“Pinten niki, Bu?” (Berapa ini, Bu?)
“Tigang doso gangsal ewu.” (Tiga puluh lima ribu )
“Waduh… mboten saged kirang? Kula tumbas kathah, nggih.” ( Wah bisa kurang? Saya beli banyak ya )
Sang penjual tersenyum, lalu menimbang kembali cabai yang baru saja dipilih pembeli.
“Nggih sampun… tigang doso ewu mawon. Nanging ngenjang mriki malih nggih.” (Ya sudah. Tiga puluh saja. Tapi besok ke sini lagi ya)
Percakapan sederhana seperti itu mungkin berlangsung hanya beberapa menit. Tidak ada kontrak tertulis, tidak ada algoritma yang menghitung peluang pembelian berikutnya, bahkan sering kali tidak ada struk sebagai bukti transaksi. Namun justru di sanalah tersimpan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar pertukaran uang dengan barang: tumbuhnya rasa saling percaya.
Di tengah derasnya modernisasi, pasar tradisional memang perlahan kehilangan sebagian ruangnya. Minimarket, supermarket, hingga perdagangan digital menawarkan efisiensi yang sulit ditandingi. Namun menariknya, di berbagai daerah di Indonesia, pasar tradisional tetap bertahan. Bahkan tidak sedikit yang justru menjadi denyut kehidupan masyarakat. Pertanyaannya kemudian bukan lagi mengapa pasar itu masih ada, melainkan apa sesungguhnya yang sedang dipertahankan.
Barangkali jawabannya bukan semata-mata sistem jual beli, melainkan sebuah cara hidup. Pasar tradisional adalah teks budaya yang terus ditulis setiap hari oleh para pedagang, pembeli, pengangkut barang, penjual jajanan, hingga anak-anak yang ikut membantu orang tuanya. Ia bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang sosial tempat manusia saling membaca dan dibaca. Karena itu, pasar dapat dipahami melalui pendekatan semiotika maupun fenomenologi: sebagai jaringan tanda sekaligus sebagai pengalaman hidup bersama.
Roland Barthes mengemukakan bahwa setiap praktik sosial dapat dibaca layaknya sebuah teks. Sebuah tanda tidak berhenti pada makna denotatifnya, tetapi berkembang menjadi konotasi, bahkan menjadi mitos budaya yang dianggap alamiah oleh masyarakat. Dalam pandangan Barthes, sesuatu yang tampak biasa sesungguhnya menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Pasar tradisional adalah salah satu contohnya.
Suara tawar-menawar misalnya. Secara denotatif, ia hanyalah negosiasi harga. Namun secara konotatif, percakapan itu merupakan ritual sosial. Sapaan seperti “monggo dipilih,” “mboten napa-napa,” atau “langganan nggih” bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan penanda kedekatan emosional. Di sana harga memang dinegosiasikan, tetapi hubungan antarmanusia justru sedang dibangun.
Fenomena ini sejalan dengan berbagai penelitian mengenai pasar tradisional di Indonesia yang menunjukkan bahwa loyalitas pembeli sering kali lebih dipengaruhi oleh relasi interpersonal dibandingkan pertimbangan harga semata. Penelitian-penelitian di bidang antropologi ekonomi maupun sosiologi pasar menemukan bahwa interaksi yang berulang melahirkan modal sosial (social capital) berupa kepercayaan, rasa saling mengenal, dan kewajiban moral yang menjaga keberlangsungan hubungan antara pedagang dan pelanggan. Pasar, dengan demikian, bekerja bukan hanya melalui logika ekonomi, tetapi juga melalui logika sosial.
Tata Ruang Pasar sebagai Tanda
Los-los yang berhimpitan tanpa sekat permanen sering dianggap sebagai bentuk ketidakteraturan jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Namun justru dalam “ketidakteraturan” itu tersimpan filosofi keterbukaan. Tidak ada batas tegas antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Percakapan mudah mengalir melintasi kios-kios. Pembeli dapat berpindah dari satu lapak ke lapak lain tanpa hambatan psikologis.
Ruang yang demikian menyampaikan pesan simbolik bahwa kehidupan sosial dibangun di atas kedekatan, bukan isolasi. Barang dagangan yang dipajang terbuka pun mengandung makna. Sayuran, ikan, buah, rempah, hingga beras disusun sedemikian rupa agar dapat disentuh, dicium, dan diperiksa langsung oleh pembeli. Transparansi fisik tersebut menjadi simbol kejujuran. Tidak ada kemasan yang menyembunyikan kualitas barang. Penjual dan pembeli sama-sama berbagi ruang penilaian yang terbuka.
Dalam bahasa Barthes, seluruh elemen itu membentuk mitos mengenai kepercayaan sebagai fondasi kehidupan ekonomi rakyat. Namun pasar tidak hanya dapat dibaca sebagai kumpulan tanda. Ia juga dapat dialami.
Di sinilah pendekatan fenomenologi Alfred Schutz menawarkan cara pandang yang berbeda. Schutz menekankan bahwa dunia sosial dipahami melalui pengalaman hidup sehari-hari (lifeworld). Manusia tidak hidup di dalam dunia yang netral, melainkan di dalam dunia yang telah dipenuhi makna bersama.
Ketika seseorang memasuki pasar tradisional pada pagi hari, pengalaman yang muncul tidak hanya bersifat visual. Aroma rempah yang bercampur dengan wangi daun pisang, suara ayam yang berkokok dari kejauhan, teriakan pedagang menawarkan dagangan, lantai yang sedikit basah, hingga sentuhan tangan ketika menerima uang kembalian menghadirkan pengalaman indrawi yang utuh.
Ruang pasar bukan sekadar lokasi. Ia adalah pengalaman. Fenomenologi menyebutnya sebagai lived space, ruang yang dihayati, bukan hanya ditempati. Pasar hidup karena manusia hadir di dalamnya. Kehadiran orang lain bukan gangguan, melainkan syarat agar pengalaman itu memiliki makna. Di sinilah falsafah Jawa tuno satak bathi sanak menemukan relevansinya.
Secara harfiah ungkapan itu berarti “rugi sedikit, untung saudara”. Namun maknanya jauh melampaui kalkulasi ekonomi. Ia mengajarkan bahwa keuntungan terbesar bukan selalu tambahan pendapatan, melainkan bertambahnya hubungan baik. Pedagang yang memberi potongan harga kepada pelanggan lama mungkin kehilangan beberapa ribu rupiah hari itu. Akan tetapi ia memperoleh sesuatu yang lebih sulit diukur: kepercayaan.
Kepercayaan itulah yang membuat pembeli kembali. Kepercayaan itulah yang membuat pasar tetap hidup. Kepercayaan pula yang membuat ekonomi rakyat bertahan melewati berbagai krisis.
Kajian ekonomi kelembagaan maupun sosiologi ekonomi modern juga menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan bentuk modal yang mampu menurunkan biaya transaksi. Ketika relasi sosial telah terbentuk, kebutuhan akan pengawasan, kontrak yang rumit, maupun mekanisme perlindungan yang mahal menjadi berkurang. Dalam konteks pasar tradisional, modal sosial itu telah lama hadir dalam bentuk hubungan kekeluargaan yang diwariskan lintas generasi.
Ironi Modernisasi
Di pusat perbelanjaan modern, transaksi berlangsung cepat, efisien, dan nyaris tanpa percakapan. Harga telah diputuskan sebelumnya. Mesin kasir menggantikan proses tawar-menawar. Barcode menggantikan tatapan mata. Pembayaran digital mengurangi sentuhan tangan. Hubungan menjadi semakin praktis, tetapi sekaligus semakin impersonal.
Tentu modernisasi bukan sesuatu yang harus ditolak. Efisiensi merupakan kebutuhan masyarakat modern. Digitalisasi juga membuka kesempatan ekonomi yang jauh lebih luas. Persoalannya bukan memilih pasar tradisional atau pasar modern, melainkan memastikan bahwa modernisasi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial.
Sebab yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya bukan keberadaan sebuah bangunan pasar. Yang sedang dipertaruhkan adalah cara manusia saling hadir bagi sesamanya. Barangkali karena itulah pasar tradisional masih bertahan. Ia bertahan bukan karena kalah bersaing dengan teknologi. Ia bertahan karena manusia masih membutuhkan ruang untuk menyapa, bercakap, menawar, bercanda, saling percaya, dan merasakan bahwa dirinya tidak hidup sendirian.
Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, pasar tradisional mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu berakar pada kebudayaan. Dan kebudayaan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia.
Mungkin suatu hari nanti sebagian besar transaksi dapat dilakukan hanya dengan menyentuh layar telepon genggam. Barang datang tanpa kita mengenal siapa yang mengirimnya. Pembayaran selesai tanpa pernah bertatap muka. Dunia memang bergerak ke arah itu.
Namun selama masih ada seseorang yang berkata, “Monggo, dipilih rumiyin…”, dan seseorang lain menjawab, “Nggih, Bu. Kula langganan mriki…”, selama itu pula pasar tradisional akan terus hidup. Bukan semata sebagai tempat jual beli. Melainkan sebagai salah satu ruang terakhir tempat kebudayaan Indonesia masih berbicara dengan suara manusianya. [T]
Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole





























