3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

Chusmeru by Chusmeru
August 3, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi acapkali merupakan simbiosis busuk antara mereka yang memiliki kuasa dan mereka yang memiliki modal.

Mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan, baik di daerah maupun di pusat, membutuhkan uang. Para pengusaha yang memiliki uang membutuhkan kekuasaan. Saat keduanya bertemu, lahirlah anak haram yang bernama proyek triliunan rupiah, izin super kilat, dan hukum yang tumpul. Dan rakyat hanya jadi penonton yang tetap harus membayar pajak tinggi dan harga-harga yang mahal.

Pejabat dengan jabatannya adalah pintu gerbang bagi korupsi. Tanpa tanda tangan pejabat, proyek-proyek belum bisa jalan. Pejabat punya tiga senjata ampuh untuk memuluskan korupsi. Pertama, senjata kebijakan. Pejabat korup dapat membuat kebijakan yang akan dilanggarnya sendiri. Dapat mengubah zonasi sesuai kepentingannya. Proyek strategis nasional maupun daerah dapat dimainkan untuk menunjuk langsung pemenang tendernya.

 Senjata kedua adalah APBN, APBD, Dana Desa dan sumber dana lain. Para pejabat memegang kuasa atas berbagai anggaran. Tentu saja banyak akal busuk para pejabat korup untuk mengotak-atik anggaran sehingga ia dapat menilap untuk keuntungan pribadinya. Menilap uang negara sudah pasti tidak sendirian, karena harus melibatkan rekanan atau pengusaha yang korup juga. Terjadilah persekongkolan dan perselingkuhan kuasa dan modal.

Senjata ketiga, penegakan hukum. Pejabat dan pengusaha yang korup akan bersekongkol dan kongkalikong dengan aparat penegak hukum yang korup pula. Perilaku korupsi dapat dilindungi, kasusnya tidak dinaikkan, dan beragam modus penegakan hukum untuk kepentingan korupsi. Perizinan bisa cepat, bisa juga dipersulit, tak peduli aturan perundangan yang ada.

Maka, korupsi akan tetap tumbuh subur di Indonesia sepanjang perselingkuhan antara penguasa, pengusaha, dan penegak hukum masih terjadi. Motif dan alasan mereka selalu sama. Menimbun kekayaan. Gaji kecil, tapi gaya hidup besar. Biaya politik untuk mendapat pangkat dan jabatan tinggi, hingga perlu mengembalikan modal.

Pemilik Modal, Pembeli Kunci

Korupsi; entah besar atau kecil, seringkali melibatkan pengusaha, sang pemilik modal. Tanpa uang dari pengusaha, korupsi hanya sekelas teri. Para pemilik modal itulah yang akan membeli kunci semua proyek pembangunan. Mereka itu jugalah yang selanjutnya akan membuka pintu gerbang korupsi.

Biasanya ada tiga wajah pengusaha yang bersekongkol dalam pusaran korupsi. Pertama, “Pengusaha Karpet Merah”. Mereka adalah pengusaha yang dekat dengan pusat kekuasaan. Boleh jadi mereka tidak ikut tender proyek dan dapat kunci masuk untuk ditunjuk menjadi pelaksana proyek. Tidak gratis. Karena mereka harus menyetor sekian persen sebagai imbalan kepada penguasa.

Kedua, “Pengusaha Korban”. Mereka adalah pengusaha yang ingin menjalankan bisnisnya secara bersih. Namun ternyata setiap hendak mengurus izin harus melewati pintu “koordinasi”. Jika menolak bisa-bisa usahanya dipersulit. Pada akhirnya mereka menyerah dan hanyut dalam persekongkolan korupsi.

Ketiga, “Pengusaha Pembersih”. Pengusaha ini sebenarnya berbahaya, karena berbalut sesuatu yang tampak mulia. Mereka akan masuk lewat proyek digitalisasi, energi hijau, pendidikan, kesehatan, kuota haji, dan pemberdayaan masyarakat. Anggaran untuk itu semua sangat besar, namun pengawasannya sangat lemah. Kasus yang pernah terjadi di Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Agama menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak mulia pun dapat dikorupsi.

Modus Persekongkolan

Kerugian negara akibat korupsi dari tahun ke tahun tidak main-main. Angkanya cukup besar. Data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan sepanjang tahun 2024 tercatat 364 kasus korupsi dengan 888 orang tersangka. Kerugian negara yang berhasil diungkap menembus angka 279,9 triliun rupiah (CNBC Indonesia, 13 Juli 2026).

Banyak modus maupun bentuk persekongkolan dalam korupsi. Modus paling klasik adalah mark up proyek. Anggaran 50 miliar rupiah untuk pembangunan jalan atau jembatan, yang digunakan hanya 20 miliar. Sisanya akan dibagi-bagi antara pejabat dan pengusaha. Yang jadi korban tentu saja rakyat yang harus melewati jalan berlobang dan jembatan rusak, padahal belum lama dibangun.

Ada modus jual beli perizinan. Izin tambang yang jadi ajang persekongkolan bisa bernilai miliaran rupiah. Resort di pulau kecil lewat perselingkuhan pejabat dan pengusaha dapat menggusur satu desa. Pejabat dapat setoran, pengusaha dapat monopoli puluhan tahun. Lingkungan dan masyarakat adat menjadi korban.

Bantuan sosial (bansos) dan bantuan lain juga sering menjadi modus persekongkolan. Dana PKH, BLT, pupuk, dan koperasi dapat ditilap pejabat dan pengusaha. Pejabat dapat suara saat pemilu hingga punya kuasa, pengusaha dapat proyek distribusi. Korbannya tentu orang miskin yang bantuannya disunat.

Bentuk lain dari persekongkolan korupsi adalah perlindungan hukum. Kasus korupsi disetop di tengah jalan atau vonis yang ringan. Napi korupsi dapat remisi dan bisa mencalonkan diri lagi jadi penguasa. Pejabat kebagian amplop, pengusaha dapat rasa aman. Dan lagi-lagi rakyat hanya dapat mengelus dada, prihatin.

Perselingkuhan antara pemegang kuasa dan pemilik modal memang selalu menjadikan rakyat sebagai korban, karena korupsi selalu bersentuhan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Berdasarkan catatan ICW tahun 2024, distribusi korupsi mulai dari kasus di sektor desa dengan 77 kasus dan 108 tersangka. Selanjutnya, sektor utilitas 57 kasus dengan 198 tersangka, dan sektor pendidikan 25 kasus dengan 64 tersangka (Kompas.com, 30 September 2025).

Mengharap agar korupsi sirna dari republik ini tampaknya terlalu sulit. Persekongkolan kuasa dan modal begitu kuat. Data ICW menyebut pelaku korupsi didominasi berasal dari pegawai pemerintah daerah sebanyak 261 tersangka, pihak swasta 256 tersangka, dan kepala desa 73 tersangka. Data itu tentu akan bertambah bila menyimak kasus megakorupsi yang melibatkan pejabat di pusat kekuasaan setingkat menteri, kepala badan, dan para konglomerat.

Mengapa Sulit Diputus?

Persekongkolan dan perselingkuhan dalam korupsi sulit untuk diputus, karena simbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Pejabat yang ingin kuasa perlu dana politik. Pengusaha yang punya modal butuh perlindungan usaha. Sementara hukum di negara ini terlalu lunak.

Di lain sisi, sistem pendanaan partai politik masih bergantung pada donasi. Maka lingkaran setan perselingkuhan korupsi ini tidak akan pernah putus. Pengusaha membiayai politikus. Lantas politikus berkuasa. Setelah berkuasa lalu mengembalikan “budi” lewat proyek ke pengusaha.

Selama ini aparat penegak hukum dalam pemberantasan korupsi selalu sibuk menangkap oknum tersangka. Padahal esok hari akan muncul oknum baru. Menangkap pejabatnya saja sama halnya memotong rumput, pasti akan tumbuh lagi. Menyalahkan pengusaha saja juga sama seperti menutup keran, tetapi pipanya tetap bocor.

Meja-meja perjanjian di mana pejabat dan pengusaha korup harus dihancurkan jika ingin persekongkolan korupsi terputus. Teknologi komunikasi dan informasi kini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Perlu transparansi total penggunaan anggaran APBN hingga Dana Desa dan harus dapat diakses dan dilacak publik secara real time. Lelang proyek juga harus dapat dipantau rakyat, di mana proses tendernya dapat dilakukan dengan live streaming.

Pemidanaan terhadap koruptor harus serius dilakukan dengan dibarengi penyitaan aset disertai larangan menduduki jabatan politik apa pun seumur hidup. Jangan sampai terjadi, maling ayam dihajar massa hingga tewas, tapi koruptor miliaran hingga triliunan rupiah disambut tepuk tangan ketika keluar dari penjara.

Rekonstruksi nilai sosial budaya perlu dilakukan untuk memutus perselingkuhan korupsi. Saat ini masih banyak orang marah melihat pejabat korupsi, namun dengan enteng pegawai memanipulasi cuti kerja, melakukan mark up nota bensin, atau”menitip” anak ketika masuk sekolah atau kuliah.

Mengapa persekongkolan korupsi sulit diputus? Salah satu sebabnya adalah lantaran korupsi di Indonesia sudah turun kasta, dari kejahatan elit menjadi “budaya” sehari-hari. Korupsi tumbuh subur karena “budaya” keluarga, ewuh pakewuh, dan yang penting selamat. Orang merasa sulit menegur dan melaporkan keluarga, teman, atau atasan yang korup. Akhirnya terjadi kesalahan bersama yang ditutupi bersama.

Dampak korupsi dalam tatanan sosial, politik, dan ekonomi sungguh serius. Kepercayaan orang terhadap RT, lurah, guru, bupati, menteri, hingga presiden menjadi begitu rendah. Kesenjangan ekonomi kian melebar. Yang kaya kian kaya lewat proyek korup. Yang miskin tetap miskin karena pajak harus tetap dibayar, sementara layanan publik begitu buruk.

Paling berbahaya dari persekongkolan dan perselingkuhan korupsi adalah soal pewarisan nilai. Sosialisasi dan pewarisan nilai macam apa yang akan diterima ketika seorang anak melihat bapaknya begitu mudah mendapatkan uang dengan cara yang korup? Sementara sang anak 20 tahun lagi mungkin akan menjadi pejabat juga, dan pola korupsi yang sama bisa saja terulang.

Selama orang masih mengundang koruptor jadi pembicara seminar. Selama rakyat masih memilih calon pemimpin karena dia dermawan saat kampanye. Selama masyarakat masih berkata “wajarlah, semua juga gitu”. Maka KPK bisa menangkap 1000 orang, dan korupsi tidak akan pernah mati. Bangsa dan negara ini akan bersih ketika rakyatnya jijik melihat korupsi.[T]

Tags: Anti KorupsiKorupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Next Post

Presiden di Dalam Kepala Saya

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Presiden di Dalam Kepala Saya

Presiden di Dalam Kepala Saya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co