4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

Hartanto by Hartanto
November 4, 2026
in Esai
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

dr. Ary Duarsa dan Gusti Made Sukawidana | Foto: Hartanto

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr. Ary Duarsa, dan Gusti Made Sukawidana—memilih sebuah warung sederhana di tengah Denpasar. Warung itu menyajikan makanan khas Bali.

Dalam perbincangan siang itu, kami membicarakan kebanggaan bahwa Bali memiliki kegiatan sastra berskala internasional melalui Singaraja Literary Festival (SLF) dan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Bahkan, UWRF telah berlangsung selama 23 tahun. Sebuah usia yang cukup dewasa bagi seseorang.

Namun, ada ironi yang sulit diabaikan ketika seorang penyair kelahiran Ubud, Gusti Made Sukawidana, yang hidup dan berkarya di Denpasar, Ubud, serta berbagai wilayah Bali, justru tidak pernah memperoleh ruang di panggung sastra yang selama lebih dari dua dekade mengusung nama Ubud ke dunia.

Irama ironi itu semakin nyaring ketika penyair tersebut bukanlah sosok yang baru menulis kemarin sore. Ia telah menerbitkan delapan antologi puisi dan menerima berbagai penghargaan sepanjang perjalanan kesusastraannya. Hal serupa juga terlihat pada penyair Ary Duarsa yang telah menekuni sastra selama lebih dari 40 tahun. Selain keduanya, masih banyak penyair Bali berkualitas yang patut mendapat perhatian.

dr. Ary Duarsa dan Gusti Made Sukawidana | Foto: Hartanto

Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar mengapa GM Sukawidana dan Ary Duarsa tidak pernah diundang ke Ubud Writers & Readers Festival, melainkan apa yang sesungguhnya sedang dibaca, dipilih, dan diabaikan oleh mekanisme kuratorial festival tersebut.

Pada titik tertentu, persoalan ini melampaui nasib seorang individu. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan cara sebuah festival memahami tanah tempat ia berpijak.

Persoalan itu menjadi lebih mencolok jika kita memperluas pembicaraan kepada dr. Ary Duarsa, yang telah berkarya dalam sastra Bali dan Indonesia selama kurang lebih empat dekade.

Nama Ary Duarsa, yang memiliki nama lengkap Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa, dikenal luas dalam lingkungan kesusastraan Bali sebagai penulis, penyair, intelektual, sekaligus penjaga kesinambungan tradisi literer Bali modern.

Jika figur dengan durasi pengabdian sedemikian panjang juga tidak memperoleh ruang representatif, persoalannya bukan lagi soal individu. Persoalannya adalah pola.

Secara resmi, UWRF menyatakan dirinya bertujuan menghadirkan ruang perjumpaan antara penulis dunia, mempromosikan penulis Indonesia ke panggung internasional, serta menjadikan Ubud sebagai pusat sastra dan gagasan dunia.

Buku Air Mata (Tanah) Bali karya GM Sukawidana

Namun, menurut saya, ukuran keberhasilan festival sastra tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak nama internasional yang berhasil didatangkan.

Ukuran yang lebih penting adalah kemampuannya menemukan dan mengartikulasikan kualitas sastra yang tumbuh di tanah tempat festival itu berlangsung.

Festival sastra pada dasarnya bukan sekadar perayaan. Ia adalah mesin legitimasi. Siapa yang diundang, siapa yang dipanggungkan, siapa yang dibicarakan, dan siapa yang terus-menerus luput dari perhatian, semuanya membentuk peta nilai yang nantinya dianggap sebagai representasi dunia sastra.

Dalam konteks itulah, absennya GM Sukawidana dan Ary Duarsa selama puluhan tahun tidak bisa dilihat hanya sebagai kebetulan administratif atau keterbatasan slot acara.

Ketika sebuah festival telah berlangsung lebih dari dua dekade dan berkali-kali mengklaim dirinya sebagai ruang perjumpaan sastra global sekaligus lokal, ketidakmampuannya mengenali penyair yang tumbuh dan berkarya di halaman rumahnya sendiri menunjukkan adanya persoalan serius.

Buku Upacara-Upacara karya GM Sukawidana

Penyelenggara yang baik bukan hanya pemburu nama besar. Ia adalah pembaca yang jeli terhadap denyut kebudayaan di sekelilingnya. Ia mampu menemukan suara yang bekerja dalam diam, yang mungkin tidak terlalu gaduh di media sosial, tetapi memiliki kedalaman artistik yang konsisten.

Dalam sejarah seni dan sastra, banyak karya penting justru lahir dari pinggiran sorotan, dari ketekunan yang berlangsung jauh dari pusat perhatian.

Menurut saya, yang sering terjadi dalam festival-festival besar adalah munculnya apa yang dapat disebut sebagai “ajisaka sindrome”, meminjam pemikiran Jean Couteau tentang kecenderungan menganggap kebenaran selalu datang dari luar.

Para pengelola lebih mudah mengenali nama-nama yang datang dari luar karena nama tersebut telah lebih dahulu memperoleh pengakuan melalui jaringan internasional, media, atau institusi tertentu.

Akibatnya, yang dekat justru menjadi asing. Mereka yang tinggal di sekitar dianggap terlalu biasa untuk dilihat. Terjadilah paradoks penglihatan: semakin dekat suatu karya, semakin sulit keberadaannya disadari.

Buku Autobiografi Kejahatan karya Sthiraprana Duarsa

Fenomena ini sesungguhnya pernah dikritik oleh filsuf Maurice Merleau-Ponty ketika membahas persepsi.

Menurutnya, manusia sering gagal melihat apa yang paling dekat dengan dirinya karena kedekatan itu menciptakan ilusi bahwa kita sudah mengenalnya.

Dalam konteks Ubud, bisa jadi komunitas lokal tidak lagi dilihat sebagai medan penemuan, tetapi sekadar latar belakang eksotis bagi narasi internasional yang lebih menarik secara promosi.

Padahal, Ubud bukan hanya merek geografis. Ubud adalah ruang budaya yang dibangun oleh para seniman, penulis, pelukis, pematung, pemusik, dan penyair yang telah hidup puluhan tahun di dalamnya. Jika festival yang membawa nama Ubud gagal membaca para pelaku kebudayaan tersebut, festival itu perlahan berisiko mengalami keterputusan dengan akar yang memberi legitimasi atas keberadaannya.

Tentu tidak ada kewajiban bagi penyelenggara festival untuk mengundang setiap penulis. Kurator memiliki hak penuh untuk menentukan pilihan artistiknya.

Akan tetapi, hak kuratorial tidak identik dengan kebebasan yang terbebas dari kritik. Justru karena kurasi merupakan tindakan memilih, setiap pilihan selalu mengandung konsekuensi etis dan intelektual.

Ketika Ary Duarsa dan GM Sukawidana, yang memiliki rekam jejak panjang, terus-menerus luput dari radar kuratorial, publik berhak mempertanyakan parameter apa yang sesungguhnya sedang bekerja.

Pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan bukan demi membela satu, dua, atau sekian orang sastrawan lokal, tetapi demi menjaga kesehatan ekosistem sastra itu sendiri.

Buku Puisi-Puisi yang Ditulis karena Cinta karya Sthiraprana Duarsa

Sebab, sastra sering mati bukan karena tidak ada penulis berbakat, melainkan karena sistem seleksi kehilangan sensitivitas terhadap sumber-sumber bakat yang berada di luar orbitnya.

GM Sukawidana maupun Ary Duarsa mungkin tidak memerlukan undangan festival untuk membuktikan diri sebagai penyair.

Delapan buku puisi yang telah lahir menjadi bukti yang lebih sunyi, tetapi juga lebih kokoh dibandingkan sebuah sesi diskusi selama satu jam. Demikian pula, lebih dari 40 tahun Ary Duarsa berkarya dalam sastra tentu bukanlah kegiatan iseng semata.

Jika setiap tahun festival menghadirkan ratusan pembicara dari berbagai negara, secara matematis, selama lebih dari dua puluh tahun telah tersedia ribuan slot penampilan.

UWRF sendiri menyebut telah menghadirkan ratusan penulis dunia dan menjadi ajang sastra internasional terbesar di kawasan. Karena itu, absennya tokoh-tokoh sastra Bali seperti GM Sukawidana atau Ary Duarsa selama bertahun-tahun sulit dijelaskan hanya dengan alasan keterbatasan ruang.

Pertanyaan yang kemudian muncul sangat sederhana: bagaimana mungkin festival yang membawa nama Ubud mampu menemukan penyair dari New York, Melbourne, London, Karachi, Tokyo, atau Delhi, tetapi gagal menemukan penyair yang tinggal di Bali sendiri?

Masih menurut saya, festival sastra yang besar bukanlah festival yang berhasil mendatangkan sebanyak mungkin nama terkenal dari luar negeri. Festival yang besar adalah festival yang mampu membuat dunia melihat kualitas yang tumbuh di rumahnya sendiri.

Ia menjadi jendela, bukan cermin narsistik. Ia memperkenalkan mereka yang belum dikenal, bukan sekadar merayakan mereka yang sudah terkenal.

Mungkin karena itu, persoalan ini sebaiknya tidak dibaca sebagai keluhan seorang penyair yang belum memperoleh panggung.

Barangkali, yang patut dipertanyakan bukanlah mengapa GM Sukawidana, Ary Duarsa, dan beberapa penyair senior lokal belum pernah diundang.

Menurut pemikiran saya, hal yang lebih mendesak adalah mengapa penyelenggara yang setiap tahun piawai menatap dunia justru gagal melihat beberapa orang yang berdiri begitu dekat di hadapannya.

Sebab, dalam kebudayaan, sering kali yang paling jauh bukanlah mereka yang berada di seberang lautan, melainkan mereka yang selama ini berdiri tepat di depan mata, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh dipandang.[T]

Tags: GM SukawidanaSingaraja Literary FestivalSthiraprana DuarsaUbud Writers & Readers Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

Next Post

LONTAR USADA KERALA

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LONTAR USADA KERALA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co