum. Pergiwati yang hobi memasak diminta menjadi seksi konsumsi. Sudiarti yang sejak sekolah sering ikut lomba menyanyi dijadikan seksi acara. Sedangkan Solihin yang sering ngebut di jalan diminta sebagai seksi transportasi.
Dari 57 orang alumni SMP yang aktif di grup, 50 orang menyatakan siap untuk ikut hadir dalam acara reuni itu. Sedangkan 7 orang tidak dapat hadir karena alasan kesehatan dan tempat tinggal yang jauh. Maklum mereka kini telah berusia di atas 65 tahun, sehingga kadang ada saja teman yang sakit; bahkan beberapa sudah terlebih dahulu meninggal dunia.
Tak ketinggalan tentunya teman-teman yang mendapat perhatian khusus dari para lulusan SMP di tepi Pantai Selatan Jawa itu. Mereka adalah siswa yang dulu dikenal baik oleh teman dan para guru. Rudy, misalnya dikenal sebagai murid yang bandel. Janu, dikenal sebagai siswa yang ganteng dan pintar, sehingga banyak disukai murid perempuan. Sedangkan Utami, Niken,Waryati, Hapsari, Murti, Rini, Tuty, dan Ningsih adalah siswi cantik yang menjadi rebutan para siswa.
Panitia reuni mengundang Pak Sugandi, salah satu guru yang masih hidup. Beberapa guru yang dulu mengajar mereka sudah meninggal dunia. Pak Sugandi dikenal sebagai guru aljabar yang galak. Semua siswa akan diam tak berkutik ketika Pak Sugandi mengajar. Tidak segan ia akan menyuruh siswa ke luar kelas jika kedapatan mengobrol atau tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
***
Atas persetujuan para peserta, Mulyana sebagai ketua memutuskan puncak acara reuni diadakan malam hari di aula sekolah. Sebelumnya, pagi hari mereka berekreasi ke pantai Teluk Penyu sebagai ikon wisata kota Cilacap. Mereka tidak merayakan malam reuni di hotel, dengan pertimbangan efisiensi serta ingin bernostalgia di tempat mereka mengenyam pendidikan.
Selepas magrib satu per satu peserta reuni memasuki gerbang SMP. Ada yang datang sendiri, ada pula yang ditemani suaminya. Masih banyak yang tampak sehat, meski rambut sudah mulai memutih dan gigi yang mulai ompong. Ada yang masih berjalan dengan tegap, namun ada pula yang berjalan tertatih-tatih karena menderita penyakit asam urat.
“Kamu masih merokok, Rud?” tanya Kusmedi yang pensiunan lurah kepada Rudy yang dulu sering merokok di warung dekat sekolah.
“Alhamdulillah, Med. Kalau aku nggak merokok, berarti aku lagi sakit,” jawab Rudy sambil tertawa ngakak, lantas terbatuk lantaran asap rokok masuk ke tenggorokannnya.
Sebuah mobil yang dikemudikan Solihin memasuki pelataran sekolah. Rombongan ibu-ibu turun menuju aula. Mereka tampak ceria. Saling sapa, saling bertanya kabar.
“Wahh.. Suharyati masih kelihatan manis senyumnya,” kata Rano yang disambut gemuruh tawa teman-temannya.
“Bilang saja masih naksir sampai sekarang,” kata Tuty menggoda. Suharyati tersipu malu. Rano tertawa salah tingkah. Rano memang pernah menaruh hati pada Suharyati saat sekolah. Namun itu tak pernah ia ungkapkan hingga lulus, dan Suharyati menikah dengan lelaki lain.
Tak lama kemudian datang Pak Sugandi diantar anaknya. Wajah Pak Sugandi tidak banyak berubah. Masih tampak sisa-sisa kegalakannya. Rambutnya sudah memutih semua. Jalannya sangat lamban. Ia dituntun oleh Mulyana untuk menuju aula sekolah. Semua mantan muridnya memberikan salam dan sungkem.
Dari dalam aula terdengar tembang “Widuri” yang dinyanyikan Janu. Kemudian dilanjutkan lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” yang dilantunkan Sudiarti. Lagu-lagu itu mengingatkan mereka pada masa-masa sekolah. Suara merdu Janu dan Sudiarti mampu mengundang teman-teman lain untuk memasuki aula sekolah. Sebentar lagi acara reuni akan dimulai. Pergiwati menyiapkan jajanan tradisional untuk mengenang masa kecil. Ada kue klepon, mendoan, cenil, dan tempe dages.
Sebelum acara dimulai dilakukan pembacaan doa oleh Widodo yang kini menjadi ustaz. Suasana hening mewarnai aula sekolah. Doa dipanjatkan bagi teman-teman sekolah dan guru yang telah dipanggil Tuhan. Ngatini tampak terisak sambil berdoa. Ia teringat Yuli, teman akrabnya yang sudah meninggal beberapa bulan lalu.
Setelah acara berdoa selesai, Mulyana mengedarkan absensi kepada teman-teman sekolah yang hadir pada reuni kali ini. Namun ia dibuat terkejut. Dari 50 orang peserta yang hadir, di lembar absensi tercatat 51 orang. Ia kemudian menghitung satu per satu teman yang ada di aula. Jumlahnya 50 orang. Ia kembali menghitung. Jumlahnya tetap 50 orang. Lalu adakah yang menulis daftar hadir dua kali?
Mulyana mengumumkan daftar hadir kepada teman-temannya. Dikatakannya ada 51 orang yang tanda tangan, padahal yang hadir 50 orang. Apakah ada yang tanda tangan dua kali? Siapakah yang tanda tangan daftar hadir terakhir? Teman-temannya tak ada yang merasa tanda tangan dobel. Disarankan untuk dibacakan satu per satu yang absensi. Mulyana membaca sambil meminta temannya untuk tunjuk jari. Giliran nomor urut 51, daftar hadir reuni yang terakhir dipanggil.
“Nurani..” kata Mulyana sambil mencari nama itu di antara teman yang hadir. Tidak ada yang tunjuk jari. Semua saling menoleh.
“Nurani tidak lulus bareng kita. Dia tidak naik kelas, dan telah meninggal saat menjelang kenaikan kelas,” ujar Wiwik membuat terkejut semua temannya.
“Betul…, Nurani meninggal tercebur sumur tua di belakang sekolah,” tambah Hartini yang merasa pernah satu kelas dengan Nurani.
Mendadak suasana di aula berubah tegang. Semua saling pandang. Raut muka ketakutan terlihat di wajah Supriyono dan Cahyadi. Sementara Mulyana masih memandangi daftar hadir yang ia pegang. Tangannya agak gemetar ketika melihat nama dan tanda tangan Nurani di daftar hadir.
“Lantas siapa yang menulis dan tanda tangan nama Nurani..?” tanya Mulyana dengan nada ketakutan.
Tiba-tiba Pak Sugandi bangkit dari tempat duduknya. Ia memandangi semua siswa yang hadir. Wajah Pak Sugandi menunjukkan rasa sedih dan marah.
“Jangan tulis nama Nurani..!!! Dia tidak naik kelas dan sudah meninggal terpeleset di sumur sekolah,” kata Pak Sugandi sambil menahan emosinya.
Semua peserta reuni terdiam. Mulyana mencoba menenangkan diri. Utami menggeser tempat duduknya mendekati Tuty. Mereka berdua merinding dan gemetar. Supriyono dan Cahyadi gelisah, wajah mereka pucat ketakutan. Suasana reuni malam Minggu di sekolah berubah mencekam. Mereka semua mengingat kembali sosok Nurani yang meninggal terpeleset di sumur tua sekolah yang dulu belum dipasang buis beton.
***
Di saat semua sedang dicekam ketakutan, Supriyono tetiba ingin buang air kecil. Ia bergegas ke toilet yang terletak di ujung belakang sekolah. Awalnya ia merasa biasa saja, lantaran kebelet buang air. Namun ketika berada di toilet ia merasa merinding. Terbayang suasana masa lalu saat sekolah, toilet itu dianggap angker. Setelah buang air kecil, buru-buru ia meninggalkan toilet. Saat melewati sumur tua sekolah, Supriyono mendadak berhenti. Ia mendengar suara anak perempuan.
“Saya hadir..,” terdengar suara perempuan dari dalam sumur.
Supriyono kaget. Bulu kuduknya berdiri. Tengkuknya terasa kaku. Ingin berlari, tapi langkahnya terasa terhenti.
“Kamu siapa?” tanya Supriyono memberanikan diri.
“Aku Nurani,” jawab perempuan di dalam sumur itu.
Serasa mau pingsan, Supriyono terhuyung-huyung berjalan kembali menuju aula tempat teman-temannya berkumpul. Keringat dingin mengucur di dahinya. Semua terkejut melihat Supriyono bermuka pucat. Cahyadi menghampirinya.
“Kenapa kamu, Pri?” tanya Cahyadi.
“Aku mendengar suara Nurani di dalam sumur sekolah,” jawab Supriyono dengan napas terengah-engah.
Cahyadi terkesiap. Ia mendadak ketakutan juga. Wajahnya pucat. Mereka berdua duduk merapat dan saling berbisik. Teman-temannya curiga Supriyono dan Cahyadi menyimpan rahasia tentang sumur tua di sekolah. Pak Sugandi melihat gelagat kurang enak di malam reuni.
“Aku akan buka semua rahasia ini,” ucap Pak Sugandi membuat semua orang terdiam menunggu ceritanya.
Dengan nada pelan dan sedih Pak Sugandi menceritakan kejadian akhir tahun 1974 menjelang kenaikan kelas. Waktu itu ia sedang tidak mengajar. Ia duduk santai di ruang guru yang menghadap ke arah sumur tua. Ia melihat beberapa siswa sedang bercanda di kantin sekolah. Beberapa siswa tertawa berlarian sambil makan jajanan kantin. Ia juga melihat Supriyono dan Cahyadi sedang bercanda menggoda Nurani di dekat sumur tua.
“Aku melihat Supriyono dan Cahyadi bercanda dengan Nurani. Pak Pardi yang sedang menyapu halaman sekolah juga melihat. Mereka mendorong Nurani hingga terpeleset masuk ke dalam sumur. Nyawa Nurani tidak tertolong. Ia meninggal ketika diangkat ke atas,” kata Pak Sugandi sambil menatap Supriyono dan Cahyadi.
Semua peserta reuni terdiam. Pandangan mata mereka tertuju pada Supriyono dan Cahyadi. Mereka tak menyangka bila Nurani meninggal tercebur ke dalam sumur karena didorong oleh kedua teman mereka yang hadir reuni. Mereka juga tak menyangka jika Supriyono dan Cahyadi mampu menyimpan rahasia selama 50 tahun lebih.
“Aku memang tidak melaporkan kejadian yang sebenarnya, untuk menjaga nama baik sekolah. Aku bilang Nurani terpeleset masuk ke dalam sumur tua yang tidak ada penutup buis beton itu. Pak Pardi juga aku minta untuk tidak bercerita tentang kejadian sebenarnya”, tambah Pak Sugandi sambil menunjukkan wajah penyesalannya.
Suasana malam reuni kian hening, mencekam, dan menyedihkan. Wiwik tampak meneteskan air mata. Hartini menangis sesenggukan mengenang Nurani teman baiknya. Supriyono dan Cahyadi tertunduk ketakutan. Malam pertemuan yang seharusnya diisi dengan canda tawa itu berubah menjadi mengharukan.
***
Mulyana berusaha menenangkan keadaan. Ia tak ingin ikut larut dalam suasana haru dan menakutkan. Meski sebenarnya ia juga merinding mendengar cerita Pak Sugandi tentang kematian Nurani di sumur tua sekolah. Mulyana mengusulkan kepada Pak Sugandi dan teman-temannya untuk menuju ke sumur tua itu. Ia membawa daftar hadir reuni yang terdapat nama dan tanda tangan Nurani.
Malam semakin larut ketika peserta reuni berada di dekat sumur tua yang sudah ditutup beton cor. Angin berhembus pelan menerpa tubuh para mantan siswa SMP itu. Beberapa orang tampak merinding, yang lain tak mampu menunjukkan rasa takutnya dengan saling berpegangan tangan. Mulyana membaca kembali daftar hadir peserta reuni, hingga daftar hadir terakhir.
“Nurani..,” ucap Mulyana sedikit gemetar.
“Saya hadir…,” sahut suara perempuan dari dalam sumur.
Semua terkejut dan ketakutan. Suara dari dalam sumur memang mirip sekali suara Nurani, teman mereka yang puluhan tahun lalu meninggal tercebur ke dalam sumur. Supriyono dan Cahyadi keluar keringat dingin. Mereka berdua merasa bersalah atas kematian Nurani. Perlahan Pak Sugandi mendekati sumur tua itu.
“Kamu sekarang sudah naik kelas, Nurani..,” kata Pak Sugandi sambil meneteskan air mata.
Kertas daftar hadir peserta reuni yang dipegang Mulyana bergerak-gerak. Mulyana merasakan kertas itu menjadi dingin seperti es. Ia pandangi daftar hadir itu. Betapa kaget Mulyana. Nama dan tanda tangan Nurani sudah tidak tercantum lagi. Hanya ada nama 50 orang sesuai yang hadir. Padahal saat diedarkan tadi berjumlah 51 orang dengan nama Nurani di daftar hadir terakhir.
Malam reuni yang menegangkan dialami para alumni SMP lulusan tahun 1975. Malam reuni itu juga telah mengungkap misteri sumur tua sekolah dan tabir di balik kematian Nurani. Semua peserta bergegas kembali ke aula. Acara pentas seni dan musik kenangan dibatalkan, mengingat suasana yang mencekam dan menyedihkan.
Mulyana mengusulkan agar pagi harinya semua peserta reuni melakukan ziarah ke makam Nurani. Mereka semua berdoa agar arwah Nurani tenang di sisi Tuhan. Supriyono dan Cahyadi menangis tersedu sambil memegang batu nisan Nurani. Mereka berdua mengungkapkan penyesalan dan permintaan maaf.
Udara di tempat pemakaman terasa sejuk. Semua berharap Nurani juga sejuk di alam baka. Mulyana berjanji, jika tahun depan diadakan reuni lagi, mereka akan berkunjung ke makam Nurani terlebih dahulu.[T]




























