11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Pinten niki, Bu?”  (Berapa ini, Bu?)

“Tigang doso gangsal ewu.” (Tiga puluh lima ribu )

“Waduh… mboten saged kirang? Kula tumbas kathah, nggih.” ( Wah bisa kurang? Saya beli banyak ya )

Sang penjual tersenyum, lalu menimbang kembali cabai yang baru saja dipilih pembeli.

“Nggih sampun… tigang doso ewu mawon. Nanging ngenjang mriki malih nggih.” (Ya sudah. Tiga puluh saja. Tapi besok ke sini lagi ya)

Percakapan sederhana seperti itu mungkin berlangsung hanya beberapa menit. Tidak ada kontrak tertulis, tidak ada algoritma yang menghitung peluang pembelian berikutnya, bahkan sering kali tidak ada struk sebagai bukti transaksi. Namun justru di sanalah tersimpan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar pertukaran uang dengan barang: tumbuhnya rasa saling percaya.

Di tengah derasnya modernisasi, pasar tradisional memang perlahan kehilangan sebagian ruangnya. Minimarket, supermarket, hingga perdagangan digital menawarkan efisiensi yang sulit ditandingi. Namun menariknya, di berbagai daerah di Indonesia, pasar tradisional tetap bertahan. Bahkan tidak sedikit yang justru menjadi denyut kehidupan masyarakat. Pertanyaannya kemudian bukan lagi mengapa pasar itu masih ada, melainkan apa sesungguhnya yang sedang dipertahankan.

Barangkali jawabannya bukan semata-mata sistem jual beli, melainkan sebuah cara hidup. Pasar tradisional adalah teks budaya yang terus ditulis setiap hari oleh para pedagang, pembeli, pengangkut barang, penjual jajanan, hingga anak-anak yang ikut membantu orang tuanya. Ia bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang sosial tempat manusia saling membaca dan dibaca. Karena itu, pasar dapat dipahami melalui pendekatan semiotika maupun fenomenologi: sebagai jaringan tanda sekaligus sebagai pengalaman hidup bersama.

Roland Barthes mengemukakan bahwa setiap praktik sosial dapat dibaca layaknya sebuah teks. Sebuah tanda tidak berhenti pada makna denotatifnya, tetapi berkembang menjadi konotasi, bahkan menjadi mitos budaya yang dianggap alamiah oleh masyarakat. Dalam pandangan Barthes, sesuatu yang tampak biasa sesungguhnya menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Pasar tradisional adalah salah satu contohnya.

Suara tawar-menawar misalnya. Secara denotatif, ia hanyalah negosiasi harga. Namun secara konotatif, percakapan itu merupakan ritual sosial. Sapaan seperti “monggo dipilih,” “mboten napa-napa,” atau “langganan nggih” bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan penanda kedekatan emosional. Di sana harga memang dinegosiasikan, tetapi hubungan antarmanusia justru sedang dibangun.

Fenomena ini sejalan dengan berbagai penelitian mengenai pasar tradisional di Indonesia yang menunjukkan bahwa loyalitas pembeli sering kali lebih dipengaruhi oleh relasi interpersonal dibandingkan pertimbangan harga semata. Penelitian-penelitian di bidang antropologi ekonomi maupun sosiologi pasar menemukan bahwa interaksi yang berulang melahirkan modal sosial (social capital) berupa kepercayaan, rasa saling mengenal, dan kewajiban moral yang menjaga keberlangsungan hubungan antara pedagang dan pelanggan. Pasar, dengan demikian, bekerja bukan hanya melalui logika ekonomi, tetapi juga melalui logika sosial.

Tata Ruang Pasar sebagai Tanda

Los-los yang berhimpitan tanpa sekat permanen sering dianggap sebagai bentuk ketidakteraturan jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Namun justru dalam “ketidakteraturan” itu tersimpan filosofi keterbukaan. Tidak ada batas tegas antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Percakapan mudah mengalir melintasi kios-kios. Pembeli dapat berpindah dari satu lapak ke lapak lain tanpa hambatan psikologis.

Ruang yang demikian menyampaikan pesan simbolik bahwa kehidupan sosial dibangun di atas kedekatan, bukan isolasi. Barang dagangan yang dipajang terbuka pun mengandung makna. Sayuran, ikan, buah, rempah, hingga beras disusun sedemikian rupa agar dapat disentuh, dicium, dan diperiksa langsung oleh pembeli. Transparansi fisik tersebut menjadi simbol kejujuran. Tidak ada kemasan yang menyembunyikan kualitas barang. Penjual dan pembeli sama-sama berbagi ruang penilaian yang terbuka.

Dalam bahasa Barthes, seluruh elemen itu membentuk mitos mengenai kepercayaan sebagai fondasi kehidupan ekonomi rakyat. Namun pasar tidak hanya dapat dibaca sebagai kumpulan tanda. Ia juga dapat dialami.

Di sinilah pendekatan fenomenologi Alfred Schutz menawarkan cara pandang yang berbeda. Schutz menekankan bahwa dunia sosial dipahami melalui pengalaman hidup sehari-hari (lifeworld). Manusia tidak hidup di dalam dunia yang netral, melainkan di dalam dunia yang telah dipenuhi makna bersama.

Ketika seseorang memasuki pasar tradisional pada pagi hari, pengalaman yang muncul tidak hanya bersifat visual. Aroma rempah yang bercampur dengan wangi daun pisang, suara ayam yang berkokok dari kejauhan, teriakan pedagang menawarkan dagangan, lantai yang sedikit basah, hingga sentuhan tangan ketika menerima uang kembalian menghadirkan pengalaman indrawi yang utuh.

Ruang pasar bukan sekadar lokasi. Ia adalah pengalaman. Fenomenologi menyebutnya sebagai lived space, ruang yang dihayati, bukan hanya ditempati. Pasar hidup karena manusia hadir di dalamnya. Kehadiran orang lain bukan gangguan, melainkan syarat agar pengalaman itu memiliki makna. Di sinilah falsafah Jawa tuno satak bathi sanak menemukan relevansinya.

Secara harfiah ungkapan itu berarti “rugi sedikit, untung saudara”. Namun maknanya jauh melampaui kalkulasi ekonomi. Ia mengajarkan bahwa keuntungan terbesar bukan selalu tambahan pendapatan, melainkan bertambahnya hubungan baik. Pedagang yang memberi potongan harga kepada pelanggan lama mungkin kehilangan beberapa ribu rupiah hari itu. Akan tetapi ia memperoleh sesuatu yang lebih sulit diukur: kepercayaan.

Kepercayaan itulah yang membuat pembeli kembali. Kepercayaan itulah yang membuat pasar tetap hidup. Kepercayaan pula yang membuat ekonomi rakyat bertahan melewati berbagai krisis.

Kajian ekonomi kelembagaan maupun sosiologi ekonomi modern juga menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan bentuk modal yang mampu menurunkan biaya transaksi. Ketika relasi sosial telah terbentuk, kebutuhan akan pengawasan, kontrak yang rumit, maupun mekanisme perlindungan yang mahal menjadi berkurang. Dalam konteks pasar tradisional, modal sosial itu telah lama hadir dalam bentuk hubungan kekeluargaan yang diwariskan lintas generasi.

Ironi Modernisasi

Di pusat perbelanjaan modern, transaksi berlangsung cepat, efisien, dan nyaris tanpa percakapan. Harga telah diputuskan sebelumnya. Mesin kasir menggantikan proses tawar-menawar. Barcode menggantikan tatapan mata. Pembayaran digital mengurangi sentuhan tangan. Hubungan menjadi semakin praktis, tetapi sekaligus semakin impersonal.

Tentu modernisasi bukan sesuatu yang harus ditolak. Efisiensi merupakan kebutuhan masyarakat modern. Digitalisasi juga membuka kesempatan ekonomi yang jauh lebih luas. Persoalannya bukan memilih pasar tradisional atau pasar modern, melainkan memastikan bahwa modernisasi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial.

Sebab yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya bukan keberadaan sebuah bangunan pasar. Yang sedang dipertaruhkan adalah cara manusia saling hadir bagi sesamanya. Barangkali karena itulah pasar tradisional masih bertahan. Ia bertahan bukan karena kalah bersaing dengan teknologi. Ia bertahan karena manusia masih membutuhkan ruang untuk menyapa, bercakap, menawar, bercanda, saling percaya, dan merasakan bahwa dirinya tidak hidup sendirian.

Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, pasar tradisional mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu berakar pada kebudayaan. Dan kebudayaan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia.

Mungkin suatu hari nanti sebagian besar transaksi dapat dilakukan hanya dengan menyentuh layar telepon genggam. Barang datang tanpa kita mengenal siapa yang mengirimnya. Pembayaran selesai tanpa pernah bertatap muka. Dunia memang bergerak ke arah itu.

Namun selama masih ada seseorang yang berkata, “Monggo, dipilih rumiyin…”, dan seseorang lain menjawab, “Nggih, Bu. Kula langganan mriki…”, selama itu pula pasar tradisional akan terus hidup. Bukan semata sebagai tempat jual beli. Melainkan sebagai salah satu ruang terakhir tempat kebudayaan Indonesia masih berbicara dengan suara manusianya. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: pasar tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co