4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Tubuh yang Bicara

Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. “Sesss” minyak panas ketemu adonan tempe. Wanginya nyelonong ke jalan, memanggil siapa saja yang lewat. Di radio butut di pojok warung, ada suara Bawor lagi ngelawak: keras, cempreng, bikin orang ketawa sambil nutup kuping. Di bangku bambu, dua orang ngobrol. “Rika ngapa durung lunga? Wis sore kie!” (Ngapain kamu belum pergi? Sudah sore ini ) Kalimatnya menusuk, tapi tangannya menyodorkan mendoan hangat.

Tiga hal itu datang bersamaan. Tidak janjian. Tapi rasanya selalu satu paket. Mendoan di tangan, Bawor di telinga, Cablaka di mulut. Awalnya saya kira ini kebetulan. Makanan khas, tokoh wayang, gaya bicara. Tapi lama-lama terasa: ketiganya ngomong bahasa yang sama. Bahasa tubuh. Bahasa orang yang capek basa-basi. Bahasa orang yang memilih jujur, walau caranya bikin orang luar kaget.

Esai ini mencoba membaca. Bukan apa itu Mendoan, Bawor, dan Cablaka. Tapi apa yang mereka tolak bersama-sama. Karena dari penolakan itulah, watak Banyumas terbaca paling terang.

Mendoan

Makanan khas Banyumas yang bisa jadi lauk atau cuma camilan ringan ini terbuat dari  kedelai. Namun berbeda dengan saudaranya di lain tempat yang disebut sebagai “tempe”.  Tempe Banyumas mendapat perlakuan di wajan agak istimewa. Ia cukup digoreng setengah matang saja.  

Kaca mata Fenomenologis terhadap mendoan yang  menyetuh  mulut  ternyata menarik: dia  menghadirkan sensasi tekstur yang luarnya tak begitu garing,  dalamnya masih lembut, anget, berminyak di jari. Orang memakannya buru-buru, anget-anget, pakai sambal kecap. Tak  menunggu “sempurna garing”.

Mendoan seakan hadir dengan nuansa  jujur, apa adanya, tidak  neko-neko. Secara semiotis bisa kita maknai setengah matang sebagai  menolak kemewahan/keribetan. “ora perlu mateng banget sing penting bisa dipangan” (tidak perlu mateng sungguh yang penting bisa dipangan)

Tempe sebagai bahan dasar mendoan juga identik  dengan bahan makanan yang  merakyat. Sederhana, murah, mengenyangkan. Kehadirannya yang “cepat saji” menggambarkan  budaya kerja. Tidak  banyak gaya, langsung gas.

Mendoan sering  dimakan bareng. Suatu bentuk kebersamaan. Mendoan jarang dimakan sendirian. Mendoan ternyata bukan sekedar makanan, di dalamnya menyimpan makna karakter  : Praktis, pekerja, anti ribet. “Sing  penting wareg, aja kakehen gaya” (Yang penting kenyang gak perlu banyak gaya)

Bawor – Etika Jiwa dan Loyalitas

Karakter  Bawor memang unik. Dalam lakon wayang kulit  gagrak Banyumas dia digambarkan suka tertawa dengan suara keras, wujud jelek tapi bikin nyaman. Rasa aman karena dia selalu ada. Secara semiotika Bawor sekan mengenakan topeng badut  namun sebenarnya dia menggambarkan kejujuran. Kebodohan yang dia sering tampilkan adalah strategi.  Yang jelas dia sosok yang setia pada  Bima.  Hierarki  dalam pewayangan yang egaliter. Makna watak Bawor adalah blak-blakan, setia, kuat. “Cangkeme elek, atine emas” (Penampilan/mulut jelek tapi berhati emas)

Cablaka – Etika Bahasa dan Relasi

Para pendatang yang pertama masuk di Banyumas pasti kaget. Cara berbicara wong panginyongan seakan menghadirkaan getaran frekuensi suara yang cenderung keras di telinga. Awalnya mungkin kaget, lama-lama hangat.

Semiotika mencatat, kata yang menunjuk pada sebutan kamu – saya, “Nyong-rika“, seakan  meruntuhkan sekat. Nada tinggi yang terucap adalah bentuk  transparansi, bukan agresi. Terkesan pendek-pendak,  singkat yang berarti  menghormati waktu orang. Makna Cablaka menggambarkan  watak: Egaliter, terus terang, tanpa topeng. “Ngomong apa anane”.( bicara apa adanya)

Penolakan terhadap Kemewahan Formal

Tubuh pertama kali bertemu Mendoan bukan lewat mata, tapi lewat hidung dan tangan. Wanginya bawang dan ketumbar yang ketiban minyak panas. Teksturnya tidak rata: ada bagian yang sedikit garing, ada yang masih lembek dan berminyak di jari. Mendoan tidak pernah meminta piring keramik. Ia cukup digulung di atas kertas minyak, dimakan sambil berdiri. Ia menolak untuk “ditata”. Ia menolak menunggu sampai warnanya coklat keemasan sempurna. Karena lima menit menunggu itu artinya lima menit lebih lama untuk lapar.

Di panggung, tubuh lain juga melakukan penolakan yang sama. Bawor muncul dengan sorban yang tidak pernah rapi, perut buncit, dan suara yang terlalu keras untuk ruang pendopo. Ia menolak kostum ksatria yang mengilat. Ia menolak gerak gemulai. Dalang tidak pernah membuatnya tampan. Karena ketampanan dianggap jarak. Ketampanan membuat penonton segan, bukan tertawa. Dan Bawor butuh tawa untuk masuk ke hati orang. Ia memilih jadi jelek, karena kejelekan adalah bentuk kejujuran paling cepat. 

Begitu juga dengan mulut. Cablaka menolak kalimat pembuka yang panjang. Menolak “dengan segala hormat” dan “kiranya berkenan”. Ia langsung memotong: “Rika arep lunga ngendi?” ( Kamu akan pergi  ke mana ? )Tidak ada bantal kata. Tidak ada karpet bahasa. Lansung ke inti. Karena bagi lidah Banyumas, basa-basi adalah minyak yang membuat pembicaraan jadi licin dan tidak bisa dipegang.  Secara semiotik, ketiganya sedang mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda: isi lebih penting dari kemasan. 

Mendoan bilang: “Aku tidak perlu garing sempurna untuk mengenyangkan.”

Bawor bilang: “Aku tidak perlu tampan untuk menolong.”

Cablaka bilang: “Aku tidak perlu sopan untuk jujur.” 

Ini bukan ketidakmampuan. Ini pilihan etis. Kemewahan formal dianggap musuh, karena ia menunda, ia memisahkan, ia memalsukan. Mendoan yang terlalu garing jadi keripik dan kehilangan jiwanya yang lembut. Bawor yang terlalu gagah akan kehilangan daya kritisnya. Cablaka yang terlalu halus akan kehilangan keberaniannya. 

Maka penolakan terhadap kemewahan formal ini adalah fondasi watak Banyumas: sing penting njerone, dudu kemulusane. Yang penting isinya, bukan mulusnya. Di tanah yang keras dan sawah yang luas ini, orang belajar bahwa yang menyelamatkan bukan penampilan, tapi fungsi.

Penolakan terhadap Jarak Sosial

Jarak diukur paling jujur oleh tubuh. Dan tubuh orang Banyumas alergi pada jarak.  Lihat Mendoan. Ia tidak pernah disajikan sendirian di atas piring mewah. Ia datang setumpuk, di tengah meja, di atas kertas, atau langsung dari wajan. Tidak ada pembeda “porsi tamu” dan “porsi tuan rumah”. Jari-jari berebut, saling bersinggungan, saling menawarkan: “Mangga, tambah maning“.  (Mari ambil lagi ) Mendoan memaksa bahu dan siku berdekatan. Ia menghapus batas antara yang punya hajat dan yang bertamu.

Di panggung wayang, jarak juga diruntuhkan oleh satu sosok. Bawor. Ia berani memotong omongan Bima. Ia berani mengejek raja Duryudana di depan umum. Dalam pakem lain, itu kurang ajar. Dalam gagrag Banyumas, itu wajar. Karena Bawor mengingatkan: di hadapan masalah, jabatan luruh. Yang ada hanya manusia dan manusia. Sorban miringnya, celananya yang kepanjangan, adalah tanda bahwa ia menolak berdiri di atas panggung yang lebih tinggi dari penontonnya.  Dan di warung, di pasar, di jalan, jarak diratakan oleh satu kata: “rika”.

Cablaka tidak mengenal “bapak”, “ibu”, “panjenengan“. Untuk lurah, untuk guru, untuk tukang becak, katanya sama: “Rika wis mangan?” Nada suaranya juga sama: keras, ceplas-ceplos, tanpa berbisik. Awalnya menyinggung telinga orang luar. Tapi lama-lama terasa melegakan. Karena di situ tidak ada sandiwara. Tidak ada yang dibuat-buat tinggi atau dibuat-buat rendah.  Secara semiotik, ketiganya adalah mesin perata.

Mendoan = meja bundar yang tidak berkepala.

Bawor = badut yang boleh menegur raja.

Cablaka = kata ganti yang menyamakan derajat. 

Masyarakat Banyumas hidup di tanah pertanian dan kerja keras. Di sawah, di pasar, di pabrik, tidak ada waktu untuk sungkan. Maka diciptakanlah makanan, tokoh, dan bahasa yang menolak protokol. Karena protokol dianggap penghalang gotong royong.  Sintesisnya: Penolakan terhadap jarak sosial ini melahirkan watak egaliter dan blak-blakan. Orang Banyumas tidak mengukur orang dari pangkatnya. Ia mengukur dari “tulus apa ora“. Dari sinilah lahir rasa aman yang aneh: kamu boleh dimarahi hari ini, tapi besok pasti ditawari mendoan.

Penolakan terhadap Penundaan

Waktu bagi orang Banyumas bukan garis lurus. Waktu adalah panas.  Mendoan tidak bisa menunggu. Begitu diangkat dari wajan, ia berteriak: “Mangan siki!” Lima menit saja ia jadi dingin, lembek, dan kehilangan nyawanya. Maka tidak ada istilah “nanti”. Ada mendoan, ada tangan yang langsung menyambar. Menunda makan mendoan sama artinya dengan menolak rezeki.

Bawor juga begitu. Ketika Bima bingung, ketika Pandawa terdesak, Bawor tidak pernah bilang “tak rembugan disit“. Ia maju. Caranya boleh konyol, omongannya boleh ngawur, tapi badannya paling dulu ada di depan. Penundaan baginya adalah kemunafikan. “Ngomong prihatin tapi ora obah” ( Katanya ikut prihatin tapi tidak bergerak ) itu yang paling ia benci. 

Dan Cablaka menutup semuanya lewat lidah. Tidak ada “saya pertimbangkan dulu”, “nanti saya kabari”,  Yang ada “iya” atau “ora”. “Bisa” atau “ora bisa”. Titik. Keras memang. Tapi setelah itu selesai. Tidak ada PR di kepala, tidak ada utang janji.  Secara semiotik, ketiganya adalah jam.

Mendoan = jam perut. Ia menandai waktu dengan lapar.

Bawor = jam krisis. Ia menandai waktu dengan masalah yang harus dibereskan sekarang.

Cablaka = jam kata. Ia memotong waktu bertele-tele menjadi satu keputusan. 

Mengapa begitu? Karena hidup di Banyumas itu dekat dengan tanah, air, dan kerja fisik. Sawah tidak bisa ditunda hujannya. Dagangan tidak bisa ditunda busuknya. Tenaga tidak bisa ditunda capeknya. Maka lahirlah etika: aja kelamaan, mengko keburu kadaluwarsa.  Penundaan dianggap pemborosan. Pemborosan tenaga, pemborosan kejujuran, pemborosan kepercayaan. 

Sintesisnya: Dari sini lahir watak cepet tanggap dan to the point. Orang Banyumas mungkin tidak paling pintar merencanakan, tapi ia paling cepat bertindak. Ia tidak jago membuat presentasi, tapi ia jago membereskan masalah.  Karena bagi dia, kebenaran yang ditunda adalah kebenaran yang mati.

Apa yang Tertinggal Saat Dunia Sibuk Berdandan

Mendoan, Bawor, dan Cablaka adalah tiga jawaban atas pertanyaan yang sama: Bagaimana cara hidup jujur di dunia?Jawabannya: Jangan ditunda. Jangan jaga jarak. Jangan banyak gaya.Kejujuran orang Banyumas bukan kejujuran di atas kertas atau di atas mimbar. Ia kejujuran yang bau minyak, yang teriak, yang bikin kaget di awal. Kejujuran yang bertubuh, berkeringat, dan bekerja.

Di zaman sekarang yang serba “aesthetic”, “personal branding”, dan “soft skill komunikasi”, watak ini sering dianggap kasar. Dianggap kurang. Tapi mungkin justru di sinilah Banyumas menyimpan penawarnya. Pengingat bahwa ada cara lain untuk menjadi manusia: cara yang tidak menjual kemasan, tidak membangun tembok, dan tidak menunda kebenaran.

Selama masih ada wajan yang menggoreg setengah matang mendoan, masih ada dalang yang memainkan  Bawor, dan masih ada orang yang berani bilang “ora” dengan lantang, maka Banyumas belum kehilangan jiwanya. Karena jiwa itu sederhana saja: tulus, setara, dan cepat. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyumas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Next Post

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co