12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. Kak nu cenik ugen to sing baange pesu. Kak nengil jumah gen. Ugen to rames sajan munyin bedile.”

Terjemahan: “Disinilah Bapak I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya menginap. Di rumah warga sebelah timur juga ada. Kakek tidak tahu pasti, karena pasukan itu datang malam. Jika pagi, mereka sedikit di rumah. Mereka pergi malam dan datang malam. Kakek masih kecil saat itu, sehingga diam di rumah. Tetapi, suara tembakan itu terus saja terdengar.”

Suaranya parau, serak dan bergetar, namun terdengar sangat jelas. Kakek itu menceritakan masa kecilnya, ketika pasukan yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai itu datang ke kampung halamannya, di Banjar Ole, hingga cerita itu diakhiri suara gong. Suara suling pegambuhan kemudian mengalun, lalu diikuti keluarnya enam penari berbusana nuansa putih yang bergerak pelan dengan karakter kuat, serta ekspresi yang lebih hidup.

Itulah tanda dimulainya teater tari berjudul “Marga Saksi Kemardikan” yang disajikan oleh Sanggar Buratwangi berkolaborasi dengan Perguruan Pencak Silat Merpati Putih Banjar Ole serta didukung Komunitas Tanpa Kata dan Amrita Studio sebagai duta Desa Marga Dauh Puri di Marga Fest II di Wantilan TPB Margarana, Kecamatan Marga – Tabanan, Selasa 2 Juni 2026 malam. Garapan seni ini tampak sederhana, namun tidak kosong. Pesannya tegas, simbol dan pendidikan juga terasa kental.  

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

  

Garapan seni ini didukung sekitar 30 anak-anak muda yang tidak semuanya memiliki dasar seni tari. Kisahnya dimulai dari berita pada tanggal 15 Agustus 1945, melalui siaran radio. Saat itu, Kaisar Hirohito mengumumkan bahwa Jepang menerima syarat-syarat penyerahan diri kepada Sekutu, menandai berakhirnya keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II.

Pada tanggal 2 September 1945, di atas kapal perang USS Missouri yang berlabuh di Teluk Tokyo, Jepang secara resmi menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu.

Di Nusantara, atas nama rakyat Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu, tidak ada kekuatan apa pun yang berhak merampas kemerdekaan tersebut. Dari tangan rakyat Indonesia, segala bentuk penjajahan harus enyah dari bumi pertiwi.

Pada awal tahun 1946, NICA kembali memasuki Bali dengan membonceng pasukan Sekutu yang bertugas menerima penyerahan dan melucuti tentara Jepang.

Namun, pada tanggal 2 Maret 1946, pasukan “Gajah Merah” telah menyebar ke berbagai wilayah Bali. Kedatangan mereka bukan semata-mata untuk melucuti tentara Jepang, melainkan untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda atas Pulau Bali.

Hingga pada bulan November 1946, tibalah I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara di Desa Marga. Di sanalah perjuangan mencapai puncaknya, ketika semangat kemerdekaan dipertaruhkan dalam pertempuran yang kelak dikenang sebagai Puputan Margarana.

Padukan unsur dramatik dan koreografi gerak

Amrita Dharma yang bertindak sebagai sutradara mengkemas pertunjukan seni ini dalam bentuk teater tari yang memadukan unsur dramatik dan koreografi gerak. Dalam mewujudkan karya yang kreatif itu, ia dibantu oleh Mahija Sena dan Arya Krisna sebagai koreografer serta Made Manipuspaka yang dipercaya sebagai komposer.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Garapan didominasi oleh ragam gerak silat yang menjadi identitas utama karya, sekaligus merepresentasikan semangat perjuangan para pejuang pada masa tersebut. Pemilihan unsur silat didasarkan pada peristiwa historis pementasan Silat Tengklung yang berlangsung selama beberapa hari ketika pasukan I Gusti Ngurah Rai bermarkas di Banjar Ole, Desa Marga.

“Kami tetap menyajikan pengolahan gerak yang berpijak pada tradisi, karena kami ingin menyajikan pertunjukan seni yang berupaya menghadirkan kembali suasana, semangat kebersamaan, serta euforia perjuangan yang pernah hidup di tengah masyarakat Banjar Ole. Walaupun pada saat itu, I Gusti Ngurah Rai sudah mengetahui bahwa dirinya sudah dikepung Belanda,” kata Amrita Dharma.

Salah satu aspek yang menjadi fokus utama dalam pertunjukan ini adalah, sutradara yang terinspirasi dari cerita yang kerap didengarnya sejak kecil dari sang kakek, I Nyoman Mongol. Ceriya mengenai rumah keluarga mereka yang pernah digunakan sebagai markas pasukan perjuangan I Gusti Ngurah Rai. Pengalaman mendengar kisah tersebut menumbuhkan ketertarikannya untuk mengangkat kembali fragmen sejarah perjuangan tersebut ke dalam bentuk pertunjukan teater tari. Mengangkat kisah perjuangan I Gusti Ngurah Rai juga lahir dari ide Perbekel Desa Marga Dauh Puri, I Wayan Wiryanata.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Amrita Dharma menegasan, pertunjukan seni ini lebih pada menonjolkan euforia para pejuang melalui adegan pementasan silat tengklung setelah berhasil merebut senjata dari tangsi NICA di Kota Tabanan. Namun, keberhasilan tersebut ternyata memicu kemarahan pihak NICA yang kemudian melancarkan serangan ke markas I Gusti Ngurah Rai yang sudah bergerak ke Subak Umakaang. Bentrokan pun tak terhindarkan dan berkembang menjadi pertempuran sengit yang akhirnya bermuara pada semangat puputan sebagai simbol perjuangan tanpa menyerah demi mempertahankan tanah Bali.

Dalam teater tari itu, Amrita Dharma yang juga seorang filmmaker, memasukan pembacaan kutipan dari Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai yang disisipkan di tengah alur pementasan menjadi salah satu momen penting dalam pertunjukan itu. Kehadiran pembacaan surat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penguat narasi sejarah, tetapi juga menjadi representasi semangat perjuangan, keberanian, dan keteguhan sikap yang dimiliki oleh I Gusti Ngurah Rai dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Melalui pembacaan teks, penonton diajak untuk merasakan kembali suasana perjuangan pada masa revolusi fisik di Bali serta memahami nilai-nilai patriotisme yang terkandung dalam pesan yang disampaikan oleh sang pahlawan. “Pembacaan Surat Sakti ini menjadi salah satu bagian penting yang menghubungkan unsur dramatik pertunjukan dengan fakta sejarah yang melatarbelakangi peristiwa perjuangan di Desa Marga,” ungkapnya.

Didukung pemain dengan tiga latar berbeda

“Marga Saksi Kemardikan” menjadi sebuah garapan teater tari yang mampu meleburkan gerak tari dan akting teater secara harmonis, sehingga pesan cerita tersampaikan dengan emosional dan visual yang memukau. Garapan ini didukung oleh pemain dengan latar berbeda, seperti berlatar penari, pemain permainan tradisional dan pencak silat. Namun, konsepnya kuat dan dieksekusi secara matang di atas panggung. Gerak tari yang disajikan bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa tubuh yang mengekspresikan dialog batin dan emosi tokoh. Konsep dan struktur cerita memiliki alur, penguasaan ruang dan pola lantai serta kemampuan para pemain untuk menghidupkan karakter melalui ekspresi dan penghayatan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Di sini, Amrita Dharma meramu semuanya menjadi sebuah garapan seni yang tidak memaksakan semua pemain menjadi penari, tetapi menemukan potensi gerak yang mereka miliki. Tari dan pencak silat sama-sama berangkat dari tubuh sebagai media ekspresi. Itu yang menjadi kunci utamanya. “Artinya, dalam garapan ini bukan menyamakan kemampuan semua pemain, melainkan menemukan bahasa gerak bersama,” jelasnya.

Gerak silat diolah dengan pendekatan koreografi, sementara pemain yang tidak memiliki dasar tari diarahkan pada kesadaran tubuh dan perannya masing-masing. Dengan demikian, setiap orang tetap dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya, dan keberagaman latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan yang memperkaya bentuk pertunjukan. “Ini memang menjadi tantangan kami,” lanjutnya.

Amrita Dharma lalu menegaskan, melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa semangat perjuangan tidak hanya tercermin dalam pertempuran, tetapi juga dalam keberanian, kebersamaan, dan keteguhan menjaga nilai-nilai yang diyakini. Kisah heroik I Gusti Ngurah Rai yang dipadukan dengan pengembangan gerak Silat Tengklung menjadi pengingat bahwa sejarah hidup melalui ingatan, budaya, dan karya seni, sekaligus mengajak generasi masa kini untuk meneladani semangat pantang menyerah, cinta tanah air, dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan.

Tetap hidup dengan iringan musik MIDI

Meskipun menggunakan iringan musik MIDI yang cenderung mekanis karena menggunakan data digital berbasis computer, namun teater tari Marga Saksi Kemardikan tetap terlihat hidup. Alat music terdengar minimalis, namun komosisinya mampu menghidupkan suasana di setiap adegan. Musik MIDI yang menggunakan rekaman suara (sampling) itu, tetap dapat merespons penari atau ritme panggung secara seketika, karena komposer juga memainkan sungu ataupun tawa-tawa untuk memberi variasi secara natural.

“Saya menggunakan alat music itu berdasarkan feeling aja, mungkin juga dengan pengalaman mendengar dari instrument-instrumen tersebut, sehingga ketika saya membaca naskahnya, saya langsung membayangkan instrumen tersebut bermain di otak saya,” ujar Manipuspaka.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Kejelian seorang komposer juga dituntut saat pembacaan narasai di dalam sebuah adegan. Untuk menjadikan fokus penonton pada narasi, ia menciptakan musik dengan memperhalus bunyian instrumen, sehingga tidak mengalihkan fokus penonton. “Di sini, saya membuat musik sebagai layer untuk narasi, sehingga penonton bisa membayangkan atau berada didalam narasi tersebut,” lanjutnya.

Hampir sepanjang durasi, musikal instrumen yang digunakan itu instrumen autentik. Misal dalam pementasan tengklung, menggunakan kajar/tawa-tawa, kecek, kempur/gong. “Di situ juga, seharusnya ada musik kendang, tetapi instrumen kendang saya gantikan dengan salah satu bagian dari drum set, yaitu floor, cymbal serta tambahan instrumen jimbe,” sambungnya.

“Saya memilih instrumen tersebut, karena di dalam adegan 2, pada saat melucuti persenjataan itu terkesan heroik, namun bahagia karena berhasil mencuri senjata dari Tangsi NICA. Maka saya menambahkan instrumen floor dan cymbal agar terkesan heroik, jimbe dengan ritmis yang dinamis. Begitu juga saat adegan 3, saat mengadakan pementasan tengklung, sebelum akhirnya berperang,” terangnya.

Lalu, untuk instrumen yang bermelodi, ia mengunakan sample suling gambuh yang ditransfer ke laptop. Melalui MIDI itu ia membuat melodi dengan suara suling gambuh. “Selain suling gambuh, saya juga menambahkan instrumen string lainnya, seperti violin, cello, dan contrabass, dan instrumen brass, seperti french horn agar terkesan heroik peperangan di bagian akhir. Di sini saya bermain musik MIDI, melalui laptop, dan saya menambahkan efek-efek digital untuk mempertebal suasana di setiap adegan,” bebernya.

Memang tidak mudah. Ketika dipercaya menggarap music iringan teater tari tersebut, Made Manipuspaka awalnya cukup panik, karena deadline yang sangat singkat dan durasi pementasan yang cukup panjang. Namun, ia tetap menggarap yang diawali dengan mewujudkan secara struktur terlebih dahulu. Selanjutnya, setelah masih ada sisa waktu ia baru menambahkan hiasan-hiasan instrumen lainnya, sesuai dengan penokohan dalam setiap adegan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

“Yang pasti, saya mesti memahami struktur pementasannya terlebih dahulu. Caranya, dengan membaca naskah dari setiap adegan, setelah itu menginterpretasikan suasana dari setiap adegan tersebut, lalu memilih instrument-instrumen yang akan digunakan,” ucapnya.

Jadwal pentas yang gasar-geser

Meski persembahan “Marga Saksi Kemardikan” merupakan Duta Desa Marga Dauh Puri itu mendapat apresiasi diakhir pertunjukannya, namun wajah-wajah para pendukung teater tari itu hanya tersenyum semu. Semangat dan nafas mereka seakan dihentikan oleh jadwal pentas yang gasar-geser. Semula, dijadwalkan tampil setelah sambutan dan pembukaan Marga Fest II oleh Bupati Tabanan, sekitar pukul 20.45 Wita. Namun, menjelang pentas ternyata menjadi urutan terakhir, setelah penampilan Barong Bangkung dan Barong Keta atau sekitar pukul 21.55 Wita.

Padahal didalam jadwal itu tertulis, penampilan Barong Bangkung itu sebelum pembukaan oleh Marga Fest II oleh Bupati, sekitar pukul 19.45 Wita. Di dalam jadwal itu juga tidak disebutkan adanya penampilan Barong Ket, sehingga penampilan teater tari Marga Saksi Kemardikan itu molor dengan waktu yang lebih panjang. Ini sebagai insiden yang dapat mengganggu konsentrasi para pemain. Kekacauan waktu, juga terjadi saat gladi bersih pada Minggu, 31 Mei 2026. Duta Desa Marga Dauh Puri dijadwalkan mendapat giliran gladi pukul 21.00 Wita, setelah Desa Geluntung, Desa Tua dan Desa Marga. Namun, ketika duta seni ini akan gladi, ternyata waktunya masih digunakan oleh duta sebelumnya, sehingga baru mendapat giliran sekitar pukul 23.20 Wita. Pada saat gladi juga tidak ada MC yang mengatur pasti. Maka wajar, pelaksanaan gladi terkesan kacau. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriI Gusti Ngurah RaiMarga FestMargaranaTeaterteater tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Next Post

Sihir Tiga Kode Huruf

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Sihir Tiga Kode Huruf

Sihir Tiga Kode Huruf

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co