3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

Chusmeru by Chusmeru
August 3, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi acapkali merupakan simbiosis busuk antara mereka yang memiliki kuasa dan mereka yang memiliki modal.

Mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan, baik di daerah maupun di pusat, membutuhkan uang. Para pengusaha yang memiliki uang membutuhkan kekuasaan. Saat keduanya bertemu, lahirlah anak haram yang bernama proyek triliunan rupiah, izin super kilat, dan hukum yang tumpul. Dan rakyat hanya jadi penonton yang tetap harus membayar pajak tinggi dan harga-harga yang mahal.

Pejabat dengan jabatannya adalah pintu gerbang bagi korupsi. Tanpa tanda tangan pejabat, proyek-proyek belum bisa jalan. Pejabat punya tiga senjata ampuh untuk memuluskan korupsi. Pertama, senjata kebijakan. Pejabat korup dapat membuat kebijakan yang akan dilanggarnya sendiri. Dapat mengubah zonasi sesuai kepentingannya. Proyek strategis nasional maupun daerah dapat dimainkan untuk menunjuk langsung pemenang tendernya.

 Senjata kedua adalah APBN, APBD, Dana Desa dan sumber dana lain. Para pejabat memegang kuasa atas berbagai anggaran. Tentu saja banyak akal busuk para pejabat korup untuk mengotak-atik anggaran sehingga ia dapat menilap untuk keuntungan pribadinya. Menilap uang negara sudah pasti tidak sendirian, karena harus melibatkan rekanan atau pengusaha yang korup juga. Terjadilah persekongkolan dan perselingkuhan kuasa dan modal.

Senjata ketiga, penegakan hukum. Pejabat dan pengusaha yang korup akan bersekongkol dan kongkalikong dengan aparat penegak hukum yang korup pula. Perilaku korupsi dapat dilindungi, kasusnya tidak dinaikkan, dan beragam modus penegakan hukum untuk kepentingan korupsi. Perizinan bisa cepat, bisa juga dipersulit, tak peduli aturan perundangan yang ada.

Maka, korupsi akan tetap tumbuh subur di Indonesia sepanjang perselingkuhan antara penguasa, pengusaha, dan penegak hukum masih terjadi. Motif dan alasan mereka selalu sama. Menimbun kekayaan. Gaji kecil, tapi gaya hidup besar. Biaya politik untuk mendapat pangkat dan jabatan tinggi, hingga perlu mengembalikan modal.

Pemilik Modal, Pembeli Kunci

Korupsi; entah besar atau kecil, seringkali melibatkan pengusaha, sang pemilik modal. Tanpa uang dari pengusaha, korupsi hanya sekelas teri. Para pemilik modal itulah yang akan membeli kunci semua proyek pembangunan. Mereka itu jugalah yang selanjutnya akan membuka pintu gerbang korupsi.

Biasanya ada tiga wajah pengusaha yang bersekongkol dalam pusaran korupsi. Pertama, “Pengusaha Karpet Merah”. Mereka adalah pengusaha yang dekat dengan pusat kekuasaan. Boleh jadi mereka tidak ikut tender proyek dan dapat kunci masuk untuk ditunjuk menjadi pelaksana proyek. Tidak gratis. Karena mereka harus menyetor sekian persen sebagai imbalan kepada penguasa.

Kedua, “Pengusaha Korban”. Mereka adalah pengusaha yang ingin menjalankan bisnisnya secara bersih. Namun ternyata setiap hendak mengurus izin harus melewati pintu “koordinasi”. Jika menolak bisa-bisa usahanya dipersulit. Pada akhirnya mereka menyerah dan hanyut dalam persekongkolan korupsi.

Ketiga, “Pengusaha Pembersih”. Pengusaha ini sebenarnya berbahaya, karena berbalut sesuatu yang tampak mulia. Mereka akan masuk lewat proyek digitalisasi, energi hijau, pendidikan, kesehatan, kuota haji, dan pemberdayaan masyarakat. Anggaran untuk itu semua sangat besar, namun pengawasannya sangat lemah. Kasus yang pernah terjadi di Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Agama menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak mulia pun dapat dikorupsi.

Modus Persekongkolan

Kerugian negara akibat korupsi dari tahun ke tahun tidak main-main. Angkanya cukup besar. Data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan sepanjang tahun 2024 tercatat 364 kasus korupsi dengan 888 orang tersangka. Kerugian negara yang berhasil diungkap menembus angka 279,9 triliun rupiah (CNBC Indonesia, 13 Juli 2026).

Banyak modus maupun bentuk persekongkolan dalam korupsi. Modus paling klasik adalah mark up proyek. Anggaran 50 miliar rupiah untuk pembangunan jalan atau jembatan, yang digunakan hanya 20 miliar. Sisanya akan dibagi-bagi antara pejabat dan pengusaha. Yang jadi korban tentu saja rakyat yang harus melewati jalan berlobang dan jembatan rusak, padahal belum lama dibangun.

Ada modus jual beli perizinan. Izin tambang yang jadi ajang persekongkolan bisa bernilai miliaran rupiah. Resort di pulau kecil lewat perselingkuhan pejabat dan pengusaha dapat menggusur satu desa. Pejabat dapat setoran, pengusaha dapat monopoli puluhan tahun. Lingkungan dan masyarakat adat menjadi korban.

Bantuan sosial (bansos) dan bantuan lain juga sering menjadi modus persekongkolan. Dana PKH, BLT, pupuk, dan koperasi dapat ditilap pejabat dan pengusaha. Pejabat dapat suara saat pemilu hingga punya kuasa, pengusaha dapat proyek distribusi. Korbannya tentu orang miskin yang bantuannya disunat.

Bentuk lain dari persekongkolan korupsi adalah perlindungan hukum. Kasus korupsi disetop di tengah jalan atau vonis yang ringan. Napi korupsi dapat remisi dan bisa mencalonkan diri lagi jadi penguasa. Pejabat kebagian amplop, pengusaha dapat rasa aman. Dan lagi-lagi rakyat hanya dapat mengelus dada, prihatin.

Perselingkuhan antara pemegang kuasa dan pemilik modal memang selalu menjadikan rakyat sebagai korban, karena korupsi selalu bersentuhan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Berdasarkan catatan ICW tahun 2024, distribusi korupsi mulai dari kasus di sektor desa dengan 77 kasus dan 108 tersangka. Selanjutnya, sektor utilitas 57 kasus dengan 198 tersangka, dan sektor pendidikan 25 kasus dengan 64 tersangka (Kompas.com, 30 September 2025).

Mengharap agar korupsi sirna dari republik ini tampaknya terlalu sulit. Persekongkolan kuasa dan modal begitu kuat. Data ICW menyebut pelaku korupsi didominasi berasal dari pegawai pemerintah daerah sebanyak 261 tersangka, pihak swasta 256 tersangka, dan kepala desa 73 tersangka. Data itu tentu akan bertambah bila menyimak kasus megakorupsi yang melibatkan pejabat di pusat kekuasaan setingkat menteri, kepala badan, dan para konglomerat.

Mengapa Sulit Diputus?

Persekongkolan dan perselingkuhan dalam korupsi sulit untuk diputus, karena simbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Pejabat yang ingin kuasa perlu dana politik. Pengusaha yang punya modal butuh perlindungan usaha. Sementara hukum di negara ini terlalu lunak.

Di lain sisi, sistem pendanaan partai politik masih bergantung pada donasi. Maka lingkaran setan perselingkuhan korupsi ini tidak akan pernah putus. Pengusaha membiayai politikus. Lantas politikus berkuasa. Setelah berkuasa lalu mengembalikan “budi” lewat proyek ke pengusaha.

Selama ini aparat penegak hukum dalam pemberantasan korupsi selalu sibuk menangkap oknum tersangka. Padahal esok hari akan muncul oknum baru. Menangkap pejabatnya saja sama halnya memotong rumput, pasti akan tumbuh lagi. Menyalahkan pengusaha saja juga sama seperti menutup keran, tetapi pipanya tetap bocor.

Meja-meja perjanjian di mana pejabat dan pengusaha korup harus dihancurkan jika ingin persekongkolan korupsi terputus. Teknologi komunikasi dan informasi kini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Perlu transparansi total penggunaan anggaran APBN hingga Dana Desa dan harus dapat diakses dan dilacak publik secara real time. Lelang proyek juga harus dapat dipantau rakyat, di mana proses tendernya dapat dilakukan dengan live streaming.

Pemidanaan terhadap koruptor harus serius dilakukan dengan dibarengi penyitaan aset disertai larangan menduduki jabatan politik apa pun seumur hidup. Jangan sampai terjadi, maling ayam dihajar massa hingga tewas, tapi koruptor miliaran hingga triliunan rupiah disambut tepuk tangan ketika keluar dari penjara.

Rekonstruksi nilai sosial budaya perlu dilakukan untuk memutus perselingkuhan korupsi. Saat ini masih banyak orang marah melihat pejabat korupsi, namun dengan enteng pegawai memanipulasi cuti kerja, melakukan mark up nota bensin, atau”menitip” anak ketika masuk sekolah atau kuliah.

Mengapa persekongkolan korupsi sulit diputus? Salah satu sebabnya adalah lantaran korupsi di Indonesia sudah turun kasta, dari kejahatan elit menjadi “budaya” sehari-hari. Korupsi tumbuh subur karena “budaya” keluarga, ewuh pakewuh, dan yang penting selamat. Orang merasa sulit menegur dan melaporkan keluarga, teman, atau atasan yang korup. Akhirnya terjadi kesalahan bersama yang ditutupi bersama.

Dampak korupsi dalam tatanan sosial, politik, dan ekonomi sungguh serius. Kepercayaan orang terhadap RT, lurah, guru, bupati, menteri, hingga presiden menjadi begitu rendah. Kesenjangan ekonomi kian melebar. Yang kaya kian kaya lewat proyek korup. Yang miskin tetap miskin karena pajak harus tetap dibayar, sementara layanan publik begitu buruk.

Paling berbahaya dari persekongkolan dan perselingkuhan korupsi adalah soal pewarisan nilai. Sosialisasi dan pewarisan nilai macam apa yang akan diterima ketika seorang anak melihat bapaknya begitu mudah mendapatkan uang dengan cara yang korup? Sementara sang anak 20 tahun lagi mungkin akan menjadi pejabat juga, dan pola korupsi yang sama bisa saja terulang.

Selama orang masih mengundang koruptor jadi pembicara seminar. Selama rakyat masih memilih calon pemimpin karena dia dermawan saat kampanye. Selama masyarakat masih berkata “wajarlah, semua juga gitu”. Maka KPK bisa menangkap 1000 orang, dan korupsi tidak akan pernah mati. Bangsa dan negara ini akan bersih ketika rakyatnya jijik melihat korupsi.[T]

Tags: Anti KorupsiKorupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

Next Post

Presiden di Dalam Kepala Saya

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails
Next Post
Presiden di Dalam Kepala Saya

Presiden di Dalam Kepala Saya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co