21 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 21, 2026
in Esai
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Ilustrasi tatkala.co | Foto-foto dari berbagai sumber

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat khas Jembrana yang belakangan populer disebut “Negaroa”, plesetan dari Negara, ibu kota Kabupaten Jembrana, Bali.

Di media sosial, Mamed tidak perlu tampil sebagai orang paling tampan, paling pintar, atau paling kaya. Ia cukup menjadi dirinya sendiri. Dengan bahasa sehari-hari, dengan logat kampung yang kadang dianggap lucu oleh orang luar, ia berhasil menarik perhatian ribuan bahkan jutaan pasang mata. Menjadi anak Negaroa ternyata bukan kelemahan. Justru itulah kekuatannya.

Awalnya ia hanya membuat video-video sederhana yang merekam keseharian masyarakat Jembrana. Tidak ada studio mewah atau peralatan mahal. Hanya kreativitas, keberanian tampil, dan kemampuan menangkap kelucuan hidup sehari-hari. Dari situlah namanya mulai dikenal luas.

Namun Mamed bukan lagi satu-satunya. Setelah Mamed Wedanta membuka jalan, ruang digital Jembrana perlahan semakin ramai. Muncul I Ketut Citos yang bersama istrinya menghadirkan konten-konten tentang kehidupan keluarga sehari-hari. Dengan gaya sederhana dan dekat dengan realitas masyarakat, mereka menunjukkan bahwa cerita tentang rumah tangga biasa pun dapat menarik perhatian banyak orang.

Berikutnya hadir Kakk Aaull yang dikenal dengan ungkapan khasnya, “Wayah Pesa!” Sebuah ekspresi yang sangat akrab di telinga masyarakat Jembrana dan lazim digunakan untuk mengungkapkan rasa kagum atau kekagetan. Melalui konten-kontennya, ungkapan lokal itu menemukan kehidupan baru di ruang digital dan menjadi bagian dari identitas yang mudah dikenali.

Di jalur humor, ada pula Pak Rete yang menghadirkan kelucuan-kelucuan khas masyarakat akar rumput. Karakter dan gaya bercandanya merepresentasikan kehidupan sehari-hari warga Jembrana yang egaliter, santai, dan apa adanya.

Kemudian muncul Ni Putu Panti Raiasih yang menghadirkan warna berbeda. Melalui konten-kontennya, ia menunjukkan bahwa ruang digital tidak hanya milik laki-laki, tetapi juga menjadi tempat bagi perempuan Jembrana untuk berbagi cerita, pengalaman, dan sudut pandang tentang kehidupan sehari-hari.

Tidak kalah menarik adalah kehadiran sejumlah kreator digital Muslim dari kawasan Loloan dan sekitarnya. Mereka memperkenalkan kehidupan masyarakat Bugis-Melayu Jembrana kepada khalayak yang lebih luas. Melalui konten-konten mereka, publik dapat melihat tradisi, bahasa, kuliner, hingga kehidupan sosial masyarakat Loloan yang selama ini mungkin kurang dikenal oleh masyarakat di luar Jembrana.

Mereka hadir dengan gaya dan tema yang berbeda-beda. Ada yang mengandalkan humor, ada yang mengangkat kehidupan keluarga, ada yang memperkenalkan budaya lokal, dan ada yang berbagi cerita tentang kehidupan masyarakatnya. Namun semuanya memiliki satu kesamaan. Mereka bercerita tentang Jembrana dari dalam.

Mereka bukan orang luar yang datang lalu membuat dokumenter singkat. Mereka adalah bagian dari cerita itu sendiri. Fenomena ini menarik karena menunjukkan perubahan besar dalam cara sebuah daerah memperkenalkan dirinya.

Dulu, promosi daerah identik dengan baliho, brosur, dan iklan resmi pemerintah. Hari ini, sebuah video berdurasi satu menit dapat menjangkau lebih banyak orang dibandingkan seribu lembar brosur yang dibagikan dalam sebuah pameran.

Orang mengenal suatu tempat bukan lagi pertama-tama dari buku panduan wisata. Mereka mengenalnya dari media sosial. Dari video pendek. Dari unggahan yang muncul di beranda telepon genggam mereka.

Dan ketika berbicara tentang Jembrana, para kreator digital lokal memiliki keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun. Mereka memahami denyut kehidupan masyarakatnya. Mereka tahu bagaimana orang Jembrana bercanda, bagaimana logat Negaroa terdenga, bagaimana suasana pasar tradisional pada pagi hari., atau kehidupan nelayan di Pengambengan, petani di Mendoyo, atau masyarakat Muslim di Loloan.

Mereka tidak sedang menjual pemandangan semata. Mereka sedang menjual cerita. Padahal cerita adalah aset paling berharga yang dimiliki sebuah daerah.

Jembrana selama ini sering berada di pinggir percakapan tentang Bali. Ketika orang membicarakan Bali, yang muncul biasanya Kuta, Ubud, Sanur, atau Nusa Dua. Jembrana sering hanya menjadi daerah yang dilewati dalam perjalanan menuju Gilimanuk.

Padahal kabupaten paling barat Pulau Bali ini menyimpan begitu banyak kekayaan budaya dan sejarah. Ada Makepung yang telah mendunia. Ada tradisi masyarakat Bugis-Melayu Loloan yang unik. Ada pantai, pegunungan, hutan, dan kampung-kampung tua yang menyimpan banyak kisah. Semua itu membutuhkan pencerita. Dan hari ini, para kreator digital adalah pencerita-pencerita baru itu.

Mereka membawa kamera ke mana-mana sebagaimana wartawan membawa buku catatan, merekam hal-hal yang sering luput dari perhatian. Mereka mengubah sesuatu yang biasa menjadi menarik.

Barangkali ada satu hal yang membuat saya lebih betah menyaksikan konten para kreator digital lokal dibandingkan konten-konten yang diproduksi para politikus atau pejabat. Saya melihat kejujuran dan kepolosan di sana. Saya melihat manusia-manusia biasa yang sedang menjadi dirinya sendiri.

Mamed tidak sedang berkampanye. I Ketut Citos tidak sedang mengejar jabatan. Kakk Aaull tidak sedang membangun citra politik. Pak Rete tidak sedang meminta suara. Ni Putu Panti Raiasih  tidak sedang mencari panggung kekuasaan. Para kreator Muslim dari Loloan pun tidak sedang menawarkan agenda politik tertentu. Mereka membuat konten karena ingin berbagi cerita, berbagi tawa, atau sekadar mendokumentasikan keseharian yang mereka anggap menarik.

Karena itu ada kesegaran yang sulit ditemukan dalam banyak konten politik hari ini. Ruang digital kita belakangan dipenuhi citra yang serba sempurna. Politikus yang mendadak akrab dengan rakyat. Pejabat yang setiap aktivitasnya direkam kamera. Program-program yang dikemas sedemikian rupa hingga kadang lebih mirip iklan daripada kenyataan. Semuanya tampak rapi dan sempurna. Namun justru karena terlalu sempurna, sering kali terasa jauh dari kehidupan yang sesungguhnya.

Kita hidup di zaman ketika pencitraan telah menjadi industri. Ketika kamera tidak lagi sekadar merekam kenyataan, melainkan menciptakan kenyataan yang ingin ditampilkan. Ketika senyum, pelukan, kunjungan ke pasar, bahkan secangkir kopi dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi politik.

Dalam situasi seperti itu, publik perlahan kehilangan kepercayaan. Terlalu banyak pertunjukan, slogan, dan narasi yang dipoles sedemikian rupa demi melanggengkan kekuasaan.

Di tengah suasana itulah para kreator digital lokal menghadirkan sesuatu yang berbeda. Mereka tidak selalu tampil sempurna. Kadang gambarnya goyang, suaranya kurang jelas, dan kadang leluconnya receh. Tetapi justru di sanalah letak daya tariknya.

Mereka tidak sedang berusaha terlihat hebat, mereka hanya menjadi diri sendiri. Dan saya kira itulah sebabnya banyak orang merasa dekat dengan mereka.

Sebab manusia pada dasarnya merindukan keaslian. Merindukan cerita yang tidak dibuat-buat, dan tawa yang lahir secara spontan. Bukan hasil rapat tim kreatif atau hasil arahan konsultan politik.

Melalui konten-konten sederhana itu, para kreator digital sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menghibur. Mereka sedang mendokumentasikan identitas. Logat Negaroa yang dahulu mungkin dianggap kampungan kini menjadi kebanggaan.

Ungkapan “Wayah Pesa!” menjadi penanda khas yang dikenal banyak orang. Kehidupan masyarakat Loloan yang dulu hanya dikenal warga setempat kini dapat disaksikan orang dari berbagai daerah. Kehangatan keluarga sederhana yang ditampilkan I Ketut Citos menjadi cermin kehidupan banyak orang.

Tradisi, bahasa, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat Jembrana perlahan terekam dalam arsip digital yang bisa diakses siapa saja. Mungkin mereka tidak menyadarinya. Tetapi apa yang mereka lakukan hari ini akan menjadi jejak budaya bagi generasi berikutnya.

Karena itu saya percaya, masa depan citra Jembrana tidak hanya berada di tangan pemerintah, pelaku pariwisata, atau media massa. Sebagian masa depan itu kini berada di tangan para kreator digital yang setiap hari merekam, mengunggah, dan membagikan cerita tentang tanah kelahirannya.

Mereka adalah duta budaya tanpa seragam, promotor daerah tanpa baliho, dan pencerita yang bekerja tanpa podium. Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh politik, konflik, serta pencitraan yang kadang berlebihan demi melanggengkan kekuasaan, kehadiran mereka terasa seperti angin segar. Mereka tidak menawarkan kekuasaan. Mereka menawarkan kehadiran. Mereka tidak meminta dukungan. Mereka hanya mengajak kita tersenyum.

Dan mungkin, di zaman yang penuh kegaduhan ini, itulah alasan mengapa saya merasa Jembrana layak dititipkan kepada mereka. Kepada para kreator digital yang dengan segala kesederhanaannya terus bercerita tentang kampung halaman. Kepada anak-anak muda yang memilih merekam daripada mengeluh. Kepada mereka yang membuat dunia mengenal Jembrana bukan melalui slogan, melainkan melalui cerita. Sebab sebuah daerah pada akhirnya tidak hidup oleh baliho-baliho besar. Ia hidup oleh cerita yang terus diceritakan. Dan hari ini, cerita itu sedang ditulis ulang oleh para kreator digital Jembrana. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: jembranakreator kontenmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KLAKSON

Next Post

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails
Next Post
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026
KLAKSON
Esai

KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

by Hartanto
June 20, 2026
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

by Chusmeru
June 20, 2026
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan
Ulas Pentas

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co