4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
in Esai
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

Salah satu pantai di kawasan Nusa Dua

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan Desa Adat Kampial. Setelah Kemerdekaan Indonesia ada dua desa adat yang dimekarkan di Kecamatan Kuta Selatan, yaitu Desa Adat Kampial  dengan pemekaran Desa Adat Bualu dan Desa Adat Tanjung dengan pemekaran Desa Adat Tengkulung yang hanya terdiri atas satu Banjar.

Istimewanya,  Desa Adat Bualu adalah nama salah satu banjar sekaligus. Bualu negen dua nama : Banjar dan Desa Adat.  Di Desa Adat  Bualu terdapat 8 Banjar : Banjar Bualu, Banjar Terora, Banjar Peken, Banjar Bale Kembar, Banjar Pande, Banjar Celuk, Banjar Penyarikan, dan Banjar Mumbul. Dari 8 banjar itu, hanya Banjar Mumbul yang letaknya dimel dan wilayahnya secara geografis paling luas. Sebutan lokal untuk orang-orang Mumbul adalah Nak Dimel atau Nak Beduur karena wilayahnya sebagian terluas di atas perbukitan.

Sementara itu, 7 banjar lainnya berada di daerah dataran dan lebih rendah maka lebih sering disebut Nak Betenan atau Nak Jumah. Wilayah Nak Betenan relatif datar tanpa tanjakan dan berlimpah air. Wilayah Nak Buduur banyak tanjakan lagi pula airnya sulit. Tongos kubune di leke-lekene. Mirip daerah terisolasi  seperti Suku Badui Dalam di Jawa Barat.  Banjar Mumbul letaknya paling jauh dari pusat Desa Bualu. Apalagi sebelum By Pass I Ngusti Ngurah Rai dibuka (1984), Mumbul memang jarang dilirik.  Itu cerita dari Mumbul zaman ilu.

Mumbul kini seperti tertulis dalam kidung Warga Sari : Muncrat Mumbul. Di Banjar Mumbul-lah tokoh arsitek tradisional Adat Bali lahir, Ir. I Nyoman Glebet. Banyak penerusnya melanjutkan keahliannya di bidang arsitek dan sipil. Bahkan Ir. I Nyoman Glebet menjadi bintang penjuru rujukan arsitek tradisional Bali dengan sukat sikut Asta Kosala Kosali.

Pada pertengahan dekade ketiga tahun 2000-an, Mumbul malah jadi sumber inspirasi. Bandesa Adat Bualu dari Banjar Mumbul. Ketua LPM Kelurahan Benoa juga dari Banjar Mumbul. Tokoh Pendidikan yang pernah dipunyai Bali, Drs.  I Ketut Wija, M.M. (alm.) juga dari Banjar Mumbul. Banyak tokoh dari Banjar Mumbul yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing. Sangat menarik mengulik orang-orang Mumbul dari dulu, kini, dan ke depan di tengah perubahan global.

Perlu pula dicatat, Kecamatan Kuta Selatan adalah buah pemekaran dari Kecamatan Kuta, pada awal reformasi yang persiapannya dimulai sejak 1999. Pada awalnya, Kecamatan hasil pemekaran disebut Kecamatan Pembantu Kuta Utara dan Kecamatan Pembantu Kuta Selatan, sedangkan Kecamatan Kuta sebagai kecamatan induk. Kecamatan Kuta resmi mekar menjadi menjadi 3 Kecamatan definitif : Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan sejak 2001.

Siswa-siswa SMAN 2 Kuta Selatan di Nusa Gede Nusa Dua usai melepas tukik serangkaian HUT VII Toska [3/9/2026) dan menyambut Perayaan Tumpek Uye (5/9/2026)

Seiring dengan perkembangan pariwisata yang kian masif, Kecamatan Kuta Selatan yang terdiri atas 9 Desa Adat dan 6 Desa/Kelurahan adalah pemasok devisa tertinggi di Kabupaten Badung dari sektor pariwisata dengan Nusa Dua sebagai magnet utama pada awalnya. Seiring waktu berjalan, pengembangan Nusa Dua yang berada di daerah dataran sering disebut beten  ke arah menek alias beduur yang tinggi disebut bukit. Sejak 1990-an daerah beduur berkembang secara masip. Pemblokiran tanah terjadi besar-besaran.

Tidak pernah rakyat tahu, apakah tanah yang diblokir ratusan hektar dan mangkrak puluhan tahun itu membayar pajak soalnya itu pasti milik Nak Gede, yang awalnya milik Nak Cenik yang taat pajak. Memang sesaat pemblokiran,  Orang Kaya Baru (OKB) lahir mendadak dan Orang Miskin Baru (OMB) tidak disadari segera menjemput. Kini mereka menjerit, tanah leluhurnya berpindah kepemilikan. Bahkan ada di antara mereka yang krama wed, indekost di perumahan milik pendatang. Sungguh memperihatinkan.  Frase “pembangunan pariwisata budaya berkelanjutan” terdengar indah di permukaan, tetapi menyisakan sesak di kedalaman.  Substansi yang diidealkan masih perlu diperjuangkan  berdasarkan fakta lapangan.

   Di kawasan BTDC (kini : ITDC) juga dilengkapi dengan Lembaga Pendidikan.  Lembaga Pendidikan yang mula-mula bernama Trainning School menjadiPusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata Bali (P4B) berdiri 1987 lalu berubah menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP)  Bali (1982). Itu juga berubah menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali (STPNB), kemudian sejak 2019 menjadi Poltekpar Bali. Lembaga Pendidikan itu pada awalnya berada beten di Kawasan ITDCdipindah ke beduur di Kawasan Bukit Desa Adat Kampial.

Tranning School pada 1978 menerima tamatan SD untuk dilatih sebagai tenaga di bidang pariwisata. Banyak juga yang sukses. Dari strategi pengembangan, Poltekpar dipindah ke beduur sungguh tepat paling tidak dari sejumlah alasan. Pertama, ketersesakan ruang di Kawasan ITDC Nusa Dua yang tingkat kepadatan penduduknya terlalu rapat. Kedua, lokasi Poltekpar beduur ke Kawasan Nusa Dua tidak terlalu jauh sebagai Laboratorium Pariwisata Bali yang dikagumi dunia. Sebagai Laboratorium Pariwisata, Poltekpar Bali adalah tempat memasak dan mematangkan SDM Pariwisata Bali untuk dunia.  Ketiga, hubungan resiprokal antara Pendidikan dan Pariwisata bersifat mutualistik, saling mengadakan dan saling mendukung. Oleh karena pariwisata identik dengan dunia perjalanan dan glamour, dunia Pendidikan diniatkan  hadir mengedukasi  agar menjadi humanis.

Sejumlah hotel di Kawasan ITDC Nusa Dua Bali adalah hotel berbintang 5 bertaraf Internasional. Tak pelak lagi, hotel-hotel di sini menjadi tempat pertemuan berskala Internasional yang dihadiri pemimpin seluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir, misalnya Nusa Dua menjadi episentrum pelenggaraan  Konferensi G-20 dan World Water Forum (WWF). Mengapa Nusa Dua menjadi magnet, bukan tempat lain? Pertama, Nusa Dua  menyajikan lanskap keindahan dengan fasilitas hotel berarsitektur Bali dengan jumlah  yang memadai.

Sesuai dengan namanya, Nusa Dua memiliki dua nusa : Nusa Dharma/Nusa Dajanan/Nusa Cenik dan Nusa Peninsula/Nusa Delodan/Nusa Gede. Labeling Nusa Dharma persembahan dari pengelola ITDC. Disebut Nusa Dajanan karena berada di sebelah Utara Nusa Gede. Disebut Nusa Cenik karena lebih kecil daripada Nusa Gede. Sementara itu, Nusa Peninsula adalah nama persembahan dari pihak ITDC. Disebut Nusa Delodan karena berada di sebelah Selatan Nusa Cenik. Disebut Nusa Gede karena lebih besar daripada Nusa Cenik.

Di antara kedua nusa itu biasa disebut Selagan Nusa. Ada puisi dan lagunya pula. Jadi, Nusa Dua memang inspiratif sejak dahulu kala. Puisi “hikayat nusa dua” ditulis oleh Kambali Zutas (2022) menggambarkan Nusa Dua yang indah bersejarah. Melegenda.  Puisi ini terdiri atas lima bait. Bait ketiga tertulis “… hikayat selagan nusa dua/menghitung jejak-jejak mereka/bercengkrama, canda tawa,gembira ria/berbaring berselimut panorama/air bercampur buih tertawa mengeja/di bentangan bibir pesisir mengukir nostalgia”.

Bait kelima sebagai berikut. “datang seorang pemangku/bertutur mengingatkan hikayat selagan nusa dua/cerita haru kayu kelor Kebo Iwa/dilanjutkan kisah  Babah Ketut Jaya/pertapaan larut menanti air laut surut/mengukir prasasti Nusa Dharma”

Sementara itu, lagu Melali ke Nusa Dua sebagai tembang rare menggambarkan suasana yang damai layak dikunjungi sebagai tempat melali. Aura positif Nusa Dua adalah resultante dari kumpulan doa yang selalu digemakan setiap saat secara kontinu dan konsisten  karena di situ ada tempat suci seperti Pura Lamun, Pura Taman Sari, dan Pura Bias Tugel.  Itulah alasan kedua.

Alasan ketiga, napak tilas Pujangga Jawa Dang Hyang Nirartha yang melahirkan kakawin  berlatar pantai Nusa Dua adalah Kakawin Anyang Nirartha. Sang Pujangga melukiskan secara apik dan estetik alam pantai dan laut yang menjadi refleksi spiritual  mendalam sebagai langkah penyatuan batin Sang Kawi Wiku dengan Semesta Alam. 

Wangi bunga pudak  pandan di atas batu Nusa Dua adalah representasi pertapa yang penyair, tak ubahnya meminang bidadari kata-kata merasuk ke suksma Sang Penyair. Semua itu tampaknya ikut memberi andil untuk Nusa Dua makin tenar berbinar ke seantero dunia. Napak Tilas Sang Pujangga memberikan getaran yang mampu menembus ruang tanpa batas. Itulah hebat Pujangga Pengawi melaksanakan yoga sastra dengan mendirikan Pondok Sastra. Abadi sepanjang masa sebagai prasasti. “Tulisan mengendap, ucapan menguap,” kata Prof. Darma Putra.

Salah satu pantai di kawasan Nusa Dua

Begitulah Nusa Dua dikapling untuk menjadi kawasan elit berduit. Krama wed ada yang mendapat ampas akibat ketidakberdayaan. Krama wed menjadi elit yang lain dalam arti  ekonomi sulit. Indekost di rumah pendatang. Pendatang menjadi majikan, krama wed menjadi kulinya. Semua tergantung pada Pendidikan. Kemajuan mendadak tanpa Pendidikan memadai berpotensi menjadi anak salah asuhan.

Gemerlap pariwisata Nusa Dua yang mendunia telah banyak menghibupi keluarga Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Kesenjangan yang terjadi seyogyanya dipersempit jaraknya. Kalau bisa tanpa jarak. Aliran dana dari bisnis pariwisata seyogyanya menyelamatkan Nak Cenik yang tidak berdaya. Nusa Dua di bawah ITDC seharusnya bisa untuk itu. Jangan ada ayam mati kelaparan di lumbung padi yang penuh. Begitulah seharusnya manfaat optimal dari Kawasan elit Nusa Dua Bali.

Nusa Dua memang tidak ada satunya di dunia. Nusa Dua mendunia karena dua nusanya. Nusa Dua pun menenggelamkan nama Desa Adat Bualu yang nota bena penjaga tradisi dan budaya Bali. Itu juga tanda dominannya branding pariwisata yang memperkuat posisi Nusa Dua. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: desa adat bualuDesa Adat KampialNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Next Post

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co