4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
in Esai
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

Ilustrasi tatkala.co | Sumber gambar Canva

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia menulis lagu, menyanyi, memainkan seluruh instrumen, dan memproduksi albumnya sendiri. Sebagian besar prosesnya berlangsung di studio rumah dengan perangkat rekam 12-track. Tentu, ia tidak benar-benar mengerjakan seluruh rantai produksi seorang diri—proses engineering dan mastering tetap melibatkan tenaga lain—tetapi Both Sides menunjukkan betapa seorang musisi dapat memegang kendali sangat besar atas sebuah karya dari awal hingga akhir.

Pada masa itu, pekerjaan semacam ini membutuhkan perangkat, ruang, biaya, pengetahuan teknis, dan tentu saja kemampuan memainkan berbagai instrumen yang tidak sedikit.

Lalu datanglah digitalisasi. Komputer perlahan menggantikan banyak perangkat studio. Puluhan, bahkan ratusan track, dapat dikerjakan dalam sebuah laptop. Suara drum dapat diprogram. Amplifier gitar dapat disimulasikan. Keyboard dapat menghadirkan bunyi piano, string, organ, synthesizer, bahkan orkestra. Proses rekaman, editing, mixing, hingga mastering yang dahulu memerlukan ruangan dan perangkat mahal perlahan dapat dikerjakan di kamar tidur.

Sekarang kita memasuki babak berikutnya: era kecerdasan buatan atau AI. Pembuatan lagu dan musik semakin dimudahkan. Kita bahkan dapat membangun sebuah komposisi musik tanpa memiliki studio, tanpa menyewa studio, dan dalam beberapa keadaan tanpa memainkan sendiri seluruh instrumen yang terdengar dalam rekaman.

Tetapi tunggu. Saya tidak mengatakan bahwa membuat lagu sekarang menjadi semakin gampang. Saya mengatakan: semakin mudah. Keduanya berbeda.

Membuat lagu memang bisa sangat gampang. Bernyanyilah sembarangan, masukkan beberapa chord gitar atau piano, tambahkan bass, drum, sedikit string, kemudian rekam. Jadilah sebuah lagu. Persis: jadilah sebuah lagu.

Tetapi persoalannya, apakah kita ingin karya itu berhenti sebagai sekadar lagu? Sebuah lagu tentu dapat selesai dalam lima menit. Namun karya yang mempunyai karakter, gagasan, kedalaman, identitas, dan alasan mengapa ia harus dilahirkan adalah persoalan lain. Di sinilah teknologi, termasuk AI, sering disalahpahami.

Teknologi Memangkas Kesulitan Teknis, Bukan Menggantikan Pengetahuan

AI dapat membantu kita membuat aransemen. Ia dapat menawarkan bentuk intro, verse, chorus, bridge, interlude, bahkan berbagai kemungkinan warna instrumen. Ia dapat membantu mencari alternatif chord, struktur lagu, karakter vokal, tempo, dinamika, hingga atmosfer sebuah komposisi. Namun, sebelum meminta semua itu, pertanyaannya sederhana: Apakah kita sendiri mengetahui apa yang sedang kita minta?

Ketika mengatakan, “buat bass lebih dalam”, apakah kita memahami fungsi bass dalam sebuah komposisi? Ketika meminta “tambahkan string”, apakah string itu benar-benar dibutuhkan, atau kita menambahkannya hanya karena sebuah lagu terasa belum cukup ramai? Ketika meminta drum dimainkan dengan brush, apakah kita tahu mengapa brush berbeda karakternya dengan stick? Ketika meminta gitar memainkan counter-melody, apakah kita memahami bahwa ia tidak boleh justru bertarung dengan melodi vokal? Ketika meminta musik semakin besar menuju chorus, apakah memang teks lagu membutuhkan ledakan itu?

AI dapat menghasilkan bunyi. Tetapi keputusan mengenai mengapa bunyi itu harus hadir tetap membutuhkan pengetahuan dan kepekaan manusia. Karena itu, membuat musik dengan AI bukan berarti pengetahuan dasar tentang musik menjadi tidak penting. Justru sebaliknya.

Kita setidaknya perlu memahami ritme, tempo, harmoni, melodi, dinamika, struktur lagu, karakter bunyi, dan fungsi berbagai instrumen. Tidak berarti setiap orang harus menjadi pemain drum, bass, gitar, piano, saxophone, biola, dan cello sekaligus. Tidak. Tetapi seorang pembuat musik semestinya tahu untuk apa instrumen-instrumen itu hadir dalam sebuah komposisi.

Kita tidak harus bisa memainkan contrabass dengan baik untuk mengetahui bahwa karakter contrabass berbeda dengan electric bass. Kita tidak harus menjadi drummer untuk memahami perbedaan rasa antara permainan drum rock, jazz, reggae, blues, atau pola perkusi etnik. Kita juga tidak perlu menjadi pemain orkestra untuk memahami bahwa cello tidak otomatis dapat digantikan oleh violin hanya karena keduanya sama-sama alat musik gesek.

Pengetahuan semacam itu menjadi bahasa komunikasi kita dengan AI. Semakin kaya bahasa musikal yang kita miliki, semakin jelas pula kita dapat menjelaskan apa yang kita inginkan.

Dengan kata lain, AI memang memperpendek jarak antara gagasan dan bunyi, tetapi ia tidak otomatis memperkaya gagasan.

Sebelum Musik, Ada Kata

Hal yang sama berlaku pada lirik. Kemudahan teknologi sering menggoda orang untuk terburu-buru memasukkan beberapa kalimat ke dalam mesin, kemudian membiarkan AI menjadikannya lagu.

Tidak ada yang salah dengan itu jika tujuannya sekadar bersenang-senang. Tetapi jika kita berbicara tentang karya, persoalannya menjadi berbeda. Lirik lagu bukan kumpulan kalimat yang kebetulan diberi nada. Kita harus memahami pilihan kata, bunyi vokal, jumlah suku kata, aksentuasi, ritme kalimat, citraan, metafora, repetisi, serta hubungan antara kata dan melodi.

Sebuah kalimat yang sangat bagus dalam esai belum tentu enak dinyanyikan. Sebuah kalimat yang indah sebagai puisi belum tentu dapat langsung menjadi lirik lagu. Dan sebuah kalimat yang terdengar sederhana kadang justru menjadi sangat kuat ketika ditempatkan pada melodi, harmoni, dan suasana yang tepat.

Maka AI dapat membantu menawarkan kata, memperbaiki struktur, atau menguji beberapa alternatif. Tetapi keputusan terakhir tetap membutuhkan manusia yang tahu apa yang ingin dikatakannya. Sebab, sebelum menjadi persoalan teknologi, lagu adalah persoalan pengalaman, pikiran, perasaan, dan sudut pandang. Mesin dapat membantu menyusun kalimat tentang kesepian. Tetapi manusialah yang mengetahui mengapa kesepian itu perlu dinyanyikan.

Genre Bukan Sekadar Pilihan pada Menu

Ada persoalan lain yang menurut saya jauh lebih penting: pemahaman terhadap genre. Pada berbagai perangkat musik berbasis AI sekarang, genre seolah-olah menjadi menu. Jazz. Blues. Rock. Reggae. Punk. Folk. Soul. Metal. Keroncong. Dangdut. Kita tinggal mengetik salah satunya, kemudian mesin mencoba menghadirkan ciri bunyinya.

Masalahnya, genre musik bukan sekadar paket bunyi. Genre mempunyai sejarah. Ia tumbuh dari masyarakat tertentu, perjalanan kebudayaan tertentu, pergulatan kelas, persoalan identitas, perlawanan, spiritualitas, migrasi, perjumpaan antarbudaya, perkembangan teknologi, bahkan perubahan politik.

Karena itulah blues bukan hanya persoalan progresi chord tertentu. Punk bukan hanya gitar penuh distorsi yang dimainkan cepat. Reggae bukan semata-mata pukulan gitar pada offbeat. Jazz bukan sekadar menambahkan chord-chord rumit. Keroncong pun bukan sekadar suara cak, cuk, dan cello yang kita tempelkan kepada lagu apa saja. Di belakang sebuah genre terdapat sejarah manusia.

Ketika sejarah itu dipahami, kita akan lebih berhati-hati mempertemukan teks dengan musiknya. Bayangkan sebuah lirik tentang orang-orang kecil yang hidup dalam tekanan sosial. Apakah ia akan kita bungkus dalam pop manis? Bisa saja. Tetapi mungkin blues memberi luka yang berbeda. Folk dapat memberinya kesederhanaan yang lebih jujur. Punk dapat mengubahnya menjadi kemarahan. Reggae dapat menghadirkannya sebagai kritik yang bergerak santai tetapi menggigit. Sebuah komposisi eksperimental bahkan dapat membiarkan kesunyian mengambil peran lebih besar daripada instrumen. Tidak ada pilihan yang otomatis benar atau salah. Yang diperlukan adalah kesadaran.

“Mengapa saya memilih bentuk musik ini untuk teks ini?”

Pertanyaan itulah yang membedakan keputusan artistik dengan sekadar memilih preset. Semakin memahami sejarah sebuah genre, semakin kita mengerti bahwa musik bukan benda yang jatuh dari langit. Musik tumbuh bersama manusia dan keadaan zamannya.

Maka, ketika sebuah lirik dipertemukan dengan genre yang dipahami sejarah, karakter, serta konteks sosialnya, musik tidak sekadar menjadi chasing bagi kata-kata. Musik ikut berbicara.

AI Bukan Pabrik Lagu

Pada titik ini saya kira cara kita memandang AI perlu sedikit diubah. Dalam kerja kreatif, saya lebih suka menempatkan AI bukan semata-mata sebagai mesin produksi, melainkan sebagai perangkat lunak yang berfungsi sebagai teman kreatif. Perbedaannya cukup besar.

Kalau kita menganggap AI sebagai mesin produksi, hubungan kita dengannya menjadi sederhana: beri perintah, tunggu hasil, selesai. Buat lagu jazz. Buatkan intro. Tambahkan gitar. Buat lebih sedih. Naikkan energi. Selesai.

Tetapi seorang teman kreatif bekerja dengan cara berbeda. Kita berdialog dengannya. Kita mengatakan bahwa aransemen sebelumnya terlalu penuh. Ia membantu menawarkan kemungkinan untuk menguranginya. Kita merasa chorus terlalu meledak dan bertentangan dengan isi lirik. Kita mendiskusikan kemungkinan menahan dinamika. Kita ingin suasana lagu terasa dingin, tetapi tidak melodramatis.

Kita mencari bersama instrumen apa yang sebaiknya dihilangkan. Bahkan dalam penggunaan AI yang berlangsung terus-menerus dan memiliki kemampuan menyimpan konteks, ia dapat berfungsi seperti teman kerja yang mengetahui kecenderungan kita: mengingatkan bahwa pada karya sebelumnya kita pernah melakukan kesalahan yang sama, bahwa kita terlalu sering menumpuk instrumen, bahwa tempo tertentu pernah membuat teks kehilangan napas, atau bahwa karakter vokal yang kita pilih bertentangan dengan gagasan lagunya.

Di sinilah AI menjadi menarik. Bukan karena ia menggantikan kreativitas manusia, melainkan karena ia memperluas ruang percakapan kreatif manusia. Teman kreatif yang baik bukan orang yang selalu mengatakan bahwa karya kita hebat. Ia justru berharga ketika berani mengganggu kenyamanan kita. Dalam posisi semacam itulah AI sebaiknya digunakan.

Yang Mahal Sekarang Bukan Lagi Perangkatnya

Dahulu, salah satu hambatan terbesar dalam membuat rekaman adalah alat. Studio mahal. Mikrofon mahal. Mesin rekam mahal. Instrumen mahal. Musisi sesi membutuhkan biaya. Mixing dan mastering juga membutuhkan biaya.

Teknologi digital memangkas banyak hambatan tersebut. AI memangkasnya lebih jauh lagi. Maka kelak yang langka bukan lagi orang yang mampu menghasilkan sebuah file lagu. Hampir semua orang akan mampu melakukannya. Yang semakin langka justru orang yang mempunyai sesuatu untuk dikatakan, orang yang mempunyai selera, orang yang memahami kapan sebuah instrumen harus masuk dan kapan ia sebaiknya diam, orang yang berani membuang lima sampai sepuluh layer suara karena ternyata sebuah gitar dan satu suara manusia sudah cukup, orang yang mengetahui sejarah dari musik yang sedang disentuhnya, orang yang dapat membedakan karya yang selesai secara teknis dengan karya yang selesai secara artistik. Inilah yang akan langka nanti.

Di zaman ketika teknologi memungkinkan kita menghasilkan seratus lagu, kemampuan paling berharga mungkin justru kemampuan untuk melakukan penyaringan. AI dapat menciptakan kemungkinan, tetapi keputusan artistik tetap membutuhkan keberanian manusia.

Memencet Tombol Bukan Berarti Berkarya

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik pada perdebatan sederhana: apakah lagu yang menggunakan AI masih dapat disebut karya manusia atau tidak.

Pertanyaan yang menurut saya lebih menarik adalah: Seberapa jauh manusia hadir di dalam prosesnya? Apakah ia membawa gagasan? Apakah ia memilih kata? Apakah ia memahami apa yang ingin disampaikan? Apakah ia membuat keputusan musikal? Apakah ia menolak hasil AI ketika hasil itu tidak sesuai dengan gagasannya? Apakah ia melakukan revisi berkali-kali? Apakah ia mempunyai alasan mengapa sebuah suara dipertahankan dan suara lain dibuang?

Kalau semua itu dilakukan, AI sedang digunakan sebagai perangkat kreatif. Tetapi jika seseorang hanya menekan tombol, menerima hasil pertama, lalu mengunggahnya, memang ia juga telah menghasilkan sesuatu. Saya hanya tidak yakin kita perlu tergesa-gesa menyebut semuanya sebagai proses penciptaan yang serius. Sebab teknologi dapat menyederhanakan pekerjaan. Tetapi teknologi tidak dapat memaksa seseorang memiliki kedalaman.

Pada Akhirnya, Manusia Tetap Harus Mendengar

Dari zaman pita analog, digital audio workstation, sampai generative AI, satu hal sebenarnya tidak berubah, yakni: Kita tetap harus mendengar.

Bukan hanya mendengar apakah suara bass cukup keras, bukan hanya mendengar apakah vokal fals, tetapi mendengar karya kita sendiri: Apakah ia mempunyai jiwa? Apakah kata dan musik saling membutuhkan? Apakah instrumen yang kita masukkan memang berbicara? Apakah kesunyian di antara dua nada justru lebih penting daripada tambahan sepuluh layer suara? Apakah musik itu benar-benar mengatakan sesuatu, atau hanya terdengar seperti musik?

AI memberi kita sebuah kemewahan yang bahkan sulit dibayangkan para pembuat musik beberapa dekade lalu; ruang eksperimen yang nyaris tanpa batas. Karena itulah era AI seharusnya tidak melahirkan generasi pembuat musik yang semakin malas belajar. Semestinya justru sebaliknya.  Karena alatnya semakin mudah, kita mempunyai lebih banyak waktu untuk memperdalam gagasan. Karena proses teknis semakin ringan, kita dapat lebih serius memikirkan estetika. Karena kemungkinan bunyi semakin luas, kita mempunyai alasan lebih besar untuk mempelajari sejarah musik. Karena AI dapat membantu mengerjakan banyak hal, manusia justru harus semakin tekun memikirkan hal yang tidak dapat diserahkan begitu saja kepada mesin, yakni: Untuk apa karya ini dibuat? Mungkin di situlah batas yang perlu kita jaga.

AI boleh membantu kita memainkan drum yang tidak bisa kita mainkan. Ia boleh membantu membangun bass, gitar, piano, string, synthesizer, atau bahkan sebuah orkestra yang tidak mungkin kita kumpulkan sendiri. Ia boleh menjadi lawan diskusi. Ia boleh menjadi teman kreatif.

Ia boleh membantu menunjukkan berbagai jalan. Tetapi manusialah yang harus menentukan ke mana karya itu hendak pergi.

Sebab, pada akhirnya, membuat lagu di era AI memang menjadi semakin mudah. Syukurlah.

Tetapi membuat lagu yang layak didengarkan, diingat, dan mempunyai sesuatu untuk dikatakan— untungnya, masih tidak pernah gampang! [T]

Kertas Budaya Indonesia, awal September 2026

Tags: AIkecerdasan buatanmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

Next Post

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails
Next Post
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co