ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia bahkan terasa bersahabat ketika menghangatkan tubuh pada malam yang dingin. Tetapi api yang sama dapat berubah menjadi monster ketika manusia kehilangan kendali.
Rabu dini hari, 12 Agustus 2026, kabar tentang terbakarnya Kapal Motor Penumpang Putri Yasmin di perairan Bali kembali mengagetkan kita. Kapal yang berangkat dari Padangbai menuju Lembar itu terbakar di tengah perjalanan. Lebih dari dua ratus orang berhasil dievakuasi, tetapi satu nyawa dilaporkan hilang. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Belum lama sebelumnya, KMP Mutiara Sentosa II juga mengalami kebakaran yang menewaskan lima orang. Kapal terbakar di laut. Pada saat bersamaan, hutan dan lahan terbakar di daratan.
Bromo terbakar. Gunung Soputan terbakar. Sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Bromo bahkan sempat ditutup total karena kebakaran meluas dan mengancam kawasan ekosistem serta pariwisata. Laporan Reuters menyebut sekitar 550 hektare kawasan Bromo terdampak.
Lalu kita bertanya: apakah semua ini sekadar kebetulan? Mungkin iya. Tetapi mungkin juga tidak. Sebab ada satu benda yang mempertemukan kapal yang terbakar dan hutan yang terbakar: api.
Dan jauh sebelum para ahli keselamatan kapal, ahli kehutanan, klimatologi, atau para pejabat kebencanaan berbicara tentang api, Al-Qur’an sudah mengajak manusia untuk merenungkan api.
Api yang Diciptakan
Allah berfirman dalam QS. Yasin ayat 80: “(Allah) yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
Ayat ini menarik. Api ternyata dapat keluar dari sesuatu yang tampaknya justru bertentangan dengannya: kayu yang hijau.
Di tangan manusia, api adalah energi. Ia membantu memasak, menghangatkan, menggerakkan mesin dan menopang peradaban. Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada manfaat. Dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 71–73, manusia diajak bertanya: “Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat dalam. Kamukah yang menumbuhkannya? Seolah-olah manusia sedang ditegur: jangan terlalu cepat merasa menjadi penguasa atas sesuatu yang sesungguhnya bukan ciptaanmu.
Kita memang bisa menyalakan api. Tetapi kita tidak menciptakan hukum-hukum alam yang membuat api menyala. Kita bisa membuat kapal. Tetapi kita tidak menciptakan laut. Kita bisa membuat mesin. Tetapi kita tidak menciptakan hukum fisika yang membuat mesin itu bekerja.
Kita bisa membuka hutan. Tetapi kita tidak menciptakan hujan, tanah, pohon, angin dan keseimbangan ekosistem. Manusia sering kali hebat ketika sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Tetapi menjadi sangat kecil ketika alam mengingatkan bahwa ia mempunyai hukum sendiri.
Api sebagai Peringatan
Al-Waqi’ah bahkan menyebut api sebagai “peringatan dan bahan kegunaan bagi orang-orang yang musafir.” Ini menarik jika kita hubungkan dengan kapal Putri Yasmin. Kapal adalah kendaraan bagi manusia yang sedang melakukan perjalanan. Musafir di darat mempunyai jalan. Musafir di laut mempunyai kapal.
Tetapi perjalanan selalu mengandung risiko. Kapal dapat dibuat sebesar apa pun. Mesinnya dapat secanggih apa pun. Sistem navigasinya dapat semakin modern. Namun keselamatan tetap membutuhkan satu hal yang sering dianggap remeh: “kedisiplinan manusia”.
Api di kapal bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga merupakan ujian terhadap sistem. Apakah pemeriksaan dilakukan sungguh-sungguh?Apakah alat keselamatan tersedia dan berfungsi? Apakah jumlah penumpang sesuai manifes? Apakah prosedur evakuasi benar-benar dipahami awak dan penumpang?
Apakah keselamatan menjadi prioritas atau sekadar dokumen yang ditandatangani? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini justru penting karena laporan awal kebakaran Putri Yasmin menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah orang yang tercatat dalam manifes dan jumlah orang yang berhasil dievakuasi. Penyebab kebakaran sendiri masih menunggu hasil penyelidikan.
Di sinilah satire kehidupan kita muncul. Kita sering sangat teliti menghitung uang. Tetapi kadang-kadang kurang teliti menghitung manusia. Kita sangat serius menghitung pendapatan. Tetapi keselamatan penumpang terkadang seperti angka tambahan dalam laporan. Padahal satu manusia bukan angka. Satu nyawa bukan statistik. Satu keluarga yang kehilangan anggota keluarganya bukan sekadar “korban satu orang”.
Di belakang angka satu itu ada seorang ibu, seorang ayah, seorang anak, seorang suami, seorang istri, atau seseorang yang mungkin sedang ditunggu kepulangannya.
Hutan Pun Tidak Pernah Diam
Kini kita pindah dari laut menuju gunung. Api tidak lagi membakar kapal. Ia membakar rumput, pepohonan, semak, lahan, bahkan kawasan yang menjadi habitat berbagai makhluk hidup.
Bromo terbakar. Gunung Soputan terbakar. Di tempat lain, asap menutup pandangan dan mengganggu kehidupan manusia. Ada sesuatu yang ironis. Manusia menyebut hutan sebagai sumber kehidupan.Tetapi setiap musim kemarau, kita seolah terkejut ketika hutan terbakar.
Setiap tahun kita kembali menemukan berita yang hampir sama. Hutan terbakar. Asap mengepul.Petugas dikerahkan. Helikopter water bombing diterjunkan. Lahan terbakar sekian hektare. Kerugian mencapai sekian triliun.
Kemudian setelah api padam, kita kembali sibuk dengan urusan lain. Sampai tahun berikutnya api datang lagi. Bukankah ini seperti orang yang setiap tahun rumahnya kebanjiran, tetapi setelah air surut ia hanya membeli ember baru? Padahal mungkin masalahnya bukan kekurangan ember.
Masalahnya adalah saluran air yang tidak pernah diperbaiki. Begitu pula karhutla. Pemadaman memang penting. Tetapi pemadaman bukanlah satu-satunya jawaban. Kalau penyebab dasarnya tidak disentuh, kita hanya menjadi bangsa yang semakin terampil memadamkan api, tetapi tidak semakin pintar mencegah api.
Jangan Semua Disalahkan kepada El Niño
Dalam beberapa pemberitaan, kebakaran tahun ini dikaitkan dengan fenomena yang populer disebut “El Niño Godzilla”. Istilah itu terdengar mengerikan. Godzilla datang. Godzilla membawa panas. Godzilla membakar hutan. Selesai. Mudah sekali. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.
BMKG sendiri menegaskan bahwa “El Niño Godzilla” bukan istilah resmi klimatologi. Pada April 2026, BMKG menyebut ENSO masih netral dan memperkirakan kemungkinan berkembangnya El Niño lemah hingga moderat pada semester kedua.
Memang ada pemberitaan ilmiah yang menyebut potensi El Niño 2026 sangat kuat dan bahkan membandingkannya dengan kejadian ekstrem masa lalu. Tetapi kita perlu hati-hati.
Jangan sampai El Niño menjadi kambing hitam yang terlalu nyaman. Sebab cuaca kering mungkin membuat vegetasi mudah terbakar. Angin mungkin membuat api cepat menyebar. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:
Siapa yang Menyalakan Api?
Dan kalau bukan manusia yang menyalakannya, mengapa sistem pencegahan kita begitu mudah dikalahkan oleh api?
Kita tidak boleh menjadikan fenomena alam sebagai alasan untuk membebaskan manusia dari tanggung jawab. El Niño mungkin memperbesar risiko. Tetapi manusia sering kali menyediakan bahan bakarnya.
Kita terlalu suka datang setelah bencana. Ada kebiasaan buruk dalam manajemen bencana kita. Kita sangat hebat ketika bencana sudah terjadi. Ketika kapal terbakar, semua bergerak cepat. Ketika hutan terbakar, helikopter dikerahkan. Ketika asap sudah menutup kota, masker dibagikan. Ketika korban sudah berjatuhan, rapat koordinasi segera dilakukan.Ketika rumah sudah hanyut, bantuan datang.
Kita seperti bangsa yang baru percaya bahwa jembatan itu rapuh setelah jembatannya runtuh. Padahal keselamatan seharusnya bekerja sebelum bencana.
Dalam konteks transportasi laut, reformasi keselamatan tidak boleh berhenti pada pemeriksaan setelah kecelakaan. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan kapal, manifes penumpang, kesiapan awak, peralatan pemadam, jalur evakuasi, latihan keselamatan, pengawasan operator, hingga penegakan hukum.
Demikian pula karhutla. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum api terlihat. Pengawasan kawasan rawan harus diperkuat. Praktik pembakaran lahan harus dikendalikan. Kondisi vegetasi harus dipantau. Masyarakat harus dilibatkan.
Dan ketika ada kelalaian atau kesengajaan, hukum harus bekerja bukan hanya ketika kamera televisi sudah menyala.
Api Tidak Bersalah
Barangkali kita perlu mengatakan sesuatu yang sederhana: Api tidak bersalah. Api hanya menjalankan sifatnya. Yang menentukan apakah ia menjadi sahabat atau bencana adalah bagaimana manusia memperlakukannya.
Api di dapur memberi kehidupan. Api di tungku memberi kehangatan. Api di mesin memberi tenaga. Tetapi api yang dibiarkan tanpa pengawasan dapat menjadi malapetaka. Begitu pula teknologi.
Kapal bukan musuh manusia. Mesin bukan musuh manusia. Pembangunan bukan musuh manusia. Masalahnya muncul ketika manusia terlalu percaya kepada teknologi dan lupa kepada tanggung jawab.
Kita membangun kapal yang semakin besar, tetapi apakah budaya keselamatannya juga semakin besar?
Kita membangun kawasan wisata yang semakin ramai, tetapi apakah daya dukung alamnya juga semakin diperhatikan?
Kita mempunyai teknologi water bombing, drone, satelit dan berbagai sistem pemantauan. Tetapi apakah kita juga memiliki keberanian untuk mencegah sebelum api menjadi besar? Itulah pertanyaan yang lebih penting.
Api sebagai Cermin
Mungkin inilah makna terdalam dari ayat Al-Waqi’ah. Allah bertanya: “Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?” Pertanyaan itu bukan sekadar tentang api. Ia tentang kesombongan manusia.
Kita sering merasa sebagai penguasa bumi. Padahal kita hanya penumpang di dalamnya. Kita menumpang di kapal bernama bumi. Kita menumpang pada udara yang kita hirup. Kita menumpang pada air yang kita minum. Kita menumpang pada hutan yang memberi oksigen. Kita menumpang pada laut yang menyediakan pangan dan jalur perjalanan.
Tetapi anehnya, penumpang sering bertingkah seperti pemilik kapal. Lalu ketika kapal mulai berguncang, kita panik.
Ketika hutan terbakar, kita menangis. Ketika udara berasap, kita mencari siapa yang harus disalahkan. Padahal mungkin alam sedang berkata: Aku sudah lama memberimu tanda. Mengapa baru sekarang engkau mendengarkan? Jangan Menunggu Api Berikutnya
Kebakaran Putri Yasmin harus menjadi lebih dari sekadar berita satu hari. Kebakaran Mutiara Sentosa II tidak boleh menjadi berita yang hilang setelah beberapa hari.
Karhutla Bromo tidak boleh berhenti sebagai angka luas lahan yang terbakar. Gunung Soputan tidak boleh hanya menjadi gambar kepulan asap.
Sebab di balik semua itu ada pertanyaan besar tentang cara kita membangun negeri. Negeri kepulauan seperti Indonesia tidak bisa bermain-main dengan keselamatan transportasi laut. Negeri tropis dengan hutan luas juga tidak boleh menganggap kebakaran hutan sebagai agenda musiman yang muncul setiap kemarau.
Kita membutuhkan reformasi internal dan eksternal. Internal berarti memperbaiki budaya keselamatan, disiplin, kompetensi, pengawasan dan tanggung jawab setiap operator.
Eksternal berarti memperbaiki regulasi, pengawasan pemerintah, koordinasi antarlembaga, penegakan hukum dan keterlibatan masyarakat.
Sebab bencana memang bisa datang dari alam. Tetapi “besarnya bencana sering ditentukan oleh kualitas manusia dalam mengelolanya”. Dan mungkin di situlah pesan Al-Qur’an tentang api menjadi sangat relevan. Api diberikan sebagai manfaat. Api juga menjadi peringatan. Masalahnya bukan pada api.
Masalahnya adalah apakah manusia mau belajar dari api. Sebab jika tidak, jangan heran kalau suatu hari nanti kita kembali membaca berita: kapal terbakar, hutan terbakar, lahan terbakar, rumah terbakar, dan kita kembali berkata: “Sungguh musibah.”
Padahal mungkin api sedang berkata: “Bukan hanya musibah. Ini peringatan.” Dan peringatan yang terus diabaikan, pada akhirnya bukan lagi sekadar peringatan. Ia berubah menjadi pertanggungjawaban.[T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole



























