ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja seorang penulis, rak buku di sudut rumah, ruang komunitas yang sederhana, atau percakapan panjang tentang sebuah puisi yang belum selesai. Tidak semua nama sampai ke panggung, tidak semua buku menemukan pembaca, dan tidak setiap karya mendapat kesempatan untuk dibicarakan. Namun sastra terus bergerak, melewati waktu, pergantian generasi, mereka yang datang membawa kata dan mereka yang pergi meninggalkan buku. Di jalan yang sunyi itu, setiap cahaya memiliki arti, sekecil apa pun nyalanya.
Kusala Sastra Khatulistiwa atau KSK menjadi salah satu cahaya yang menandai perjalanan tersebut. Ia bukan sekadar panggung tempat nama-nama diumumkan, juga bukan hanya penghargaan yang selesai ketika piala berpindah tangan. Di belakang sebuah penghargaan selalu ada perjalanan panjang sebuah karya: proses menulis, penyuntingan, penerbitan, pencarian pembaca, perbincangan, kritik, bahkan kemungkinan karya itu diterjemahkan dan dibawa ke ruang yang lebih luas. Karena itu, keberadaan KSK dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan sastra Indonesia yang mencatat karya, suara, persoalan, dan perubahan zaman melalui buku-buku yang hadir pada suatu periode.
Petang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 yang berlangsung di Graha Utama, Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, 27 September 2026, menjadi puncak dari rangkaian KSK setelah para pemenang diumumkan pada 23 Agustus. Tiga buku ditetapkan sebagai pemenang tahun ini: Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal untuk kategori Novel, Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya untuk kategori Kumpulan Cerita Pendek, dan Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat untuk kategori Kumpulan Puisi. Ketiganya menjadi nama yang paling terang pada malam perayaan. Namun di balik tiga judul tersebut terdapat ratusan karya lain yang bersama-sama membentuk lanskap sastra Indonesia tahun ini.
KSK 2026 menerima 225 judul karya dari 240 judul yang mula-mula masuk: 74 novel, 46 kumpulan cerpen, dan 105 kumpulan puisi. Angka-angka itu mungkin tampak seperti statistik dalam sebuah buku program. Tetapi di baliknya ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: membaca. Karya-karya tersebut melewati proses pembacaan, daftar panjang, daftar pendek, diskusi, pembacaan ulang, silang pendapat, dan pertimbangan sebelum sebuah keputusan diambil. Di tengah kebudayaan yang semakin terbiasa dengan sesuatu yang segera, membaca karya sastra secara sungguh-sungguh adalah pekerjaan yang nyaris sunyi. Membutuhkan waktu dan kesediaan untuk tinggal lebih lama di dalam sebuah halaman, bahkan ketika halaman itu tidak segera memberikan jawaban.
Barangkali di situlah penghargaan sastra menjadi menarik. Ia bukan semata-mata peristiwa memilih siapa yang terbaik, melainkan juga memperlihatkan bagaimana sejumlah pembaca berhadapan dengan begitu banyak karya dan mencoba memahami apa yang sedang dikatakan sastra pada zamannya. Sebab “penting” dalam sastra tidak selalu lahir dari kesepakatan yang mudah. Kadang ia lahir dari perdebatan, perbedaan cara melihat, atau sebuah kalimat yang pada pembacaan pertama terasa biasa, tetapi beberapa hari kemudian kembali mengetuk ingatan. Keputusan dalam penghargaan sastra bukan akhir dari percakapan. Ia justru salah satu bentuk percakapan itu sendiri.
Saya teringat pada sebuah benda yang sering hadir dalam malam penghargaan: piala. Ia berkilau di bawah cahaya, kemudian dibawa pulang dan diletakkan di rak. Piala menyimpan sebuah malam. Buku menyimpan perjalanan yang lebih panjang. Piala mengingatkan seseorang bahwa pada suatu malam namanya pernah dipanggil ke panggung. Buku membutuhkan sesuatu yang lain agar tetap hidup: tangan yang membuka halaman, mata yang berhenti pada satu kalimat, pikiran yang berdebat dengan sebuah gagasan, dan seseorang yang membawa pulang pertanyaan.
Piala tinggal di rak. Buku berpindah dari tangan ke tangan.
Karena itu, menarik ketika dalam penyelenggaraan KSK 2026, di tengah penyesuaian jumlah hadiah, pembelian buku karya pemenang tetap dipertahankan meskipun jumlahnya berkurang. Ada sesuatu yang penting di sana. Jika penghargaan hanya berhenti pada benda yang diberikan kepada penulis, maka peristiwa sastra berakhir di panggung. Tetapi ketika buku kembali dibawa ke ruang pembaca, penghargaan menemukan kemungkinan hidup yang lain. Penghargaan dapat menunjuk sebuah buku. Hanya pembacaan yang dapat membuatnya hidup.
Sebuah buku sebenarnya tidak selesai ketika dicetak. Setelah keluar dari percetakan, ia memasuki kehidupan yang lain. Ia mencari pembaca, masuk ke perpustakaan, dibicarakan dalam komunitas, dibaca di sekolah dan kampus, dipentaskan, diterjemahkan, dikaji, atau mungkin ditemukan seseorang bertahun-tahun kemudian di rak yang berdebu. Di situlah sastra menemukan umur keduanya. Setelah tepuk tangan mereda, pertanyaan yang lebih panjang dimulai: ke mana buku itu berjalan, siapa yang membacanya, dan apakah percakapan yang ditimbulkannya terus hidup?
KSK sendiri memiliki perjalanan yang panjang. Bermula sebagai Khatulistiwa Literary Award pada 2001, digagas Richard Oh bersama Takeshi Ichiki, penghargaan ini kemudian menggunakan nama Kusala Sastra Khatulistiwa sejak 2014. Setelah sempat terhenti, penyelenggaraannya kembali hadir sejak 2025 melalui Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa institusi sastra pun tidak berada di luar perubahan zaman. Ia dapat mengalami jeda, kembali hadir, lalu mencari cara untuk tetap relevan dengan kehidupan sastra yang terus bergerak.
Dalam siaran pers KSK 2026, Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa, Gema Mawardi, menjelaskan bahwa KSK merupakan penghargaan bagi karya sastra terbaik sepanjang tahun sekaligus ruang untuk melihat kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis bahasa Indonesia, dan kemungkinan pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan. Pernyataan itu membawa kita kembali kepada alasan mengapa karya sastra perlu diberi ruang. Sastra bukan hanya perkara cerita atau keindahan bahasa, tetapi juga cara manusia membaca kenyataan, mengolah pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan menemukan kemungkinan lain di dalam kehidupan.
Dari sini pembicaraan tentang KSK membawa kita pada sesuatu yang lebih besar daripada sebuah ajang penghargaan: ekosistem sastra. Dalam puncak KSK 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pentingnya memperkuat ekosistem sastra dari hulu hingga hilir, mulai dari pengembangan talenta dan regenerasi, penguatan komunitas dan festival, penerjemahan, promosi, pengelolaan hak cipta, akses pasar, hingga jejaring internasional. Kehidupan sastra memang tidak mungkin hanya ditopang oleh penulis. Ada penerbit, editor, komunitas, festival, perpustakaan, sekolah, media, penerjemah, pengelola hak cipta, dan tentu saja pembaca yang membuat sebuah karya mempunyai ruang untuk tumbuh dan bergerak.
Tanpa ekosistem yang sehat, sastra mudah berhenti pada ruang yang terbatas. Banyak penulis bekerja dalam kesunyian, banyak buku lahir tanpa perjumpaan yang cukup dengan pembaca, dan banyak karya membutuhkan jalan yang lebih panjang untuk keluar dari lingkaran kecil tempat ia pertama kali tumbuh. Karena itu, pembicaraan tentang sastra tidak cukup berhenti pada siapa yang memperoleh penghargaan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana sebuah karya memperoleh kehidupan setelah penghargaan selesai, bagaimana pembaca baru menemukannya, bagaimana karya dari berbagai daerah memperoleh ruang, dan bagaimana bahasa Indonesia terus menjadi rumah bagi pengalaman yang beragam.
Menarik pula melihat cerpen dalam lanskap KSK tahun ini. Hanya 46 kumpulan cerpen yang masuk, lebih sedikit dibandingkan novel dan puisi. Padahal cerpen memiliki tubuh yang relatif pendek. Ia dapat selesai dibaca dalam sekali duduk. Namun pendek tidak selalu berarti sederhana. Cerpen mungkin selesai di halaman terakhir, tetapi belum tentu selesai di kepala pembacanya. Ia dapat meninggalkan sebuah percakapan, kehilangan, ruang, keputusan kecil, atau hanya satu kalimat yang terus berjalan setelah buku ditutup.
Di sanalah panjang dan pendek menjadi perkara yang berbeda. Sebuah cerita dapat pendek dalam halaman, tetapi panjang dalam gema. Mungkin sastra memang tidak selalu diukur dari berapa banyak yang dapat dikatakannya, melainkan dari berapa lama sesuatu yang dikatakannya tetap tinggal setelah pembacaan selesai.
Tema KSK 2026, “Mewarisi Ingatan, Menulis untuk Masa Depan”, membawa percakapan itu lebih jauh. Sastra Indonesia tidak lahir dari halaman yang kosong. Sebelum buku-buku modern memenuhi rak, telah ada cerita lisan, pantun, syair, hikayat, babad, dan berbagai tradisi sastra daerah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ingatan itu tidak selalu datang dalam bentuk utuh. Kadang ia hanya berupa serpihan: satu nama, satu suara, satu cerita yang didengar ketika kecil, satu kebiasaan yang diwariskan tanpa pernah dijelaskan asal-usulnya.
Sastra mengambil serpihan-serpihan itu, membawanya ke dalam bahasa baru, lalu memberinya kemungkinan untuk dibaca kembali oleh zaman yang berbeda. Karena itu, menulis bukan hanya pekerjaan menciptakan sesuatu yang belum ada. Kadang menulis adalah pekerjaan menyelamatkan sesuatu agar tidak hilang. Dan membaca adalah salah satu cara membuat ingatan tersebut kembali mempunyai tubuh.
Lalu untuk apa sastra ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja? Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika KSK 2026 berlangsung di tengah berbagai kesulitan dan kabar bencana dari sejumlah wilayah Indonesia. Sastra tentu tidak dapat menghentikan hujan, memindahkan tanah yang longsor, mengembalikan rumah yang terseret air, atau menggantikan kerja penyelamatan. Tetapi sastra memiliki ruang lain. Ia dapat mendengarkan.
Ada pengalaman manusia yang tidak selalu selesai ketika masuk ke dalam angka statistik. Ada kehilangan yang tidak cukup diterangkan oleh laporan. Ada ketakutan yang tidak selalu tertangkap kamera. Di sana sastra mungkin tidak hadir sebagai jawaban. Ia hadir sebagai kesediaan untuk tinggal bersama sesuatu yang belum selesai, mendengarkan kehidupan ketika bahasa sehari-hari mungkin sudah terlalu sibuk untuk mendengarnya.
Pratiwi Juliani, Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, melihat penghargaan sastra tidak semata-mata sebagai cara memilih karya terbaik, tetapi juga sebagai upaya mencatat perjalanan sastra pada suatu masa: karya-karya yang lahir, suara-suara yang muncul, persoalan yang dibicarakan, serta cara para penulis merespons perubahan dunia. Cara pandang itu membuat penghargaan memiliki fungsi yang lebih panjang daripada seremoni. Sebuah daftar pemenang dapat menjadi catatan sejarah, tetapi di balik daftar tersebut terdapat zaman yang sedang berbicara melalui karya-karya sastra.
Maka, ketika kita membicarakan ekosistem sastra, yang sesungguhnya sedang kita bicarakan adalah keberlangsungan sebuah jalan. Apakah anak-anak di sekolah mempunyai kesempatan membaca buku sastra yang baik? Apakah perpustakaan mempunyai koleksi yang cukup dan ruang yang hidup? Apakah komunitas memperoleh tempat untuk bertemu? Apakah penulis muda mempunyai kesempatan menerbitkan karya? Apakah penerjemah mempunyai ruang untuk membawa karya Indonesia keluar dari batas bahasa? Apakah buku-buku yang lahir dari daerah mempunyai kesempatan bertemu dengan pembaca di kota-kota lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak seindah panggung penghargaan, tetapi justru di sanalah masa depan sastra banyak ditentukan. Kemenangan dalam sebuah penghargaan tidak semestinya menjadi garis akhir. Ia adalah salah satu penanda dalam perjalanan yang jauh lebih panjang. Sastra tidak hanya hidup dari karya yang memperoleh sorotan, tetapi juga dari karya-karya yang terus ditulis di kamar-kamar kecil, dari penyair yang membaca puisinya di ruang komunitas, dari guru yang memperkenalkan puisi kepada murid-muridnya, dari pustakawan yang menjaga buku tetap terbuka, dari penerbit yang berani menerbitkan suara baru, dan dari pembaca yang memilih membawa sebuah kalimat pulang ke rumah.
Barangkali sastra memang tidak membutuhkan jalan yang terlalu terang. Ia hanya membutuhkan cukup cahaya agar seseorang tidak berhenti membaca, cukup ruang agar seseorang berani menulis, dan cukup banyak tangan yang bersedia menjaga buku tetap berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. KSK adalah salah satu cahaya itu, bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang menandai bahwa di jalan yang panjang ini masih ada yang berjalan, masih ada yang membaca, masih ada yang menulis, dan masih ada yang percaya bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar selesai ketika sebuah buku ditutup.
Setelah panggung dibongkar dan tepuk tangan reda, jalan itu tetap terbentang.
Di sanalah sastra melanjutkan perjalanannya. Dan mungkin, pada akhirnya, penghargaan terbesar bagi sebuah buku bukanlah ketika namanya disebut di atas panggung, melainkan ketika jauh setelah lampu dipadamkan, seseorang masih membuka halamannya, membaca, terdiam, lalu membalik halaman berikutnya. Sebab sastra tidak selesai ketika penghargaan selesai. Sastra baru benar-benar dimulai ketika ia menemukan pembacanya.[T]
Jakarta, 28 September 2026
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole






























