SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal Prancis itu menutup rangkaian tur mereka di Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menjelang pukul 18.00 WITA, penonton mulai memenuhi area Subak Stage di tepian Sungai Wos. Anne Quillier dan Pierre Horckmans kemudian tampil sekitar 50 menit, membawa jazz kontemporer yang berpadu dengan improvisasi dan eksplorasi elektronik. Musik mereka mengalir di antara piano, saksofon, dan klarinet, sementara aliran Sungai Wos turut mengiringi komposisi yang dimainkan.
Watchdog memang tidak menempatkan musik mereka dalam satu batas genre. Duo ini dikenal sebagai kelompok jazz dengan sentuhan elektro dan eksperimental. Mereka pun telah merilis sejumlah album, di antaranya Fables, Les animaux n’existent pas, Can of Worms, dan You’re Welcome. Nama Watchdog sendiri terinspirasi dari konsep pengawasan masyarakat modern sekaligus interaksi dinamis antarmusisi di atas panggung.

Bagi Watchdog, batas antara jazz, klasik, elektronik, dan eksperimental bukan sesuatu yang harus dipertahankan. Mereka lebih melihat musik sebagai medium untuk menyampaikan emosi. Latar belakang Anne dan Pierre turut membentuk cara mereka bermusik. Pierre tumbuh dengan musik klasik, tetapi juga akrab dengan rock, hingga musik elektronik. Sementara Anne memulai perjalanan musiknya secara otodidak sebelum melanjutkan pendidikan di konservatori.
Perbedaan latar tersebut menjadi ruang bagi keduanya untuk mencampurkan berbagai pengaruh musik tanpa harus memenuhi ekspektasi terhadap sebuah genre tertentu. Improvisasi menjadi bagian penting dalam permainan mereka, tetapi musik yang dibangun tidak kehilangan arah. Salah satu alasannya adalah hubungan musikal yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Pierre mengungkapkan, dirinya dan Anne telah bermain bersama selama lebih dari 15 tahun. Rentang waktu itu membuat keduanya memahami bahasa musik masing-masing.
Hubungan musikal yang panjang itu pula yang mereka bawa sepanjang tur di Indonesia. Dengan dukungan Institut Français d’Indonésie (IFI), Watchdog menjalani rangkaian tur di sejumlah kota. Mereka tampil di Jazz Gunung, ARTJog, Jazz Summit Indonesia, Road to The Papandayan Jazz Festival, hingga Sthala Ubud Village Jazz Festival. Selain itu, mereka juga melakukan kolaborasi rekaman langsung bersama musisi lokal di Lokananta, Solo.


Tiga pekan berada di Indonesia mempertemukan Watchdog dengan musisi dan penonton dari berbagai kota. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan mereka sebelum akhirnya tiba di Ubud.
“Setelah tiga pekan di Indonesia, kami banyak bertemu dengan musisi-musisi yang sangat luar biasa. Kami juga sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah menyambut dan menerima kami dengan baik,” ujar Anne.
Kehadiran Watchdog di Sthala berlangsung dalam konteks festival yang sejak awal mempertahankan jazz sebagai identitasnya. Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 merupakan penyelenggaraan ke-13 festival tersebut sejak pertama kali digelar pada 2013. Festival tahun ini berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 dan sejak 2023 menggunakan Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott, di Lodtunduh, Ubud, Gianyar, sebagai lokasi penyelenggaraan.
Lokasi itu turut membentuk pengalaman musisi dan pengunjung. Sthala berada di kawasan tepian Sungai Wos dengan kontur lahan bertingkat. Kondisi tersebut diterjemahkan ke dalam tiga level ruang pertunjukan. Giri Stage berada di bagian atas dan merepresentasikan kawasan pegunungan. Di tengah terdapat Panggung Kolaborasi untuk workshop, komunitas, aktivitas kreatif, dan pertunjukan lintas disiplin. Sementara Subak Stage berada di bagian bawah, dekat sungai, dan merepresentasikan perjalanan air dari hulu menuju hilir.
Pada hari kedua, 8 Agustus 2026, Watchdog menjadi salah satu dari sembilan penampil yang mengisi dua panggung utama. Mereka tampil di Subak Stage bersama JZ.KA Trio, Dodot Trio, dan String Corner. Sementara Giri Stage menghadirkan Koko Harsoe & San Trio, Pong Nakornchai Ensemble, H Zettrio, Jadi Peperzak Quartet ft. Kasyfi Kalyasyena, serta Salamander Big Band sebagai penutup.


Pilihan menempatkan Watchdog di Subak Stage mempertemukan karakter musik mereka dengan ruang pertunjukan. Musik yang bergerak antara komposisi dan improvisasi bertemu dengan suasana senja dan aliran Sungai Wos. Melodi, ritme, dan efek elektronik terus berinteraksi, membentuk permainan yang bergerak tanpa harus diarahkan pada satu bentuk musik tertentu.
Bagi Pierre, pengalaman tampil di Ubud meninggalkan kesan tersendiri. Bukan hanya karena sambutan penonton, tetapi juga karena kesempatan berjumpa dengan musisi Indonesia.
“Sthala UVJF adalah salah satu event yang berkesan bagi kami. Untuk semua penikmat jazz di Indonesia kami mengucapkan terima kasih atas sambutannya. Senang juga bisa mengenal dan menyaksikan musisi-musisi jazz Indonesia yang luar biasa,” ucap Pierre seusai tampil.
Bagi Watchdog, perjalanan di Indonesia bukan hanya rangkaian pertunjukan dari satu kota ke kota lain. Tiga pekan tersebut mempertemukan mereka dengan musisi, komunitas, dan penonton yang berbeda-beda. Ubud kemudian menjadi tempat mereka mengakhiri perjalanan itu. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































