27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
October 27, 2026
in Esai
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Perayaan Bulan Bahasa di sebuah sekolah

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi, berpidato, menulis cerpen, berdebat, hingga pertunjukan seni. Suasana sekolah menjadi lebih hidup. Murid memperoleh ruang untuk menunjukkan kreativitas, keberanian, dan bakat yang mungkin selama ini belum terasah.

Kegiatan semacam ini tentu patut diapresiasi. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat mengejar angka dalam rapor. Sekolah juga harus menjadi ruang tumbuhnya imajinasi, kemampuan berbahasa, dan keberanian menyampaikan gagasan. Namun, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan: apakah Bulan Bahasa benar-benar menjadi ruang pembinaan literasi, atau sekadar agenda tahunan yang meriah sesaat?

Tidak ada yang salah dengan panggung, dekorasi, ataupun perlombaan. Persoalannya muncul ketika kemeriahan seolah lebih prioritas, sementara proses pengembangan bakat justru terabaikan. Membaca puisi bukan sekadar menghafalkan bait dan mengatur intonasi. Menulis puisi atau cerpen juga bukan pekerjaan sekali duduk demi memenuhi tugas lomba. Keduanya membutuhkan kebiasaan membaca, kepekaan, latihan, dan kesediaan memperbaiki karya.

Jangan sampai panggung lebih megah daripada proses kreatif di belakangnya. Setelah spanduk diturunkan, piala disimpan, dan panggung dibongkar, kegiatan literasi justru kembali tertidur hingga Oktober berikutnya.

Regenerasi penulis Bali

Bali memiliki tradisi sastra yang panjang dan sumber inspirasi yang melimpah. Kehidupan adat, pariwisata, lingkungan, perubahan sosial, hingga pergulatan generasi muda merupakan bahan yang kaya untuk puisi, prosa, drama, vlog, video pendek, bahkan film.

Perayaan Bulan Bahasa di sekolah

Dalam sastra Indonesia, Bali telah melahirkan nama-nama penting, seperti Panji Tisna, Putu Wijaya, Gde Aryantha Soethama, Gde Artawan, Oka Rusmini, Cok Sawitri, Wayan Sunarta, Fajar Arcana, Warih Wisatsana dan beberapa nama lainnya. Mereka memperkaya khazanah sastra melalui karya dan cara pandang masing-masing.

Namun, ketika berbicara tentang penulis Bali yang dikenal luas, nama-nama yang muncul dalam percakapan publik terasa relatif berulang. Ini bukan berarti tidak ada penulis muda. Persoalannya ialah bagaimana memastikan regenerasi berlangsung secara berkelanjutan dan karya generasi baru memperoleh ruang untuk dibaca masyarakat.

Kita tidak kekurangan bahan cerita. Bali mempunyai banyak objek yang dapat diangkat sebagai latar karya. Yang perlu diperkuat adalah kebiasaan membaca, ketekunan menulis, pendampingan yang bermutu, serta kesempatan memublikasikan karya. Jangan sampai murid hanya mengenal penulis melalui buku pelajaran, tetapi tidak pernah dibimbing untuk menjadi penulis itu sendiri.

Mengukur keberhasilan

Sesungguhnya, sekolah, kampus, komunitas sastra, dan media telah menyediakan berbagai ruang berkarya. Teknologi digital bahkan memungkinkan tulisan murid dan guru menjangkau pembaca lebih luas. Karena itu, Bulan Bahasa seharusnya menjadi pintu masuk menuju proses kreatif yang berkelanjutan.

Sekolah perlu memiliki ukuran keberhasilan yang nyata. Berapa puisi, cerpen, esai, atau naskah drama yang dihasilkan murid atau guru? Berapa karya yang disunting dan dihimpun menjadi antologi, diterbitkan sebagai buku ber-ISBN jika memenuhi persyaratan, atau dipublikasikan melalui situs sekolah dan media digital? Berapa karya yang diajukan untuk pencatatan hak cipta?

Pertanyaan lain juga layak diajukan, berapa karya murid, guru atau kepal sekolah yang dipajang di perpustakaan, ruang kepala sekolah, atau ruang kerja kepala daerah? Mengapa ruangan-ruangan tersebut tidak sesekali dihiasi puisi, ilustrasi, dan tulisan anak-anak sekolah, selain foto kegiatan dan deretan piagam penghargaan?

Pengakuan sederhana semacam itu dapat menumbuhkan kepercayaan diri murid. Mereka merasa gagasannya dihargai dan layak dibaca. Tentu, hak cipta tidak baru lahir setelah dicatatkan karena perlindungannya pada dasarnya timbul secara otomatis ketika karya diwujudkan dalam bentuk nyata. Pencatatan merupakan langkah administratif yang dapat memperkuat bukti kepemilikan.

Indikator tersebut bukan untuk menjadikan kreativitas sebagai perlombaan administratif baru. Kualitas karya dan proses pembinaan tetap utama. Namun, sekolah perlu mengetahui apakah kegiatan benar-benar menghasilkan perkembangan atau hanya mengulang kemeriahan yang sama.

Karya peserta yang belum menang pun jangan dibiarkan berakhir di meja juri. Guru dapat mendampingi murid menyunting tulisan, menyusun antologi, mengelola majalah sekolah, atau mengirimkan karya ke media yang menerima tulisan pelajar. Klub menulis dan diskusi buku juga dapat dilanjutkan sepanjang tahun.

Merayakan bahasa, merawat proses

Bulan Bahasa bukan sekadar perayaan bahasa, melainkan kesempatan membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, menyampaikan gagasan dengan santun, dan membaca realitas secara mendalam. Di Bali, pembinaan ini juga dapat mempertemukan kecintaan terhadap bahasa Indonesia dengan upaya merawat bahasa Bali.

Karena itu, sekolah, pemerintah, kampus, komunitas sastra, dan media perlu membangun kesinambungan pembinaan. Penghargaan kepada pemenang lomba penting. Akan tetapi, kesempatan untuk terus belajar dan berkarya jauh lebih menentukan.

Kita tentu menginginkan Bulan Bahasa yang meriah. Namun, kemeriahan itu seharusnya melahirkan kebiasaan yang bertahan sepanjang tahun. Keberhasilannya bukan hanya terdengar melalui tepuk tangan pada penutupan acara. Dia mesti terlihat dalam buku yang terbit, tulisan yang dibaca publik, dan murid yang terus menulis dan mempublis karya setelah Oktober berlalu.

Perayaan Bulan Bahasa di sekolah

Ada satu hal lagi yang patut menjadi bahan perenungan. Selama ini, guru dan kepala sekolah sibuk membimbing murid agar gemar membaca dan terampil menulis. Guru terbiasa memberi contoh, membimbing, dan mendampingi murid agar mampu melahirkan karya. Namun, guru sendiri sering lupa untuk memberi teladan melalui karya nyata. Pengalaman mengajar, pergulatan mendidik, praktik baik di sekolah, hingga kegelisahan melihat perubahan zaman merupakan sumber tulisan yang kaya. Dari sinilah Guru dan kepala sekolah semestinya mulai berani menuliskan gagasan dan pengalaman sendiri melalui puisi, cerpen, esai, atau bahkan buku.

Jangan sampai kita begitu tekun menyiapkan generasi penulis, tetapi lupa melahirkan tulisan sendiri. Waktu dalam tugas pendidikan terus berjalan. Sebelum masa pengabdian berakhir, alangkah baiknya jika kita telah mewariskan karya yang turut memperkaya khazanah bahasa, sastra, dan pemikiran pendidikan kita. Keteladanan literasi bukan hanya tentang menyuruh murid membaca dan menulis, melainkan menunjukkan bahwa kita pun terus belajar, membaca, dan berkarya.

Barangkali, suatu hari nanti, ketika kita menyebut nama sastrawan Bali, akan muncul lebih banyak nama baru dari alumni sekolah, kampus, desa, dan komunitas kreatif. Bukan semata-mata karena mereka pernah tampil di panggung Bulan Bahasa, melainkan karena mereka terus berkarya dan menemukan pembacanya.

Sebab, Bulan Bahasa yang berhasil bukan hanya menghasilkan pemenang lomba. Bulan Bahasa harus membuka jalan bagi lahirnya penulis. [T]

Tags: Bahasabulan bahasaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

Next Post

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails
Next Post
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co