ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa saja menjadi bagian dari lanskap yang hampir dianggap lumrah. Namun, waktu bergerak. Mereka mulai berbicara tentang pace, membandingkan catatan Strava, dan berburu sepatu lari seperti dahulu berburu rilisan kaset band favorit.
Fenomena itulah yang ditangkap Scared Of Bums (SOB) melalui single terbaru mereka, “Berlari”, yang dirilis pada 15 April 2026. Lagu ini menjadi pintu pembuka menuju album penuh ketiga mereka sekaligus menunjukkan arah baru yang sedang mereka tempuh. Energi melodic punk yang selama ini menjadi ciri khas band asal Bali tersebut tetap dipertahankan, tetapi kini dipadukan dengan tema yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: membangun kebiasaan baru, menjaga diri, dan terus bergerak ketika hidup terasa berat.
“Berlari” tidak sedang berbicara tentang olahraga semata. Kata ‘berlari’ hadir sebagai metafora. Lagu ini mengajak pendengarnya meninggalkan kebiasaan yang selama ini menjadi beban, memaksa diri untuk terus melangkah, lalu percaya bahwa setiap langkah kecil membawa seseorang semakin dekat kepada cahaya. Pesan itu terdengar jelas sejak awal lagu hingga bagian penutupnya.

Di tengah lirik, Scared Of Bums menyisipkan kalimat yang mencuri perhatian: “I just wanna wake up sober.” Kalimat itu muncul berulang seperti mantra. Bukan sekadar potongan lirik yang mudah diingat, melainkan pengakuan tentang keinginan untuk memulai hari dengan kepala yang jernih dan tubuh yang siap menghadapi kehidupan. Saat dimainkan di panggung, kalimat tersebut berpotensi berubah menjadi seruan kolektif yang diteriakkan bersama para penonton.
Pilihan tema itu terasa menarik karena datang dari band yang sudah memiliki perjalanan panjang di skena musik independen Indonesia. Scared Of Bums bukan pendatang baru. Mereka telah menapaki perjalanan hampir dua dekade dengan merilis album Scared Of Bums pada 2007, Let’s Turn On A Fire pada 2013, dan Delay pada 2022. Kini, formasi Bocare pada vokal dan gitar, Poglax pada gitar dan backing vocal, Arx pada bass dan backing vocal, serta Novafunxbums pada drum, kembali membawa warna yang selama ini melekat pada nama mereka ꟷ lugas, keras, dan penuh energi.
Yang berubah bukanlah identitas mereka, melainkan cara mereka memandang hidup.
Jika pada banyak lagu punk kemarahan menjadi tujuan akhir, “Berlari” justru mengarahkan kemarahan itu menjadi tenaga untuk bertahan. Alih-alih larut dalam kekacauan, lagu ini mengajak pendengarnya mengubah rasa lelah menjadi alasan untuk terus bergerak. Potongan lirik seperti “Bakar semangat dalam diri”, “Ku ingin terus berlari”, hingga “Lelah menyapa, ku tetap bertahan” membentuk satu narasi yang saling menyambung: perjalanan tidak berhenti ketika tubuh mulai letih, tetapi justru dimulai ketika seseorang memutuskan untuk tidak menyerah.
Pilihan musikalnya mendukung gagasan tersebut. “Berlari” tidak berubah menjadi lagu pop yang halus hanya karena mengangkat tema pengembangan diri. Distorsi tetap kasar. Bass masih menjadi fondasi yang kuat. Ketukan drum terus mendorong lagu bergerak maju. Ada sentuhan grunge yang membuat suasana terdengar lebih gelap, sementara hook “Run it out” disusun agar mudah menempel di kepala dan diteriakkan bersama-sama di tengah kerumunan penonton.
Di balik proses kreatifnya, Scared Of Bums tetap mempertahankan cara kerja yang selama ini mereka yakini. Musik dirangkai terlebih dahulu sebelum notasi dan lirik disusun. Pada tahap workshop awal, mereka juga melibatkan Utha Kusumawidhiana sebagai music director untuk mematangkan arah lagu sebelum masuk ke tahap produksi. Pendekatan tersebut membuat “Berlari” tetap terdengar sebagai karya Scared Of Bums, bukan upaya mengikuti tren sesaat.
Yang membuat lagu ini terasa relevan adalah kemampuannya membaca perubahan yang sedang berlangsung di kalangan anak muda. Hari ini, menjaga kesehatan bukan lagi identik dengan meninggalkan identitas lama. Banyak orang tetap mendengarkan musik keras, tetap datang ke gig, tetap menikmati moshpit, tetapi pada saat yang sama mulai membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat. Scared Of Bums menangkap ironi itu tanpa menghakimi maupun menggurui. Mereka menjadikannya bahan bakar untuk melahirkan lagu yang tetap keras, tetapi memiliki arah berbeda.

Di tengah skena musik independen, langkah seperti ini tidak selalu mudah. Band-band yang telah bertahan lama acap kali terjebak pada dua pilihan ꟷ mengulang formula lama demi nostalgia atau mengejar tren baru hingga kehilangan jati diri. Scared Of Bums memilih jalan lain. Mereka berbicara tentang fenomena yang sedang terjadi di sekitar mereka, lalu mengolahnya dengan bahasa musikal yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun. Hasilnya adalah lagu yang terdengar segar tanpa kehilangan karakter.
Pada akhirnya, “Berlari” bukan lagu tentang menjadi orang yang sempurna. Lagu ini berbicara tentang keputusan untuk terus bergerak meski napas mulai berat, tentang keberanian meninggalkan kebiasaan buruk, dan tentang keyakinan bahwa cahaya hanya bisa ditemukan jika seseorang mau melangkah.
Scared Of Bums tidak sedang berubah menjadi band yang lebih lunak. Mereka tetap memainkan punk dengan tenaga yang sama. Bedanya, kali ini amarah tidak diarahkan untuk menghancurkan sesuatu, melainkan untuk melawan gelap dalam diri sendiri. Dan barangkali, itulah bentuk pemberontakan yang paling sulit dilakukan hari ini. Kini, “Berlari” sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming digital. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna/Rilis Resmi Scared of Bums
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:































