BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya?
Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal lama di kepala, bahkan pengalaman-pengalaman kecil yang tanpa disadari ikut membentuk siapa diri kita hari ini.
Pertanyaan tentang kehilangan itulah yang menjadi pintu masuk “Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”, sebuah pameran kolektif yang akan berlangsung pada 19–26 September 2026 di Here With Buksel, Denpasar, Bali.
Pameran tersebut hadir dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia, ‘Memoar’ mencoba mendekati persoalan ingatan melalui pengalaman yang personal. Alih-alih menempatkan Alzheimer semata-mata dalam perspektif medis, pameran ini mengajak publik masuk ke sisi emosional dari kehilangan memori. Apa yang sebenarnya kita takutkan ketika kemungkinan untuk lupa itu datang?
Pertanyaan yang diajukan sangat personal, “Jika suatu hari kamu mengalami Alzheimer, memori apa yang paling kamu takutkan untuk dilupakan?”
Jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses penciptaan karya dan arsip suara dalam pameran. Fragmen-fragmen pengalaman personal seperti suara orang yang dicintai, percakapan, tempat, hingga momen-momen kecil yang memiliki arti tertentu, dikumpulkan dan dihadirkan kembali melalui suara.
Di ‘Memoar’, suara bukan sekadar pelengkap visual. Ia justru menjadi medium utama. Pengunjung akan memasuki ruang yang dibangun melalui lapisan suara dan rekaman. Salah satu instalasi utamanya, Ruang Dengar, dirancang agar pengunjung dapat memilih dan mendengarkan rekaman melalui headphone. Setiap rekaman membawa fragmen pengalaman berbeda, memberi kesempatan kepada pengunjung untuk berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan.
Pendekatan ini membuat pengalaman pameran bergerak ke wilayah yang intim. Mendengarkan tak lagi menjadi aktivitas pasif, melainkan jalan untuk berhadapan dengan pengalaman orang lain. Dan, pada saat bersamaan, mengingatkan kembali pada pengalaman sendiri.
Meski suara menjadi poros utama, ‘Memoar’ tidak berhenti pada karya berbasis audio. Sejumlah seniman dan komunitas ikut menerjemahkan tema ingatan melalui medium berbeda. Matra Durga dari Naivete Project akan menghadirkan karya visual melalui sketch, sementara Toms Studio menghadirkan instalasi sebagai bagian dari pengalaman ruang pameran.
Dari Ruang Pamer ke Ruang Percakapan
Pembicaraan tentang ingatan kemudian diperluas melalui rangkaian program publik. Salah satunya adalah diskusi bersama para ahli dan praktisi yang bergerak dalam isu Alzheimer dan perawatan lansia, dengan keterlibatan Yayasan Alzheimer Indonesia dan Hovi Care.
Diskusi tersebut dirancang sebagai ruang untuk melihat Alzheimer dari perspektif yang lebih luas sekaligus membuka percakapan mengenai bagaimana masyarakat dapat membangun kesadaran dan dukungan bagi individu maupun keluarga yang terdampak.
Ada pula workshop pembuatan zine bersama Gilang Propagila, yang mengajak peserta menerjemahkan cerita dan memori personal ke dalam bentuk visual dan publikasi mandiri. Sementara Matra Durga akan membawa eksplorasi mengenai ingatan ke medium tubuh melalui sebuah art performance.
Rangkaian tersebut menunjukkan bagaimana ‘Memoar’ mencoba bergerak di antara pengalaman personal, praktik artistik, dan percakapan sosial. Ingatan tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang tersimpan dalam kepala, tetapi juga sesuatu yang dapat diceritakan, didengarkan, divisualisasikan, dan dibagikan.
Dimensi sosial itu juga diperluas melalui rangkaian bar takeover dan malam musik yang menjadi agenda penggalangan dana bagi teman-teman di Flores, NTT yang terdampak bencana. DJ set dan pertunjukan saxophone menjadi bagian dari ruang berkumpul sekaligus aksi solidaritas.
Melalui kegiatan tersebut, gagasan mengenai ingatan dan kepedulian dibawa keluar dari ruang pameran menuju ruang sosial. Seni ditempatkan bukan hanya sebagai medium untuk merefleksikan pengalaman personal, tetapi juga sebagai cara untuk terhubung dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.

Delapan Hari Mendengarkan Ingatan
‘Memoar’ dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai seniman, kreator, komunitas, dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap seni, budaya, isu sosial, serta pengalaman manusia. Semangat kolaborasi itu menjadi bagian penting dari proyek ini, yakni membangun ruang bersama yang bukan hanya menghadirkan karya, tetapi juga membuka percakapan dan meninggalkan pengalaman yang dapat dibawa pulang pengunjung.
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan” akan berlangsung pada 19–26 September 2026 di Here With Buksel, Denpasar. Sepanjang periode tersebut, Sound Experience Exhibition ‘Memoar: Suara-Suara dari Ingatan’, Sketch Exhibition oleh Matra Durga dari Naivete Project, dan Art Installations oleh Toms Studio akan berlangsung sebagai program utama pameran.
Pada 20 September, rangkaian program menghadirkan Discussion District bersama Naivete Project, Bukit Selatan, dan Toms Studio di TOKE (Toko Kopi Seni) pada pukul 18.00–20.00 WITA. Di hari yang sama, Bar Takeover & Charity Night bersama Everhaos berlangsung di Here With Buksel pada pukul 17.00–19.00 WITA.
Pada 21 September, Discussion District bersama Yayasan Alzheimer Indonesia, Hovi Care, dan I Wayan Mahesa dari Galang Bulan Studio digelar di BKKoffee Artisan pada pukul 18.00–20.00 WITA.
Rangkaian berlanjut dengan Bar Takeover & Charity Night bersama Inu Coffee Roastery pada 22 September, pukul 17.00–20.00 WITA; Zine Workshop bersama Gilang Propagila pada 23 September, pukul 17.00–19.00 WITA; serta DJ Set & Saxophone Performance bersama Halfawake & Judea pada 24 September, pukul 19.00–23.00 WITA. Pada malam yang sama, Bar Takeover & Charity Night bersama Jubilo akan berlangsung pukul 19.00–21.00 WITA.
Program kemudian ditutup pada 26 September dengan Art Performance oleh Matra Durga pukul 18.00–20.00 WITA serta Bar Takeover & Charity Night bersama Si.Nar pukul 17.00–19.00 WITA di Here With Buksel.
Di tengah begitu banyak hal yang kita simpan dalam ingatan, ‘Memoar’ mengajak publik menghadapi sebuah kemungkinan yang jarang ingin dipikirkan, bahwa sebagian dari semuanya itu suatu hari dapat menghilang. Dan sebelum itu terjadi, barangkali ada satu hal yang bisa dilakukan, yaitu mendengarkan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























