— Sugi Lanus
“Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka.” — Plato
Bali kacau balau bukan lantaran kekurangan orang pintar, melainkan karena fenomena keliru yang mengakar di masyarakat: “Fenomena Kutukan Orang Baik.”
Secara umum, banyak orang Bali masih terjebak dalam paradigma lama yang skeptis terhadap dunia kekuasaan. Ungkapan seperti “Politik itu kotor!”, “Biar mereka saja yang masuk partai, kita tidak perlu ikut-ikutan”, atau “Jangan ikut-ikut ngomong politik!” telah menjadi penolakan massal yang lumrah.
Akibat dari sikap tersebut sangat fatal.
Ketika orang-orang baik, jujur, dan cerdas memilih ogah masuk partai, ruang-ruang strategis tersebut otomatis diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang terbatas dan jarang berkompeten. Dari kelompok yang minim kompetensi inilah lahir para pemimpin yang menentukan arah masa depan Bali.
Ketika generasi muda Bali yang cerdas memilih apatis dan anti-politik, mereka tanpa disadari sedang menyerahkan nasib pulau ini untuk dikuasai oleh kelompok yang tidak memiliki integritas.
Mengubah Stigma: Politik adalah Sistem, Bukan Sekadar Intrik
Paradigma “politik itu kotor” harus segera dirombak oleh generasi muda Bali melalui dua pemahaman mendasar:
I. Politik Adalah Sistem Pengambil Kebijakan:
Semua aspek kehidupan di Bali—mulai dari tata ruang, kelestarian budaya, perlindungan subak, hingga regulasi pariwisata—diputuskan melalui jalur politik. Menjauhi politik tidak akan membuat kita terhindar dari dampak buruk kebijakan yang dihasilkan.
II. Politik adalah Alat yang Netral:
Politik pada hakikatnya adalah alat. Ia menjadi kotor atau bersih tergantung pada siapa yang memegang kendali. Jika anak-anak muda yang cerdas tetap memilih berada di luar sistem, maka standar moral dan intelektual dalam politik Bali tidak akan pernah naik.
Solusi dan Langkah Strategis Generasi Muda Bali
Untuk memutus rantai “kutukan” ini, diperlukan aksi nyata dan terukur dari generasi muda:
A. Masuk ke Dalam Sistem:
Generasi muda yang jujur dan berkompeten harus berani masuk ke partai politik, birokrasi, atau maju sebagai pemimpin daerah untuk merebut kembali ruang publik.
B. Membangun Gerakan Melek Politik:
Mengedukasi sesama anak muda bahwa mengkritik dari luar saja tidak lagi cukup. Perubahan yang terstruktur membutuhkan kewenangan legal di ranah eksekutif dan legislatif.
C. Mendorong Politik Gagasan:
Membawa tren baru yang berbasis pada data, digitalisasi, dan transparansi untuk melawan praktik usang politik uang (money politics).
Jika generasi muda Bali yang cerdas tetap memilih diam dan nyaman dalam apatisme, maka degradasi Pulau Dewata akan terus berlanjut. Perubahan Bali tidak bisa lagi dititipkan pada orang lain. Masa depan pulau ini berada di tangan keterlibatan aktif dan keberanian anak-anak mudanya sendiri. [T]

















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)










