25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

Fitria Hani Aprina by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
in Esai
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Fitria Hani Aprina

“Kapan Nikah?” Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang ditanya. Semakin bertambah usia perempuan tanpa status “menikah”, semakin ramai juga komentar yang berdatangan. Dari basa-basi keluarga saat lebaran, bisik-bisik tetangga, hingga bahasan di kehidupan sosial lainnya.

Sebagai orang yang bergelut dengan ilmu komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekedar obrolan santai. Ini adalah bentuk komunikasi yang sarat muatan sosial, cara masyarakat menegosiasikan norma, menegakkan aturan tak tertulis tentang “jadwal hidup ideal” seorang perempuan, lewat pertanyaan yang seolah polos, dianggap harmless.

Ketika Usia Menjadi Vonis

Dalam ilmu komunikasi dan sosiologi, ada istilah labelling atau pelabelan: proses ketika masyarakat menempelkan sebutan tertentu pada seseorang berdasarkan kondisi maupun perilaku yang dianggap tidak lazim. Perempuan yang belum menikah diusia matang acap kali disebut “perawan tua”, “tidak laku”, atau sering dicap “kebanyakan memilih”. Padahal tidak ada salahnya dalam memilih.

Riset tentang perempuan etnis Madura yang diterbitkan di Jurnal Dinamika Sosial Budaya (Al Farisi & Bawono, 2024) menggambarkan hal ini dengan gamblang. Perempuan yang menunda atau memilih tidak menikah di sana memiliki sebutan sendiri: “prabhen towah”. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan-perempuan ini menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar, dianggap tidak laku, terlalu memilih pasangan, sampai jadi bahan omongan keluarga jauh yang sebenarnya tidak tahu-menahu soal alasan di balik keputusan hidup mereka.

Padahal dari penelitian yang sama, alasan seorang perempuan tetap melajang jauh lebih kompleks: ada yang membawa trauma dari rumah tangga akibat perceraian orang tua, ada yang gagal menikah karena berbagai alasan, ada juga yang sekedar belum menemukan orang yang tepat untuk diajak berbagi hidup.

Yang menarik, riset tersebut menunjukkan sisi lain yang jarang diperhatikan: para perempuan ini pada akhirnya membangun mekanisme coping mereka sendiri, mulai mendekatkan diri secara spiritual, membangun kemandirian ekonomi, sampai pada titik penerimaan diri yang membuat mereka merasa lebih tenang menjalani hidup. Artinya, melajang bukan otomatis hidup kita gagal atau kosong. Ia adalah jalan hidup dengan dinamika psikologisnya sendiri yang layak dipahami bukan dihakimi.

Layar Kaca Pun Ikut Pelit Ruang

Stigma yang tidak lahir dari ruang hampa, ia dipupuk terus menerus lewat representasi media dan budaya populer yang kita konsumsi setiap hari. Tulisan di blog Oxford Institue of Population Ageing (2023) mengangkat sorotan yang relevan: perempuan yang beranjak tua kerap tersingkir dari layar populer, dan ketika pun tampil, mereka sering digambarkan sebagai sosok yang bergantung pada orang lain, kurang menarik, atau semata berperan sebagai ibu dan nenek, bukan sebagai individu dengan cerita dan keinginannya sendiri. Standar kecantikan dan daya tarik yang beredar di ruang publik pun masih lekat dengan citra muda, sehingga perempuan yang usianya bertambah nyaris tidak diberi ruang untuk tetap dianggap relevan, apalagi menarik dalam narasi arus utama.

Konstruksi semacam ini yang akhirnya merembes ke percakapan sehari-hari. Ketika media jarang menampilkan sosok perempuan matang yang utuh dan bahagia dengan pilihannya sendiri, wajar jika masyarakat pun kesulitan membayangkan hidup tanpa status menikah bisa jadi pilihan sadar, bukan kegagalan yang harus dikasihani.

Terlambat Menikah Bukan Berarti Merugi

Ada satu asumsi yang perlu diluruskan: seolah menikah lebih lambat dari “usia ideal” itu selalu berarti kerugian. Sebuah penelitian terhadap pria dan wanita Malaysia yang menikah di usia lebih matang (dipublikasikan di International Journal of Research and Innovation in Social Science, 2025) justru menemukan sederet dampak yang jauh dari kesan buruk. Dari sisi ekonomi, mereka yang menikah lebih matang cenderung punya kestabilan finansial yang lebih baik, aset yang lebih mapan, dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding jika menikah lebih dini.

Dari sisi kematangan diri, penelitian ini mencatat adanya pertumbuhan spiritual yang lebih dalam pada individu yang menikah di usia matang. Memang ada juga sisi psikologisnya yang perlu diperhatikan, seperti potensi stres dan pergulatan dengan rasa percaya diri, tapi justru menunjukkan bahwa pengalaman menunda pernikahan itu manusiawi dan berlapis, bukan sekedar “telat” yang layak dicemooh.

Rahim Bukan Ranah Komentar Orang Lain

Salah satu kekhawatiran yang paling sering dilontarkan pada perempuan matang yang belum menikah adalah soal keturunan. Seolah usia menjadi satu-satunya jaminan seseorang bisa atau tidak bisa memiliki anak. Padahal seperti yang pernah disampaikan dr. Gia Pratama Putra, urusan rahim sepenuhnya berada di tangan Tuhan.

Tidak ada jaminan medis atau usia berapa pun yang bisa memastikan seseorang pasti langsung memiliki anak begitu menikah. Maka menjadikan usia sebagai dasar untuk menghakimi kesiapan atau nasib reproduksi seorang perempuan sesungguhnya berangkat dari asumsi yang keliru.

Dari titik inilah kembali lagi ke soal komunikasi. Ada banyak topik lain yang bisa dipakai untuk basa-basi, istilah dalam ilmu komunikasi menyebutnya komunikasi fatis, obrolan ringan yang fungsinya sekedar menjaga hubungan sosial tetap hangat. Kita tidak harus mengorbankan privasi orang lain, apalagi urusan sesensitif pernikahan dan keturunan, hanya demi mencairkan suasana atau malah memang untuk menyerang personal seseorang.

Sesama Perempuan Mari Saling Menjaga

Yang paling menyayat justru ketika komentar semacam ini datang dari sesama perempuan. Padahal siapa pun paling tahu betapa beratnya tekanan yang datang bertubi-tubi soal jodoh, usia, dan tubuh. Kesuksesan dan kebahagiaan seorang perempuan tidak lahir dari status. Ia bisa datang dari karier yang dibangun dengan susah payah, dari kemandirian yang diperjuangkan, dari hubungan yang hangat dengan keluarga dan sahabat, atau dari ketenangan batin yang ia temukan sendiri.

Setiap perempuan apa pun status hidupnya, berapa pun usianya, BERHAK dihargai apa adanya. Bukan diukur kapan dia menikah, atau seberapa cepat dia punya keturunan, tetapi bagaimana ia menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan dan pilihan sendiri. Setiap manusia, apapun gender/statusnya, mereka berharga. [I]

Tags: Perempuanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Fitria Hani Aprina

Fitria Hani Aprina

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co