27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat bus disiapkan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) untuk membawa massa menuju Gedung DPR. Posko bahkan sudah didirikan di Jakarta.

Tuntutannya antara lain mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset serta pemberantasan korupsi yang lebih keras. Ada spanduk, tuntutan, dan perjalanan panjang. Ada pula energi sosial yang tidak sedikit.  Tetapi dari semua itu, ada satu hal yang justru membuat saya penasaran.

Mengapa Warga Harus Datang Jauh-Jauh ke Jakarta Agar Kekuasaan Mendengar?

Pertanyaan ini agak kurang ajar memang. Tetapi kadang justru harus begitu supaya bisa melihat dengan jelas sesuatu yang sudah terlalu lama dianggap biasa. Sebab demokrasi, seharusnya, membuat rakyat tidak perlu repot teriak sampai ke depan pagar kekuasaan hanya untuk membuktikan bahwa mereka punya suara.

 Kalau surat tidak cukup, audiensi tidak cukup, petisi tidak cukup, pernyataan sikap tidak cukup, lalu orang-orang harus naik bus dari daerah menuju ibu kota, mungkin persoalannya bukan sekadar rakyat sedang marah. Mungkin ada persoalan pada cara suara rakyat diterima.

Albert O. Hirschman, ekonom dan pemikir sosial, pernah menawarkan konsep sederhana tetapi sangat berguna melalui bukunya Exit, Voice, and Loyalty.  Menurut Hirschman, ketika orang kecewa terhadap sebuah institusi, mereka pada dasarnya mempunyai pilihan, pergi (exit) atau bersuara (voice).  Ia mendefinisikan voice sebagai “any attempt at all to change, rather than to escape from, an objectionable state of affairs” yaitu segala upaya untuk mengubah keadaan yang dianggap tidak beres, bukannya lalu meninggalkannya.

Kalau memakai kacamata Hirschman, warga Pati yang berangkat ke Jakarta sedang melakukan sesuatu yang sangat politis, mereka memilih voice.Mereka tidak diam atau sekadar menggerutu di grup WhatsApp. Mereka juga tidak memilih keluar dari sistem, malah datang ke pusat kekuasaan dan mau demo. Menariknya, Hirschman bahkan memasukkan protes dan mobilisasi opini publik sebagai bentuk voice.  Jadi demonstrasi tidak otomatis berarti masyarakat anti-demokrasi. Dalam kondisi tertentu, justru sebaliknya.

Demonstrasi Bisa Menjadi Tanda Bahwa Masyarakat Masih Percaya Sesuatu Dapat Diubah.

Logikanya, orang yang sama sekali tidak peduli mungkin memilih diam, tapi orang yang masih berharap perubahan akan memilih bersuara. Nah, persoalannya kemudian bukan lagi mengapa rakyat bersuara, tapi apakah kekuasaan masih memiliki kemampuan untuk mendengar.  Di sinilah pemikiran Jürgen Habermas menjadi menarik. Habermas melihat demokrasi bukan sekadar urusan mencoblos setiap lima tahun.

Demokrasi adalah ruang publik tempat masyarakat membentuk opini, berdebat, menyampaikan kegelisahan, kemudian memengaruhi proses politik.  Dalam pembahasan mengenai communicative power, Habermas menempatkan komunikasi publik sebagai sumber kekuatan yang dapat memberi pengaruh terhadap kekuasaan administratif dan proses pengambilan keputusan. Konsep ini menjadi salah satu bagian penting dari teori demokrasi deliberatifnya.

Bahasa sederhananya begini. Rakyat memang tidak harus duduk di kursi DPR untuk mempunyai suara. Tetapi suara itu harus mempunyai jalan menuju keputusan. Prosesnya adalah, kalau masyarakat berbicara, suara mereka kemudian masuk ke ruang pembahasan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, lalu akhhirnya ikut memengaruhi keputusan. Di sinilah artinya demokrasi bekerja, jalan.

Sebaliknya, kalau rakyat sudah bicara panjang lebar, bahkan sampai berbusa,  tetapi semuanya berhenti pada kalimat, “Oh ya, terima kasih atas masukannya.” Waduh, itu ibarat demokrasi punya mikrofon, tetapi kabelnya tidak nyambung. Ada suaranya tapi tidak sampai ke mana-mana.  Habermas membantu kita memahami bahwa problem demokrasi bukan hanya apakah rakyat boleh berbicara, tetapi juga bagaimana suara itu bertransformasi menjadi pengaruh politik.

Ini penting karena masyarakat tidak selalu menuntut semua keinginannya dikabulkan. Mereka lebih sering minta suaranya dipertimbangkan. Kalau toh akhirnya tuntutan ditolak, jelaskan mengapa. Kalau diterima, jelaskan bagaimana. Kalau masih dikaji, jelaskan sampai kapan. Jika lalu ada keputusan, harus dapat dipastikan hali tu memang berpihak pada rakyat.

Jangan Anggap Kerumunan Sebagai Sekumpulan Orang yang Kehilangan Akal

Tetapi hati-hati untuk melihat demonstasi yang melibatkan massa ini. Ada pula kebiasaan lama dalam melihat demonstrasi. Begitu orang berkumpul dalam jumlah besar, kita buru-buru menyebutnya “massa”. Lalu muncul asumsi bahwa massa gampang diprovokasi, emosional, tidak rasional, dan tinggal menunggu seseorang meniup peluit agar semuanya menjadi kacau. 

Stephen Reicher, salah satu tokoh penting dalam studi psikologi massa, secara eksplisit menantang pandangan bahwa tindakan kerumunan berasal dari hilangnya identitas dan bahwa perilaku massa bersifat “mindless”, asal-asalan. Dalam artikelnya, ia menulis bahwa pendekatan tersebut perlu ditinggalkan, karena tindakan kolektif memiliki konteks sosial dan identitas kelompok.

Artinya mereka  adalah orang-orang yang punya identitas bersama. Masing-masing orang bertemu orang lain yang mempunyai keresahan serupa. Di sini persoalan yang semula terasa sebagai masalah pribadi berubah menjadi masalah bersama.  Dari situlah tindakan kolektif memperoleh energi. Maka cara memandang adanya sebuah demonstrasi, bukan cuma sekadar berapa orang yang ikut demo, tetapi apa sih, yang membuat begitu banyak orang merasa perlu ikut. Kalau cuma melihat jumlah, akan ada sesuatu yang hilang, yaitu pengalaman manusia di balik angka tersebut.

Karena itu, ketika warga datang ke depan gedung parlemen, jangan hanya melihat jumlah kepalanya. Lihat pula makna kehadirannya.  Mereka sedang mengatakan bahwa mereka ada, mereka melihat, dan mereka mempunyai pendapat mengenai bagaimana negara ini dijalankan. Dalam politik, kehadiran semacam itu penting. Sebab negara yang melulu melihat masyarakat melalui tabel, grafik, dan laporan dapat mengalami sesuatu yang ironis. Informasinya banyak, dikit-dikit sensus, tetapi sensitivitasnya menurun. 

Empati Politik Bukan Berarti Menyetujui Semua Tuntutan

Di sini kita perlu berhati-hati.  Mendengarkan rakyat bukan berarti pemerintah harus mengabulkan semua permintaan. Kalau demikian, itu bukan demokrasi. Demokrasi justru memungkinkan adanya perbedaan pendapat. Artinya, masyarakat bisa salah, pun Pemerintah juga bisa salah. Parlemen bisa salah, aktivis bisa salah, akademisi pun, mohon maaf, bisa salah. Karena itu, yang dibutuhkan bukan kekuasaan yang selalu mengangguk.

Yang dibutuhkan adalah kekuasaan yang mampu memahami alasan di balik kemarahan masyarakat. Empati politik, kalau boleh saya sederhanakan, adalah kemampuan untuk mempertanyakan mengapa persoalan ini terasa begitu penting bagi masyarakat.  Tetapi nyatanya yang ditanyakan justeru adalah, siapa yang menyuruh mereka, siapa yang membiayai, siapa yang berada di belakangnya, dan seterusnya. Namun tidak bisa dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tetap penting dalam konteks tertentu. Karena dalam politik, hal seperti ini banyak yang ikut ndompleng kepentingan.

Tetapi sebelum mencari dalang, dalam koridor demokrasi, ada baiknya mencari alasannya dulu. Sebab memang sih, pasti ada seseorang yang mungkin mengorganisasi demonstrasi. Tetapi ia tidak bisa menciptakan keresahan dari ruang kosong. Selalu ada pengalaman sosial yang menjadi bahan bakarnya.

Mungkin Bukan Rakyat yang Terlalu Ribut

Karena itu, saya kira perjalanan warga Pati ke Jakarta sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai cerita tentang demonstrasi. Ia dapat dibaca sebagai pertanyaan tentang kualitas komunikasi dalam demokrasi. Hirschman mengajarkan bahwa voice adalah usaha memperbaiki keadaan dari dalam.  Habermas menunjukkan bahwa suara publik membutuhkan jalan menuju kekuasaan politik.  Reicher mengingatkan bahwa kerumunan bukan sekumpulan manusia yang otomatis kehilangan akal.  Arendt mengingatkan bahwa manusia menjadi makhluk politik melalui kemampuan hadir, berbicara, dan bertindak bersama.

Keempatnya memberi kita satu pelajaran sederhana bahwa rakyat tidak seharusnya menjadi penonton dalam negara yang mengaku sebagai milik rakyat.  Kembali lagi, saya kira pertanyaan paling penting bukan siapa yang menggerakkan warga Pati, tetapi apa yang membuat mereka merasa perlu datang sejauh itu. 

Sebab pertanyaan pertama mencari musuh, pertanyaan kedua mencari akar masalah.  Dan pemimpin yang matang mestinya lebih tertarik mencari akar masalah daripada mencari musuh.  Kalau rakyat harus naik bus dari Pati menuju Jakarta agar suaranya terdengar, jangan buru-buru menganggap mereka cuma terlalu ribut cari perkara. 

Mungkin jarak Pati-Jakarta tidak terlalu jauh. Yang terlalu jauh adalah jarak antara suara rakyat dan telinga kekuasaan. Tugas demokrasi di negara kita sekarang adalah memastikan bahwa sebenarnya rakyat tidak perlu sampai berteriak ke depan pagar parlemen untuk sekadar didengar. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: demonstrasikekuasaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

Next Post

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ------Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co