LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya terjadi di kota-kota, tetapi juga sampai ke desa-desa. Kendaraan roda dua, yang menjadi alat transportasi utama bagi banyak warga, berderet panjang dari berbagai arah. Di sejumlah tempat, antrean bahkan mencapai jarak beberapa kilometer. Orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam, setengah hari, bahkan semalam suntuk, hanya untuk mendapatkan dua sampai lima liter BBM.
Pemandangan ini sulit diterima sebagai sesuatu yang masuk akal. BBM merupakan kebutuhan sehari-hari yang menopang kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Ketika pasokannya terganggu, kegiatan bekerja, berdagang, mengantar anak ke sekolah, dan berbagai urusan lainnya ikut terganggu. Waktu yang semestinya digunakan untuk bekerja justru habis di jalan. Tenaga terkuras, tubuh kelelahan, dan sebagian orang bahkan pingsan karena tidak kuat menghadapi antrean panjang.
Di tengah keadaan seperti ini, muncul pertanyaan sederhana: mengapa untuk mendapatkan beberapa liter BBM saja masyarakat harus bersusah payah sedemikian rupa? Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidak cukup dengan menyalahkan perilaku masyarakat. Ketika BBM sulit diperoleh, orang takut tidak kebagian. Ketakutan itu mendorong mereka segera datang ke SPBU, bahkan ketika antrean sudah sangat panjang. Orang yang melihat antrean mungkin merasa harus ikut mengantre karena khawatir kehabisan (walaupun memang demikian kenyataannya). Ketika semakin banyak orang berpikir demikian, antrean pun semakin panjang. Ketakutan bersama akhirnya menciptakan pemandangan yang semakin menegangkan.
Dalam keadaan seperti ini, masyarakat seolah-olah kehilangan kepastian. Mereka tidak tahu kapan BBM tersedia, berapa banyak yang bisa diperoleh, dan apakah setelah menunggu berjam-jam mereka benar-benar akan mendapatkannya. Ketidakpastian membuat orang terus bertahan di tempat, meskipun tubuh mereka sudah lelah. Dua sampai lima liter BBM menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan waktu, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit.
Di tengah kesulitan itu, kehidupan sosial masyarakat Bali memperlihatkan wajah yang menarik. Antrean BBM tidak hanya menjadi ruang ketegangan, tetapi juga melahirkan solidaritas. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal berada dalam nasib yang sama. Mereka berbagi cerita, makanan, minuman, dan hiburan. Ada yang mengisi waktu dengan musik, bahkan menjadikan antrean sebagai semacam konser kecil. Dalam keadaan sulit, manusia tetap berusaha menciptakan kegembiraan. Namun, ada pula gejala yang lebih menarik untuk dibaca melalui kebudayaan Bali: munculnya parodi religius.
Dalam kehidupan masyarakat Bali, mekemit dikenal sebagai kegiatan berjaga atau bermalam di pura, terutama dalam konteks kegiatan keagamaan tertentu. Di sana, orang menjalani malam dalam suasana religius, berada dekat dengan tempat suci dan, dalam penghayatan mereka, mendekatkan diri kepada yang dipuja. Kini, dalam keadaan kelangkaan BBM, orang-orang juga bermalam. Akan tetapi, mereka tidak bermalam di pura. Mereka mekemit di SPBU. Tentu saja, antrean di SPBU bukanlah kegiatan keagamaan. Namun, kemiripan suasananya membuka ruang bagi sebuah parodi. Jika di pura orang menunggu dan menjalani kegiatan dalam hubungan dengan yang sakral, di SPBU orang menunggu kedatangan kendaraan pengangkut BBM.
Kendaraan besar yang datang dari pelabuhan atau tempat penyimpanan BBM itu menjadi pusat perhatian. Kedatangannya ditunggu dengan penuh harap, seolah-olah membawa sesuatu yang sangat berharga bagi keselamatan kehidupan sehari-hari, selayaknya para dewa.
BBM pun memperoleh kedudukan yang hampir menyerupai benda pujaan. Orang membicarakannya, menantikannya, dan mengerahkan tenaga untuk mendapatkannya. Mereka bertahan sepanjang malam demi beberapa liter BBM. Di dalam parodi ini, SPBU seolah-olah berubah menjadi pura, kendaraan pengangkut BBM menyerupai dewa yang ditunggu kedatangannya, sedangkan BBM menjadi sesuatu yang dipuja karena dianggap mampu menyelamatkan kegiatan hidup mereka. Perbandingan ini tentu tidak dimaksudkan untuk merendahkan agama atau kegiatan keagamaan masyarakat Bali. Justru melalui parodi tersebut, dapat melihat betapa pentingnya BBM dalam kehidupan modern. Ketika pasokan energi terganggu, kebutuhan yang biasanya dianggap biasa berubah menjadi sesuatu yang sangat menentukan. Orang rela menghabiskan malam, mengorbankan waktu, dan menahan kelelahan demi mendapatkannya.
Di sinilah ironi kehidupan modern terlihat. Manusia yang memiliki keyakinan, tradisi, dan berbagai cara untuk memberi makna pada kehidupan ternyata juga sangat bergantung pada energi yang menggerakkan kendaraannya. Tanpa BBM, mobilitas terganggu. Ketika mobilitas terganggu, pekerjaan dan penghasilan ikut terancam. SPBU, dalam keadaan tertentu, menjadi panggung tempat ketergantungan itu dipertontonkan secara terbuka.
Akan tetapi, antrean BBM tidak hanya memperlihatkan ketakutan dan ketergantungan. Di sana juga tumbuh solidaritas sosial. Orang-orang yang sama-sama mengalami kesulitan dapat saling memahami. Mereka tahu bagaimana rasanya menunggu lama, menahan lapar, mengantuk, dan mencemaskan kemungkinan tidak mendapatkan BBM. Pengalaman bersama itu dapat melahirkan kepedulian. Orang yang berbagi makanan atau minuman kepada sesama pengantre sedang melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi berarti. Di tengah keadaan yang tidak menyenangkan, mereka membantu orang lain bertahan. Ketika seseorang jatuh sakit atau tidak kuat melanjutkan antrean, kepedulian orang-orang di sekitarnya dapat menjadi sangat penting.
Krisis, dengan demikian, tidak selalu menghasilkan permusuhan. Ia juga dapat membuka kesempatan bagi manusia untuk memperlihatkan sisi baiknya. Dalam antrean yang panjang, orang dapat menemukan bahwa penderitaan yang dialami bersama-sama kadang-kadang membuat mereka merasa lebih dekat. Namun, solidaritas seperti ini tidak boleh membuat kita menganggap kelangkaan BBM sebagai sesuatu yang wajar. Kepedulian masyarakat memang patut dihargai, tetapi masyarakat tidak seharusnya terus-menerus dipaksa menanggung akibat dari keadaan yang tidak mereka ciptakan sendiri. Berbagi makanan di tengah antrean adalah tindakan kemanusiaan, bukan penyelesaian persoalan distribusi BBM.
Di balik solidaritas, muncul pula wajah lain yang lebih gelap. Ada orang yang diduga memanfaatkan kelangkaan untuk memperoleh keuntungan. Mereka membeli BBM dalam jumlah banyak, menyimpannya, lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. Ada pula praktik pengisian berulang yang, menurut cerita yang beredar, dilakukan untuk mengumpulkan BBM sebelum memindahkannya ke tempat lain dan menjualnya. Jika praktik-praktik tersebut benar terjadi, kelangkaan telah membuka kesempatan bagi sebagian orang untuk mengubah kesulitan bersama menjadi keuntungan pribadi. Sementara banyak warga harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan sedikit BBM, orang lain justru berusaha mengumpulkan lebih banyak untuk dijual kembali.
]Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Kelangkaan bukan hanya menguji kesabaran, tetapi juga menguji kejujuran dan tanggung jawab sosial. Ketika kebutuhan dasar sedang sulit diperoleh, mengambil keuntungan secara tidak wajar dari penderitaan orang lain merupakan tindakan yang merusak rasa keadilan. Tentu, tuduhan terhadap orang atau kelompok tertentu harus didasarkan pada bukti. Namun, jika penimbunan dan penjualan kembali dengan harga berlebihan benar terjadi, praktik itu perlu ditangani secara tegas. Pengawasan distribusi dan penegakan aturan tidak dapat digantikan oleh imbauan agar masyarakat bersabar.
Di tengah antrean yang panjang, masyarakat juga menunggu sesuatu yang lain: kepastian dari pemerintah. Pernyataan dan komentar para pejabat tidak banyak berarti apabila tidak disertai tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh warga. Masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai penyebab kelangkaan, kepastian mengenai pasokan, informasi tentang distribusi BBM, dan langkah nyata untuk mengurangi antrean. Mereka juga membutuhkan informasi yang jelas agar tidak harus menghabiskan waktu tanpa mengetahui kapan BBM akan tersedia.
Dalam keadaan seperti ini, komentar yang berulang-ulang tanpa hasil yang terlihat justru dapat menambah kejengkelan. Masyarakat tidak sedang membutuhkan perlombaan memberikan pendapat. Mereka membutuhkan pekerjaan pemerintahan yang nyata. Kita tidak harus buru-buru menyimpulkan bahwa semua pejabat tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Namun, ketika antrean terus berlangsung, warga jatuh kelelahan, dan kegiatan ekonomi terganggu, pemerintah perlu menunjukkan bahwa keadaan sedang ditangani secara terukur.
Jika terdapat kendala pasokan atau distribusi, kendala itu harus dijelaskan secara terbuka. Jika ada penyimpangan, penyimpangan itu harus ditindak. Jika diperlukan koordinasi lintas lembaga, masyarakat perlu mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan apa yang sedang dikerjakan. Ukuran keberhasilan pemerintah dalam keadaan seperti ini bukanlah banyaknya pernyataan yang disampaikan, melainkan seberapa cepat masyarakat kembali memperoleh BBM tanpa harus menghabiskan sebagian besar waktunya di antrean.
Antrean BBM di Bali pada akhirnya menghadirkan sebuah gambaran yang penuh ironi. Ada orang-orang yang kelelahan, bahkan jatuh pingsan. Ada warga yang saling berbagi dan menghibur. Ada parodi tentang SPBU yang menyerupai pura dan kendaraan pengangkut BBM yang ditunggu seperti kedatangan dewa. Ada musik yang tumbuh di tengah kejenuhan. Ada pula orang-orang yang mungkin melihat kelangkaan sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Semua itu berlangsung di tempat yang sama, dalam keadaan yang sama, tetapi dengan sikap manusia yang berbeda-beda.
Tertawa melihat parodi mekemit di SPBU. Kita dapat mengagumi solidaritas orang-orang yang tidak saling mengenal. Kita juga dapat mengecam tindakan mengambil keuntungan dari kesulitan bersama. Namun, di balik semua itu, jangan sampai perhatian kita berhenti pada cerita-cerita yang menarik. Sebab, antrean panjang bukanlah pertunjukan yang sengaja dipentaskan. Di balik setiap sepeda motor terdapat seseorang yang hendak bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu yang hilang di antrean adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dikembalikan. Bagi masyarakat yang hidup dari penghasilan harian, kehilangan waktu kerja dapat berarti kehilangan uang untuk kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, parodi tentang SPBU sebagai pura seharusnya tidak membuat kita lupa pada kenyataan bahwa masyarakat sedang menghadapi kesulitan. Solidaritas warga patut dirawat, tetapi kelangkaan harus segera diatasi. Pemerintah perlu bekerja, distribusi perlu dipastikan, dan penyalahgunaan keadaan harus dicegah. Orang Bali semestinya dapat kembali mekemit di pura ketika menjalankan kegiatan keagamaan, bukan terpaksa menghabiskan malam di SPBU demi beberapa liter BBM. Kendaraan pengangkut BBM semestinya datang sebagai bagian dari distribusi yang teratur, bukan menjadi pusat penantian panjang yang menguras tenaga dan kecemasan masyarakat.
Sebab, BBM bukan dewa. SPBU bukan pura. Dan rakyat tidak seharusnya dipaksa menjalani ritual panjang hanya untuk mendapatkan bahan bakar yang mereka perlukan untuk hidup. [T]



























