SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin jarang kita bicarakan, yakni ketika sebuah festival seni benar-benar menjadi ruang perjumpaan berbagai kesenian dengan segala kekhasan, karakter, dan akar kebudayaan yang melahirkannya. Sebuah perhelatan yang memungkinkan kita mengenali dari mana suatu kesenian berasal, bagaimana ia tumbuh, siapa yang menjaganya, dan mengapa ia masih penting untuk dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat hari ini.
Ada sesuatu yang menarik ketika kita mencoba mengingat kembali wajah festival seni budaya kabupaten baudng pada masa lalu. Berbagai kesenian hadir membawa identitasnya masing-masing. Ada yang sederhana dalam penyajian, tetapi kaya akan nilai. Ada yang mungkin tidak begitu memukau secara visual, tetapi menyimpan kedalaman artistik dan jejak panjang perjalanan tradisi. Kehadiran berbagai kesenian tersebut tidak selalu menuntut keseragaman estetika. Justru keberagaman itulah yang membentuk karakter sebuah festival seni . Kita tidak hanya datang untuk menonton pertunjukan, tetapi juga untuk mengenali kekayaan ekspresi kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Tentu, kerinduan terhadap masa lalu tidak harus dimaknai sebagai keinginan untuk mengembalikan segala sesuatu pada bentuknya yang lama. Seni selalu bergerak, kebudayaan selalu bernegosiasi dengan zaman, dan festival seni tentu perlu menemukan cara-cara baru untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya. Namun, dalam semangat pembaruan tersebut, ada pertanyaan yang rasanya perlu terus diajukan: apakah festival seni dan budaya hari ini sedang memperkuat akar kebudayaan, atau justru semakin sibuk memperindah permukaannya?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita menyaksikan bagaimana sebuah festival seni terkadang begitu serius memikirkan sisi dekoratifnya. Panggung dirancang sedemikian megah, instalasi visual dibangun dengan biaya yang tidak sedikit, dan berbagai perangkat teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman yang spektakuler. Semua itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Kemajuan teknologi dan kreativitas visual merupakan bagian dari perkembangan seni pertunjukan. Akan tetapi, persoalan muncul ketika kemegahan tersebut justru lebih mudah dikenali daripada karakter kesenian yang hendak diperkenalkan. Festival seni akhirnya berpotensi menjadi ruang yang indah untuk dipandang, tetapi kurang memberikan kesempatan bagi
Di sinilah saya melihat pentingnya membangun fondasi karakteristik sebuah festival seni. Setiap festival seni semestinya memiliki alasan kebudayaan yang jelas mengenai mengapa ia diselenggarakan. Bukan sekadar menjawab kapan dilaksanakan, siapa yang tampil, atau berapa banyak pengunjung yang datang, tetapi juga menjawab persoalan yang lebih mendasar: kebudayaan apa yang sedang dibicarakan, nilai apa yang hendak diwariskan, kesenian apa yang perlu mendapatkan ruang, dan perubahan apa yang diharapkan terjadi setelah festival seni berakhir?
Festival seni yang memiliki karakter tidak harus selalu tampil besar.
Ia justru dapat tumbuh dari kesadaran untuk memberikan ruang yang layak bagi kesenian-kesenian yang selama ini hidup dalam masyarakat. Kesenian yang mungkin jarang mendapatkan sorotan, tradisi yang hanya muncul dalam momentum tertentu, kelompok-kelompok seni yang bertahan melalui proses regenerasi, hingga praktik artistik baru yang lahir dari pergulatan seniman dengan lingkungannya. Semuanya memiliki kemungkinan untuk membangun percakapan kebudayaan yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi susunan acara pertunjukan.
Saya membayangkan sebuah festival seni yang memungkinkan kesenian hadir dengan identitasnya sendiri. Ketika sebuah kesenian tradisi dipentaskan, masyarakat tidak hanya disuguhi bentuk akhirnya, tetapi juga diberikan kesempatan mengenali proses, pengetahuan, dan nilai yang menyertainya. Ketika karya seni kontemporer dihadirkan, publik tidak hanya diajak mengagumi kebaruannya, tetapi juga memahami kegelisahan dan pemikiran yang melatarbelakangi penciptaannya. Dengan demikian, festival seni tidak lagi hanya menjadi tempat berkumpulnya berbagai pertunjukan, melainkan sebuah ruang dialektika tempat tradisi, kreativitas, dan kehidupan masyarakat saling berbicara.
Barangkali inilah salah satu persoalan yang perlu kita renungkan bersama. Kita sering begitu bersemangat membicarakan keberhasilan festival seni melalui jumlah penonton, kemeriahan pembukaan, kehadiran tokoh penting, atau luasnya jangkauan publikasi. Ukuran-ukuran tersebut tentu memiliki arti, terutama dalam konteks penyelenggaraan dan pertanggungjawaban sebuah kegiatan. Namun, keberhasilan festival seni dan budaya semestinya tidak berhenti pada hal-hal yang dapat dihitung. Ada capaian lain yang mungkin tidak segera terlihat, tetapi justru menentukan masa depan kebudayaan: bertambahnya pengetahuan masyarakat, tumbuhnya kesadaran generasi muda, terbukanya ruang bagi seniman, munculnya gagasan penciptaan baru, dan semakin kuatnya hubungan antara kesenian dengan komunitas yang melahirkannya.
Sebab, festival seni yang berhasil menghadirkan keramaian belum tentu berhasil membangun kesadaran kebudayaan.
Saya juga kerap berpikir tentang apa yang sebenarnya tersisa setelah sebuah festival seni selesai diselenggarakan. Panggung akan dibongkar, dekorasi akan diturunkan, lampu-lampu akan dipadamkan, dan keramaian perlahan menghilang. Foto serta video dokumentasi mungkin masih beredar di media sosial untuk beberapa waktu. Laporan kegiatan disusun, evaluasi dilaksanakan, dan penyelenggara mulai mempersiapkan agenda berikutnya. Namun, di luar seluruh aktivitas administratif tersebut, adakah sesuatu yang benar-benar tumbuh dalam kehidupan kesenian kita?
Apakah setelah festival seni berakhir, sebuah kelompok seni mendapatkan kesempatan untuk berkembang? Apakah seniman memperoleh pengetahuan baru dari perjumpaannya dengan seniman lain? Apakah generasi muda mulai tertarik mempelajari kesenian yang sebelumnya tidak mereka kenal? Apakah masyarakat menjadi lebih memahami nilai dari tradisi yang selama ini hidup di sekitarnya? Atau jangan-jangan, setelah seluruh kemeriahan itu berlalu, kita hanya menyisakan kenangan tentang sebuah acara yang pernah berlangsung?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengecilkan kerja keras para penyelenggara festival seni . Saya memahami bahwa menghadirkan sebuah perhelatan seni bukan pekerjaan sederhana. Ada banyak tenaga, pemikiran, waktu, dan sumber daya yang harus dipertemukan. Justru karena besarnya usaha itulah, sebuah festival seni selayaknya memiliki dampak yang lebih panjang daripada usia penyelenggaraannya.
Dalam pandangan saya, festival seni dan budaya seharusnya tidak diperlakukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia perlu dilihat sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan yang berkelanjutan. Festival seni ini semestinya memiliki keterhubungan antara pengetahuan yang dikumpulkan, gagasan yang dikembangkan, persoalan yang dievaluasi, dan kemungkinan artistik yang terus dibuka. Dengan cara demikian, festival seni tidak sekadar mengulang perayaan tahunan, melainkan membangun perjalanan panjang pembentukan karakter kebudayaan.
Di sinilah pentingnya kurasi yang tidak hanya bekerja memilih siapa yang layak tampil, tetapi juga membaca arah perkembangan kesenian. Kurasi semestinya mampu mempertemukan kekhasan tradisi dengan kebutuhan zaman tanpa harus mengorbankan identitasnya. Sebab, memperbarui kesenian tidak selalu berarti mengubah bentuknya menjadi lebih modern. Terkadang, pembaruan justru lahir ketika kita menemukan cara baru untuk membaca, memahami, dan menghadirkan kembali nilai-nilai yang selama ini tersimpan dalam tradisi.
Saya percaya bahwa akar kebudayaan yang kuat tidak akan menghalangi tumbuhnya kreativitas. Sebaliknya, akar itulah yang memungkinkan kreativitas memiliki pijakan. Sebuah pohon dapat tumbuh tinggi, mengembangkan cabang, dan menghadirkan bentuk yang berbeda dari waktu ke waktu karena ia memiliki akar yang mampu menopangnya. Demikian pula sebuah festival seni . Ia boleh berkembang menjadi perhelatan yang megah, terbuka terhadap teknologi, menjangkau publik internasional, bahkan melahirkan berbagai bentuk ekspresi artistik baru. Namun, seluruh perkembangan tersebut akan jauh lebih bermakna ketika tetap memiliki hubungan dengan karakter kebudayaan yang menjadi landasannya.
Barangkali yang sedang saya rindukan bukanlah festival seni masa lalu itu sendiri, melainkan semangat kebudayaan yang pernah saya rasakan di dalamnya. Semangat ketika kesenian tidak semata-mata ditempatkan sebagai pengisi acara, melainkan sebagai pengetahuan yang patut dihormati. Ketika keberagaman tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir melalui berbagai karakter artistik yang memperoleh ruang. Ketika seniman bukan sekadar pihak yang diundang untuk tampil, melainkan menjadi bagian penting dari percakapan mengenai arah kebudayaan.
Pada akhirnya, saya berharap festival seni dan budaya mampu menjadi lebih dari sekadar kalender perayaan. Ia harus menjadi tempat bertemunya ingatan dan imajinasi, tempat tradisi menemukan relevansinya, tempat seniman mempertanyakan kembali praktik penciptaannya, dan tempat masyarakat membangun hubungan yang lebih dekat dengan kebudayaannya sendiri.
Saya hanya ingin sebuah festival seni meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada tepuk tangan. Sesuatu yang tetap hidup ketika panggung telah kosong dan seluruh kemeriahan berakhir. Mungkin berupa pengetahuan, mungkin berupa kegelisahan, mungkin pula berupa percakapan yang terus berkembang di antara para seniman dan masyarakat.
Dan ketika tahun berikutnya tiba, pertanyaan yang muncul semestinya bukan lagi sekadar siapa yang akan tampil, seberapa megah panggung yang akan dibangun, atau dekorasi seperti apa yang akan dihadirkan.
Melainkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar “Setelah semua yang kita rayakan tahun ini, apa yang telah tumbuh dalam kebudayaan kita?”
Jika pertanyaan itu terus hidup, barangkali di sanalah sebuah festival seni benar-benar menemukan maknanya. Bukan hanya sebagai perhelatan seni yang dinantikan setiap tahun, melainkan sebagai perjalanan kebudayaan yang senantiasa memiliki sesuatu untuk diwariskan, dipertanyakan, dan dikembangkan. [T]




























