MALAM itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja, kemudian menjadi wartawan, koresponden, hingga pemimpin redaksi. Selain menulis cerpen dan novel, ia dikenal melalui esai-esainya yang kritis tentang kehidupan sosial dan kebudayaan Bali. Kumpulan cerpennya, Mandi Api, meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2006. Ia juga merintis usaha percetakan dan penerbitan Prasasti di Denpasar.
Percakapan kami tidak panjang, tetapi ada satu hal yang membuat saya terus memikirkannya setelah percakapan berakhir. Kami berbicara tentang pers, idealisme, dan uang. Tiga hal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan saya sebagai wartawan, penulis, sekaligus orang yang sedang berusaha membangun media sendiri.
Ketika Pak Aryantha bertanya tentang media tempat saya bekerja, saya bercerita bahwa saya masih menulis untuk KanalBali, Tatkala.co, dan Podiumnews.com. Saya juga mengembangkan Bicarabali.com, media yang ingin saya jadikan ruang untuk membicarakan Bali dari berbagai sisi. Saya tidak sedang membangun perusahaan media besar. Saya hanya berusaha merawat sebuah gagasan di tengah keterbatasan yang saya miliki.
Mengelola media sendiri ternyata tidak semudah menerbitkan berita dan tulisan. Selain memikirkan isi pemberitaan, saya harus menghadapi persoalan teknis, biaya operasional, dan pekerjaan lain yang tidak kalah penting. Saya pernah mengalami masalah pada website Bicarabali.com. Karena belum memiliki cukup dana untuk meminta bantuan orang lain, saya mencoba mencari jalan keluar sendiri dengan belajar melalui internet.
Saya membaca petunjuk, mencoba berbagai cara, dan sesekali menemui jalan buntu. Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa membangun media membutuhkan banyak hal di luar kemampuan menulis. Ada teknologi yang harus dipahami, keuangan yang perlu dikelola, pembaca yang perlu dijangkau, dan sumber pendapatan yang harus dicari.
Di tengah percakapan malam itu, Pak Aryantha menyampaikan pandangan yang menarik perhatian saya. Menurutnya, pers yang bagus berawal dari idealisme, bukan uang. Ia juga mengingatkan bahwa pers membutuhkan sponsor atau penyandang dana. Untuk menjelaskan pandangannya, ia mencontohkan bank besar. Memiliki banyak uang, menurutnya, tidak otomatis membuat sebuah perusahaan mempunyai idealisme pers.
Saya membaca pesan tersebut sambil memikirkan perjalanan saya sendiri. Ada sesuatu yang terasa dekat dengan pengalaman saya selama ini. Saya ingin membangun media yang memiliki prinsip, tetapi saya juga tahu bahwa prinsip saja tidak cukup untuk membuat sebuah media bertahan.
Persoalannya kemudian menjadi lebih sederhana sekaligus lebih rumit. Bagaimana mempertahankan idealisme ketika biaya hidup terus berjalan dan media yang kita bangun belum mampu memberikan penghasilan yang memadai?
Pers Bukan Sekadar Bisnis
Saya memahami maksud Pak Aryantha. Uang memang penting untuk menjalankan perusahaan media, tetapi uang saja tidak cukup untuk menghasilkan jurnalisme yang baik. Sebuah media bisa memiliki kantor besar, peralatan lengkap, dan banyak wartawan. Namun, semua itu tidak menjamin keberanian untuk memberitakan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Pers mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi kekuasaan, memeriksa kebijakan pemerintah, dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik. Tanggung jawab itu tidak selalu mudah dijalankan karena kepentingan politik dan ekonomi dapat memengaruhi kerja jurnalistik.
Di Bali, berita tentang perkembangan pariwisata, pembangunan hotel, kunjungan pejabat, dan berbagai acara resmi kerap memenuhi ruang publik. Berita semacam itu tentu penting. Namun, kehidupan Bali tidak hanya terdiri atas kegiatan pemerintah dan pertumbuhan industri pariwisata. Persoalan masyarakat juga membutuhkan perhatian yang sama.
Sebagian pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena penghasilannya terbatas. Warga menghadapi persoalan sampah, kemacetan, dan perubahan lingkungan. Penyandang disabilitas masih menemui hambatan dalam mengakses layanan publik, sedangkan orang dengan gangguan kesehatan mental kerap menghadapi stigma ketika berusaha kembali menjalani kehidupan sosial.
Kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari kehidupan Bali yang sesungguhnya. Sayangnya, suara mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup dalam pemberitaan.
Saya ingin jurnalisme tidak hanya mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan. Wartawan perlu mendatangi tempat-tempat yang jarang diperhatikan, mendengarkan orang-orang yang suaranya tidak cukup keras, dan memeriksa persoalan yang mungkin tidak masuk dalam agenda para pemegang kekuasaan.
Bukan berarti wartawan harus membela satu pihak tanpa memeriksa fakta. Keberpihakan kepada kepentingan publik justru harus disertai ketelitian, verifikasi, dan kesediaan mendengarkan berbagai pihak. Tanpa itu, jurnalisme mudah berubah menjadi sekadar pendapat yang dibungkus sebagai berita.
Bagi saya, idealisme pers terletak pada kesediaan menjalankan tanggung jawab tersebut, termasuk ketika pekerjaan itu tidak menghasilkan keuntungan langsung atau tidak menyenangkan pihak yang mempunyai kepentingan.
Idealisme Tidak Membayar Biaya Hidup
Ada satu kenyataan yang tidak bisa saya abaikan. Orang-orang yang bekerja di dunia pers juga membutuhkan penghasilan. Mereka harus makan, membayar tempat tinggal, membeli bensin, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saya menjalani pekerjaan sebagai wartawan dan penulis sambil berusaha mengembangkan Bicarabali.com. Saya membagi waktu untuk meliput, menulis berita, menyusun esai, dan mengurus website. Semua itu membutuhkan tenaga dan pikiran, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
Saya kira banyak wartawan dan penulis menghadapi keadaan serupa. Mereka dituntut menghasilkan tulisan berkualitas, bekerja cepat, dan menjaga akurasi. Namun, penghasilan yang diterima belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Dalam keadaan seperti itu, idealisme kadang-kadang justru dijadikan alasan untuk menerima penghasilan rendah. Seolah-olah orang yang mencintai jurnalistik harus bersedia bekerja dengan bayaran seadanya. Seolah-olah membicarakan upah yang layak merupakan tanda bahwa seseorang terlalu memikirkan uang.
Saya tidak sepakat dengan cara pandang tersebut. Wartawan adalah pekerja yang berhak mendapatkan penghasilan layak. Penulis juga membutuhkan pendapatan agar dapat terus berkarya. Kecintaan terhadap pekerjaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan orang yang melakukannya.
Saya ingin terus menulis tentang Bali, masyarakatnya, dan berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya. Namun, saya juga ingin mendapatkan penghasilan yang cukup dari pekerjaan tersebut. Saya ingin bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa terus-menerus merasa cemas tentang bagaimana membayar pengeluaran bulan berikutnya.
Bagi saya, kedua keinginan itu tidak bertentangan. Idealisme membuat saya tahu mengapa saya harus menulis, sedangkan penghasilan yang layak membantu saya terus melakukannya.
Karena itu, mempertahankan idealisme tidak berarti menolak uang. Persoalannya adalah bagaimana memperoleh pendapatan tanpa kehilangan kebebasan dalam bekerja. Media membutuhkan uang untuk membiayai kegiatan jurnalistik, tetapi uang tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kepentingan publik.
Merawat Bicarabali.com
Percakapan dengan Pak Aryantha membuat saya kembali memikirkan alasan mengembangkan Bicarabali.com. Saya ingin media ini menjadi ruang untuk membicarakan Bali secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai tempat tinggal masyarakat dengan persoalan dan harapan yang beragam.
Di balik pertumbuhan pariwisata, ada pertanyaan tentang kesejahteraan masyarakat lokal. Apakah pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang merata? Bagaimana nasib pekerja dengan penghasilan rendah? Apakah pembangunan yang terus berlangsung membuat kehidupan warga semakin baik?
Pertanyaan semacam itu perlu dijawab melalui pemberitaan yang mendalam, bukan sekadar mengutip pernyataan pejabat atau menyajikan angka statistik tanpa konteks.
Saya juga ingin Bicarabali.com memberikan ruang bagi tulisan tentang kebudayaan Bali. Tradisi tidak cukup dibicarakan sebagai sesuatu yang indah dan harus dilestarikan. Kita perlu memahami bagaimana tradisi dijalankan, bagaimana masyarakat memaknainya, dan bagaimana perubahan zaman memengaruhi kehidupan mereka.
Melalui berita, reportase mendalam, esai, opini, profil tokoh, dan catatan perjalanan, saya ingin menghadirkan berbagai sisi kehidupan Bali. Saya berharap pembaca dapat menemukan persoalan yang selama ini luput dari perhatian mereka.
Namun, saya menyadari bahwa gagasan editorial saja tidak cukup untuk membuat media bertahan. Bicarabali.com membutuhkan pembaca yang percaya pada karya jurnalistiknya dan sumber pendapatan untuk membiayai pekerjaan redaksi.
Saya masih perlu belajar mencari sponsor, membangun kerja sama, dan mengembangkan sumber pendapatan lain. Semua itu harus dilakukan dengan tetap menjaga batas antara kepentingan bisnis dan keputusan editorial.
Sponsor boleh membantu membiayai kegiatan media. Pengiklan boleh membeli ruang promosi. Lembaga tertentu juga dapat memberikan dukungan untuk kegiatan jurnalistik. Namun, dukungan tersebut tidak boleh menjadi alat untuk menentukan siapa yang boleh dikritik atau persoalan apa yang harus disembunyikan.
Media perlu memperoleh pendapatan, tetapi keputusan redaksi harus tetap berada di tangan orang-orang yang bertanggung jawab atas kerja jurnalistiknya.
Bagi saya, inilah tantangan membangun media independen. Kita harus mencari uang agar bisa terus bekerja, tetapi tidak boleh membiarkan uang menentukan seluruh arah pemberitaan.
Saya tidak tahu apakah suatu hari Bicarabali.com akan menjadi media besar. Untuk sekarang, saya ingin membangunnya secara bertahap, sesuai kemampuan yang saya miliki. Saya ingin media ini menghasilkan tulisan yang bermutu, dipercaya pembaca, dan perlahan-lahan mampu membiayai pekerjaannya sendiri.
Belajar Bertahan Tanpa Kehilangan Arah
Percakapan dengan Pak Aryantha malam itu tidak memberikan jawaban untuk semua persoalan yang saya hadapi. Namun, pembicaraan tersebut membuat saya melihat kembali hubungan antara idealisme dan uang dalam dunia pers.
Saya memahami bahwa modal besar tidak otomatis melahirkan media yang baik. Sebuah media membutuhkan tujuan yang jelas, orang-orang yang bersedia bekerja dengan sungguh-sungguh, dan keberanian untuk mempertahankan prinsip. Namun, saya juga menyadari bahwa idealisme membutuhkan dukungan nyata agar tidak berhenti sebagai cita-cita.
Media yang tidak mampu membiayai pekerjaannya akan kesulitan bertahan. Wartawan yang terus-menerus menghadapi masalah keuangan juga akan kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Karena itu, memikirkan keberlanjutan finansial bukan berarti mengkhianati idealisme. Justru hal tersebut merupakan bagian dari usaha mempertahankannya.
Saya masih harus belajar mengelola Bicarabali.com dengan lebih baik. Saya perlu menyelesaikan persoalan teknis, memperluas jangkauan pembaca, dan mencari sumber pendanaan yang sesuai dengan karakter media. Pada saat yang sama, saya harus mengukur kemampuan diri agar keinginan mengembangkan media tidak berubah menjadi beban yang mengganggu kehidupan pribadi.
Saya tidak ingin Bicarabali.com hanya menjadi proyek yang menghabiskan tenaga dan pikiran tanpa arah yang jelas. Saya ingin media ini mempunyai alasan kuat untuk hadir di tengah masyarakat. Keberadaannya harus memberikan manfaat sekaligus memungkinkan orang yang mengerjakannya memperoleh penghasilan yang layak.
Malam itu, setelah membaca pesan-pesan Pak Aryantha, saya kembali memikirkan alasan saya memilih pekerjaan ini. Saya belum menemukan jawaban untuk semua persoalan. Namun, saya semakin memahami bahwa mempertahankan idealisme bukan berarti menolak kenyataan ekonomi. Kita perlu mencari jalan agar keduanya dapat berjalan bersama.
Saya ingin Bicarabali.com tetap independen. Saya ingin media ini berani membicarakan persoalan Bali, mendengarkan suara masyarakat kecil, dan mengkritisi kebijakan yang menyangkut kepentingan publik. Namun, saya juga ingin bisa hidup layak dari pekerjaan jurnalistik.
Saya tidak ingin menganggap kesulitan ekonomi sebagai harga yang wajib dibayar untuk menjadi wartawan yang idealis. Saya ingin bekerja dengan baik tanpa harus terus-menerus mengorbankan kebutuhan hidup demi mempertahankan media.
Barangkali, inilah pekerjaan yang sesungguhnya sedang saya hadapi. Bukan hanya membangun sebuah website atau menerbitkan tulisan secara rutin, melainkan mencari cara agar gagasan yang saya yakini bisa bertahan dalam kehidupan nyata.
Saya masih ingin menulis, membaca Bali lebih dalam, dan mendengarkan cerita orang-orang yang kehidupannya jarang menjadi perhatian. Saya juga ingin belajar dari mereka yang telah lebih dahulu menjalani perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan.
Percakapan singkat dengan Pak Aryantha menjadi pengingat bahwa idealisme perlu dirawat melalui kerja sehari-hari. Ia tidak cukup disimpan sebagai keyakinan pribadi atau dijadikan slogan sebuah media. Idealisme harus terlihat dalam pilihan berita, cara memperlakukan narasumber, keberanian mengungkap persoalan, dan kesediaan menjaga kepercayaan pembaca.
Pada akhirnya, saya tidak ingin memilih antara idealisme dan uang. Uang diperlukan agar media dapat bertahan, tetapi kepentingan publik harus tetap menjadi alasan utama mengapa media itu bekerja.
Saya ingin mempertahankan idealisme tanpa mengabaikan kebutuhan hidup. Saya ingin membangun media independen tanpa berpura-pura bahwa uang tidak penting.
Saya belum tahu seberapa jauh Bicarabali.com akan berkembang. Untuk sekarang, saya hanya ingin terus belajar, bekerja, dan mencari jalan agar media ini bisa tumbuh tanpa kehilangan arah. Sebab, selama masih ada persoalan Bali yang perlu dibicarakan dan kehidupan masyarakat yang perlu didengarkan, saya merasa masih ada alasan untuk terus menulis.[T]





























