31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya ditumbuhi pepohonan, ada juga sungainya yang mengalirkan air untuk keluarga penghuni rumah itu, dan yang keren, di dalam tanahnya tersimpan harta pusaka berupa emas terpendam yang nilainya mungkin tak pernah terbayangkan oleh penghuninya.

Rumah itu diwariskan dari generasi ke generasi. Penghuninya hidup dari alam sekitar saja dan menyimpan harapan sederhana, bahwa suatu hari nanti, anak cucu mereka masih bisa hidup dari kekayaan yang sama.

Lalu suatu hari, ada orang-orang luar datang membawa alat berat. Mereka masuk rumah, membongkar halaman, menebang pohon, mengubah aliran air, dan menggali tanah. Segera saja mereka menemukan harta yang selama ini tersimpan di sana. Emas yang melimpah! Harta itu kemudian diangkut pergi, diolah, dijual, dan menghasilkan uang dalam jumlah yang sulit dibayangkan. Sementara itu, para penghuni rumah berdiri terpaku di sudut halaman, menyaksikan semuanya dengan masgul.

Lalu proyek selesai dan para pekerja pun pergi meninggalkan orang yang masih saja tinggal di rumah itu. Halaman sudah rusak, sungai tak lagi jernih, dan sebagian pohon yang dulu rindang telah hilang. Situasinya porak poranda, dan yang lebih menyedihkan, penghuni rumah tidak ikut menjadi kaya.  Kalau cerita ini terasa menyakitkan, sebenarnya karena kita sedang membicarakan sesuatu yang lebih dekat daripada yang kita kira. Kita sedang membicarakan Papua.

Harta Papua Warisan Siapa

Ada berita dari Nabire, Papua Tengah, pada Oktober 2026 Pemerintah mencabut izin usaha pertambangan PT Kristalin Eka Lestari yang mencakup wilayah 3.500 hektare, kemudian merencanakan penyerahan pengelolaannya kepada PT Aneka Tambang (Antam), perusahaan milik negara. Menurut kantor berita ANTARA dan BBC News Indonesia, konon pencabutan izin itu berkaitan dengan persoalan penggunaan kawasan hutan dan kewajiban pertambangan yang belum dipenuhi.

Bagi sebagian orang, berita ini terdengar seperti urusan administrasi biasa. Izin dicabut, negara mengambil alih, lalu perusahaan negara meneruskan pengelolaan. Sudah begitu saja. Tetapi saya ingin kita melihat dari sudut yang berbeda. Kita coba sejenak bayangkan, seolah kita berdiri di kampung yang berada dekat kawasan pertambangan. Kita melihat alat berat mengeruk tanah berhektar-hektar dan melihat sungai yang selama ini memberi kehidupan sehari-hari mulai rusak.

Bagi yang tinggalnya jauh dari sana, membayangkan emas berarti komoditas, investasi, devisa, atau penerimaan negara. Bagi mereka yang hidup di alam itu, persoalannya jauh lebih mendasar, apakah air masih bisa digunakan, apakah tanah masih bisa ditanami, apakah ikan masih tersedia, dan apakah anak-anak masih mempunyai lingkungan yang layak untuk tumbuh.

BBC News Indonesia melaporkan, warga di sekitar tambang Nabire mengeluhkan air sungai yang keruh dan perubahan lanskap yang menyebabkan banjir. Sejumlah persoalan lingkungan dan sosial juga menjadi perhatian para pegiat masyarakat sipil. Tentu saja, dampak lingkungan ini perlu diperiksa berdasarkan bukti empiris.

Namun, suara warga yang mengeluhkan perubahan tersebut tidak boleh menjadi sekedar catatan kaki dalam cerita besar tentang pertambangan. Warga Papua tidak menilai hutan hanya sebagai kumpulan pohon yang bisa dihitung berdasarkan harga kayunya. Sungai bukan hanya penghasil suara gemericik untuk healing.

Tanah yang dipijak, tidak semata dinilai dari kandungan mineralnya. Semuanya membentuk ruang kehidupan, tempat manusia mencari makan, anak-anak bermain, membangun hubungan sosial, mewariskan pengetahuan, dan membayangkan masa depan. Ketika ekosistem rusak, bukan soal hanya keseimbangan alam, namun kehidupan manusia ikut oleng, kehilangan pijakannya.

Laci yang Dibongkar, Warisan yang Dihabiskan

Ada lagi sesuatu yang harusnya mengusik nurani dari gambaran rumah tadi.  Bayangkan seseorang menyimpan uang di dalam laci, bukan karena ia tidak tahu uang itu berharga, tapi karena ia ingin menyisihkannya untuk masa depan anak-anaknya. Ia tidak mau menghabiskannya hari ini karena ia tahu hidup bukan hanya tentang hari ini.

Tetiba ada orang datang, membongkar laci itu, mengambil simpanannya, dan pergi dengan alasan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk sesuatu yang lebih besar. Mungkin uang itu memang menghasilkan keuntungan dan memang ada pihak yang memperoleh manfaat. Tetapi, siapa dia yang merasa punya hak untuk menentukan masa depan keluarga itu?

Memang sih, tanah Papua tidak bisa disamakan begitu saja dengan rumah pribadi. Pengelolaan sumber daya alam memiliki aturan hukum, kewenangan negara, hak masyarakat adat, dan kepentingan publik yang harus dipertimbangkan bersama. Tidak semua kegiatan pertambangan otomatis merupakan perampasan. Namun, analogi rumah dan laci itu saya hadirkan sebagai pengingat, bahwa kekayaan yang secara hukum dapat dikelola, secara moral tetap harus memperhatikan manusia yang kehidupannya melekat pada kekayaan tersebut.

Tetapi mengapa kita begitu mudah menghitung nilai emas, sementara nilai sungai yang menopang kehidupan sebuah kampung jauh lebih jarang masuk ke dalam percakapan yang sama? Kita lupa menghitung berapa sebenarnya harga sebuah hutan hijau yang selama puluhan tahun menyediakan pangan, menjaga air, dan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. 

Berapa nilai pengetahuan lokal yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya tentang musim, tanaman, sungai, dan tanah? Tidak juga menghitung berapa biaya sosial, ketika masyarakat kehilangan sumber penghidupan dan harus menyesuaikan diri dengan dunia yang mendadak berubah cepat, yang tak lagi ada kesempatan untuk pulih.

Anak Cucu yang Tidak Pernah Diajak Berunding

Ada satu kelompok yang jelas tidak hadir dalam pembicaraan tentang tambang di sana, yaitu anak cucu. Mereka ini tidak diundang dalam rapat perizinan, dan kalau diundang pun belum bisa menyampaikan pendapat soal investasi. Bahkan mereka mungkin belum lahir ketika pohon-pohon ditebang dan tanah mulai digalikeruk. Namun, justru mereka inilah yang kelak merasakan akibat hasil keputusan hari ini.

Mereka bisa saja mewarisi sekolah yang lebih baik, jalan yang lebih mudah dilalui, pekerjaan yang lebih beragam, dan ekonomi yang tumbuh. Optimis saja itu semua itu bisa terwujud. Tetapi sangat mungkin mereka juga mewarisi sungai yang rusak, lahan yang kurus, ekosistem yang tidak seimbang, atau kerabat dan handai taulan terpaksa keluar, mencari penghidupan di tempat lain. Kemungkinan buruk itu harus diperhitungkan sejak awal, bukan disikapi dengan masa bodoh. Karena masa depan bukanlah tempat pembuangan sampah dari kemakmuran hari ini.

Masyarakat Papua sepertinya hanya diposisikan hanya sebagai penerima bantuan, penonton kegiatan ekonomi, atau objek program CSR perusahaan. Seolah bantuan sesaat bisa dijadikan pengganti bagi perlindungan hak, keterlibatan yang bermakna, pembagian manfaat yang adil, dan pemulihan lingkungan yang bertanggung jawab. 

Mereka yang kehilangan sebagian ruang hidupnya tidak cukup hanya diberi sesuatu untuk dibawa pulang dan habis dalam beberapa hari. Ia juga perlu dihormati sebagai pihak yang berhak ikut menentukan apa yang terjadi pada rumahnya. Karena sejatinya, mereka adalah manusia utuh yang memiliki aspirasi, pengetahuan, hak, dan kemampuan menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Emas Bisa Habis, Martabat Jangan

Kita terbiasa menyebut Papua, tanah yang mengandung emas, sebagai tanah kaya. Tetapi tanah yang kaya ini belum menjadikan warganya kaya. Papua memiliki cadangan emas yang berharga, sementara sebagian penduduknya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya.

Sungguh tidak elok rasanya untuk selalu rajin menghitung berapa banyak emas yang bisa dikeluarkan dari tanah Papua, tapi masa bodoh menimbang kehidupan seperti apa yang tersisa, setelah emas itu diambil. Prinisip moral ini harusnya berlaku bagi perusahaan mana pun, baik swasta maupun milik negara. Selayaknya juga berlaku bagi kebijakan apa pun yang menyangkut pengelolaan kekayaan alam di sana.

Kita tidak perlu menganggap pembangunan sebagai musuh. Kita juga tidak harus menutup mata terhadap pengelolaan aset dan kekayaan negara. Namun satu hal kita harus jaga adalah, pembangunan tidak boleh menghilangkan martabat manusia sebagai tujuan akhirnya. Bahan tambang pasti akan habis juga. 

Nah, jika nanti tiba hari itu dimana pusaka emas Papua telah habis, beranikah pemerintah memastikan, hari itu juga, warga Papua sang ahli waris, telah makmur jibar-jibur, gemah ripah loh jinawi?  Entahlah. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: NabirePapua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

Next Post

Di Ruang Tunggu Kehidupan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Di Ruang Tunggu Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co