11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Agus Eka Cahyadi by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
in Panggung
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Para Bidadari Kahyangan yang dipimpin Dewi Tilottama ditarikan oleh Krama Lanang Ubud Kaja | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026), Krama Desa Ubud Kaja mempersembahkan sebuah drama-tari bertajuk Pemurtian Sunda Upasunda. Diangkat dari kisah tua Adiparwa yang sarat dengan tuntunan tentang rapuhnya persaudaraan ketika keserakahan merasuki dan menguasai diri.

Buda Umanis Medangsia, hari Selasa 8 Juli 2026, penonton telah berjibun memenuhi wantilan jaba Pura Dalem Ubud. Mereka sedang bersiap menyaksikan penampilan dari para seniman lintas generasi Krama Desa Ubud Kaja yang diiringi oleh tabuh gambelan Sekaa Gong Raja Peni. Suasana keramaian yang cukup langka terjadi di tengah menurunnya antusiasme masyarakat (Ubud) menyaksikan secara live drama-tari tradisional.

Sebelum menapaki pertunjukan utama Pemurtian Sunda Upasunda, penonton disuguhi tarian Panyembrama yang ditarikan oleh sepuluh wanita berbaju kebaya putih dengan hiasan bunga emas dan membawa wadah berisi bunga. Tarian ini dibawakan dengan apik oleh penari tua yang rata-rata berumur lima puluh tahun ke atas. Meskipun sepuh, mereka menari dengan penuh semangat dan disambut dengan meriah oleh penonton. Hingga pada bagian akhir seorang penari mengalami kerasukan (kerauhan) yang membuat suasana menjadi heboh, namun kemudian berubah menjadi gelak tawa karena memang menjadi bagian dari pertunjukkan.

Kemudian dilanjutkan dengan penampilan lima pemudi yang menarikan tarian Sekar Jagat. Pertunjukan yang ketiga adalah Tari Wirayuda, yang ditarikan oleh lima penari yang merupakan prajuru atau pengurus PKK Ubud Kaja, penampilan mereka juga disambut meriah oleh penonton.

Tari Panyembrama oleh penari sepuh Ubud Kaja | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

Selanjutnya, suasana berganti dengan hadirnya dua sosok abdi (Bondres) yang diperankan oleh Wayan Weca dan Aris. Mereka tampil dengan lontaran candaan, sambil menyampaikan prolog dari cerita drama-tari Pemurtian Sunda Upasunda. Dua penari beda generasi ini, berperan sebagai abdi bagi junjungan mereka Raja Sunda dan Upasunda. Konon, dua raja raksasa ini mendapat anugrah kesaktian yang tidak tertandingi oleh siapa pun termasuk oleh para Dewa.

Diperankan oleh Wayan Astina dan Pak Gender, dua penari beda generasi ini menghadirkan tarian yang penuh wibawa, mengenakan busana dan hiasan yang menunjukkan sebagai raja raksasa. Namun, di balik tampilan yang berwibawa itu, raja raksasa sering menyelipkan tingkah polah kocak yang menyegarkan suasana.

Dua raja raksasa ini digambarkan memiliki ikatan persaudaraan sangat erat. Meskipun terlahir sebagai raksasa, mereka hidup dalam kesetiaan, saling menjaga, dan bersumpah untuk tidak pernah saling mengkhianati. Kekuatan persaudaraan mereka dibangun di atas ambisi yang sama, yaitu menguasai tiga dunia. Tentu hal ini menggangu ketentraman kahyangan yang dihuni para Dewa.

Melalui ritus tapa berata semadi yang sangat kuat, mereka mampu mengguncang jagat raya. Menyadari bahaya yang dapat mengancam keseimbangan alam semesta, para dewa berupaya menggagalkan pertapaan itu. Diutuslah delapan bidadari yang dipimpin oleh seorang bidadari cantik bernama Dewi Tilottama, turun ke dunia untuk menggoda kedua asura tersebut agar terbangun dari tapa mereka.

Selanjutnya, adegan menampilkan kemunculan delapan bidadari di kahyangan yang sedang menerima perintah dari bidadari Tilottama untuk turun ke bumi menggoda dua raja raksasa. Adegan ini mampu memancing gelak tawa penonton, karena para bidadari diperankan oleh laki-laki berbusana wanita. Sehingga, mewujudlah delapan bidadari dengan keaneka ragaman tampilan dan bentuk tubuh. Ada yang tinggi langsing namun berjenggot tebal, gemoi, gendut hingga cabi. Mereka turun ke bumi, meliak-liuk mengeluarkan segala jurus ampuh, mengganggu tapa dua Asura ini.

Raja Raksasa Sunda dan Upasunda didampingi abdi | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

Rombongan para bidadari diperankan oleh Es Moni, Rudi (tudeg), Kadek Rudi, Si Koming, Gung Aji Negara, Ketut Sutarma, Unyil, dan Suka. Segala jurus menggoda telah dilakukan, namun sedikit pun tidak mampu membuat kedua asura ini beranjak dari tapa mereka, malah alam semesta semakin kuat berguncang.

Hingga akhirnya, para dewa menghadirkan senjata terakhir. Turunlah bidadari tercantik di kahyangan, yaitu Dewi Tilottama, yang dalam drama-tari ini diperankan secara memikat oleh Gung Jus yang juga merupakan penari pria. Penampilan laki-laki yang menarikan peran wanita  dalam tradisi Bali merupakan tradisi lampau yang kembali diketengahkan sebagai pilihan artistik dan sekaligus menghadirkan nuansa humor yang mengundang senyum dan tawa penonton. Dengan cekatan Dewi Tilottama mulai memainkan pesona kecantikannya. Hingga keteguhan tapa brata kedua raksasa terganggu.

Mereka tidak mampu menolak daya pikat bidadari tercantik di kahyangan ini. Dari mata turun ke hati, hingga munculah keinginan dua raja raksasa ini untuk memiliki Dewi Tilottama. Perlahan ego dan keserakahan mulai mengikis sumpah persaudaraan yang selama ini mereka junjung tinggi. Ambisi yang dahulu ditujukan untuk menguasai tiga dunia berubah menjadi nafsu untuk saling mengalahkan dan memenangkan hati wanita. Persaudaraan yang dibangun sejak kecil kemudian runtuh dalam sekejap oleh seorang wanita. Pertengkaran berubah menjadi peperangan.

Dalam drama-tari ini, bibit perseteruan diawali dengan sayembara yang disyaratkan oleh Dewi Tilottama untuk memenangkannya. Mereka diminta menunjukkan kepiawaian dalam bidang menyanyi. Raja Upasunda menyanyikan lagu “Dewi Tresna” (dipopulerkan Denanda ft Dewi Pradewi) sedangkan Raja Sunda menyanyikan lagu “Begadang jangan begadang” milik Roma Irama.

Sejenak, drama-tari menjadi kontes menyanyi oleh dua raja raksasa. Beberapa penonton terpancing untuk memberikan saweran kepada dua asura ini, suatu kondisi interaktif yang meniadakan sekat pemisah antara pemain dan penonton. Setelah menyita waktu yang cukup panjang, kontes sayembara ini tidak menghasilkan penyelesaian, tidak ada yang kalah atau menang hingga harus dituntaskan dengan adu kesaktian.

Tarian Rangda dan Onying alit-alit Ubud Kaja dalam drama-tari Pemurtian Sunda Upasunda | Foto: Dokumentasi Media Ubud Kaja

Puncak dramatik pertunjukan hadir ketika Sunda dan Upasunda melakukan pemurtian. Sunda menjelma menjadi sosok raksasa besar yang mengerikan. Wajah beringas dengan taring tajam, mata menyala, lidah menjulur panjang memuntahkan lahar api, sementara rambutnya terurai dengan kobaran api di atas ubun-ubun. Transformasi wujud Rangda yang diperankan oleh Wahyu itu menghadirkan aura angker yang membuat suasana panggung berubah mencekam.

Tidak mau kalah, Upasunda juga melakukan pemurtian. Ia menjelma menjadi Banaspati Raja dalam wujud Barong Ket yang ditarikan oleh Dek Angga dan Angga Mahaputra. Layaknya sang penguasa hutan, dengan tubuh berbulu lebat, dilingkupi dengan pancaran cahaya yang menyilaukan, bergerak-gerak dengan lincah mencoba menandingi kekuatan pemurtian Sunda. Pertempuran dahsyat pun tak terelakkan.

Di tengah sengitnya pertarungan, Banaspati Raja tiba-tiba menghilang secara gaib. Sebagai gantinya muncul belasan penari Onying yang menghunus keris, yang diperankan dengan penuh semangat oleh anak-anak kecil (SD) Ubud Kaja. Dengan pekik dan teriakan yang menggetarkan, mereka berani menghadapi kemarahan Rangda yang mengibas-ibaskan kain putih. Setelah rangda lenyap, seketika Onying yang dilingkupi rasa marah, menusukkan keris ke tubuh mereka sendiri hingga semuanya tergeletak tidak sadarkan diri, barong dan seorang pemangku yang diperankan oleh Made Suardika “Tungtung”, kemudian hadir memercikkan tirta air suci untuk menetralkan kondisi itu.

Ketika para penari Onying menghunus keris ke tubuh mereka sendiri, pertunjukan itu seolah menegaskan bahwa musuh yang paling sulit ditaklukkan bukanlah yang berdiri di hadapan kita, melainkan keserakahan, amarah, dan nafsu yang bersemayam di dalam diri. Pertempuran itu berakhir tragis. Tidak ada pemenang. Sunda dan Upasunda sama-sama menemui kematian akibat keserakahan yang menghancurkan persaudaraan mereka sendiri.

Di balik kekuatan cerita Pemurtian Sunda Upasunda, pertunjukan ini juga menjadi cermin kuatnya semangat persaudaraan Krama Desa Ubud Kaja. Seluruh pemain merupakan seniman, penata tari, penulis naskah lokal yang berasal dari lintas generasi di Ubud Kaja. Generasi tua (krama desa), pemuda-pemudi (STT SGUK), hingga anak-anak tampil bersama dalam satu panggung sebagai wujud memekarnya potensi dan regenerasi seni yang berlangsung secara alami di lingkungan desa adat.

Gagasan cerita dikembangkan oleh Astina dan Pak Weca, penata tari Agus Swastika, penata tabuh oleh Eris, iringan tabuh oleh Sekaa Gong Raja Peni Ubud, perlengkapan oleh Jik Klemek.[T]

Penulis: Agus Eka Cahyadi
Editor: Jaswanto

Tags: Drama-Tari "Pemurtian Sunda Upasunda"Piodalan Pura Dalem Desa Adat UbudPura Dalem Desa Adat Ubud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

Agus Eka Cahyadi

Agus Eka Cahyadi

I Wayan Agus Eka Cahyadi. Lahir di Ubud, 12 Agustus 1984. Dosen FSRD ISI Denpasar

Related Posts

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
0
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

Read moreDetails

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
0
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

Read moreDetails

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
0
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

Read moreDetails

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
0
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

Read moreDetails

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
0
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

Read moreDetails

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co