21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 19, 2026
in Esai
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

“People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls.” Manusia rela melakukan apa saja agar tidak perlu menghadapi jiwanya sendiri. Dalam psikologi Jung, setiap orang memiliki shadow atau sisi bayangan yang sering disembunyikan karena tidak nyaman untuk diakui.

Mengakui Dukkha sebagai Awal Kebangkitan

Salah satu ajaran paling revolusioner dari Buddha justru dimulai dari sebuah pengakuan yang sederhana namun sangat berani: hidup mengandung dukkha. Kata dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh lebih luas. Ia mencakup ketidakpuasan, kegelisahan, ketidakpastian, dan segala bentuk ketidakseimbangan yang melekat pada kehidupan. Buddha tidak berhenti pada diagnosis itu. Beliau tidak mengajak manusia meratapi nasib, melainkan menggunakannya sebagai titik awal untuk bangkit menuju pencerahan.

Makna kata Buddha sendiri adalah “yang telah bangun” atau “yang telah sadar”. Kesadaran lahir bukan karena menutup mata terhadap kenyataan, melainkan karena berani melihat kenyataan apa adanya. Selama seseorang masih hidup dalam penyangkalan, ia sesungguhnya masih tertidur. Kebangkitan selalu dimulai dari keberanian mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Pelajaran inilah yang sangat relevan bagi Bali hari ini. Sebelum berbicara tentang solusi, kita harus terlebih dahulu memiliki keberanian moral untuk bertanya: benarkah Bali sedang baik-baik saja?

Jung dan Bayangan yang Enggan Kita Hadapi

Carl Jung pernah mengatakan, “People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls.” Manusia rela melakukan apa saja agar tidak perlu menghadapi jiwanya sendiri. Dalam psikologi Jung, setiap orang memiliki shadow atau sisi bayangan yang sering disembunyikan karena tidak nyaman untuk diakui.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada masyarakat. Sebuah bangsa, bahkan sebuah daerah, dapat memiliki collective shadow—bayangan kolektif berupa masalah-masalah yang sengaja diabaikan karena dianggap mengganggu kenyamanan.

Kita lebih senang memamerkan keberhasilan daripada mengakui kelemahan. Kita lebih mudah membuat slogan daripada melakukan evaluasi. Kita lebih suka mengatakan bahwa semuanya berjalan baik daripada menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang mulai menyimpang.

Padahal, sebagaimana dikatakan Jung, justru ketika kita menolak melihat bayangan itulah masalah menjadi semakin besar. Bayangan tidak pernah hilang hanya karena diabaikan. Ia justru tumbuh dalam kegelapan.

Apakah Bali Benar-Benar Baik-Baik Saja?

Bali tetaplah pulau yang luar biasa. Alamnya indah, budayanya kaya, spiritualitasnya menginspirasi dunia. Semua itu layak disyukuri dan dijaga. Namun rasa syukur tidak boleh berubah menjadi penyangkalan terhadap persoalan yang nyata.

Di berbagai tempat, alih fungsi lahan pertanian terus berlangsung. Tekanan terhadap kawasan pesisir dan hutan mangrove memunculkan kekhawatiran banyak pihak. Kemacetan semakin sering terjadi. Persoalan sampah dan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa. Banyak generasi muda menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat, sementara nilai-nilai budaya dan spiritual diuji oleh derasnya arus komersialisasi.

Mengatakan bahwa persoalan-persoalan itu ada bukan berarti membenci pembangunan. Sebaliknya, justru karena mencintai Bali, kita merasa perlu mengingatkan ketika arah pembangunan berpotensi mengurangi keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.

Sikap kritis yang berlandaskan data dan kepedulian adalah bentuk cinta yang dewasa. Diam bukan selalu berarti bijaksana. Dalam situasi tertentu, diam justru dapat membuat persoalan semakin sulit diperbaiki.

Kesadaran adalah Awal Revolusi Peradaban

Dalam novelty penelitian saya di Anand Krishna Centre Kuta, saya menemukan Model Integratif Kesadaran, perjalanan manusia adalah proses peningkatan kualitas kesadaran. Pancamaya Kosha menggambarkan lima lapis kesadaran manusia, dari kesadaran fisik sampai kebahagiaan sejati. Tujuh chakra menunjukkan proses transformasi kesadaran. Sementara Peta Kesadaran David R. Hawkins memperlihatkan parameternya, bagaimana manusia bergerak dari rasa takut, marah, dan kesombongan menuju keberanian, cinta, kedamaian, hingga pencerahan. Semua perjalanan itu memiliki satu titik awal yang sama, yaitu kesadaran.

Orang yang sakit baru mencari pengobatan setelah menyadari dirinya sakit. Seorang pecandu baru bisa pulih ketika mengakui kecanduannya. Sebuah masyarakat baru akan melakukan perubahan ketika berani mengakui adanya masalah.

Karena itu, mengakui bahwa Bali menghadapi tantangan bukanlah bentuk pesimisme. Justru itulah optimisme yang sejati. Optimisme bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi percaya bahwa masalah dapat diselesaikan apabila dihadapi bersama.

Dalam skala individu, proses ini disebut pertobatan, introspeksi, atau refleksi. Dalam skala masyarakat, proses ini disebut kebangkitan kolektif.

Dari Bersuara Menuju Kebangkitan Bali

Bali tidak membutuhkan masyarakat yang gemar mengeluh tanpa solusi. Namun Bali juga tidak membutuhkan masyarakat yang memilih diam ketika melihat persoalan. Yang dibutuhkan adalah warga yang memiliki keberanian untuk bersuara secara santun, argumentatif, dan bertanggung jawab.

Bersuara bukan berarti memusuhi pemerintah. Bersuara bukan berarti anti-investasi. Bersuara bukan pula menolak pembangunan. Bersuara adalah bentuk partisipasi warga negara dalam menjaga arah pembangunan agar tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kelestarian alam dan budaya.

Seorang dokter yang baik tidak akan mengatakan pasiennya sehat apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit. Diagnosis memang bisa terasa tidak nyaman, tetapi tanpa diagnosis tidak akan ada terapi. Demikian pula Bali. Mengatakan bahwa ada persoalan bukanlah menyebarkan ketakutan, melainkan membuka pintu bagi penyembuhan.

Buddha mengajarkan bahwa setelah memahami dukkha, manusia harus berjalan di jalan menuju pembebasan. Jung mengajarkan bahwa manusia harus berani menghadapi bayangannya. Kedua ajaran itu bertemu pada satu titik: kesadaran mendahului perubahan.

Maka, kebangkitan Bali harus dimulai dari keberanian melihat kenyataan apa adanya. Kita membutuhkan dialog yang jujur, kritik yang membangun, kolaborasi yang tulus, dan kepemimpinan yang berani mendengar. Pemerintah, investor, akademisi, desa adat, tokoh agama, media, dan masyarakat sipil bukanlah lawan, melainkan mitra dalam menjaga Bali agar tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang.

Jika kita terus berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tanda-tanda ketidakseimbangan semakin nyata, kita sedang meninabobokan diri. Namun jika kita berani mengatakan, “Ada yang perlu kita benahi bersama,” maka sesungguhnya kita sedang mengambil langkah pertama menuju kebangkitan.

Sebagaimana seseorang tidak akan pernah mencapai pencerahan tanpa terlebih dahulu menyadari adanya dukkha, Bali pun tidak akan mengalami kebangkitan tanpa keberanian mengakui tantangan yang sedang dihadapinya.

Bangkitlah Bali. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan cinta. Sebab hanya kesadaran yang mampu mengubah kritik menjadi solusi, kepedulian menjadi gerakan, dan harapan menjadi kenyataan. Itulah makna terdalam dari menjadi “terjaga”—bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Bali. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Next Post

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 ---Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co