PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa dengan persyaratan tertentu. Peryaratan tertentu itu antara lain ber-Kartu Keluarga Badung minimal 5 tahun, tidak sedang menerima beasiswa lain, orang tua berpenghasilan tidak lebih daripada Rp 5.000.000,00/bulan, dan tidak berlaku bagi anak ASN.
Dalam konteks Indonesia memasuki 81 Tahun Kemerdekaan, Program Beasiswa Motivasi Nak Badung adalah salah satu cara melunasi janji kemerdekaan, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Program ini koheren dengan Program Pemerintah Provinsi Bali : satu keluarga satu sarjana. Lebih-lebih, Gubernur Koster punya program khusus berkearifan Bali dengan beasiswa bagi anak bergelar Nyoman dan Ketut. Program ini selain berbasis budaya Bali dengan KB 4 anak, juga menyiratkan keberlanjutan program pembangunan Sumber Daya Manusia Bali Unggul yang utuh dari Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Manusia Bali Unggul bercirikan teliti/detail, lemuh tusing elung (lemah lembut), dabdab (tenang), ipil-ipil (mengumpulkan secara bertahap), tragia (siap siaga), lascarya (tulus ikhlas), dan someh (ramah, sopan).
Menariknya Program Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menggunakan diksi “Beasiswa Motivasi Nak Badung” yang merujuk pada makna anak-anak Badung dari Muncuk Keris (Petang) sampai Bongkol Keris (Kuta Selatan). Secara leksikal, badung artinya nakal. Nak Badung berarti anak nakal. Dalam konteks ini, nakal pun bisa bermakna positif. Cetetukan-celetukan nakal dapat dijumpai dalam pentas seni.

Ketika Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII yang digelar di Taman Budaya Denpasar Juli 2026, celetukan-celetukan nakal misalnya muncul sebagai ruang kritik sosial terkait persoalan bangsa yang sedang berlangsung seperti janji-janji pemimpin yang belum dilaksanakan. Inilah disebut pemikiran transitif kritis oleh Paulo Freira, paedog Brasil yang gagasannya dijumpai pula di Perguruan Taman Siswa dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai arsiteknya. Para aktor dalam pentas FSBJ VIII 2026 hadir mengisi ruang kosong yang seharusnya disuarakan para legislator dan disajikan dengan cerdas dan penuh tawa. Mereka menerima pemimpin sekaligus mengkritisi sebagai pertanda memiliki, mencintai, sekaligus memperbaiki ke arah tujuan bersama ; mencerdaskan. Bukan menjajah, menindas dan membodohi, melainkan memerdekakan secara lahir batin.
Bila Nak Badung merujuk pada warga Badung dari Petang sampai Kuta Selatan yang pastinya mereka adalah anak-anak desa. Nak Desa dalam kearifan lokal Delod Ceking mengacu pada mereka yang tinggal di lingkungan pemukiman Tanah Ayahan Desa tempat Pura Paibon, Merajan, Dadia berdiri. Di tempat itu, umumnya sikut karang satakan diimani dan diajegkan. Di sana, mandala dibagi tiga : Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala.
Di Utama Mandala berdiri jejer kemiri Pura yang relatif lengkap termasuk ada Penyawangan ke berbagai Pura yang berbeda antar Paibon, Merajan, atau Dadia. Uniknya, banyak di antaranya tanpa catatan mengapa dan bagaimana penyawangan itu didirikan. Generasi pewarisnya meyakini secara gugon towon. Tidak berani mengubah apalagi meniadakan. Janji leluhur tidak terlacak dalam tulisan. Tanda rendahnya literasi. Pun tidak terdengar cerita lisan yang mengiringi sebagai bentuk transfer dari generasi terdahulu ke pewarisnya.
Di Madya Mandala, berdiri bale dangin (tempat tidur), bale daja, bale delod, bale gede, Sanggah Surya di tengah halaman, Tugu Karang di bucu Kaja Kauh, dapur, kamar kecil. Selanjutnya, di Nista Mandala berdiri pintu gerbang dan telajakan. Madya mandala menjadi pusat aktivitas kemanusiaan dalam konteks Manusa Yadnya.
Dengan demikian, Nak Desa dalam konsep pemukiman Delod Ceking mengacu pada anak-anak dari orang tua yang menempati karang ayahan yang berada di pusat desa. Karang ayahan ini dapat dikatakan sebagai karang suci karena ditempat inilah berbagai upacara besar tingkat keluarga dimulai dan berakhir. Status mereka yang menempati karang ayahan desa sebagai pangijeng bertugas sekala niskala. Ini mengingatkan kita pada lagu “Putri Cening Ayu” yang anonim pengarangnya. “Putri cening ayu, ngijeng cening jumah, meme luas malu, ka peken mablanja, apang ada daarang nasi”. Syair yang mendunia dengan diksi sederhana tetapi kaya makna. Lebih-lebih terus-menerus dinyanyikan. Dalam rangka mewujudkan SDM Bali Unggul, syair ini dapat menjadi lagu wajib dalam mendidik anak selain lagu “Bibi Anu”, misalnya.

Penyebutan rumah di karang ayahan desa disebut Umah jumah, sesederhana apa pun bentuknya. Barangkali di sinilah makna mendalam dari frase, “ngijeng cening jumah”, dalam syair lagu Putri Cening Ayu. Mengapa ? Umah Jumah dengan sikut karang satakan, ada pura keluarga (paibon, dadia, merajan) yang harus dirawat dan dijaga. Merawat dengan mabanten saiban setiap hari, menjaga kebersihannya dengan menyapu setiap hari. “Geginane buka nyampat, ilang luu, buuke katah”, sebagaimana diingatkan dalam Pupuh Ginada. Itu menjadi tugas berat Nak Desa sebagai pangijeng.
Berbeda dengan rumah di luar karang ayahan di pusat desa, seelit apa pun bentuknya, tetap disebut sebagai kubu dimel. Di Delod Ceking, jika ada orang bertanya, “Kal kija?” lalu dijawab
‘mulih’ dapat dipastikan ia tinggal di karang ayahan desa, sering pula disebut umah tua. Namun, jika dijawab “ke kubu” dapat dipastikan yang bersangkutan tinggal dimel. Dimel artinya di alas atau di teba, atau di abian.
Ketika zaman listrik belum merata sebelum 1990-an, ada perbedaan kontras antara Nak Dimel dan Nak Desa. Nak Dimel belajar pakai lampu sentir/sembe/lancir, Nak Desa belajar berdamar lampu listrik. Nak Dimel bila belajar malam hari lubang hidungnya penuh mangsi, Nak Desa bersih dari mangsi.
Ada pula yang menarik saat Desa Kutuh masih satu wilayah perbekelan dengan Desa Ungasan. Saat Lomba Desa pada 1980-an, wilayah desa pun disebut wilayah Perkotaan Desa Ungasan. Idiom yang sesungguhnya mengacu pada pusat desa yang berbeda dengan dimel yang relatif komel. Seolah belum terjamah kemajuan. Jalan berdebu kala panas, becek kala hujan dan harus dilalui dengan telanjang kaki. Maka, Nak Desa mengesankan priyayi, sedangkan Nak Dimel bisa di-cai. Umumnya Nak Dimel, matilesang raga. Tahu diri. Nyaris minder tanpa harga yang disebut inferiority complex dalam psikologi.
Penyebutan umah jumah dan kubu dimel merata berlaku sampai kini bagi desa-desa di Delod Ceking, seperti Jimbaran, Pecatu, Ungasan, Kutuh, Kampial, Bualu, Peminge, Tanjung, Tengkulung. Seiring dengan itu, sapaan untuk ayah pun, sama : Nanang setidaknya hingga menjelang1990-an. Namun kini, sapaan Nanang ditelan zaman dimakan gengsi. Bahkan ada bapak-bapak yang merasa tidak nyaman dipanggil Nanang. Padahal, bagi orang Delod Ceking, Nanang sering diberikan tambahan makna positip dengan penekanan intonasi penegas Naaenang ‘kuat bertahan’. Kini dan nanti Nanang bertahan di dunia pewayangan, sedangkan generasinya makin tidak suka wayang. Dikalahkan drakor Korea atau Doraemon Jepang atau Upin-Ipin Malaysia. Mabalih wayang, mamangsi cunguhe. Mungkin.

Begitulah beasiswa motivasi Nak Badung mesti dimaknai. Selain mencakup warga wilayah dari gunung di Petang, juga mencakup warga wilayah laut di Kuta Selatan. Maka dalam konteks Bebadungan, beasiswa ini mencerminkan keseimbangan wilayah segara-giri. Oleh karena ada di antara mereka yang tinggal di pusat desa menempati karang ayahan desa dengan status Nak Desa maka mereka pun harus terjangkau. Begitu pun mereka yang tinggal di luar karang ayahan desa, yang disebut dimel dengan status Nak Dimel juga harus dilayani. Demokratisasi Pendidikan berkearifan Bali menjadi inklusif dari Badung untuk Indonesia cerdas mendunia. Nak Badung, Nak Desa, dan Nak Dimel berdaya, berbudaya, dan bercahaya. Salam Cura Dharma Raksaka dari Nak Badung yang pernah nongos di kubu dimel, sekarang ngijeng jumah.[T]






























