SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr. Ary Duarsa, dan Gusti Made Sukawidana—memilih sebuah warung sederhana di tengah Denpasar. Warung itu menyajikan makanan khas Bali.
Dalam perbincangan siang itu, kami membicarakan kebanggaan bahwa Bali memiliki kegiatan sastra berskala internasional melalui Singaraja Literary Festival (SLF) dan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Bahkan, UWRF telah berlangsung selama 23 tahun. Sebuah usia yang cukup dewasa bagi seseorang.
Namun, ada ironi yang sulit diabaikan ketika seorang penyair kelahiran Ubud, Gusti Made Sukawidana, yang hidup dan berkarya di Denpasar, Ubud, serta berbagai wilayah Bali, justru tidak pernah memperoleh ruang di panggung sastra yang selama lebih dari dua dekade mengusung nama Ubud ke dunia.
Irama ironi itu semakin nyaring ketika penyair tersebut bukanlah sosok yang baru menulis kemarin sore. Ia telah menerbitkan delapan antologi puisi dan menerima berbagai penghargaan sepanjang perjalanan kesusastraannya. Hal serupa juga terlihat pada penyair Ary Duarsa yang telah menekuni sastra selama lebih dari 40 tahun. Selain keduanya, masih banyak penyair Bali berkualitas yang patut mendapat perhatian.

Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar mengapa GM Sukawidana dan Ary Duarsa tidak pernah diundang ke Ubud Writers & Readers Festival, melainkan apa yang sesungguhnya sedang dibaca, dipilih, dan diabaikan oleh mekanisme kuratorial festival tersebut.
Pada titik tertentu, persoalan ini melampaui nasib seorang individu. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan cara sebuah festival memahami tanah tempat ia berpijak.
Persoalan itu menjadi lebih mencolok jika kita memperluas pembicaraan kepada dr. Ary Duarsa, yang telah berkarya dalam sastra Bali dan Indonesia selama kurang lebih empat dekade.
Nama Ary Duarsa, yang memiliki nama lengkap Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa, dikenal luas dalam lingkungan kesusastraan Bali sebagai penulis, penyair, intelektual, sekaligus penjaga kesinambungan tradisi literer Bali modern.
Jika figur dengan durasi pengabdian sedemikian panjang juga tidak memperoleh ruang representatif, persoalannya bukan lagi soal individu. Persoalannya adalah pola.
Secara resmi, UWRF menyatakan dirinya bertujuan menghadirkan ruang perjumpaan antara penulis dunia, mempromosikan penulis Indonesia ke panggung internasional, serta menjadikan Ubud sebagai pusat sastra dan gagasan dunia.

Namun, menurut saya, ukuran keberhasilan festival sastra tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak nama internasional yang berhasil didatangkan.
Ukuran yang lebih penting adalah kemampuannya menemukan dan mengartikulasikan kualitas sastra yang tumbuh di tanah tempat festival itu berlangsung.
Festival sastra pada dasarnya bukan sekadar perayaan. Ia adalah mesin legitimasi. Siapa yang diundang, siapa yang dipanggungkan, siapa yang dibicarakan, dan siapa yang terus-menerus luput dari perhatian, semuanya membentuk peta nilai yang nantinya dianggap sebagai representasi dunia sastra.
Dalam konteks itulah, absennya GM Sukawidana dan Ary Duarsa selama puluhan tahun tidak bisa dilihat hanya sebagai kebetulan administratif atau keterbatasan slot acara.
Ketika sebuah festival telah berlangsung lebih dari dua dekade dan berkali-kali mengklaim dirinya sebagai ruang perjumpaan sastra global sekaligus lokal, ketidakmampuannya mengenali penyair yang tumbuh dan berkarya di halaman rumahnya sendiri menunjukkan adanya persoalan serius.

Penyelenggara yang baik bukan hanya pemburu nama besar. Ia adalah pembaca yang jeli terhadap denyut kebudayaan di sekelilingnya. Ia mampu menemukan suara yang bekerja dalam diam, yang mungkin tidak terlalu gaduh di media sosial, tetapi memiliki kedalaman artistik yang konsisten.
Dalam sejarah seni dan sastra, banyak karya penting justru lahir dari pinggiran sorotan, dari ketekunan yang berlangsung jauh dari pusat perhatian.
Menurut saya, yang sering terjadi dalam festival-festival besar adalah munculnya apa yang dapat disebut sebagai “ajisaka sindrome”, meminjam pemikiran Jean Couteau tentang kecenderungan menganggap kebenaran selalu datang dari luar.
Para pengelola lebih mudah mengenali nama-nama yang datang dari luar karena nama tersebut telah lebih dahulu memperoleh pengakuan melalui jaringan internasional, media, atau institusi tertentu.
Akibatnya, yang dekat justru menjadi asing. Mereka yang tinggal di sekitar dianggap terlalu biasa untuk dilihat. Terjadilah paradoks penglihatan: semakin dekat suatu karya, semakin sulit keberadaannya disadari.

Fenomena ini sesungguhnya pernah dikritik oleh filsuf Maurice Merleau-Ponty ketika membahas persepsi.
Menurutnya, manusia sering gagal melihat apa yang paling dekat dengan dirinya karena kedekatan itu menciptakan ilusi bahwa kita sudah mengenalnya.
Dalam konteks Ubud, bisa jadi komunitas lokal tidak lagi dilihat sebagai medan penemuan, tetapi sekadar latar belakang eksotis bagi narasi internasional yang lebih menarik secara promosi.
Padahal, Ubud bukan hanya merek geografis. Ubud adalah ruang budaya yang dibangun oleh para seniman, penulis, pelukis, pematung, pemusik, dan penyair yang telah hidup puluhan tahun di dalamnya. Jika festival yang membawa nama Ubud gagal membaca para pelaku kebudayaan tersebut, festival itu perlahan berisiko mengalami keterputusan dengan akar yang memberi legitimasi atas keberadaannya.
Tentu tidak ada kewajiban bagi penyelenggara festival untuk mengundang setiap penulis. Kurator memiliki hak penuh untuk menentukan pilihan artistiknya.
Akan tetapi, hak kuratorial tidak identik dengan kebebasan yang terbebas dari kritik. Justru karena kurasi merupakan tindakan memilih, setiap pilihan selalu mengandung konsekuensi etis dan intelektual.
Ketika Ary Duarsa dan GM Sukawidana, yang memiliki rekam jejak panjang, terus-menerus luput dari radar kuratorial, publik berhak mempertanyakan parameter apa yang sesungguhnya sedang bekerja.
Pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan bukan demi membela satu, dua, atau sekian orang sastrawan lokal, tetapi demi menjaga kesehatan ekosistem sastra itu sendiri.

Sebab, sastra sering mati bukan karena tidak ada penulis berbakat, melainkan karena sistem seleksi kehilangan sensitivitas terhadap sumber-sumber bakat yang berada di luar orbitnya.
GM Sukawidana maupun Ary Duarsa mungkin tidak memerlukan undangan festival untuk membuktikan diri sebagai penyair.
Delapan buku puisi yang telah lahir menjadi bukti yang lebih sunyi, tetapi juga lebih kokoh dibandingkan sebuah sesi diskusi selama satu jam. Demikian pula, lebih dari 40 tahun Ary Duarsa berkarya dalam sastra tentu bukanlah kegiatan iseng semata.
Jika setiap tahun festival menghadirkan ratusan pembicara dari berbagai negara, secara matematis, selama lebih dari dua puluh tahun telah tersedia ribuan slot penampilan.
UWRF sendiri menyebut telah menghadirkan ratusan penulis dunia dan menjadi ajang sastra internasional terbesar di kawasan. Karena itu, absennya tokoh-tokoh sastra Bali seperti GM Sukawidana atau Ary Duarsa selama bertahun-tahun sulit dijelaskan hanya dengan alasan keterbatasan ruang.
Pertanyaan yang kemudian muncul sangat sederhana: bagaimana mungkin festival yang membawa nama Ubud mampu menemukan penyair dari New York, Melbourne, London, Karachi, Tokyo, atau Delhi, tetapi gagal menemukan penyair yang tinggal di Bali sendiri?
Masih menurut saya, festival sastra yang besar bukanlah festival yang berhasil mendatangkan sebanyak mungkin nama terkenal dari luar negeri. Festival yang besar adalah festival yang mampu membuat dunia melihat kualitas yang tumbuh di rumahnya sendiri.
Ia menjadi jendela, bukan cermin narsistik. Ia memperkenalkan mereka yang belum dikenal, bukan sekadar merayakan mereka yang sudah terkenal.
Mungkin karena itu, persoalan ini sebaiknya tidak dibaca sebagai keluhan seorang penyair yang belum memperoleh panggung.
Barangkali, yang patut dipertanyakan bukanlah mengapa GM Sukawidana, Ary Duarsa, dan beberapa penyair senior lokal belum pernah diundang.
Menurut pemikiran saya, hal yang lebih mendesak adalah mengapa penyelenggara yang setiap tahun piawai menatap dunia justru gagal melihat beberapa orang yang berdiri begitu dekat di hadapannya.
Sebab, dalam kebudayaan, sering kali yang paling jauh bukanlah mereka yang berada di seberang lautan, melainkan mereka yang selama ini berdiri tepat di depan mata, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh dipandang.[T]





























