22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
in Esai
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Gladi pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: Tim Dokumentasi PKB 2026

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat  menimbulkan pro- dan kontra dari warganet. Namun, tanpa kehadiran Presiden pun, peed aya pembukaan tampak begitu megah gagah mataksu. Lebih dari 23 ribu seniman terlibat penuh semangat dan berhasil memukau ribuan pasang mata di depan Monumen Perjuangan Bajra Sandhi selain tentu saja melalui live streaming di kanal youtobe.

Dalam perjalanan sejak 1979 hingga 2026, PKB telah mengalami kemajuan luar biasa. Awal-awal PKB hingga awal 2000-an, sorotan terhadap PKB antara lain mirip pasar malam. Belum  terkelola dengan baik. Bahkan ada cibiran pindahnya pasar malam Lila Buana dan Pasar Malam Kereneng ke Taman Budaya, Art Center. Tidak demikian halnya, sejak dua dekade terakhir PKB makin menunjukkan kelasnya. Pedagang tertata bahkan dikurasi sejak Gubernur Wayan Koster. Kurator menyeleksi produk berkualitas dari UMKM. Mereka yang lolos gratis menjajakan produknya, baik barang kerajinan maupun produk kulinernya. UMKM, Pengunjung dan penonton dimuliakan. PKB membuat hidup lebih indah.  Memang seyogyannya demikian.

Pada awalnya, PKB pertama  berlangsung selama 2 bulan (20 Juni sampai 23 Agustus 1979). Prof. Dr. IB Mantra, sang penggagas sekaligus membuka dengan pemukulan Gong di Arda Chandra. Perhelatan selama dua bulan itu, bertepatan dengan Libur Kenaikan Kelas hingga awal Tahun Ajaran baru. Saat itu pula, Tahun Ajaran Baru dimulai pada Juli yang sebelumnya dimulai Januari. Ada dua makna implisit terkait PKB saat itu. Pertama, PKB pada musim libur Kenaikan Kelas untuk menaikkan Kelas Seniman dari Bale Banjar ke Taman Budaya. Gengsi Banjar naik bila pentas di PKB. Kedua, menyediakan hiburan saat liburan anak sekolah ke Taman Budaya (analog dengan Taman Siswa). Memberikan  tontonan sekaligus tuntunan dari PKB. Jadi, siswa tidak langsung ngegas untuk belajar. PKB seakan menjadi warming up memulai pembelajaran di kelas.

Sejak awal PKB tidak menutup diri untuk memberikan ruang gerak bagi Provinsi lain dan negara lain untuk berpartisipasi. PKB merangkul seniman berbagai Provinsi dan negara lain sesuai dengan semangat Trikon Ki Hadjar Dewantara. Dalam Tulisan persembahan untuk purnabakti  Prof. Dr. IB Mantra, I Wayan Dibia (1993) menegaskan, “Semua elemen Tari Barat maupun daerah lainnya di Indonesia diolah dan diberikan nafas Bali” sembari menyebutkan pada fase awal PKB telah lahir tari kreasi : Manukrawa, Kijang Kencana, Tari Blibis dengan perpaduan gerak dan koriografi Barat ke dalam Tari Bali. Tarian itu, menurutnya terispirasi dari adegan Sendratari yang pentas di PKB.

Sebagai mantan duta besar Indonesia di India, Prof. Dr. IB Mantra tampaknya sadar betul bahwa diplomasi kebudayaan melalui PKB bersifat mutualistik – humanis dan memberikan sentuhan halus untuk membangun emphaty bagi negara lain agar Bali bertumbuh dan berkembang. Lebih-lebih Bali sebagai destinasi pariwisata yang mendunia.  “Kontak budaya dalam kehidupan ini tak dapat dihindarkan. Akan tetapi, hendaknya kontak kultural itu jangan sampai memusnahkan identitas budaya bangsa. Aspek sosial budaya merupakan faktor dasar pembentukan corak dan warna kepribadian bangsa”, kata Prof. Dr.  IB Mantra (1998) dalam biografinya.

Jika PKB gagasan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra lebih memberikan ruang kreativitas bagi seniman tradisional yang ber-sebun di banjar-banjar, komunitas, atau sanggar seni, sejak Gubernur Mangku Pastika setelah PKB dilanjutkan dengan Program Bali Mandara Nawa Natya dan berlangsung beberapa kali. Selanjutnya, Gubernur Wayan Koster menggelar Festival Seni Bali Jani (FSBJ) setelah PKB yang tahun 2026 memasuki tahun ke-8. Dua gubernur pilihan rakyat Bali secara langsung tampaknya memberikan perhatian bagi tumbuh berkembangnya seniman Bali modern tanpa kehilangan akar tradisinya. Seni modern sebagai kelanjutan dari seni tradisional Bali sebagaimana terus diperjuangkan oleh budayawan Putu Wijaya dalam cerpen, novel, esai, dan pentas teaternya.

Selain itu, PKB juga mengapresiasi seniman dengan memberikan penghargaan kepada para seniman tradisional pun dalam ajang FSBJ. Jika zaman Gubernur Dewa Made Berata ada Penghargaan Widya Pataka bagi seniman (penulis), ada pula Penghargaan Widya Kusuma bagi tokoh di bidang Pendidikan, lalu ada juga Bali Jani Nugraha bagi seniman modern. Semua itu menunjukkan keberpihakan pemimpin Bali kepada para seniman. Ke depan, profil para seniman itu perlu didokumentasikan  baik dalam bentuk buku cetak maupun digital. PKB perlu terus didorong tidak hanya menjadi tontonan dan tuntunan sesaat, tetapi juga memperkuat literasi seni budaya dari perspektif pemiliknya, orang Bali. Bali oleh Bali sebagai penyeimbang Bali oleh Bule. Sebab, pada akhirnya dokumen aksara bermakna itu akan berdialektika saling sapa dan saling melengkapi.

Dalam unggahannya di FB, Prof. Dr. Wayan P. Windia mengabarkan catatan seputar PKB sejak awal hingga PKB XIII pada 1991 telah terbit sebuah buku tentang PKB tetapi setelah itu belum ada lagi. Jadi, selama 4 dekade tampaknya perhatian terhadap pentingnya dokumentasi PKB belum optimal tergarap secara profesional dan proporsional. Oleh karena itu, senyampang pelaku sejarah PKB masih banyak yang hidup dan terus berkarya, seperti Prof. Dr. Made Bandem dan  Prof. Dr. I Wayan Dibia tampaknya perhatian terhadap dokumentasi  perlu terus-menerus diperbarui seiring dengan makin dewasanya usia PKB, yang dua tahun lagi memasuki usia 50 Tahun. Setengah abad PKB adalah tonggak baru bagi kreativitas berkesenian seniman tradisional Bali. Taman Budaya ibaratnya Banjar Bali bagi pentas pragina se-Bali yang berlokus di masing-masing banjar. Mereka bertemu dalam kontak konteks modern di panggung terhormat. Pola pemanggungan demikian sudah ditemukan formatnya  oleh para pinisepuh  sekaa unen di Bali sejak ratusan tahun silam. Mereka pentas menyatu dengan alam, di Madya Mandala Pura. Mereka mempersembahkan karya terbaik dalam guyub sekaa dengan nekengtwas dan terlembagakan secara permanen seperti mategul tanpa tali. Maka, sekaa unen inilah yang patut diapresiasi dan diberikan penghargaan secara berkelanjutan melalui dana hibah atau bansos. Sekaa unen sudah terbukti menjadi saksi hidup sepanjang masa menjaga taksu budaya Bali.

Dari laku nekengtwas dan lascarya-lah dipercaya Sang Hyang Taksu mendekat merasuk ke raga pragina.  Pura Puncak Padang Dawa Baturiti Tabanan sebagai representasi kesenian berkiblat pada gunung dan Pura Karang Boma Delod Ceking sebagai representasi kesenian berkiblat pada segara. Kiblat Kaja Kelod dalam berkesenian. Kaja Gunung yang tak lari dikejar ibarat pertapa dalam diam tetapi senantiasa meningkatkan kualitas diri berkesenian. Kelod laut yang gemuruh dalam gelisah terus-menerus mencari sembari memohon taksu berkesenian  dengan semangat jengah plus kreativitas dan inovasi dengan kesadaran diri. Tanpa henti ibarat  memutar cakra ilmu pengetahuan sebagai sumber penciptaan seni. Tentanng hal ini, Windu Sancaya sangat tepat menggambarkan Ida Bagus Mantra dalam puisi  Bali Anyar melalui Kumpulan Coffee Shop (2003) :  “…Rasa sujati ngayunin pemargin jagat duwene/ring tengahing samudera maombak galak, dados kadi galang pisan antuk macecingak…”

Itu pula sebabnya, bila PKB setiap tahun selalu berganti tema diselaraskan dengan kebijakan Gubernur yang berkuasa. Temanya pun selalu aktual dengan kondisi kekinian walaupun garapannya bersumber dari seni tradisional. Artinya, semangat desa, kala, patra berkearifan lokal Bali tidak pernah ketinggalan zaman dan teraktualisasikan dalam karya pentas kolosal dengan kekhasan masing-masing Kabupaten/Kota sebagaimana tampak saat pembukaan PKB ke-48. Dua tahun lagi genap 50 Tahun PKB. Ada baiknya lounching buku setengah abad PKB. Jika, 35 tahun silam sudah ada kesadaran dokumentasi PKB yang dikerjakan secara manual, sudah seyogyanya saat 50 Tahun PKB, dokumentasi tampil lebih variatif secara diversifikasi. Salam Budaya. Mari berpesta ke PKB! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

Next Post

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co