Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day
Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti perayaan sederhana tentang anak muda, tetapi sejarahnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting: masyarakat internasional perlahan menyadari bahwa masa depan dunia tidak dapat dibangun tanpa melibatkan kaum muda. Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 1965 telah menaruh perhatian pada peran pemuda dalam perdamaian, saling menghormati, pembangunan, dan kehidupan masyarakat.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1985, ketika PBB menetapkan International Youth Year dengan tema “Participation, Development and Peace”—partisipasi, pembangunan, dan perdamaian. Pesannya jelas: pemuda bukan sekadar generasi yang sedang menunggu giliran memimpin. Mereka sudah memiliki peran dalam kehidupan masyarakat hari ini. Bahkan PBB kemudian mengembangkan World Programme of Action for Youth untuk memberi kerangka yang lebih luas terhadap persoalan dan potensi generasi muda.
Yang menarik, gagasan mengenai International Youth Day sendiri tidak semata-mata lahir dari birokrasi internasional. Pada 1991, anak-anak muda yang berkumpul dalam World Youth Forum di Wina, Austria, mengusulkan adanya hari internasional untuk meningkatkan perhatian terhadap persoalan dan potensi kaum muda. Enam tahun kemudian, gagasan tersebut bergerak menuju keputusan internasional yang lebih konkret.
Pada 8–12 Agustus 1998, World Conference of Ministers Responsible for Youth berlangsung di Lisbon, Portugal. Konferensi tersebut mengusulkan tanggal 12 Agustus sebagai International Youth Day. Bahkan pemilihan tanggal itu menarik: semula ada usulan tanggal lain, tetapi 12 Agustus diterima karena merupakan hari penutupan konferensi.
Kemudian pada 17 Desember 1999, Majelis Umum PBB melalui Resolusi 54/120 secara resmi mengesahkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Peringatan pertamanya berlangsung pada 12 Agustus 2000. Dengan demikian, hari ini, 12 Agustus 2026, merupakan peringatan ke-27 sejak peringatan internasional pertamanya.
Ada sesuatu yang patut direnungkan dari sejarah tersebut. Dunia tidak sekadar membutuhkan pemuda yang pintar, tetapi pemuda yang berpartisipasi, kreatif, mampu menghadapi tantangan, dan memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab. Karena itu, Hari Pemuda seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah undangan untuk bertanya: pemuda seperti apa yang sedang kita bentuk?
“Taklukkan Tantangan, Berdayakan Dirimu”
Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada buku Guruji Anand Krishna, Youth Challenges and Empowerment, Taklukkan Tantangan & Berdayakan Dirimu. Ada relevansi yang sangat kuat antara semangat buku tersebut dengan makna International Youth Day. Jika PBB berbicara tentang pemuda sebagai partner bagi masyarakat dunia, Guruji mengajak pemuda memulai perjalanan itu dari dalam dirinya sendiri.
Pesan Guruji yang teringat kembali adalah: “Pintar-pintarlah menentukan potensi diri.” Kalimat ini sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Tantangan pertama seorang anak muda bukan selalu dunia di luar dirinya. Tantangan pertama justru adalah menemukan siapa dirinya, apa kekuatannya, apa bakatnya, dan untuk apa potensi itu hendak digunakan.
Kita sering melakukan kesalahan ketika mengukur keberhasilan anak muda hanya dengan standar yang seragam. Semua diarahkan untuk mengejar profesi tertentu, gelar tertentu, pendapatan tertentu, atau status sosial tertentu. Padahal manusia tidak dilahirkan sebagai produk massal. Setiap orang membawa kemungkinan yang berbeda. Pendidikan semestinya membantu manusia menemukan potensinya, bukan sekadar mencetak manusia yang pandai mengikuti pola.
Karena itu pesan berikutnya menjadi sangat penting: “Jadilah orisinal karena orisinal adalah kreativitas.” Menjadi orisinal bukan berarti sengaja tampil berbeda demi mendapatkan perhatian. Orisinalitas berarti berani menemukan suara sendiri, cara berpikir sendiri, kekuatan sendiri, dan jalan pengembangan diri sendiri.
Di tengah dunia yang penuh imitasi, pesan ini semakin relevan. Media sosial membuat anak muda mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka melihat keberhasilan orang lain, kemudian merasa dirinya tertinggal. Mereka melihat gaya hidup orang lain, lalu ingin menirunya. Padahal mungkin justru di dalam dirinya terdapat sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Pemberdayaan diri, dengan demikian, bukan sekadar membuat seseorang menjadi kuat. Ia adalah proses menemukan potensi, mengembangkan kreativitas, membangun keberanian, dan akhirnya mengubah kemampuan pribadi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pemuda yang berdaya bukan pemuda yang merasa paling hebat, melainkan pemuda yang tahu siapa dirinya dan tahu untuk apa kekuatannya digunakan.
Dari Pemuda yang Orisinal Menuju Manusia yang Memberi
Kalau kita tarik lebih jauh, pesan tersebut sejalan dengan perjalanan manusia dalam kerangka Pancamaya Kosha. Pengembangan diri tidak berhenti pada tubuh dan keterampilan fisik. Manusia bergerak dari Annamaya Kosha, mengelola energi melalui Pranamaya, mengolah pikiran melalui Manomaya, menemukan kejernihan dan kebijaksanaan melalui Vijnanamaya, hingga menyentuh kedalaman keberadaan melalui Anandamaya.
Dengan perspektif ini, youth empowerment menjadi jauh lebih luas daripada sekadar pelatihan kepemimpinan atau kesiapan memasuki dunia kerja. Pemberdayaan adalah pendidikan manusia seutuhnya. Anak muda perlu kuat secara fisik, sehat dalam mengelola energi, jernih dalam berpikir, matang dalam mengambil keputusan, dan memiliki kesadaran bahwa hidupnya memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih luas.
Di sinilah slogan “Youth—The Dreamers of Today; Leaders of Tomorrow” memperoleh makna yang lebih dalam. Menjadi dreamer bukan sekadar memiliki mimpi. Mimpi perlu menemukan bentuknya melalui kreativitas, disiplin, keberanian, dan tindakan. Sedangkan menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan. Kepemimpinan pertama-tama adalah kemampuan memimpin diri sendiri.
India bahkan memiliki tradisi kepemudaan yang sangat kuat melalui National Youth Day pada 12 Januari, yang memperingati kelahiran Swami Vivekananda. Pemerintah India mengaitkannya dengan National Youth Week dan berbagai kegiatan kepemudaan. Jadi, India memiliki dua momentum yang berbeda: 12 Januari sebagai National Youth Day, dan 12 Agustus sebagai International Youth Day.
Dalam konteks itu, buku Guruji terasa semakin aktual. Dunia boleh berbicara tentang youth participation, youth leadership, youth empowerment, dan youth creativity. Tetapi semuanya kembali kepada pertanyaan paling mendasar: sudahkah seorang anak muda mengenali potensinya sendiri?
Sebab manusia yang belum mengenal potensinya mudah menjadi pengikut. Ia mudah meniru, mudah terbawa arus, dan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, manusia yang menemukan potensinya memiliki peluang menjadi orisinal. Dan ketika orisinalitas berkembang menjadi kreativitas, lahirlah kemungkinan untuk menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.
Maka 12 Agustus bukan hanya Hari Pemuda. Ia dapat menjadi hari untuk bercermin, termasuk bagi mereka yang secara biologis sudah tidak muda lagi. Sebab semangat muda sesungguhnya bukan hanya soal usia. Ia adalah kemampuan untuk tetap belajar, bertumbuh, bertanya, mencipta, dan memberi.
Pesan Guruji akhirnya menemukan relevansinya: kenali potensimu, taklukkan tantanganmu, berdayakan dirimu, jadilah orisinal. Karena dunia tidak membutuhkan jutaan manusia yang menjadi salinan satu sama lain. Dunia membutuhkan manusia yang menemukan keunikannya, mengolahnya menjadi kreativitas, lalu mempersembahkannya bagi kehidupan.
Pemuda hari ini adalah pemimpi. Tetapi pemimpi yang menemukan potensi dirinya, berani menjadi orisinal, dan mau mengabdikan kreativitasnya bagi sesama—dialah yang berpeluang menjadi pemimpin masa depan. [T]































