NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya. Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan Desa Adat Kampial. Setelah Kemerdekaan Indonesia ada dua desa adat yang dimekarkan di Kecamatan Kuta Selatan, yaitu Desa Adat Kampial dengan pemekaran Desa Adat Bualu dan Desa Adat Tanjung dengan pemekaran Desa Adat Tengkulung yang hanya terdiri atas satu Banjar.
Istimewanya, Desa Adat Bualu adalah nama salah satu banjar sekaligus. Bualu negen dua nama : Banjar dan Desa Adat. Di Desa Adat Bualu terdapat 8 Banjar : Banjar Bualu, Banjar Terora, Banjar Peken, Banjar Bale Kembar, Banjar Pande, Banjar Celuk, Banjar Penyarikan, dan Banjar Mumbul. Dari 8 banjar itu, hanya Banjar Mumbul yang letaknya dimel dan wilayahnya secara geografis paling luas. Sebutan lokal untuk orang-orang Mumbul adalah Nak Dimel atau Nak Beduur karena wilayahnya sebagian terluas di atas perbukitan.
Sementara itu, 7 banjar lainnya berada di daerah dataran dan lebih rendah maka lebih sering disebut Nak Betenan atau Nak Jumah. Wilayah Nak Betenan relatif datar tanpa tanjakan dan berlimpah air. Wilayah Nak Buduur banyak tanjakan lagi pula airnya sulit. Tongos kubune di leke-lekene. Mirip daerah terisolasi seperti Suku Badui Dalam di Jawa Barat. Banjar Mumbul letaknya paling jauh dari pusat Desa Bualu. Apalagi sebelum By Pass I Ngusti Ngurah Rai dibuka (1984), Mumbul memang jarang dilirik. Itu cerita dari Mumbul zaman ilu.
Mumbul kini seperti tertulis dalam kidung Warga Sari : Muncrat Mumbul. Di Banjar Mumbul-lah tokoh arsitek tradisional Adat Bali lahir, Ir. I Nyoman Glebet. Banyak penerusnya melanjutkan keahliannya di bidang arsitek dan sipil. Bahkan Ir. I Nyoman Glebet menjadi bintang penjuru rujukan arsitek tradisional Bali dengan sukat sikut Asta Kosala Kosali.
Pada pertengahan dekade ketiga tahun 2000-an, Mumbul malah jadi sumber inspirasi. Bandesa Adat Bualu dari Banjar Mumbul. Ketua LPM Kelurahan Benoa juga dari Banjar Mumbul. Tokoh Pendidikan yang pernah dipunyai Bali, Drs. I Ketut Wija, M.M. (alm.) juga dari Banjar Mumbul. Banyak tokoh dari Banjar Mumbul yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing. Sangat menarik mengulik orang-orang Mumbul dari dulu, kini, dan ke depan di tengah perubahan global.
Perlu pula dicatat, Kecamatan Kuta Selatan adalah buah pemekaran dari Kecamatan Kuta, pada awal reformasi yang persiapannya dimulai sejak 1999. Pada awalnya, Kecamatan hasil pemekaran disebut Kecamatan Pembantu Kuta Utara dan Kecamatan Pembantu Kuta Selatan, sedangkan Kecamatan Kuta sebagai kecamatan induk. Kecamatan Kuta resmi mekar menjadi menjadi 3 Kecamatan definitif : Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan sejak 2001.

Seiring dengan perkembangan pariwisata yang kian masif, Kecamatan Kuta Selatan yang terdiri atas 9 Desa Adat dan 6 Desa/Kelurahan adalah pemasok devisa tertinggi di Kabupaten Badung dari sektor pariwisata dengan Nusa Dua sebagai magnet utama pada awalnya. Seiring waktu berjalan, pengembangan Nusa Dua yang berada di daerah dataran sering disebut beten ke arah menek alias beduur yang tinggi disebut bukit. Sejak 1990-an daerah beduur berkembang secara masip. Pemblokiran tanah terjadi besar-besaran.
Tidak pernah rakyat tahu, apakah tanah yang diblokir ratusan hektar dan mangkrak puluhan tahun itu membayar pajak soalnya itu pasti milik Nak Gede, yang awalnya milik Nak Cenik yang taat pajak. Memang sesaat pemblokiran, Orang Kaya Baru (OKB) lahir mendadak dan Orang Miskin Baru (OMB) tidak disadari segera menjemput. Kini mereka menjerit, tanah leluhurnya berpindah kepemilikan. Bahkan ada di antara mereka yang krama wed, indekost di perumahan milik pendatang. Sungguh memperihatinkan. Frase “pembangunan pariwisata budaya berkelanjutan” terdengar indah di permukaan, tetapi menyisakan sesak di kedalaman. Substansi yang diidealkan masih perlu diperjuangkan berdasarkan fakta lapangan.
Di kawasan BTDC (kini : ITDC) juga dilengkapi dengan Lembaga Pendidikan. Lembaga Pendidikan yang mula-mula bernama Trainning School menjadiPusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata Bali (P4B) berdiri 1987 lalu berubah menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Bali (1982). Itu juga berubah menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali (STPNB), kemudian sejak 2019 menjadi Poltekpar Bali. Lembaga Pendidikan itu pada awalnya berada beten di Kawasan ITDCdipindah ke beduur di Kawasan Bukit Desa Adat Kampial.
Tranning School pada 1978 menerima tamatan SD untuk dilatih sebagai tenaga di bidang pariwisata. Banyak juga yang sukses. Dari strategi pengembangan, Poltekpar dipindah ke beduur sungguh tepat paling tidak dari sejumlah alasan. Pertama, ketersesakan ruang di Kawasan ITDC Nusa Dua yang tingkat kepadatan penduduknya terlalu rapat. Kedua, lokasi Poltekpar beduur ke Kawasan Nusa Dua tidak terlalu jauh sebagai Laboratorium Pariwisata Bali yang dikagumi dunia. Sebagai Laboratorium Pariwisata, Poltekpar Bali adalah tempat memasak dan mematangkan SDM Pariwisata Bali untuk dunia. Ketiga, hubungan resiprokal antara Pendidikan dan Pariwisata bersifat mutualistik, saling mengadakan dan saling mendukung. Oleh karena pariwisata identik dengan dunia perjalanan dan glamour, dunia Pendidikan diniatkan hadir mengedukasi agar menjadi humanis.
Sejumlah hotel di Kawasan ITDC Nusa Dua Bali adalah hotel berbintang 5 bertaraf Internasional. Tak pelak lagi, hotel-hotel di sini menjadi tempat pertemuan berskala Internasional yang dihadiri pemimpin seluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir, misalnya Nusa Dua menjadi episentrum pelenggaraan Konferensi G-20 dan World Water Forum (WWF). Mengapa Nusa Dua menjadi magnet, bukan tempat lain? Pertama, Nusa Dua menyajikan lanskap keindahan dengan fasilitas hotel berarsitektur Bali dengan jumlah yang memadai.
Sesuai dengan namanya, Nusa Dua memiliki dua nusa : Nusa Dharma/Nusa Dajanan/Nusa Cenik dan Nusa Peninsula/Nusa Delodan/Nusa Gede. Labeling Nusa Dharma persembahan dari pengelola ITDC. Disebut Nusa Dajanan karena berada di sebelah Utara Nusa Gede. Disebut Nusa Cenik karena lebih kecil daripada Nusa Gede. Sementara itu, Nusa Peninsula adalah nama persembahan dari pihak ITDC. Disebut Nusa Delodan karena berada di sebelah Selatan Nusa Cenik. Disebut Nusa Gede karena lebih besar daripada Nusa Cenik.
Di antara kedua nusa itu biasa disebut Selagan Nusa. Ada puisi dan lagunya pula. Jadi, Nusa Dua memang inspiratif sejak dahulu kala. Puisi “hikayat nusa dua” ditulis oleh Kambali Zutas (2022) menggambarkan Nusa Dua yang indah bersejarah. Melegenda. Puisi ini terdiri atas lima bait. Bait ketiga tertulis “… hikayat selagan nusa dua/menghitung jejak-jejak mereka/bercengkrama, canda tawa,gembira ria/berbaring berselimut panorama/air bercampur buih tertawa mengeja/di bentangan bibir pesisir mengukir nostalgia”.
Bait kelima sebagai berikut. “datang seorang pemangku/bertutur mengingatkan hikayat selagan nusa dua/cerita haru kayu kelor Kebo Iwa/dilanjutkan kisah Babah Ketut Jaya/pertapaan larut menanti air laut surut/mengukir prasasti Nusa Dharma”
Sementara itu, lagu Melali ke Nusa Dua sebagai tembang rare menggambarkan suasana yang damai layak dikunjungi sebagai tempat melali. Aura positif Nusa Dua adalah resultante dari kumpulan doa yang selalu digemakan setiap saat secara kontinu dan konsisten karena di situ ada tempat suci seperti Pura Lamun, Pura Taman Sari, dan Pura Bias Tugel. Itulah alasan kedua.
Alasan ketiga, napak tilas Pujangga Jawa Dang Hyang Nirartha yang melahirkan kakawin berlatar pantai Nusa Dua adalah Kakawin Anyang Nirartha. Sang Pujangga melukiskan secara apik dan estetik alam pantai dan laut yang menjadi refleksi spiritual mendalam sebagai langkah penyatuan batin Sang Kawi Wiku dengan Semesta Alam.
Wangi bunga pudak pandan di atas batu Nusa Dua adalah representasi pertapa yang penyair, tak ubahnya meminang bidadari kata-kata merasuk ke suksma Sang Penyair. Semua itu tampaknya ikut memberi andil untuk Nusa Dua makin tenar berbinar ke seantero dunia. Napak Tilas Sang Pujangga memberikan getaran yang mampu menembus ruang tanpa batas. Itulah hebat Pujangga Pengawi melaksanakan yoga sastra dengan mendirikan Pondok Sastra. Abadi sepanjang masa sebagai prasasti. “Tulisan mengendap, ucapan menguap,” kata Prof. Darma Putra.

Begitulah Nusa Dua dikapling untuk menjadi kawasan elit berduit. Krama wed ada yang mendapat ampas akibat ketidakberdayaan. Krama wed menjadi elit yang lain dalam arti ekonomi sulit. Indekost di rumah pendatang. Pendatang menjadi majikan, krama wed menjadi kulinya. Semua tergantung pada Pendidikan. Kemajuan mendadak tanpa Pendidikan memadai berpotensi menjadi anak salah asuhan.
Gemerlap pariwisata Nusa Dua yang mendunia telah banyak menghibupi keluarga Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Kesenjangan yang terjadi seyogyanya dipersempit jaraknya. Kalau bisa tanpa jarak. Aliran dana dari bisnis pariwisata seyogyanya menyelamatkan Nak Cenik yang tidak berdaya. Nusa Dua di bawah ITDC seharusnya bisa untuk itu. Jangan ada ayam mati kelaparan di lumbung padi yang penuh. Begitulah seharusnya manfaat optimal dari Kawasan elit Nusa Dua Bali.
Nusa Dua memang tidak ada satunya di dunia. Nusa Dua mendunia karena dua nusanya. Nusa Dua pun menenggelamkan nama Desa Adat Bualu yang nota bena penjaga tradisi dan budaya Bali. Itu juga tanda dominannya branding pariwisata yang memperkuat posisi Nusa Dua. [T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole



























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)


