“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!”
SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah Lot Art & Food Festival VII 2026, Jumat, 28 Agustus 2026. Alunan alat musik kayu khas Tabanan itu terdengar dinamis, menghadirkan resonansi alamiah yang kuat sekaligus nuansa magis di kawasan Tanah Lot.
Ketika tabuhan kendang mulai memimpin, sejumlah okokan dimainkan secara bersamaan. Tiga penari wenara atau kera dengan balutan warna putih, merah, dan hitam bergerak lincah. Mereka menari sambil melompat-lompat, menyerupai gerak kera di atas pepohonan, sebelum menyambut Wakil Bupati (Wabup) Tabanan I Made Dirga, S.Sos. Kehadiran rombongan kemudian disambut Jegeg-Bagus Tabanan yang mengalungkan bunga.
Tabuh okokan tetap terdengar dengan ritme yang lebih rendah ketika rombongan berjalan menuju areal Wantilan Pura Tanah Lot. Sepanjang perjalanan, suasana semakin meriah dengan sambutan warga yang berdiri di sepanjang jalur. Barisan ibu-ibu mengenakan busana bernuansa merah dan putih sambil mengumbar senyum. Wakil Bupati pun membalas sambutan tersebut dengan melambaikan tangan kepada masyarakat.


Prosesi tersebut menjadi bagian dari pembukaan Tanah Lot Art & Food Festival VII Tahun 2026, sebuah ajang yang kembali menghadirkan semangat pelestarian seni dan budaya sekaligus pengembangan pariwisata Tabanan.
Setibanya di Wantilan Pura Tanah Lot, rombongan disambut Tari Singgasana, tari kebesaran Tabanan. Wabup Dirga yang hadir mewakili Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., kemudian secara resmi membuka Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 dengan membunyikan okokan.
Turut hadir dalam pembukaan tersebut Ida Tjokorda Anglurah Tabanan, Ketua beserta anggota DPRD Kabupaten Tabanan, jajaran Forkopimda Tabanan, Asisten Setda Kabupaten Tabanan, kepala perangkat daerah terkait, Manajer DTW Tanah Lot, Ketua Forum Perbekel dan Perbekel Desa Beraban, Bendesa Adat Beraban, serta tokoh masyarakat setempat.
Merawat Budaya, Menggerakkan Pariwisata
Setelah prosesi pembukaan, perhatian beralih pada gagasan yang menjadi dasar penyelenggaraan festival. Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan sekaligus mengangkat potensi seni, budaya, dan pariwisata Kabupaten Tabanan. Tahun ini, festival mengusung tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya”, yang bermakna menjaga kekuatan samudra menuju keharmonisan dan keseimbangan alam semesta.

Festival seni budaya yang berpusat di kawasan Tanah Lot, salah satu destinasi wisata dunia, ini menjadi ruang pertemuan antara kreativitas masyarakat, seni tradisi, kuliner lokal, dan wisatawan.
Wabup Dirga mengapresiasi penyelenggaraan Tanah Lot Art and Food Festival VII Tahun 2026. Menurutnya, festival tidak semata menjadi agenda pariwisata dan hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga seni dan budaya lokal agar tetap tumbuh di tengah masyarakat.
“Festival seperti ini bukan hanya tentang hiburan, tetapi bagaimana kita bersama-sama menjaga seni, budaya dan tradisi yang kita miliki. Tanah Lot memiliki daya tarik yang luar biasa, sehingga keberadaan festival ini harus kita manfaatkan untuk memperkenalkan potensi Tabanan kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Dirga.

Pengembangan pariwisata di Tabanan, menurut Dirga, perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat. Destinasi wisata tidak hanya diharapkan mendatangkan kunjungan, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku seni, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ekonomi kreatif, serta masyarakat lokal untuk berkembang.
“Pariwisata harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketika wisatawan datang, tentu yang kita harapkan bukan hanya menikmati keindahan alam dan budaya, tetapi juga ada pergerakan ekonomi masyarakat, UMKM dan pelaku ekonomi kreatif. Ini yang harus terus kita dorong bersama,” imbuh Dirga.
Karena itu, festival tersebut juga diharapkan menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas dan potensi seni budaya yang dimiliki. Kemasan acara yang beragam diharapkan memberikan pengalaman lebih berkesan bagi wisatawan sekaligus memperkuat citra Tanah Lot sebagai salah satu ikon pariwisata Tabanan.

“Saya berharap Tanah Lot Festival ini dapat terus berkembang dan menjadi agenda yang memberikan manfaat bagi semua. Mari kita jaga bersama kebersihan, keamanan, kenyamanan dan tentunya kesakralan kawasan Tanah Lot. Dengan kebersamaan, kita bisa menjadikan pariwisata Tabanan semakin maju tanpa meninggalkan akar budaya yang kita miliki,” pungkasnya.
Dari Kuliner hingga Panggung Seni
Usai menyampaikan arahan dari Bupati Tabanan, Wabup Dirga bersama rombongan meninjau berbagai pameran kerajinan dan kuliner yang menjadi bagian dari festival. Deretan stan ditata menarik dengan sentuhan arsitektur tradisional. Para penjaga stan pun menyambut pengunjung dengan ramah.
Aneka kuliner khas Bali menjadi salah satu daya tarik. Nasi be gulung, tipat blayag, serta beragam jajanan Bali turut memenuhi area pameran. Di klinik kuliner, pengunjung dapat mengenal dan mencicipi sejumlah sajian tradisional, seperti ulam carik, pesan tes, kuah kakul, kakul suna cekuh, rujak biir, jaja uli tape, dan rujak tibah. Pengunjung juga berkesempatan menikmati rujak tibah dan es biir secara gratis.


Tak jauh dari area kuliner, panggung budaya menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional dari sejumlah desa adat. Desa Adat Jadi dan Desa Adat Cepaka membuka rangkaian pertunjukan dengan Tari Kembang Girang, Oleg Tamulilingan, Tenun, Merak Angelo, dan Tari Condong.
Gerak tari yang atraktif menjadi perhatian tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang tengah menikmati suasana Tanah Lot.
Memasuki siang hari, Desa Adat Mundeh tampil dengan Tari Cendrawasih dan Tari Margapati. Pertunjukan berlanjut dengan penampilan Desa Adat Batan Pole dan Desa Adat Pandak Bandung yang membawakan Legong Maha Widya, Truna Jaya, serta sejumlah tari tradisional lainnya.
Menjelang sore, suasana panggung semakin semarak dengan penampilan Barong Bangkung dari Desa Adat Abiantuwung. Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan Barong Macan dari Desa Adat Kelaci Kelod.

Ketika malam tiba, rangkaian hiburan bergeser ke panggung utama. Mulai pukul 19.00 Wita, penonton disuguhkan penampilan Beni & Band, Lepas Landas, dan Vexer. Di sela-sela pertunjukan musik, Joged Bumbung dari Desa Adat Dalem Yangapi turut menghidupkan suasana.
Panggung utama kemudian berlanjut dengan musik koplo Gek Rai Koplo, disusul Nongcret Dewata yang menghadirkan Kartono dan kawan-kawan, YS Bali, hingga penampilan Jun Bintang sebagai penutup. Kehadiran para musisi tersebut mendapat sambutan meriah dari para penggemar.
Bunyi okokan yang mengawali prosesi pembukaan hingga musik yang menutup malam memperlihatkan satu rangkaian perayaan yang mempertemukan tradisi, seni pertunjukan, kuliner, dan kreativitas masyarakat. Di tengah arus pariwisata yang terus berkembang, Tanah Lot Art & Food Festival VII 2026 menghadirkan ruang bagi kekayaan budaya Tabanan untuk tetap dipertunjukkan, dinikmati, dan hadir dekat dengan kehidupan masyarakat.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)




