BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja operasi. Ia bergegas menuju kendaraan, menyiapkan peralatan, dan memastikan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyelamatkan pasien telah tersedia. Namun, sebelum berangkat, ia menghadapi persoalan yang tidak pernah diajarkan dalam pendidikan medisnya, yakni kehabisan BBM.
Di luaran sana orang-orang mengantre mengular berkilo-kilo meter berjuang mendapatkan BBM. Kemacetan terjadi disepanjang jalan SPBU. Semua orang memiliki kebutuhan sama, yakni harus segera mendapatkan bahan bakar. Sementara itu, di tempat lain, seseorang sedang menunggu pertolongan yang tidak bisa ditunda. Keterlambatan beberapa menit saja dapat menjadi konsekuensi serius bagi keselamatan pasien. Di sinilah sebuah ironi kehidupan di Bali mencapai klimaksnya.
Ilustrasi peristiwa tersebut membawa saya menghubungkan realitas sosial yang terjadi saat ini dengan pemikiran Abraham Maslow, seorang psikolog yang memperkenalkan teori hierarki kebutuhan manusia. Saya mencoba membawa teori ini keluar dari ruang kuliah dan meletakkannya di tengah carut-marut yang terjadi saat ini di Bali. Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tersusun dalam beberapa tingkatan, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan rasa memiliki, penghargaan, hingga aktualisasi diri.
Bagi Maslow, kebutuhan dasar memiliki arti penting karena manusia sulit memusatkan perhatian pada kebutuhan yang lebih tinggi ketika kebutuhan paling mendasarnya belum terpenuhi. Orang yang kelaparan akan lebih sibuk mencari makanan daripada memikirkan pencapaian intelektual. Orang yang merasa terancam akan lebih memprioritaskan keselamatan daripada mengejar pengakuan sosial. Seseorang tidak akan mungkin dapat berdebat tentang cita-cita besar, jika perut masih kosong dan keselamatan hidup belum terjamin.
BBM dalam masyarakat modern, menjadi salah satu prasyarat penting bagi terpenuhinya kebutuhan dasar. Kendaraan distribusi memerlukannya untuk mengangkut bahan logistik. Nelayan membutuhkannya untuk melaut. Sebagian masyarakat membutuhkannya untuk mencapai tempat kerja, sekolah, atau fasilitas kesehatan.
Ketika pasokan BBM terganggu, dampaknya tidak berhenti pada antrean kendaraan di SPBU. Persoalan ini dapat menjalar ke berbagai urusan yang menyangkut keberlangsungan hidup. Harga dan distribusi barang bisa terdampak, perjalanan menjadi lebih sulit, dan masyarakat yang memiliki sumber daya terbatas berpotensi menanggung beban lebih besar. Pada titik tertentu, kelangkaan energi bukan lagi sekadar persoalan ekonomi. Justru telah berubah menjadi persoalan tentang siapa yang tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan harus menunggu dalam ketidakpastian.
Pada tingkat kebutuhan kedua, Maslow berbicara tentang rasa aman. Dalam kehidupan sehari-hari, rasa aman tidak hanya berarti terbebas dari tindak kejahatan. Rasa aman juga berarti memiliki keyakinan bahwa ketika sakit seseorang dapat memperoleh pertolongan, dalam kondisi darurat layanan publik dapat diandalkan, dan saat menghadapi krisis ada sistem yang bekerja untuk melindungi masyarakat.
Bayangkan keluarga yang harus membawa anaknya ke rumah sakit ketika pasokan BBM tidak menentu. Bayangkan para pekerja tidak tahu apakah bisa pulang dari kantor setelah selesai bekerja. Demikian juga, pasien yang bergantung pada tenaga medis, sementara keluarganya hanya bisa menunggu kabar. Dalam keadaan seperti itu, yang terkuras bukan hanya uang dan tenaga, melainkan juga rasa percaya.
Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kehidupan tidak sepenuhnya bergantung pada keberuntungan. Mereka ingin mengetahui bahwa ada perencanaan, koordinasi, dan tanggung jawab yang dijalankan sebelum masalah berubah menjadi keadaan darurat. Kehadiran pemerintah ketika krisis dalam teori pelayanan publik memang penting, tetapi kemampuan mencegah krisis agar tidak melumpuhkan pelayanan jauh lebih mendasar.
Kita sering mengagumi berbagai simbol kemajuan di Bali, seperti gedung megah, teknologi canggih, kawasan wisata yang ramai, serta pencapaian pembangunan yang dapat dibanggakan. Namun, apa artinya semua itu jika kebutuhan paling dasar masyarakat tidak memperoleh jaminan yang memadai? Apa gunanya membicarakan masa depan yang gemilang jika seseorang masih harus cemas tentang bagaimana mendapatkan pertolongan ketika keluarganya sakit?
Bali adalah rumah bagi masyarakat yang menjalani kehidupan yang kompleks, tidak hanya tentang industri pariwisata. Di balik hotel, villa, restoran, kendaraan wisata, dan keramaian destinasi, ada petani yang membajak tanah sawah, nelayan yang pergi ke laut, pedagang yang membuka lapak, pekerja yang mengejar jam masuk, guru yang menunggu muridnya, dan keluarga yang membutuhkan layanan kesehatan. Mereka adalah manusia yang memiliki kebutuhan dasarnya yang harus segera terpenuhi.
Sayangnya, dalam situasi sosial yang penuh tekanan, perhatian publik sering kali terseret pada perebutan ruang untuk berbicara oleh pemangku kepentingan. Siapa yang paling cepat memberikan komentar, siapa yang paling lantang menyampaikan pembelaan, dan siapa yang paling pandai menyusun kalimat agar terlihat meyakinkan. Padahal, masyarakat tidak selalu membutuhkan banyak kata-kata retoris. Mereka hanya membutuhkan BBM tersedia, distribusi berjalan, pelayanan darurat tetap berfungsi, dan persoalan diselesaikan tanpa harus menunggu kegaduhan demi kegaduhan.
Dalam hirarki kebutuhan, Maslow juga menyatakan bahwa, manusia membutuhkan rasa memiliki dan hubungan sosial. Kebutuhan ini menyadarkan kita bahwa masyarakat tidak dapat bertahan hanya dengan memenuhi kepentingan individual. Kita membutuhkan solidaritas, kepedulian, dan keyakinan bahwa kesulitan seseorang merupakan urusan bersama.
Ketika kelangkaan terjadi, solidaritas dapat muncul dalam bentuk yang sederhana, misalnya memberikan informasi yang benar atau menghindari pembelian berlebihan yang memperparah kepanikan. Namun, solidaritas juga dapat melemah ketika rasa takut menguasai pikiran seseorang. Orang mulai memikirkan keselamatannya sendiri, mengambil sebanyak mungkin untuk kepentingannya, atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena merasa harus bertindak cepat.
Pada situasi ini, teori Maslow tidak perlu dipahami sebagai rumus yang memastikan semua orang akan berperilaku sama ketika kebutuhan dasarnya terancam. Manusia memiliki nilai dan kemampuan mengendalikan diri yang berbeda. Ada orang yang tetap berbagi ketika kesulitan datang, bahkan ada pula yang memilih menimbun karena takut kekurangan. Teori ini lebih tepat membantu kita memahami mengapa tekanan terhadap kebutuhan dasar dapat mengubah prioritas dan memengaruhi hubungan sosial.
Dalam konteks Bali, solidaritas semestinya tidak berhenti sebagai ungkapan yang indah dalam sebuah komentar publik di media massa. Ia harus tampak ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Maslow berbicara tentang kebutuhan akan penghargaan. Manusia ingin dihormati, diakui, dan diperlakukan sebagai pribadi yang bermartabat. Dalam kehidupan sosial, kebutuhan ini berkaitan dengan cara pemerintah atau pemangku kepentingan memperlakukan warga, seperti apakah suara mereka didengar, keluhan mereka ditanggapi, dan memperoleh penjelasan yang layak ketika pelayanan terganggu.
Masyarakat yang mengantre BBM bukan sekadar kumpulan kendaraan yang memenuhi halaman SPBU. Mereka adalah orang-orang dengan waktu, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab. Ketika pelayanan terganggu, mereka pantas memperoleh informasi yang jelas, bukan dibiarkan menebak-nebak. Ketika terjadi kekurangan, mereka pantas mengetahui langkah penanganan dan prioritas distribusi, bukan sekadar diminta bersabar tanpa kepastian.
Rasa hormat terhadap masyarakat tidak cukup diwujudkan melalui keramahan dalam komunikasi. Sebab, bahasa yang sopan tidak dapat menggantikan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Penjelasan yang indah tidak dapat mengisi tangki ambulans maupun kendaraan-kendaraan lainnya. Permintaan maaf, betapapun tulusnya, tidak dengan sendirinya mengembalikan waktu yang hilang ketika seseorang membutuhkan pertolongan.
Pada tingkat tertinggi, Maslow memperkenalkan aktualisasi diri, yakni upaya manusia mengembangkan potensi dan mewujudkan kemampuan terbaiknya. Namun, berbicara tentang aktualisasi diri di tengah persoalan kebutuhan dasar membutuhkan kepekaan dan empati. Kita tidak bisa terus-menerus meminta masyarakat menjadi produktif, kreatif, inovatif, dan berdaya saing apabila masih harus menghabiskan terlalu banyak energi untuk menghadapi ketidakpastian yang seharusnya dapat dikurangi melalui pelayanan publik yang baik.
Masyarakat membutuhkan ruang untuk tumbuh, bukan hanya ruang untuk bertahan hidup. Guru perlu dapat mengajar dengan tenang. Pelajar perlu dapat belajar tanpa terganggu persoalan transportasi yang tidak menentu. Pekerja perlu dapat menjalankan pekerjaannya. Pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) perlu memperoleh kepastian yang wajar. Dan pasien perlu dapat mengandalkan layanan darurat ketika nyawanya terancam.
Oleh karena itu, kelangkaan BBM seharusnya tidak hanya mendorong kita membicarakan pasokan dan antrean, tetapi juga mengevaluasi ketahanan layanan publik, kualitas koordinasi, dan kepekaan kebijakan terhadap kebutuhan dasar. Manusia adalah makhluk yang membutuhkan kehidupan, keselamatan, hubungan sosial, penghargaan, dan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Ketika kebutuhan-kebutuhan itu diabaikan, yang terganggu bukan hanya kenyamanan individual, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang mengatur kehidupan bersama.
Kondisi Bali saat ini menjadi pelajaran paling penting dari sebuah kehabisan BBM. Kita terlalu mudah berbicara tentang tujuan yang tinggi, tetapi kadang-kadang melupakan persoalan yang fundamental. Kita ingin ekonomi maju, pendidikan unggul, dan Bali tetap menjadi tempat yang membanggakan. Namun, semua cita-cita itu harus berpijak pada satu pertanyaan sederhana, yakni apakah kebutuhan paling mendasar masyarakat Bali sudah benar-benar kita jaga? [T]




























