18 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya? Di banyak kedai penjual makanan, lalat yang terlalu rajin ngang-ngeng, biasanya berakhir di telapak tangan atau ditapok, atau menempel ketat di kertas lem perangkap lalat. Persoalannya, bagaimana jika yang diusik bukan makanan, melainkan kebijakan publik?

Pada pertengahan September 2026, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyoroti ramainya persoalan MBG dan menyebut guru, orang tua, wartawan, serta sejumlah oknum LSM sebagai pihak yang ikut membuat isu tersebut ramai. Pernyataan itu kemudian menuai berbagai respons. Nah, sepertinya kita tahu siapa sebagai lalat-lalat ini dan siapa penjual makanannya.

Tapi kita tenang dulu, jangan buru-buru menentukan siapa yang paling benar, melainkan untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya wajar saja. Mengapa dalam sebuah negara demokratis, pihak yang mengungkap persoalan kadang justru dipandang sebagai sumber persoalan? Pertanyaan ini menyeret kita kepada istilah yang sudah lama dikenal dalam filsafat, yaitu gadfly, sang lalat pengganggu.

Lalat Kecil dan Kuda Besar Athena

Gadfly bukan istilah baru dalam perdebatan tentang kekuasaan. Ia berakar pada filsafat Yunani Kuno, tepatnya pada pembelaan Socrates di hadapan pengadilan Athena. Dalam Apology, sebagaimana dicatat Plato, Socrates mengibaratkan dirinya sebagai lalat pengganggu yang ditempelkan dewa pada seekor kuda besar dan mulia. Kuda itu, karena tubuhnya yang besar, cenderung lamban dan perlu dibangunkan dengan sengatan. Socrates menganggap Athena membutuhkan dirinya untuk terus mengusik, membangunkan, dan mengingatkan warga agar tidak terlena.

Metafora ini menarik karena Socrates tidak menggambarkan dirinya sebagai penguasa yang lebih besar daripada Athena. Ia justru kecil, tidak memiliki pasukan, anggaran, atau jabatan. Senjatanya adalah pertanyaan. Ia mengusik orang-orang yang merasa sudah mengetahui apa yang baik, adil, dan benar. Bagi Socrates, kehidupan yang tidak diperiksa secara kritis, tidak layak dijalani. Karena itu, gadfly bukan sekadar pembuat gaduh, bikin ramai. Ia adalah pengusik kesadaran.

Tentu, dalam kehidupan sehari-hari, lalat tidak memiliki reputasi sebaik itu. Di kedai makanan, lalat yang hinggap di meja atau mendekati hidangan biasanya segera diusir. Kalau terlalu bandel, ya, ditepak. Tidak ada pemilik warung yang berkata, “Mari kita dengarkan dulu yuk, aspirasi lalat ini.”  Pun demikian, demokrasi tidak boleh bekerja seperti kedai yang menganggap semua yang mengganggu harus ditapok.

Ketika Kritik Dianggap sebagai Sumber Keramaian

Polemik MBG memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada satu pernyataan pejabat. Ia menyiratkan cara kekuasaan memandang kritik. Dalam pemberitaan yang memuat pernyataan Sudaryono, persoalan MBG disebut ramai karena sorotan guru, orang tua siswa, wartawan, dan sejumlah oknum LSM. Ia juga menyebut adanya nuansa ideologis dan politis dalam keramaian tersebut. Tak dapat dipungkiri, pada saat yang sama, pemberitaan lain mencatat bahwa BGN melakukan penertiban terhadap sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk penutupan dapur yang dinilai bermasalah dan rencana pemberian sanksi.

Jadi harus dipisahkan. Menilai pernyataan pejabat tidak sama dengan menolak seluruh tindakan pembenahan yang dilakukan lembaganya. Begitu pula, mengkritik pelaksanaan MBG tidak otomatis berarti menolak tujuan program tersebut. Justru di sinilah persoalan pentingnya untuk menilik, apakah kritik diperlakukan sebagai informasi yang perlu diperiksa, atau cuma sebagai gangguan yang harus dijelaskan dengan dugaan motif pengkritiknya? 

Misalnya, seorang ibu mengeluhkan anaknya mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program. Seorang guru menyampaikan kekhawatiran karena mendengar laporan serupa. Wartawan terus memberitakan kejadian tersebut dan wajar LSM lalu meminta transparansi.

Tentu, semua laporan itu harus diverifikasi. Tidak setiap keluhan otomatis membuktikan kesalahan penyelenggara. Namun, verifikasi terhadap fakta tidak boleh digantikan oleh kecurigaan terhadap orang yang menyampaikan fakta. Pertanyaan yang semestinya muncul adalah, apa yang terjadi, di mana, kapan, bagaimana mekanisme pengawasannya, dan apa tindakan korektifnya? Bukan pada, siapa yang membuatnya jadi ramai.

Gadfly dan Demokrasi yang Tidak Mengantuk

John Stuart Mill, dalam On Liberty, memberikan alasan penting mengapa pendapat yang berlawanan perlu diberikan ruang. Ia mengingatkan bahwa, pendapat yang dibungkam mungkin saja benar. Kalaupun keliru, pendapat itu bisa juga mengandung kebenaran. Bahkan, pendapat yang benar pun punya risiko berubah menjadi dogma kosong, jika tidak pernah diuji melalui perdebatan.  Gagasan Mill ini saya kira relevan untuk memahami fungsi gadfly. Pengkritik tidak harus selalu benar agar keberadaannya berguna. Yang penting, ada ruang bagi argumennya untuk dicek. Ini yang kita butuhkan sekarang.

Jadi demokrasi, bukan cuma bikin sistem untuk memilih siapa yang bakal memerintah. Ia juga merupakan sistem yang memungkinkan keputusan publik dipertanyakan, diperdebatkan, dan dikoreksi.  Jürgen Habermas, lewat pemikirannya tentang demokrasi deliberatif dan ruang publik, menekankan pentingnya komunikasi politik yang memungkinkan masyarakat sipil memberikan feed back kepada kekuasaan.

Dalam kajiannya tentang komunikasi politik, ia menekankan, proses legitimasi demokratis membutuhkan ruang publik, media yang independen, dan masyarakat sipil yang responsif bukan yang mlempem.  Dalam kerangka itu, guru, orang tua, wartawan, dan LSM bukan sekadar aktor yang “meramaikan” persoalan. Justeru mereka merupakan bagian dari sistem sensor sosial yang membantu negara mengetahui apa-apa yang tidak selalu terlihat dari kacamata pengambil kebijakan.

Karena guru adalah yang paling mengetahui dinamika sekolah. Orang tua paham betul  soal pengalaman anak di rumah. Wartawan lalu menghubungkan peristiwa dengan pengetahuan publik. Di sisi lain LSM mengorganisasi advokasi dan pengawasan. Masing-masing memiliki keterbatasan, tetapi justru karena itulah suara mereka perlu diuji, bukan otomatis ditapok seperti lalat.

Posisi Lalat yang Pas

Namun, membela fungsi gadfly tidak berarti memberikan kekebalan kepada siapa pun yang mengaku sebagai pengkritik.  Wartawan dituntut harus memverifikasi informasi. LSM juga tetap harus transparan mengenai data dan kepentingannya. Orang tua juga perlu membedakan pengalaman pribadi dari kesimpulan umum. Guru pun perlu berhati-hati agar informasi yang belum teruji tidak bikin panik.  Jadi bukan soal kritik yang paling keras, tapi kritik yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi perlu hati-hati, untuk dapat membedakan dua hal yang sering tercampur. Kritik terhadap substansi dan penilaian terhadap motif. Jika suatu laporan ternyata keliru, bisa dibantah dengan data. Jika ada informasi palsu, bisa diluruskan dengan bukti. Jika memang terdapat kepentingan politik, bisa diungkapkan dengan jelas dan relevan. Sayangnya, dalam kasus ini, sepertinya dugaan motif jadi jalan pintas untuk menghindari pertanyaan yang memang substantif.

Fair saja, orang yang memiliki kepentingan politik pun bisa menyampaikan kritik yang benar. Sebaliknya, orang yang mengaku netral, pun bisa keliru. Jadi jelas, kebenaran sebuah laporan tidak lantas ditentukan oleh identitas atau motif orang yang menyampaikannya.

Jangan Mematikan Lalat, Periksa Mengapa Ia Datang

Pada akhirnya, persoalan MBG ini membuat kita bisa mengintip watak pelayanan publik ini. Sebuah program yang menyangkut makanan anak tidak hanya membutuhkan dapur, anggaran, dan distribusi. Ia juga membutuhkan legitimasi yang wujudnya adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun dengan meminta masyarakat berhenti bertanya. Kepercayaan tumbuh saat pertanyaan dijawab, keluhan diperiksa, kesalahan diakui, dan perbaikan dapat dilihat.

Kalau ada kritik yang keliru, pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk meluruskannya. Kalau ada kritik yang benar, pemerintah bertanggung jawab yang lebih menindaklanjutinya.  Maka, barangkali kita perlu membalik metafora tadi.  Di kedai makanan, lalat memang perlu diusir agar makanan tetap higienis. Tetapi dalam demokrasi, suara yang mengusik tidak selalu perlu diusir, kadang malahan perlu didengarkan agar kebijakan tetap sehat.

Socrates menyebut dirinya gadfly karena ia ingin Athena tidak tertidur dalam kebesarannya sendiri. Sekarang kita membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan bahwa program publik bukan milik pejabat, bukan pula milik lembaga pelaksana, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada warga. Tabik. [T]

Tags: makanan bergiziMBG
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Next Post

Menulis Kok Seperti Muntah?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Kok Seperti Muntah?

Menulis Kok Seperti Muntah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co