12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

AA Ayu Mayun Artati by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
in Panggung
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

Cipta Pagelaran Intermedium Rena di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur | Foto: Istimewa

“Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke hadapan generasi sekarang.“

GUNUNG Batur di Kintamani, Bangli, tidak hanya menyimpan keindahan. Catatan para pengunjung Bali pada dekade 1920-an menggambarkan gunung ini sebagai lanskap yang sekaligus mempesona dan menggentarkan. Asap keluar dari kawah, gemuruh terdengar, dan gempa sesekali mengguncang kawasan Kintamani. Bagi masyarakat Batur, tanda-tanda alam tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka bersama gunung yang juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan spiritual.

Pada tanggal 2 Agustus 1926 tengah malam, gempa vulkanik menandai dimulainya erupsi besar. Aktivitas gunung sempat mereda pada siang hari berikutnya, tetapi kembali meningkat pada malam harinya. Lava pijar kemudian bergerak menuju permukiman Desa Batur Let yang berada di lereng Gunung Batur. Dalam waktu singkat, kehidupan masyarakat berubah. Desa lama hancur dan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Peristiwa itulah yang kemudian dikenang sebagai Rarud Batur.

Namun, Rarud Batur bukan hanya cerita tentang kehancuran. Di dalamnya terdapat kisah tentang bagaimana masyarakat menyelamatkan kehidupan, menjaga warisan spiritual, menjalani pengungsian, dan akhirnya membangun kembali kehidupan di tempat yang baru. Karena itu, satu abad kemudian, yang diperingati bukan semata-mata bencana, tetapi juga daya hidup masyarakat Batur setelah bencana.

Semangat itulah yang diangkat dalam Cipta Pagelaran Intermedium Rena, yang dipentaskan pada 3 Agustus 2026 di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur dalam rangka memperingati 100 tahun Rarud Batur. Rena tidak mencoba menghadirkan sejarah dalam bentuk kronologi yang lengkap. Karya ini memilih satu garis perjalanan yang sederhana, tetapi kuat: kehidupan, kehancuran, pengungsian, dan kebangkitan.

Cipta Pagelaran Intermedium Rena di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur | Foto: Istimewa

Pertunjukan dimulai dari kehidupan sehari-hari masyarakat Batur. Penonton diperlihatkan suasana kehidupan sebelum bencana, kondisi masyarakat yang bekerja, berinteraksi, dan menjalani kesehariannya. Bagian ini menjadi penting karena memperlihatkan apa yang kemudian hilang ketika gunung meletus. Kemudian suasana berubah, ketika Gunung Batur meletus. Ketenangan berubah menjadi kepanikan. Kehidupan yang sebelumnya tertata menjadi porak-poranda. Masyarakat tercerai-berai dan harus meninggalkan tempat tinggal mereka.

Perubahan tersebut tidak disampaikan melalui cerita verbal semata. Di sinilah pendekatan intermedium menjadi kekuatan Rena. Tari, karawitan, seni rupa, teater, tata rias, dan tata cahaya dipertemukan untuk memvisualisasikan perjalanan masyarakat Batur. Tari menjadi bahasa tubuh. Gerak dan formasi penari berubah mengikuti perjalanan cerita: dari aktivitas keseharian, kepanikan akibat bencana, masyarakat yang tercerai-berai, hingga kebersamaan yang kembali tumbuh. Tubuh penari menjadi representasi masyarakat yang mengalami perubahan drastis dalam waktu singkat.

Karawitan membangun perjalanan suasana melalui bunyi. Musik tidak hanya mengiringi tari, tetapi ikut membentuk ketegangan, kepanikan, kesunyian pengungsian, hingga energi kebangkitan. Perubahan musikal membantu penonton mengikuti perubahan emosional yang terjadi di atas panggung. Seni rupa melalui ogoh-ogoh memperkuat dimensi visual. Ogoh-ogoh hadir sebagai bagian dari bahasa rupa pertunjukan dan membantu menghadirkan kekuatan simbolik serta suasana dramatik. Kehadirannya memperluas pengalaman penonton dari sekadar melihat gerak dan mendengar musik menjadi berhadapan dengan objek visual yang memiliki daya tarik tersendiri.

Teater menghadirkan pengalaman manusia di balik peristiwa sejarah. Ketakutan, kehilangan, perpindahan, dan usaha untuk bertahan menjadi pengalaman dramatik yang membuat Rarud Batur terasa lebih dekat sebagai kisah manusia, bukan sekadar catatan sejarah. Sementara itu, tata rias dan tata cahaya memperkuat perubahan karakter dan suasana. Tata rias membantu membangun tampilan para pelaku, sedangkan tata cahaya mengarahkan fokus penonton dan mempertegas perubahan atmosfer dari kehidupan normal menuju bencana, pengungsian, dan kebangkitan.

Pertemuan berbagai medium tersebut kemudian membawa pertunjukan memasuki fase pengungsian. Masyarakat Batur digambarkan meninggalkan tempat tinggal mereka dan menuju tempat sementara di Desa Bayung Gede.

Bagian ini memiliki pijakan sejarah yang kuat. Ketika Rarud Batur terjadi, masyarakat tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi juga menyelamatkan benda-benda sakral dan pusaka Pura Ulun Danu Batur. Arca, pusaka, pustaka rajapurana, bahkan bagian dari struktur jero agung pura berhasil dievakuasi dan untuk sementara ditempatkan di Bayung Gede. Kehidupan spiritual pun tetap berjalan; upacara seperti Ngusaba Kadasa sempat dilaksanakan di tempat pengungsian. Artinya, perpindahan tersebut bukan sekadar perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Masyarakat Batur membawa kebudayaan dan keyakinan mereka bersama mereka.

Setelah sekitar dua tahun, masyarakat kemudian direlokasi ke Kalanganyar, lokasi Desa Batur yang sekarang. Nama Kalanganyar, diambil dari kata kalangan berarti panggung dan anyar berarti baru, seolah-olah menggambarkan semangat untuk memulai kehidupan dari awal.

Di tempat baru inilah masyarakat kembali membangun kehidupan. Mereka membangun rumah, menata kembali lingkungan, dan yang sangat penting, membangun kembali Pura Ulun Danu Batur dengan menyesuaikan tatanannya dengan pura lama di kaki Gunung Batur. Pembangunan pura tersebut rampung pada 1935 dan kemudian disertai rangkaian upacara keagamaan.

Perjalanan inilah yang menjadi klimaks Rena. Setelah bencana dan pengungsian, masyarakat tidak digambarkan sebagai korban yang terus-menerus berada dalam kesedihan. Mereka bangkit. Mereka membangun kembali desa. Mereka membangun kembali ruang spiritual. Mereka menyatukan kembali kehidupan sosial yang sempat tercerai-berai.

Kebangkitan menjadi pesan utama karya. Dengan demikian, Rena tidak menempatkan Rarud Batur hanya sebagai kisah tentang sesuatu yang pernah hancur. Karya ini justru mengarahkan perhatian pada apa yang terjadi sesudah kehancuran: bagaimana manusia menemukan kekuatan untuk memulai kembali.

Menariknya, pesan tersebut tidak hanya sampai kepada penonton yang telah mengetahui sejarah Batur. Anak-anak yang menyaksikan pertunjukan menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Bagi sebagian anak, Rarud Batur mungkin sebelumnya hanya berupa cerita yang mereka dengar dari orang tua atau para tetua. Namun di atas panggung, cerita itu menjadi nyata dalam imajinasi mereka. Mereka melihat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, menyaksikan gunung meletus, melihat kepanikan dan pengungsian, kemudian menyaksikan bagaimana masyarakat tersebut bangkit. Mereka terpesona bukan karena sedang mengikuti pelajaran sejarah, tetapi karena sejarah hadir sebagai pertunjukan.

Mereka belajar melalui gerak penari, bunyi karawitan, bentuk ogoh-ogoh, adegan teater, cahaya, dan tata visual. Mereka mungkin belum mengingat seluruh tanggal dan detail sejarah Rarud Batur, tetapi mereka mulai memahami sebuah cerita penting: bahwa Batur yang mereka kenal hari ini dibangun melalui perjalanan panjang dan perjuangan masyarakatnya. Di sinilah Rena menemukan fungsi lainnya. Ia menjadi ruang belajar sejarah melalui pengalaman artistik.

Bagi generasi yang lebih tua, pertunjukan ini dapat membangkitkan kembali cerita yang diwariskan oleh para tetua. Bagi generasi yang lebih muda, terutama anak-anak, pertunjukan menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah leluhurnya. Di antara keduanya, seni menjadi jembatan yang menghubungkan ingatan masa lalu dengan generasi yang akan mewarisinya.

Cipta Pagelaran Intermedium Rena di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur | Foto: Istimewa

Pemilihan Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur sebagai lokasi pertunjukan juga memperkuat pengalaman tersebut. Rena hadir bukan di ruang yang netral, tetapi di lingkungan yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah dan kehidupan spiritual masyarakat Batur. Ruang pertunjukan sekaligus menjadi bagian dari cerita yang sedang dihidupkan kembali.

Karya ini merupakan luaran Penelitian dan Penciptaan Seni Desain (P2SD) Berdampak yang dilaksanakan oleh dosen Institut Seni Indonesia Bali. Karya tersebut diketuai oleh Anak Agung Ayu Mayun Artati, dengan anggota I Gede Oka Surya Negara, Ni Nyoman Kasih, Made Ayu Desiari, I Gede Radiana Putra, dan Sang Nyoman Gede Adhi Santika.

Melalui proses penelitian dan penciptaan, sejarah, kebudayaan, nilai lokal, dan ingatan masyarakat diterjemahkan menjadi pengalaman artistik. Penelitian menjadi pijakan untuk memahami peristiwa, sementara seni menjadi bahasa untuk menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada masyarakat.

Seratus tahun setelah Rarud Batur, masyarakat Batur tidak hanya mengenang apa yang pernah hilang. Mereka juga mengingat apa yang berhasil dibangun kembali. Rena mengingatkan bahwa bencana memang dapat menghancurkan tempat, tetapi tidak selalu mampu menghentikan kehidupan. Ada kebudayaan yang dapat diselamatkan. Ada ingatan yang dapat diwariskan. Ada masyarakat yang dapat membangun kembali dirinya. Dan mungkin, ada pula anugerah yang baru terlihat setelah semuanya berlalu.

Dari Rarud Batur menuju Rena, yang dirawat bukan hanya ingatan tentang sebuah bencana, tetapi ingatan tentang keberanian untuk bangkit. Ketika anak-anak menyaksikan kisah itu dengan mata penuh kekaguman, sejarah Batur pun menemukan cara baru untuk terus hidup bukan hanya dalam cerita para tetua, tetapi juga dalam imajinasi generasi yang akan meneruskannya.[T]

Penulis: Anak Agung Ayu Mayun Artati
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaturBatur Village FestivalBatur Village Festival 2026ISI BaliPura Baturseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

Next Post

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

AA Ayu Mayun Artati

AA Ayu Mayun Artati

Seniman akademik yang sering mendapatkan kepercayaan ikut serta dalam kegiatan penjurian pada event lomba tari Bali sejak tahun 2005. Dia adalah seorang dosen Prodi Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Bali. Terlibat sebagai koreografer dalam pertunjukan kolosal ISI Bali. Koreografer Tari Murdanata Dewi Prawrddhi 2025, Tari Stuti Puja tahun 2014

Related Posts

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

Read moreDetails

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
0
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

Read moreDetails

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
0
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

Read moreDetails

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails
Next Post
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co