SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak perlu lagi terlalu lama memikirkan kalimat pertama, mencari struktur tulisan, atau kebingungan menentukan bagaimana sebuah gagasan harus ditutup. Cukup menuliskan perintah di layar, menunggu beberapa detik, lalu sebuah teks muncul.
Dari puisi, esai, caption media sosial, siaran pers, hingga laporan jurnalistik, AI bisa membantu menghasilkan tulisan dengan cepat. Dunia kepenulisan pun terasa semakin ramai. Setiap hari muncul tulisan baru, begitu pula konten dan akun media sosial yang menggunakan AI sebagai piranti untuk memproduksi teks dalam hitungan detik.
Saya melihat penggunaan AI dalam kepenulisan juga memiliki semacam “kasta”. Ada tulisan yang hampir seratus persen diserahkan kepada mesin. Penulis hanya memasukkan perintah, kemudian menyalin hasilnya dan mempublikasikannya. Ada pula tulisan yang melalui penyuntingan berulang, sampai akhirnya pembaca hampir tidak mungkin menebak bahwa di belakangnya ada bantuan AI.
Dalam hitungan menit, seseorang bahkan bisa menghasilkan esai sepanjang 800 hingga 2000 kata, bahkan lebih. Bagi dunia yang terbiasa mengukur produktivitas dari jumlah karya, keadaan ini tentu menggembirakan. Menulis yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa dilakukan jauh lebih cepat.
Tetapi justru di tengah kegembiraan atas produktivitas itu saya menemukan sebuah paradoks. Sebagai penulis dan jurnalis, saya beberapa kali membaca tulisan yang secara struktur sangat baik, datanya lengkap, referensinya banyak, bahasanya rapi, bahkan gagasannya tampak cemerlang. Namun setelah selesai membacanya, saya justru bertanya-tanya, di mana penulisnya?
Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika membaca tulisan yang dibuat dengan bantuan AI. Bukan karena tulisan tersebut pasti buruk. Justru banyak tulisan hasil bantuan AI yang secara teknis sangat baik. Masalahnya, setelah semua informasi selesai disajikan, saya hampir tidak menemukan manusia yang sedang berbicara di balik informasi tersebut.
Penulisnya seperti tidak hadir. Ia ada sebagai nama yang tercantum di bawah judul, tetapi tidak selalu hadir sebagai seseorang yang mempunyai pengalaman, pendapat, kegelisahan, atau sikap terhadap sesuatu yang sedang ditulisnya. Tulisan itu tahu banyak hal, tetapi tidak selalu terasa seperti lahir dari seseorang yang sungguh-sungguh memikirkan apa yang sedang ia tulis.
Di sinilah persoalan kepenulisan pada zaman AI menjadi menarik. Kita tidak lagi cukup bertanya apakah sebuah tulisan dibuat oleh manusia atau mesin. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh manusia hadir dalam tulisan tersebut. Sebab sebuah tulisan bisa saja dibuat dengan bantuan teknologi, tetapi tetap mempunyai suara yang kuat.
Beberapa bulan lalu saya sempat membuat esai mengenai persoalan ini. Saya menulisnya setelah menjadi narasumber dalam sebuah kegiatan penulisan dengan bantuan AI untuk anak-anak muda di Bali. Dari pengalaman itu saya melihat AI sebagai alat yang sangat membantu proses menulis.
AI bisa menjadi teman berdiskusi, membantu menemukan kemungkinan sudut pandang, menyusun kerangka, mengembangkan gagasan, atau menunjukkan bagian tulisan yang masih lemah. Saya tidak melihat teknologi ini sebagai musuh penulis. Persoalannya bukan pada alat yang digunakan, melainkan bagaimana penulis memperlakukannya.
AI bisa membantu seseorang berpikir. Namun AI juga bisa membuat seseorang berhenti berpikir. Perbedaan itu sangat tipis. Ketika semua proses berpikir diserahkan kepada mesin, penulis perlahan hanya menjadi orang yang memberikan perintah dan menerima hasil.
Pada titik tertentu, menulis seperti berubah menjadi aktivitas mengeluarkan sesuatu. Apa yang ada di kepala segera ditumpahkan. Pengetahuan yang baru ditemukan di internet dimasukkan ke dalam tulisan. Sedikit pengalaman pribadi ditambahkan, beberapa kutipan diselipkan, kemudian AI diminta merapikan semuanya.
Setelah selesai, tulisan segera dilempar kepada pembaca. Tidak ada cukup waktu untuk mengendapkannya. Tidak ada jarak antara menemukan sesuatu dan menuliskannya. Tidak ada kesempatan untuk bertanya apakah tulisan itu benar-benar penting bagi orang lain.
Menulis kemudian menjadi seperti muntah. Saya menggunakan kata itu sebagai metafora. Muntah adalah sesuatu yang dikeluarkan tubuh karena sudah tidak sanggup menahannya. Dalam menulis, ada pula teks yang terasa seperti hasil pengosongan diri semata. Penulisnya mungkin merasa lega setelah menulis, tetapi pembacanya belum tentu mendapatkan sesuatu.
Ia menulis karena ingin mengeluarkan kegelisahan, atau karena baru menemukan sebuah pengetahuan. Juga, menulis karena penasaran terhadap sesuatu. Semua alasan itu sah. Namun bagi saya, tulisan yang baik membutuhkan satu kesadaran tambahan, yaitu memikirkan orang yang akan membacanya.
Di sinilah saya merasa kepenulisan memiliki hubungan yang menarik dengan dunia kuliner. Seorang penjual makanan tidak memasak hanya untuk mengeluarkan isi kepalanya. Ia memasak untuk orang lain. Ia memikirkan rasa, bahan, cara penyajian, bahkan bagaimana makanan itu diterima oleh orang yang menyantapnya.
Ada semacam jiwa melayani dalam pekerjaan tersebut. Pembeli datang bukan untuk mengetahui betapa banyak pengetahuan yang dimiliki si koki tentang makanan. Ia datang untuk menikmati makanan yang dibuat dengan sungguh-sungguh. Ada perhatian terhadap orang lain di dalam proses memasak.
Begitu pula dengan penulis. Pembaca tidak selalu datang kepada tulisan untuk mengetahui betapa banyak pengetahuan yang dimiliki penulis. Informasi memang penting, tetapi pengetahuan hari ini bukan lagi barang langka. Internet membuat informasi mudah diperoleh, sementara AI membuat proses menemukan dan mengolahnya menjadi semakin cepat.
Karena itu, memamerkan pengetahuan saja semakin kehilangan daya tawarnya. Yang menjadi penting adalah apa yang dilakukan seorang penulis terhadap pengetahuan tersebut. Apa yang ia pikirkan, apa yang ia alami, apa yang ia pertanyakan, dan mengapa semua itu perlu dibagikan kepada pembaca.
Di situlah suara penulis bekerja. Suara penulis bukan sekadar gaya bahasa. Ia bukan hanya persoalan memilih kata yang indah atau membuat kalimat terdengar puitis. Suara penulis adalah cara seseorang memandang dunia. Ia tumbuh dari pengalaman, ingatan, pengetahuan, kebudayaan, pergaulan, luka, kegembiraan, bahkan dari hal-hal kecil yang mungkin tidak dianggap penting oleh orang lain.
Dua orang bisa menulis tentang hujan dengan informasi yang sama. Mereka bisa membaca data meteorologi yang sama dan menggunakan sumber yang sama. Namun pengalaman mereka terhadap hujan bisa berbeda. Bagi seseorang, hujan mungkin berarti pulang. Bagi orang lain, hujan mungkin berarti kehilangan.
Begitu pula ketika dua orang menulis tentang rumah sakit, kemiskinan, Bali, agama, teknologi, kematian, atau cinta. Informasinya mungkin sama, tetapi manusia di balik tulisan itu berbeda. Perbedaan itulah yang membuat tulisan menjadi hidup.
AI dapat membantu menyusun pengetahuan tentang sebuah objek. Namun penulis tetap harus menentukan hubungan dirinya dengan objek tersebut. Ia perlu tahu mengapa objek itu penting baginya dan, lebih jauh, mengapa pembaca perlu mengetahuinya.
Tanpa kesadaran itu, tulisan mudah berubah menjadi katalog informasi. Rapi, lengkap, dan mungkin mengesankan, tetapi terasa dingin. Kita selesai membaca tanpa merasa pernah bertemu dengan seseorang.
Barangkali inilah yang membuat sebuah tulisan yang kaya data, penelitian, sumber pustaka, dan ide brilian sekalipun bisa terasa hampa. Kita bertemu banyak informasi, tetapi tidak menemukan sikap penulisnya. Kita mengetahui apa yang dibicarakan, tetapi tidak selalu tahu mengapa penulis merasa perlu membicarakannya.
Padahal membaca tulisan sebenarnya adalah pengalaman bertemu manusia lain melalui bahasa. Seorang penulis membuka pintu kecil dari dirinya kepada pembaca. Ia tidak harus menceritakan seluruh kehidupan pribadinya, apalagi menjadikan setiap tulisan sebagai curahan hati.
Namun selalu ada sesuatu dari dirinya yang tertinggal dalam tulisan. Bisa berupa cara melihat, cara merasakan, cara mempertanyakan, atau bahkan cara menyusun keraguan. Sesuatu itulah yang membuat sebuah tulisan tidak mudah ditukar dengan tulisan orang lain.
Karena itu saya memahami ketika kelas-kelas penulisan mulai membicarakan cara menggunakan AI tanpa kehilangan suara penulis. Pertanyaan semacam itu menunjukkan bahwa persoalan AI dalam kepenulisan bukan hanya soal kecepatan dan efisiensi.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar. Bagaimana manusia tetap menjadi manusia ketika menulis dengan bantuan mesin?
Pertanyaan tersebut akan semakin penting ketika AI menjadi semakin canggih. Mesin akan semakin mampu menghasilkan tulisan yang natural, personal, emosional, bahkan tampak reflektif. Batas antara tulisan manusia dan tulisan yang dibantu mesin pun mungkin semakin sulit dikenali.
Kalau demikian, kita membutuhkan ukuran lain. Bukan lagi sekadar siapa yang mengetik kalimat, melainkan siapa yang bertanggung jawab atas makna di balik kalimat tersebut.
Penulis tetap harus hadir sebagai seseorang yang memilih. Ia memilih fakta mana yang penting, menentukan sudut pandang, memutuskan apa yang perlu ditekankan, dan mempertimbangkan akibat dari kalimatnya. Ia juga harus bersedia membuka kemungkinan dialog dengan pembaca.
Dengan kata lain, penulis bukan sekadar produsen teks. Ia adalah seseorang yang menawarkan cara melihat dunia. AI mungkin dapat membantu mempercepat pekerjaan itu, tetapi jangan sampai membuat penulis kehilangan alasan mengapa ia menulis.
Saya kira di situlah paradoks terbesar kepenulisan pada era AI. Ketika mesin membuat tulisan semakin mudah, menulis dengan sungguh-sungguh justru menjadi semakin sulit. Bukan karena mencari kata semakin sulit, melainkan karena kita harus semakin sadar terhadap alasan di balik kata-kata itu.
Yang sulit bukan menemukan informasi. Yang sulit adalah berhenti sejenak sebelum menulis dan bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang ingin saya katakan? Bukan apa yang bisa saya katakan. Bukan pula apa yang bisa dibuat oleh AI. Tetapi apa yang benar-benar ingin saya sampaikan kepada orang lain.
Menulis bukan sekadar mengosongkan kepala. Menulis adalah mengolah sesuatu yang ada di dalam diri menjadi pengalaman yang mungkin berguna bagi orang lain. Ada perbedaan besar antara mengeluarkan sesuatu dan memberikan sesuatu. Muntah adalah mengeluarkan. Menulis, bagi saya, seharusnya adalah memberikan.
Sesuatu yang diberikan kepada orang lain tentu perlu dipersiapkan. Seperti makanan yang dimasak dengan penuh perhatian, tulisan juga membutuhkan kesadaran bahwa di ujung sana ada seseorang yang akan menerima apa yang kita sajikan.
Pembaca bukan tempat pembuangan isi kepala penulis. Pembaca adalah manusia lain yang kita ajak bertemu. Karena itu, tulisan perlu memiliki semacam perhatian terhadap orang yang membacanya. Maka di tengah zaman ketika siapa pun dapat menghasilkan tulisan 2000 kata dalam tiga menit, tantangan seorang penulis mungkin bukan lagi bagaimana menulis lebih cepat. Justru bagaimana tidak terburu-buru menulis.
Bagaimana mengalami sesuatu sebelum menuliskanny, bagaimana membaca sebelum berpendapat, bagaimana berpikir sebelum meminta mesin menyusun kalimat, bagaimana menyunting bukan hanya tata bahasa, tetapi juga pikiran sendiri.
Dan yang paling penting, bagaimana memastikan bahwa setelah tulisan selesai dibaca, pembaca merasa telah bertemu dengan seseorang. Bukan dengan sebuah mesin, bukan dengan kumpulan informasi, dan bukan dengan muntahan pengetahuan. Tetapi dengan seorang penulis. Seorang manusia yang mempunyai sesuatu untuk dibagikan, sesuatu untuk dipertanyakan, dan sesuatu yang ingin dipercakapkan bersama pembacanya. Mungkin itulah yang akan membuat kepenulisan tetap memiliki nilai di era AI. Bukan kemampuan menghasilkan teks, karena mesin sudah sangat pandai melakukannya. Yang semakin berharga justru adalah kehadiran manusia di balik teks. Sebab pada akhirnya, kita tidak membaca hanya untuk menemukan kalimat. Kita membaca untuk menemukan pikiran. Dan di balik pikiran itu, kita berharap menemukan manusia. [T]






























