5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Tubuh yang Bicara

Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. “Sesss” minyak panas ketemu adonan tempe. Wanginya nyelonong ke jalan, memanggil siapa saja yang lewat. Di radio butut di pojok warung, ada suara Bawor lagi ngelawak: keras, cempreng, bikin orang ketawa sambil nutup kuping. Di bangku bambu, dua orang ngobrol. “Rika ngapa durung lunga? Wis sore kie!” (Ngapain kamu belum pergi? Sudah sore ini ) Kalimatnya menusuk, tapi tangannya menyodorkan mendoan hangat.

Tiga hal itu datang bersamaan. Tidak janjian. Tapi rasanya selalu satu paket. Mendoan di tangan, Bawor di telinga, Cablaka di mulut. Awalnya saya kira ini kebetulan. Makanan khas, tokoh wayang, gaya bicara. Tapi lama-lama terasa: ketiganya ngomong bahasa yang sama. Bahasa tubuh. Bahasa orang yang capek basa-basi. Bahasa orang yang memilih jujur, walau caranya bikin orang luar kaget.

Esai ini mencoba membaca. Bukan apa itu Mendoan, Bawor, dan Cablaka. Tapi apa yang mereka tolak bersama-sama. Karena dari penolakan itulah, watak Banyumas terbaca paling terang.

Mendoan

Makanan khas Banyumas yang bisa jadi lauk atau cuma camilan ringan ini terbuat dari  kedelai. Namun berbeda dengan saudaranya di lain tempat yang disebut sebagai “tempe”.  Tempe Banyumas mendapat perlakuan di wajan agak istimewa. Ia cukup digoreng setengah matang saja.  

Kaca mata Fenomenologis terhadap mendoan yang  menyetuh  mulut  ternyata menarik: dia  menghadirkan sensasi tekstur yang luarnya tak begitu garing,  dalamnya masih lembut, anget, berminyak di jari. Orang memakannya buru-buru, anget-anget, pakai sambal kecap. Tak  menunggu “sempurna garing”.

Mendoan seakan hadir dengan nuansa  jujur, apa adanya, tidak  neko-neko. Secara semiotis bisa kita maknai setengah matang sebagai  menolak kemewahan/keribetan. “ora perlu mateng banget sing penting bisa dipangan” (tidak perlu mateng sungguh yang penting bisa dipangan)

Tempe sebagai bahan dasar mendoan juga identik  dengan bahan makanan yang  merakyat. Sederhana, murah, mengenyangkan. Kehadirannya yang “cepat saji” menggambarkan  budaya kerja. Tidak  banyak gaya, langsung gas.

Mendoan sering  dimakan bareng. Suatu bentuk kebersamaan. Mendoan jarang dimakan sendirian. Mendoan ternyata bukan sekedar makanan, di dalamnya menyimpan makna karakter  : Praktis, pekerja, anti ribet. “Sing  penting wareg, aja kakehen gaya” (Yang penting kenyang gak perlu banyak gaya)

Bawor – Etika Jiwa dan Loyalitas

Karakter  Bawor memang unik. Dalam lakon wayang kulit  gagrak Banyumas dia digambarkan suka tertawa dengan suara keras, wujud jelek tapi bikin nyaman. Rasa aman karena dia selalu ada. Secara semiotika Bawor sekan mengenakan topeng badut  namun sebenarnya dia menggambarkan kejujuran. Kebodohan yang dia sering tampilkan adalah strategi.  Yang jelas dia sosok yang setia pada  Bima.  Hierarki  dalam pewayangan yang egaliter. Makna watak Bawor adalah blak-blakan, setia, kuat. “Cangkeme elek, atine emas” (Penampilan/mulut jelek tapi berhati emas)

Cablaka – Etika Bahasa dan Relasi

Para pendatang yang pertama masuk di Banyumas pasti kaget. Cara berbicara wong panginyongan seakan menghadirkaan getaran frekuensi suara yang cenderung keras di telinga. Awalnya mungkin kaget, lama-lama hangat.

Semiotika mencatat, kata yang menunjuk pada sebutan kamu – saya, “Nyong-rika“, seakan  meruntuhkan sekat. Nada tinggi yang terucap adalah bentuk  transparansi, bukan agresi. Terkesan pendek-pendak,  singkat yang berarti  menghormati waktu orang. Makna Cablaka menggambarkan  watak: Egaliter, terus terang, tanpa topeng. “Ngomong apa anane”.( bicara apa adanya)

Penolakan terhadap Kemewahan Formal

Tubuh pertama kali bertemu Mendoan bukan lewat mata, tapi lewat hidung dan tangan. Wanginya bawang dan ketumbar yang ketiban minyak panas. Teksturnya tidak rata: ada bagian yang sedikit garing, ada yang masih lembek dan berminyak di jari. Mendoan tidak pernah meminta piring keramik. Ia cukup digulung di atas kertas minyak, dimakan sambil berdiri. Ia menolak untuk “ditata”. Ia menolak menunggu sampai warnanya coklat keemasan sempurna. Karena lima menit menunggu itu artinya lima menit lebih lama untuk lapar.

Di panggung, tubuh lain juga melakukan penolakan yang sama. Bawor muncul dengan sorban yang tidak pernah rapi, perut buncit, dan suara yang terlalu keras untuk ruang pendopo. Ia menolak kostum ksatria yang mengilat. Ia menolak gerak gemulai. Dalang tidak pernah membuatnya tampan. Karena ketampanan dianggap jarak. Ketampanan membuat penonton segan, bukan tertawa. Dan Bawor butuh tawa untuk masuk ke hati orang. Ia memilih jadi jelek, karena kejelekan adalah bentuk kejujuran paling cepat. 

Begitu juga dengan mulut. Cablaka menolak kalimat pembuka yang panjang. Menolak “dengan segala hormat” dan “kiranya berkenan”. Ia langsung memotong: “Rika arep lunga ngendi?” ( Kamu akan pergi  ke mana ? )Tidak ada bantal kata. Tidak ada karpet bahasa. Lansung ke inti. Karena bagi lidah Banyumas, basa-basi adalah minyak yang membuat pembicaraan jadi licin dan tidak bisa dipegang.  Secara semiotik, ketiganya sedang mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda: isi lebih penting dari kemasan. 

Mendoan bilang: “Aku tidak perlu garing sempurna untuk mengenyangkan.”

Bawor bilang: “Aku tidak perlu tampan untuk menolong.”

Cablaka bilang: “Aku tidak perlu sopan untuk jujur.” 

Ini bukan ketidakmampuan. Ini pilihan etis. Kemewahan formal dianggap musuh, karena ia menunda, ia memisahkan, ia memalsukan. Mendoan yang terlalu garing jadi keripik dan kehilangan jiwanya yang lembut. Bawor yang terlalu gagah akan kehilangan daya kritisnya. Cablaka yang terlalu halus akan kehilangan keberaniannya. 

Maka penolakan terhadap kemewahan formal ini adalah fondasi watak Banyumas: sing penting njerone, dudu kemulusane. Yang penting isinya, bukan mulusnya. Di tanah yang keras dan sawah yang luas ini, orang belajar bahwa yang menyelamatkan bukan penampilan, tapi fungsi.

Penolakan terhadap Jarak Sosial

Jarak diukur paling jujur oleh tubuh. Dan tubuh orang Banyumas alergi pada jarak.  Lihat Mendoan. Ia tidak pernah disajikan sendirian di atas piring mewah. Ia datang setumpuk, di tengah meja, di atas kertas, atau langsung dari wajan. Tidak ada pembeda “porsi tamu” dan “porsi tuan rumah”. Jari-jari berebut, saling bersinggungan, saling menawarkan: “Mangga, tambah maning“.  (Mari ambil lagi ) Mendoan memaksa bahu dan siku berdekatan. Ia menghapus batas antara yang punya hajat dan yang bertamu.

Di panggung wayang, jarak juga diruntuhkan oleh satu sosok. Bawor. Ia berani memotong omongan Bima. Ia berani mengejek raja Duryudana di depan umum. Dalam pakem lain, itu kurang ajar. Dalam gagrag Banyumas, itu wajar. Karena Bawor mengingatkan: di hadapan masalah, jabatan luruh. Yang ada hanya manusia dan manusia. Sorban miringnya, celananya yang kepanjangan, adalah tanda bahwa ia menolak berdiri di atas panggung yang lebih tinggi dari penontonnya.  Dan di warung, di pasar, di jalan, jarak diratakan oleh satu kata: “rika”.

Cablaka tidak mengenal “bapak”, “ibu”, “panjenengan“. Untuk lurah, untuk guru, untuk tukang becak, katanya sama: “Rika wis mangan?” Nada suaranya juga sama: keras, ceplas-ceplos, tanpa berbisik. Awalnya menyinggung telinga orang luar. Tapi lama-lama terasa melegakan. Karena di situ tidak ada sandiwara. Tidak ada yang dibuat-buat tinggi atau dibuat-buat rendah.  Secara semiotik, ketiganya adalah mesin perata.

Mendoan = meja bundar yang tidak berkepala.

Bawor = badut yang boleh menegur raja.

Cablaka = kata ganti yang menyamakan derajat. 

Masyarakat Banyumas hidup di tanah pertanian dan kerja keras. Di sawah, di pasar, di pabrik, tidak ada waktu untuk sungkan. Maka diciptakanlah makanan, tokoh, dan bahasa yang menolak protokol. Karena protokol dianggap penghalang gotong royong.  Sintesisnya: Penolakan terhadap jarak sosial ini melahirkan watak egaliter dan blak-blakan. Orang Banyumas tidak mengukur orang dari pangkatnya. Ia mengukur dari “tulus apa ora“. Dari sinilah lahir rasa aman yang aneh: kamu boleh dimarahi hari ini, tapi besok pasti ditawari mendoan.

Penolakan terhadap Penundaan

Waktu bagi orang Banyumas bukan garis lurus. Waktu adalah panas.  Mendoan tidak bisa menunggu. Begitu diangkat dari wajan, ia berteriak: “Mangan siki!” Lima menit saja ia jadi dingin, lembek, dan kehilangan nyawanya. Maka tidak ada istilah “nanti”. Ada mendoan, ada tangan yang langsung menyambar. Menunda makan mendoan sama artinya dengan menolak rezeki.

Bawor juga begitu. Ketika Bima bingung, ketika Pandawa terdesak, Bawor tidak pernah bilang “tak rembugan disit“. Ia maju. Caranya boleh konyol, omongannya boleh ngawur, tapi badannya paling dulu ada di depan. Penundaan baginya adalah kemunafikan. “Ngomong prihatin tapi ora obah” ( Katanya ikut prihatin tapi tidak bergerak ) itu yang paling ia benci. 

Dan Cablaka menutup semuanya lewat lidah. Tidak ada “saya pertimbangkan dulu”, “nanti saya kabari”,  Yang ada “iya” atau “ora”. “Bisa” atau “ora bisa”. Titik. Keras memang. Tapi setelah itu selesai. Tidak ada PR di kepala, tidak ada utang janji.  Secara semiotik, ketiganya adalah jam.

Mendoan = jam perut. Ia menandai waktu dengan lapar.

Bawor = jam krisis. Ia menandai waktu dengan masalah yang harus dibereskan sekarang.

Cablaka = jam kata. Ia memotong waktu bertele-tele menjadi satu keputusan. 

Mengapa begitu? Karena hidup di Banyumas itu dekat dengan tanah, air, dan kerja fisik. Sawah tidak bisa ditunda hujannya. Dagangan tidak bisa ditunda busuknya. Tenaga tidak bisa ditunda capeknya. Maka lahirlah etika: aja kelamaan, mengko keburu kadaluwarsa.  Penundaan dianggap pemborosan. Pemborosan tenaga, pemborosan kejujuran, pemborosan kepercayaan. 

Sintesisnya: Dari sini lahir watak cepet tanggap dan to the point. Orang Banyumas mungkin tidak paling pintar merencanakan, tapi ia paling cepat bertindak. Ia tidak jago membuat presentasi, tapi ia jago membereskan masalah.  Karena bagi dia, kebenaran yang ditunda adalah kebenaran yang mati.

Apa yang Tertinggal Saat Dunia Sibuk Berdandan

Mendoan, Bawor, dan Cablaka adalah tiga jawaban atas pertanyaan yang sama: Bagaimana cara hidup jujur di dunia?Jawabannya: Jangan ditunda. Jangan jaga jarak. Jangan banyak gaya.Kejujuran orang Banyumas bukan kejujuran di atas kertas atau di atas mimbar. Ia kejujuran yang bau minyak, yang teriak, yang bikin kaget di awal. Kejujuran yang bertubuh, berkeringat, dan bekerja.

Di zaman sekarang yang serba “aesthetic”, “personal branding”, dan “soft skill komunikasi”, watak ini sering dianggap kasar. Dianggap kurang. Tapi mungkin justru di sinilah Banyumas menyimpan penawarnya. Pengingat bahwa ada cara lain untuk menjadi manusia: cara yang tidak menjual kemasan, tidak membangun tembok, dan tidak menunda kebenaran.

Selama masih ada wajan yang menggoreg setengah matang mendoan, masih ada dalang yang memainkan  Bawor, dan masih ada orang yang berani bilang “ora” dengan lantang, maka Banyumas belum kehilangan jiwanya. Karena jiwa itu sederhana saja: tulus, setara, dan cepat. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyumas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Next Post

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails
Next Post
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co