PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini dikemas dengan konsep yang lebih mengalir, di mana seluruh kontingen diharapkan terus bergerak sepanjang lintasan pawai tanpa berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan.
Pola tersebut diterapkan untuk menjaga kelancaran arus pawai sekaligus memberikan pengalaman yang lebih merata bagi penonton di sepanjang rute. Dengan demikian, seluruh sajian seni dapat dinikmati secara optimal tanpa menimbulkan antrean panjang maupun penumpukan peserta di satu titik.
“Tahun ini PKB XLVIII mengusung tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha. Karena itu, materi yang ditampilkan dalam Peed Aya diharapkan selaras dengan tema tersebut. Masing-masing kabupaten/kota akan menampilkan garapan tari kreasi baru, karya berbasis tradisi dan kearifan lokal, serta atraksi tematik yang merefleksikan semangat tema PKB tahun ini,” ujar Kurator PKB, Prof. I Made Bandem, saat rapat persiapan bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, dan Prof. I Wayan Dibia, Jumat 5 Juni 2026.
Selama beberapa minggu terakhir tim kurator telah melakukan pendampingan langsung ke seluruh kabupaten/kota untuk memastikan konsep tersebut dapat diterapkan secara optimal. Para pembina dan penggarap juga diminta menyesuaikan pola penyajian agar tetap menarik disaksikan tanpa menghambat jalannya pawai.
Materi wajib yang harus ditampilkan setiap peserta meliputi pembawa papan nama daerah, pasangan Jegeg Bagus, barisan penyaji tari garapan baru sekitar 60 orang sesuai tema Atma Kerthi, barisan uperengga sekitar 20 orang, serta tari garapan tematik masing-masing daerah.

Peed Aya diawali dari persembahan Pemerintah Provinsi Bali yang akan menampilkan Tari Siwa Nataraja sebagai simbol PKB dengan atraksi tematik Maha Merdangga Kalpa. Selanjutnya iring-iringan akan dimulai dari Bali Barat, yakni Kabupaten Jembrana yang menghadirkan Tari Cepaka Putih, Tari Makepung Massal dan atraksi Bima Swarga.
Kabupaten Karangasem membawakan Tari Rerejangan Tiang Sanga, Daratan Jempana serta Atma Prasangsa. Kabupaten Buleleng menampilkan Tari Kembang Deeng, Baris Suramurti dan Jaratkaru. Kabupaten Bangli menghadirkan Tari Kreasi Tajen Cocongan, Baris Tumbak, Baris Kepet, Baris Mabuang, Rejang Teruna dan atraksi Japatuan. Kabupaten Klungkung menampilkan Damar Kurung, Barong Nongkling dan Dalem Bungkut.
Kabupaten Tabanan membawakan Jayaning Singasana, Barong Bangkal Massal dan Kunti Sraya. Kabupaten Gianyar menampilkan Tari Kreasi Rarejangan, Tari Bebarisan dan Maya Denawa Pengenter. Kabupaten Badung menghadirkan Tamyang Cakra Byuha, Sasmita Surud Ayu dan Dewa Ruci. Sedangkan Kota Denpasar membawakan Tari Palegongan Kreasi, Ritus Sanghyang serta atraksi Sapuh Leger (Kama dan Kala).
“Kami sudah berdiskusi dengan seluruh penggarap di masing-masing daerah. Mereka, kami minta mengambil bagian-bagian puncak dari cerita atau materi yang dibawakan, sehingga dapat tetap ditampilkan sambil bergerak, berjalan. Pawai akan menjadi lebih hidup dan tidak menimbulkan antrean panjang,” papar Prof. Bandem meyakinkan.
Peed Aya benar-benar dikemas sebagai pertunjukan seni berjalan. Tak seperti sebelumnya, masih banyak kontingen yang berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan menampilkan adegan, fragmen dengan cerita secara lengkap. Hal itu, mirip pertunjukan seni di atas panggung. Pola ini menyebabkan antrean panjang peserta, dan jalannya pawai menjadi tersendat dan durasi keseluruhan kegiatan sering melebihi waktu yang telah ditentukan.
“Kami, tim kurator telah turun langsung ke seluruh kabupaten/kota sejak beberapa minggu terakhir. Kami memberikan arahan kepada para pembina dan penggarap agar menyesuaikan konsep garapan, sehingga menjadi tetap menarik ditonton meski ditampilkan sambil berjalan sepanjang lintasan pawai,” ujar budayawan asal Singapadu, Gianyar itu.
Para penggarap diingatkan untuk tidak perlu menampilkan materi secara utuh, seperti sebuah pementasan di panggung. Para penggarap diminta memilih bagian-bagian paling menarik atau bagian puncak dari cerita, sehingga pesan yang ingin disampaikan tetap tersampaikan tanpa membuat rombongan terlalu lama berhenti.
Selama turun ke lapangan, Tim Kurator masih menemukan kontingen yang melampaui batas waktu yang ditentukan panitia. Padahal durasi ideal yang diberikan sekitar 15 menit untuk setiap peserta. “Waktu ideal yang kami tetapkan sekitar 15 menit. Namun sering kali ada yang tampil sampai 18 menit, bahkan lebih. Tahun ini, kami berupaya agar durasi lebih terkendali sehingga seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang seimbang,” tegas Prof. Bandem.
Hal senada juga dikatakan Prof. Dibia, yang menyebutkan perubahan konsep Peed Aya tersebut telah diterapkan sejak tahap latihan. Jika sebelumnya banyak peserta berlatih dengan pola pertunjukan yang dilakukan di satu tempat, tahun ini latihan lebih diarahkan pada pola bergerak sesuai kondisi sebenarnya saat pawai berlangsung. “Prosesi yang ditampilkan akan lebih realistis karena sejak latihan sudah menggunakan pola bergerak di lapangan,” ucapnya.
Tim kurator juga menganjurkan untuk tidak menggunakan dalang maupun dialog panjang yang berpotensi membuat rombongan berhenti terlalu lama. Narasi tetap diperbolehkan sebagai pengantar, namun tidak sampai menghambat jalannya pawai. “Dengan begitu, harapannya pawai ini benar-benar menjadi pertunjukan berjalan, bukan pertunjukan yang berhenti lama di satu titik,” sebutnya.
Jika konsep tersebut dilakukan dengan tertib dan sungguh-sungguh, maka Peed Aya 2026 dapat tampil lebih dinamis dan mengalir. Penonton tetap dapat menikmati esensi cerita, garapan tari baru, tradisi maupun atraksi tematik dari masing-masing daerah tanpa mengurangi kelancaran keseluruhan jalannya pawai.
Panitia juga menyiapkan area penonton tambahan di sisi barat Lapangan Niti Mandala Renon sebagai upaua mengurai kepadatan di depan panggung kehormatan. Di area tersebut juga akan ditampilkan pertunjukan jegog, sehingga sebaran penonton lebih merata. Peed Aya akan dimulai dari simpang Jalan Ir. Juanda dan Jalan Puputan, melewati depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, kemudian bergerak ke arah utara dan berakhir di depan Kantor Kementerian Keuangan Wilayah Bali.
Perkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian
Perubahan konsep Peed Aya tersebut menjadi salah satu pembenahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Bali menjelang pembukaan PKB pada 13 Juni mendatang. Selain penataan pawai, panitia juga memperkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian yang terlibat.
Kadis Alit Suryana mengatakan, persoalan administrasi masih menjadi kendala yang kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni. Tidak sedikit kelompok yang sebenarnya telah siap mendapatkan dukungan pemerintah, namun pencairan dan proses fasilitasi terkendala karena dokumen yang belum lengkap.
“Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disbud Bali akan menerapkan pola pendampingan lebih awal. Kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada tahun berikutnya akan diminta mulai menyiapkan dokumen sejak dini agar proses administrasi berjalan lebih lancar,” paparnya.
Dinas Kebudayaan sudah bisa memetakan kelompok-kelompok yang kemungkinan akan tampil pada tahun berikutnya. “Karena itu, sejak awal kami akan meminta kelengkapan dokumen sehingga ketika proses fasilitasi dimulai semuanya sudah siap. Ini bagian dari inovasi pelayanan kami kepada para seniman dan pekerja budaya,” akunya. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole






























