29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

Emi Suy by Emi Suy
September 29, 2026
in Esai
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

Petang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 yang berlangsung di Graha Utama, Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, 27 September 2026

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja seorang penulis, rak buku di sudut rumah, ruang komunitas yang sederhana, atau percakapan panjang tentang sebuah puisi yang belum selesai. Tidak semua nama sampai ke panggung, tidak semua buku menemukan pembaca, dan tidak setiap karya mendapat kesempatan untuk dibicarakan. Namun sastra terus bergerak, melewati waktu, pergantian generasi, mereka yang datang membawa kata dan mereka yang pergi meninggalkan buku. Di jalan yang sunyi itu, setiap cahaya memiliki arti, sekecil apa pun nyalanya.

Kusala Sastra Khatulistiwa atau KSK menjadi salah satu cahaya yang menandai perjalanan tersebut. Ia bukan sekadar panggung tempat nama-nama diumumkan, juga bukan hanya penghargaan yang selesai ketika piala berpindah tangan. Di belakang sebuah penghargaan selalu ada perjalanan panjang sebuah karya: proses menulis, penyuntingan, penerbitan, pencarian pembaca, perbincangan, kritik, bahkan kemungkinan karya itu diterjemahkan dan dibawa ke ruang yang lebih luas. Karena itu, keberadaan KSK dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan sastra Indonesia yang mencatat karya, suara, persoalan, dan perubahan zaman melalui buku-buku yang hadir pada suatu periode.

Petang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 yang berlangsung di Graha Utama, Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, 27 September 2026, menjadi puncak dari rangkaian KSK setelah para pemenang diumumkan pada 23 Agustus. Tiga buku ditetapkan sebagai pemenang tahun ini: Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal untuk kategori Novel, Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya untuk kategori Kumpulan Cerita Pendek, dan Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat untuk kategori Kumpulan Puisi. Ketiganya menjadi nama yang paling terang pada malam perayaan. Namun di balik tiga judul tersebut terdapat ratusan karya lain yang bersama-sama membentuk lanskap sastra Indonesia tahun ini.

KSK 2026 menerima 225 judul karya dari 240 judul yang mula-mula masuk: 74 novel, 46 kumpulan cerpen, dan 105 kumpulan puisi. Angka-angka itu mungkin tampak seperti statistik dalam sebuah buku program. Tetapi di baliknya ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: membaca. Karya-karya tersebut melewati proses pembacaan, daftar panjang, daftar pendek, diskusi, pembacaan ulang, silang pendapat, dan pertimbangan sebelum sebuah keputusan diambil. Di tengah kebudayaan yang semakin terbiasa dengan sesuatu yang segera, membaca karya sastra secara sungguh-sungguh adalah pekerjaan yang nyaris sunyi. Membutuhkan waktu dan kesediaan untuk tinggal lebih lama di dalam sebuah halaman, bahkan ketika halaman itu tidak segera memberikan jawaban.

Barangkali di situlah penghargaan sastra menjadi menarik. Ia bukan semata-mata peristiwa memilih siapa yang terbaik, melainkan juga memperlihatkan bagaimana sejumlah pembaca berhadapan dengan begitu banyak karya dan mencoba memahami apa yang sedang dikatakan sastra pada zamannya. Sebab “penting” dalam sastra tidak selalu lahir dari kesepakatan yang mudah. Kadang ia lahir dari perdebatan, perbedaan cara melihat, atau sebuah kalimat yang pada pembacaan pertama terasa biasa, tetapi beberapa hari kemudian kembali mengetuk ingatan. Keputusan dalam penghargaan sastra bukan akhir dari percakapan. Ia justru salah satu bentuk percakapan itu sendiri.

Saya teringat pada sebuah benda yang sering hadir dalam malam penghargaan: piala. Ia berkilau di bawah cahaya, kemudian dibawa pulang dan diletakkan di rak. Piala menyimpan sebuah malam. Buku menyimpan perjalanan yang lebih panjang. Piala mengingatkan seseorang bahwa pada suatu malam namanya pernah dipanggil ke panggung. Buku membutuhkan sesuatu yang lain agar tetap hidup: tangan yang membuka halaman, mata yang berhenti pada satu kalimat, pikiran yang berdebat dengan sebuah gagasan, dan seseorang yang membawa pulang pertanyaan.

Piala tinggal di rak. Buku berpindah dari tangan ke tangan.

Karena itu, menarik ketika dalam penyelenggaraan KSK 2026, di tengah penyesuaian jumlah hadiah, pembelian buku karya pemenang tetap dipertahankan meskipun jumlahnya berkurang. Ada sesuatu yang penting di sana. Jika penghargaan hanya berhenti pada benda yang diberikan kepada penulis, maka peristiwa sastra berakhir di panggung. Tetapi ketika buku kembali dibawa ke ruang pembaca, penghargaan menemukan kemungkinan hidup yang lain. Penghargaan dapat menunjuk sebuah buku. Hanya pembacaan yang dapat membuatnya hidup.

Sebuah buku sebenarnya tidak selesai ketika dicetak. Setelah keluar dari percetakan, ia memasuki kehidupan yang lain. Ia mencari pembaca, masuk ke perpustakaan, dibicarakan dalam komunitas, dibaca di sekolah dan kampus, dipentaskan, diterjemahkan, dikaji, atau mungkin ditemukan seseorang bertahun-tahun kemudian di rak yang berdebu. Di situlah sastra menemukan umur keduanya. Setelah tepuk tangan mereda, pertanyaan yang lebih panjang dimulai: ke mana buku itu berjalan, siapa yang membacanya, dan apakah percakapan yang ditimbulkannya terus hidup?

KSK sendiri memiliki perjalanan yang panjang. Bermula sebagai Khatulistiwa Literary Award pada 2001, digagas Richard Oh bersama Takeshi Ichiki, penghargaan ini kemudian menggunakan nama Kusala Sastra Khatulistiwa sejak 2014. Setelah sempat terhenti, penyelenggaraannya kembali hadir sejak 2025 melalui Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa institusi sastra pun tidak berada di luar perubahan zaman. Ia dapat mengalami jeda, kembali hadir, lalu mencari cara untuk tetap relevan dengan kehidupan sastra yang terus bergerak.

Dalam siaran pers KSK 2026, Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa, Gema Mawardi, menjelaskan bahwa KSK merupakan penghargaan bagi karya sastra terbaik sepanjang tahun sekaligus ruang untuk melihat kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis bahasa Indonesia, dan kemungkinan pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan. Pernyataan itu membawa kita kembali kepada alasan mengapa karya sastra perlu diberi ruang. Sastra bukan hanya perkara cerita atau keindahan bahasa, tetapi juga cara manusia membaca kenyataan, mengolah pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan menemukan kemungkinan lain di dalam kehidupan.

Dari sini pembicaraan tentang KSK membawa kita pada sesuatu yang lebih besar daripada sebuah ajang penghargaan: ekosistem sastra. Dalam puncak KSK 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pentingnya memperkuat ekosistem sastra dari hulu hingga hilir, mulai dari pengembangan talenta dan regenerasi, penguatan komunitas dan festival, penerjemahan, promosi, pengelolaan hak cipta, akses pasar, hingga jejaring internasional. Kehidupan sastra memang tidak mungkin hanya ditopang oleh penulis. Ada penerbit, editor, komunitas, festival, perpustakaan, sekolah, media, penerjemah, pengelola hak cipta, dan tentu saja pembaca yang membuat sebuah karya mempunyai ruang untuk tumbuh dan bergerak.

Tanpa ekosistem yang sehat, sastra mudah berhenti pada ruang yang terbatas. Banyak penulis bekerja dalam kesunyian, banyak buku lahir tanpa perjumpaan yang cukup dengan pembaca, dan banyak karya membutuhkan jalan yang lebih panjang untuk keluar dari lingkaran kecil tempat ia pertama kali tumbuh. Karena itu, pembicaraan tentang sastra tidak cukup berhenti pada siapa yang memperoleh penghargaan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana sebuah karya memperoleh kehidupan setelah penghargaan selesai, bagaimana pembaca baru menemukannya, bagaimana karya dari berbagai daerah memperoleh ruang, dan bagaimana bahasa Indonesia terus menjadi rumah bagi pengalaman yang beragam.

Menarik pula melihat cerpen dalam lanskap KSK tahun ini. Hanya 46 kumpulan cerpen yang masuk, lebih sedikit dibandingkan novel dan puisi. Padahal cerpen memiliki tubuh yang relatif pendek. Ia dapat selesai dibaca dalam sekali duduk. Namun pendek tidak selalu berarti sederhana. Cerpen mungkin selesai di halaman terakhir, tetapi belum tentu selesai di kepala pembacanya. Ia dapat meninggalkan sebuah percakapan, kehilangan, ruang, keputusan kecil, atau hanya satu kalimat yang terus berjalan setelah buku ditutup.

Di sanalah panjang dan pendek menjadi perkara yang berbeda. Sebuah cerita dapat pendek dalam halaman, tetapi panjang dalam gema. Mungkin sastra memang tidak selalu diukur dari berapa banyak yang dapat dikatakannya, melainkan dari berapa lama sesuatu yang dikatakannya tetap tinggal setelah pembacaan selesai.

Tema KSK 2026, “Mewarisi Ingatan, Menulis untuk Masa Depan”, membawa percakapan itu lebih jauh. Sastra Indonesia tidak lahir dari halaman yang kosong. Sebelum buku-buku modern memenuhi rak, telah ada cerita lisan, pantun, syair, hikayat, babad, dan berbagai tradisi sastra daerah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ingatan itu tidak selalu datang dalam bentuk utuh. Kadang ia hanya berupa serpihan: satu nama, satu suara, satu cerita yang didengar ketika kecil, satu kebiasaan yang diwariskan tanpa pernah dijelaskan asal-usulnya.

Sastra mengambil serpihan-serpihan itu, membawanya ke dalam bahasa baru, lalu memberinya kemungkinan untuk dibaca kembali oleh zaman yang berbeda. Karena itu, menulis bukan hanya pekerjaan menciptakan sesuatu yang belum ada. Kadang menulis adalah pekerjaan menyelamatkan sesuatu agar tidak hilang. Dan membaca adalah salah satu cara membuat ingatan tersebut kembali mempunyai tubuh.

Lalu untuk apa sastra ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja? Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika KSK 2026 berlangsung di tengah berbagai kesulitan dan kabar bencana dari sejumlah wilayah Indonesia. Sastra tentu tidak dapat menghentikan hujan, memindahkan tanah yang longsor, mengembalikan rumah yang terseret air, atau menggantikan kerja penyelamatan. Tetapi sastra memiliki ruang lain. Ia dapat mendengarkan.

Ada pengalaman manusia yang tidak selalu selesai ketika masuk ke dalam angka statistik. Ada kehilangan yang tidak cukup diterangkan oleh laporan. Ada ketakutan yang tidak selalu tertangkap kamera. Di sana sastra mungkin tidak hadir sebagai jawaban. Ia hadir sebagai kesediaan untuk tinggal bersama sesuatu yang belum selesai, mendengarkan kehidupan ketika bahasa sehari-hari mungkin sudah terlalu sibuk untuk mendengarnya.

Pratiwi Juliani, Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, melihat penghargaan sastra tidak semata-mata sebagai cara memilih karya terbaik, tetapi juga sebagai upaya mencatat perjalanan sastra pada suatu masa: karya-karya yang lahir, suara-suara yang muncul, persoalan yang dibicarakan, serta cara para penulis merespons perubahan dunia. Cara pandang itu membuat penghargaan memiliki fungsi yang lebih panjang daripada seremoni. Sebuah daftar pemenang dapat menjadi catatan sejarah, tetapi di balik daftar tersebut terdapat zaman yang sedang berbicara melalui karya-karya sastra.

Maka, ketika kita membicarakan ekosistem sastra, yang sesungguhnya sedang kita bicarakan adalah keberlangsungan sebuah jalan. Apakah anak-anak di sekolah mempunyai kesempatan membaca buku sastra yang baik? Apakah perpustakaan mempunyai koleksi yang cukup dan ruang yang hidup? Apakah komunitas memperoleh tempat untuk bertemu? Apakah penulis muda mempunyai kesempatan menerbitkan karya? Apakah penerjemah mempunyai ruang untuk membawa karya Indonesia keluar dari batas bahasa? Apakah buku-buku yang lahir dari daerah mempunyai kesempatan bertemu dengan pembaca di kota-kota lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak seindah panggung penghargaan, tetapi justru di sanalah masa depan sastra banyak ditentukan. Kemenangan dalam sebuah penghargaan tidak semestinya menjadi garis akhir. Ia adalah salah satu penanda dalam perjalanan yang jauh lebih panjang. Sastra tidak hanya hidup dari karya yang memperoleh sorotan, tetapi juga dari karya-karya yang terus ditulis di kamar-kamar kecil, dari penyair yang membaca puisinya di ruang komunitas, dari guru yang memperkenalkan puisi kepada murid-muridnya, dari pustakawan yang menjaga buku tetap terbuka, dari penerbit yang berani menerbitkan suara baru, dan dari pembaca yang memilih membawa sebuah kalimat pulang ke rumah.

Barangkali sastra memang tidak membutuhkan jalan yang terlalu terang. Ia hanya membutuhkan cukup cahaya agar seseorang tidak berhenti membaca, cukup ruang agar seseorang berani menulis, dan cukup banyak tangan yang bersedia menjaga buku tetap berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. KSK adalah salah satu cahaya itu, bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang menandai bahwa di jalan yang panjang ini masih ada yang berjalan, masih ada yang membaca, masih ada yang menulis, dan masih ada yang percaya bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar selesai ketika sebuah buku ditutup.

Setelah panggung dibongkar dan tepuk tangan reda, jalan itu tetap terbentang.

Di sanalah sastra melanjutkan perjalanannya. Dan mungkin, pada akhirnya, penghargaan terbesar bagi sebuah buku bukanlah ketika namanya disebut di atas panggung, melainkan ketika jauh setelah lampu dipadamkan, seseorang masih membuka halamannya, membaca, terdiam, lalu membalik halaman berikutnya. Sebab sastra tidak selesai ketika penghargaan selesai. Sastra baru benar-benar dimulai ketika ia menemukan pembacanya.[T]

Jakarta, 28 September 2026

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ari Pahala HutabaratKusala Sastra KatulistiwaNukila AmalRatri Ninditya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

Next Post

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails
Next Post
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co