31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Ruang Tunggu Kehidupan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi?

Hampir setengah tahun sudah hidup kami seperti berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Rumah yang dahulu menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat, kini seolah berpindah ke lorong-lorong rumah sakit, ruang tunggu, kamar rawat inap, dan bangku-bangku panjang tempat keluarga pasien menunggu kabar dari dokter.

Semua bermula ketika pendamping hidup saya divonis mengidap kanker paru-paru. Belum selesai kami mencerna kenyataan itu, kabar berikutnya datang seperti gelombang yang menghantam tanpa memberi kesempatan untuk bersiap: sel kanker telah bermetastasis hingga ke bagian kepala.

Ada saat-saat ketika saya merasa hidup seperti sedang menguji batas kemampuan manusia untuk menerima kenyataan. Kami tidak pernah merencanakan perjalanan semacam ini. Tidak pernah pula membayangkan bahwa sebagian besar waktu kami akan diisi dengan jadwal konsultasi, hasil pemeriksaan, tindakan medis, obat-obatan, dan berbagai keputusan yang harus diambil dengan hati yang tidak selalu tenang.

Namun, bukankah hidup memang sering berjalan di luar rencana? Kita boleh menyusun masa depan dengan begitu rapi, tetapi ada saatnya kehidupan datang membawa halaman-halaman yang tidak pernah kita pesan. Pada saat itulah kita belajar bahwa manusia tidak selalu bisa memilih apa yang akan terjadi, tetapi masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana menjalaninya.

Dan kami memilih untuk terus berikhtiar. Dua kali operasi telah dijalani. Pembedahan pertama dan kedua bukanlah perkara sederhana, terlebih ketika yang terbaring di meja operasi adalah seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari kehidupan kita.

Saya menyaksikan bagaimana kata operasi berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda maknanya ketika kita mengalaminya sendiri. Dahulu, mungkin saya hanya memahaminya sebagai istilah medis. Kini, kata itu memiliki wajah, kecemasan, doa, dan waktu tunggu yang terasa begitu panjang.

Di ruang tunggu, menit berjalan seperti berjam-jam. Setiap pintu yang terbuka membuat kepala menoleh. Setiap langkah petugas medis memunculkan harapan sekaligus kecemasan. Kita belajar menunggu dengan cara yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

Setelah operasi, perjuangan belum selesai. Kemoterapi melalui tablet harus dijalani. Jika dihitung hingga tuntas, ada 62 tablet yang mesti diminum sesuai program pengobatan. Enam puluh dua tablet.

Bagi orang lain, angka itu mungkin sekadar jumlah obat. Bagi kami, setiap tablet adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kesembuhan. Ada jadwal yang harus dipatuhi, ada kondisi tubuh yang harus diperhatikan, dan ada harapan yang kami titipkan pada setiap tahapan pengobatan. Semoga setelah seluruh rangkaian itu selesai, tubuhnya semakin kuat dan kesehatannya berangsur pulih.

Akhir bulan ini, perjuangan berikutnya menanti. Radioterapi pada bagian kepala, di area bekas operasi, dijadwalkan sebanyak sepuluh kali. Sepuluh kali datang ke rumah sakit. Sepuluh kali menjalani prosedur. Sepuluh kali pula kami belajar memperbarui keberanian.

Tentu saja, angka-angka itu tidak sesederhana kelihatannya. Di baliknya ada perjalanan, tenaga, biaya, waktu, dan perasaan yang kadang sulit dijelaskan kepada orang lain. Ada tubuh yang harus bertahan, ada pikiran yang harus dikuatkan, dan ada hati yang terus berusaha percaya bahwa esok masih menyimpan kemungkinan baik.

***

Saya tidak tahu bagaimana akhir perjalanan ini nanti. Tidak seorang pun benar-benar mengetahui apa yang menunggu di tikungan kehidupan. Tetapi saya tahu satu hal: selama masih ada jalan ikhtiar yang dapat ditempuh, kami ingin terus berjalan.

Kalau ingatan saya tidak keliru, sudah lima kali pendamping hidup saya menjalani rawat inap di rumah sakit kanker pusat. Lima kali masuk kamar perawatan. Lima kali pula kami harus menyesuaikan diri dengan suasana yang sama, tetapi selalu membawa cerita dan kecemasan yang berbeda.

Ada bunyi alat medis yang sesekali memecah keheningan. Ada langkah perawat yang datang memeriksa keadaan pasien. Ada percakapan lirih dari kamar sebelah. Ada keluarga yang tidur sambil duduk karena tidak ingin terlalu jauh dari orang yang dicintainya.

Rumah sakit ternyata bukan hanya tempat orang sakit berjuang melawan penyakit. Rumah sakit juga menjadi tempat keluarga belajar menghadapi ketakutan, menerima keterbatasan, dan memahami arti kehadiran. Di sana saya melihat bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kalimat-kalimat romantis.

Cinta kadang hadir dalam tangan yang membantu seseorang bangkit dari tempat tidur. Dalam kesediaan menunggu hasil pemeriksaan berjam-jam. Dalam langkah kecil menuju apotek. Dalam kesabaran mendengarkan keluhan yang sama berulang kali. Bahkan dalam diam, ketika kita tidak tahu harus mengatakan apa selain, “Kita jalani bersama, ya.”

Dahulu, mungkin kita mengira mendampingi pasangan berarti berjalan berdampingan ketika hidup sedang baik-baik saja. Pergi berlibur bersama, menikmati makanan kesukaan, berbincang tentang anak-anak, pekerjaan, atau rencana masa depan.

Namun, ketika penyakit datang, makna pendampingan memperoleh kedalaman yang berbeda. Kini, berjalan berdampingan bisa berarti mendorong kursi roda. Bisa berarti menunggu di depan ruang radiologi. Bisa berarti menguatkan seseorang yang sedang takut, padahal diri sendiri pun sebenarnya sedang berusaha keras agar tidak runtuh.

Saya mulai memahami bahwa kesetiaan bukan hanya soal siapa yang tinggal ketika kehidupan terasa menyenangkan. Kesetiaan juga tentang siapa yang bersedia bertahan ketika hari-hari dipenuhi ketidakpastian. Mungkin, justru pada saat-saat seperti itulah cinta memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.

Ada satu hal yang perlahan saya pelajari selama menjalani hari-hari di rumah sakit: manusia tidak selalu membutuhkan nasihat panjang untuk merasa kuat. Terkadang, ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Di warung, kantin, atau mushola rumah sakit, saya sering bertemu dengan keluarga pasien lain. Percakapan kami biasanya sederhana. Berawal dari pertanyaan tentang kamar perawatan, jadwal tindakan, atau sudah berapa lama menjalani pengobatan.

Lambat laun, percakapan itu menjadi lebih pribadi. Ada yang bercerita tentang suaminya. Ada yang menceritakan perjuangan istrinya. Ada pula yang mendampingi orang tua atau anaknya. Masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu pengalaman yang hampir serupa: mencintai seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit serius.

Kami mungkin tidak saling mengenal sebelumnya. Tidak mengetahui pekerjaan, jabatan, pendidikan, atau kehidupan keluarga masing-masing. Namun, di antara meja kantin dan sajadah mushola, semua perbedaan itu seolah kehilangan arti pentingnya. Yang tersisa hanyalah manusia yang sedang berharap.

“Semoga cepat membaik, ya.”

“Semoga pengobatannya lancar.”

“Yang sabar, Pak. Kita berusaha dan berdoa.”

Kalimat-kalimat itu sederhana. Tidak mengandung teori yang rumit. Tidak disusun dengan bahasa akademik. Tetapi sering kali terasa lebih menenteramkan daripada uraian panjang tentang kehidupan. Kami saling menguatkan, meskipun sebenarnya masing-masing juga sedang membutuhkan kekuatan.

Ada semacam solidaritas yang tumbuh secara alami. Kami tidak perlu membuat organisasi, memilih ketua, atau menyusun program kerja. Penderitaan telah mempertemukan kami dalam sebuah persaudaraan yang tidak direncanakan.

Di sana saya belajar bahwa empati tidak selalu lahir dari kemampuan memahami seluruh penderitaan orang lain. Kadang-kadang, empati tumbuh justru karena kita mengakui bahwa kita pun tidak sepenuhnya mengerti, tetapi bersedia menemani.

Kami tidak bisa menjanjikan kesembuhan kepada keluarga pasien lain. Mereka pun tidak bisa menjanjikannya kepada kami. Namun, kami dapat memberikan sesuatu yang tidak kalah berharga: keyakinan bahwa tidak seorang pun harus merasa sendirian dalam menghadapi kesulitannya. Barangkali itulah salah satu bentuk kemanusiaan yang paling sederhana sekaligus paling agung.

***

Di tengah perjalanan ini, doa menjadi bagian yang tidak pernah terpisahkan dari kehidupan kami. Doa dipanjatkan ketika berangkat ke rumah sakit. Doa dibisikkan ketika menunggu tindakan medis. Doa mengiringi langkah menuju kamar perawatan. Bahkan ketika malam semakin larut dan pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan, doa tetap menjadi tempat hati bersandar.

Kami memohon kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Penyembuh, agar diberikan kekuatan, kemudahan, dan kesembuhan bagi pendamping hidup saya.  Saya tahu, berdoa bukan berarti kita mengetahui bagaimana Allah akan menjawab permohonan kita. Berdoa juga bukan jaminan bahwa semua yang kita inginkan akan terjadi persis seperti yang kita bayangkan.

Tetapi doa membuat saya menyadari bahwa ada batas kemampuan manusia yang harus diakui dengan rendah hati. Kita dapat mencari dokter terbaik, mengikuti prosedur pengobatan, mematuhi jadwal terapi, dan melakukan berbagai ikhtiar yang tersedia. Semua itu penting dan harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Namun, pada akhirnya, kita juga harus menerima bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Di situlah saya mulai memahami perbedaan antara menyerah dan berserah diri. Menyerah berarti berhenti berusaha karena merasa tidak ada lagi harapan. Berserah diri berarti tetap berusaha sebaik mungkin, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya tidak sepenuhnya menjadi milik kita.

Kami tidak ingin menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berikhtiar. Sebaliknya, kami ingin menjadikan keimanan sebagai sumber kekuatan agar tetap mampu menjalani pengobatan dengan sabar dan penuh harapan.

Saya tidak meminta kehidupan selalu mudah. Saya hanya berharap Allah memberikan kekuatan agar kami mampu melewati apa pun yang sedang dan akan kami hadapi. Jika kesembuhan masih terbentang di depan, semoga jalan menuju ke sana dimudahkan. Jika masih ada tahapan panjang yang harus dilalui, semoga kami diberi ketabahan. Dan jika ada kenyataan yang belum mampu kami pahami, semoga hati kami tetap dijaga agar tidak kehilangan iman dan harapan.

***

Hampir setengah tahun menjalani perjalanan dari rumah sakit ke rumah sakit membuat saya memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Dahulu, waktu terasa seperti sesuatu yang selalu tersedia. Kita menggunakannya untuk bekerja, mengejar cita-cita, memenuhi berbagai tanggung jawab, dan sesekali mengeluh karena merasa terlalu sibuk.

Sekarang, satu hari yang tenang terasa begitu berharga. Satu pagi tanpa keluhan yang berarti menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Satu malam dengan tidur yang lebih nyaman terasa seperti hadiah. Bahkan percakapan ringan di rumah, yang dahulu mungkin dianggap biasa, kini memiliki makna tersendiri.

Saya mulai mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu berupa peristiwa besar. Ia bisa hadir dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kita. Secangkir teh yang diminum bersama. Tatapan mata yang saling memahami. Senyum sederhana setelah menjalani pemeriksaan. Atau kesempatan untuk pulang dari rumah sakit dan kembali beristirahat di rumah sendiri.

Ternyata, ketika kehidupan berhadapan dengan penyakit, ukuran tentang apa yang penting perlahan berubah. Hal-hal yang dahulu terasa mendesak kadang kehilangan urgensinya. Sementara hal-hal yang selama ini dianggap biasa justru menjadi sangat berarti.

Kita mulai memahami bahwa kesehatan bukan sekadar modal untuk bekerja dan beraktivitas. Kesehatan adalah kesempatan untuk hadir bagi orang-orang yang kita cintai. Dan waktu bukan sekadar angka dalam kalender. Waktu adalah ruang yang diberikan kepada kita untuk menyayangi, menemani, memaafkan, dan mengucapkan terima kasih.

Barangkali, kita memang perlu sesekali berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan agar mampu melihat kembali apa yang sebenarnya paling berharga. Bukan untuk menunggu datangnya penyakit, melainkan untuk belajar menghargai kehidupan sebelum kita dipaksa menyadari betapa rapuhnya ia.

Saya tidak tahu berapa panjang lagi perjalanan ini. Masih ada radioterapi yang harus dijalani. Masih ada pemeriksaan dan evaluasi pengobatan. Masih ada hari-hari yang mungkin membawa kabar baik, tetapi mungkin pula menghadirkan kecemasan baru.

Saya tidak ingin berpura-pura selalu kuat. Ada kalanya kelelahan datang, pikiran terasa penuh, dan hati ingin beristirahat dari segala ketidakpastian. Saya hanyalah manusia biasa yang sedang berusaha mendampingi seseorang yang sangat dicintai.

Tetapi setiap kali perasaan itu datang, saya kembali mengingat wajah-wajah yang saya temui di kantin, warung, dan mushola rumah sakit. Mereka juga sedang berjuang. Mereka juga memiliki kecemasan. Mereka juga menyimpan doa-doa yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.

Lalu saya menyadari, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Hidup adalah perjalanan untuk saling menguatkan ketika kekuatan kita mulai berkurang. Jika hari ini saya mampu menghibur orang lain, mungkin besok saya sendiri yang membutuhkan penghiburan. Jika hari ini saya memberikan semangat kepada keluarga pasien lain, mungkin pada kesempatan berikutnya sayalah yang membutuhkan kalimat sederhana untuk bertahan.

Begitulah kehidupan mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak pernah benar-benar berdiri sendirian. Ada tangan-tangan yang membantu, ada orang-orang yang mendoakan, ada tenaga medis yang bekerja dengan keahliannya, ada keluarga yang terus mendampingi, dan ada orang-orang asing yang kehadirannya sebentar tetapi meninggalkan kesan mendalam.

Di antara semua itu, kami terus melangkah, satu hari demi satu hari. Bukan karena kami tidak takut, melainkan karena rasa takut tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Bukan karena kami mengetahui akhir cerita, melainkan karena kami percaya bahwa setiap hari masih layak dijalani dengan ikhtiar, kasih sayang, dan doa.

***

Malam nanti, mungkin saya kembali memanjatkan doa yang sama. Memohon agar pendamping hidup saya diberi kekuatan menjalani pengobatan. Memohon agar setiap tahapan terapi membawa manfaat terbaik. Memohon agar Allah SWT membukakan jalan menuju kesehatan dan memberikan ketenangan bagi kami sekeluarga.

Saya tidak meminta kehidupan mengembalikan semua hal persis seperti dahulu. Saya hanya berharap kami masih diberi kesempatan untuk menikmati hari-hari bersama, menyaksikan pagi yang baru, berbincang tentang hal-hal sederhana, dan mensyukuri waktu yang masih dipercayakan kepada kami.

Sebab kini saya semakin memahami, cinta bukan hanya tentang berapa lama dua orang hidup bersama. Cinta juga tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap hadir ketika perjalanan bersama itu menjadi berat. Dan selama kesempatan untuk mendampingi masih diberikan, saya ingin terus berjalan. Dari rumah sakit ke rumah sakit. Dari satu ikhtiar menuju ikhtiar berikutnya. Dari satu doa menuju doa yang lain.

Dengan harapan yang mungkin sesekali melemah, tetapi tidak ingin kami padamkan. Sebab bagi manusia yang mencintai, harapan bukanlah kepastian bahwa segala sesuatu akan berakhir seperti yang diinginkan. Harapan adalah keberanian untuk tetap melakukan yang terbaik, meskipun kita belum mengetahui bagaimana akhir perjalanan.

Dan di tengah semua ketidakpastian itu, kami terus mengetuk pintu rahmat-Nya. Ya Allah, Engkau Yang Maha Penyembuh. Berikanlah kesembuhan kepada pendamping hidupku. Kuatkan tubuhnya, tenangkan hatinya, mudahkan setiap proses pengobatannya, dan tuntunlah kami agar tetap sabar, ikhlas, serta tidak kehilangan harapan.

Amin ya Rabbal ‘alamin.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: renungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

Next Post

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails
Next Post
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 --- Dari Tur dan Diskusi Buku "Merebut Bali" karya Anne-Lot Hoek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co