PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa” diadakan Program Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Bali pada tanggal 17 November sampai 31 Desember 2023 di Santrian Art Gallery, Sanur, Bali.
Judul pameran ini berkaitan dengan tema besar Pesta Kesenian Bali yang diadakan Pemerintah Provinsi Bali pada tahun yang sama. “Surya Segera Rupa” artinya penghormatan terhadap alam seperti matahari dan laut terhadap kehidupan, serta seni budaya Bali.
Eksplorasi dalam pameran ini tidak hanya memperlihatkan kemahiran setiap perupa dalam mengekspresikan berbagai ide dan metode, tetapi juga mengekspresikan berbagai cerita yang ingin diangkat dengan berbagai pesan yang bernada kehidupan serta spiritual.

Di antaranya terdapat karya yang membawa kita berimajinasi bahwa laut adalah makhluk hidup. Ia berpikir, bertindak, bersuara, sebagaimana seorang manusia. Ia bukan sekedar air yang beriak serta membentang sejauh mungkin.
Dalam pameran ini, I Wayan Mudana, seorang Dosen Seni Murni dan praktisi seni rupa, pernah memvisualisasikannya lewat lukisan “Telur Segara, Bibit Kehidupan”. Menurut Mudana pameran ini menjadi wadah untuk mengingatkan kembali pemuliaan nilai-nilai surya (baca: agung) alam segara (baca: laut) yang semakin hari semakin menurun untuk diperhatikan.
Segara, walaupun ia bukan sebidang tanah, juga merupakan sumber kehidupan. Air sejatinya bagian terbesar dari tubuh manusia, begitu juga di bumi yang kita tinggali ini. Rasanya sanksi, pencemaran laut, abrasi pantai, hancurnya terumbu karang, telah menjadi bagian dari kehidupannya juga. Ketidakseimbangan ekosistem laut yang terjadi karena ulah manusia juga berdampak pada manusia itu sendiri. Dengan itu, terbesit oleh Mudana untuk mengkreasikan sebuah visualisasi metafora dengan menghadirkan sebuah bibit kehidupan yang disebut “Telur Segara”.
Pada karyanya, Mudana menghadirkan beberapa simbol. Lingkaran yang dimaknai sebagai telur atau bibit kehidupan semua makhluk hidup. Warna kuning sebagai kesucian karena laut merupakan tempat yang disucikan. Warna biru sebagai lautan yang terkadang tenang atau bergejolak namun dipercaya sebagai tempat menetralisir. Serta bidang-bidang menggumpal sebagai cerminan simbiosis mutualisme – dimana sesama makhluk hidup saling bergantungan.

Para Kurator Pameran “Surya Segara Rupa”, Jang Shin Jeung, MA, dan Warih Wisatsana, menyampaikan bagaimana karya Mudana termasuk dalam salah satu gaya kekaryaan di pameran ini. Karya Mudana merepresentasikan segara atau laut dalam gaya abstrak dengan berbagai simbolisasi warna serta objek. Dalam bahasa rupa, ikonografi serta kontekstualisasi transformasi sosio-budaya disampaikan berdasarkan pengalaman masing-masing. Secara keseluruhan pameran “Surya Segara Rupa” memperlihatkan penggambaran makrokosmos Bali serta ekspresikan pelestarian alam.
Maka yang terangkat dalam karya “Telur Segara, Bibit Kehidupan” ini seakan memperlihatkan secara gamblang bagaimana jika bidang air seperti laut itu merupakan makhluk hidup. Ia akan tumbuh menjadi dewasa, mempelajari sekitarnya, namun di saat yang sama ia mendapatkan dampak-dampak tertentu yang tidak bisa dihindarkannya. Ia hidup bersama makhluk hidup yang tinggal di antara riak gelombangnya. Bernafas, bertindak, berpikir bersamanya. Imajinasi ini yang hendak ditanamkan Mudana kepada yang berkesempatan melihat karyanya di Santrian Art Gallery, Sanur.
“Telur Segara, Bibit Kehidupan” bermaksud untuk mengajak sesama manusia dalam melihat kembali hubungan antara diri, lingkungan, serta nilai-nilai yang memberi arah kehidupan. Bahkan sampai di tahun 2026 pun, kita masih melihat berbagai permasalahan tentang laut termasuk pencemaran, eksploitasi, dan banyak lagi. Maka menjadi penting bagaimana kita sadar atas posisi serta kondisi kita sebagai manusia dan untuk mengupayakan keselarasan irama kehidupan sekitar kita.
“Keseimbangan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan hasil dari relasi yang terus dijaga. Melalui bahasa visual, karya ini mengajak kita untuk menyadari ritme batin kita sebagai seorang manusia,” jelas Mudana. [T]
Penulis: Savitri Sastrawan
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









