6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 6, 2026
in Puisi
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

Angga Wijaya

DOA UNTUK TETANGGA

Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hati
mengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetangga
diberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yang
suka berkumpul; bergosip, membicarakan
orang lain tanpa ampun.Semua hal diurusi,
seakan hidup orang menjadi urusan mereka.

Pekerjaan dan rezeki yang lancar membuat semua
bahagia. Tidak ada lagi yang perlu merasa bersaing,
dengki, dan iri hati. Hidup di kos-kosan memang berwarna.
Diam, cuek, dan masa bodoh kukira dulu baik. Ternyata
dengan itu aku dianggap sombong. Terlalu ramah dan
banyak bicara, pun tidak luput dari kemungkinan
digosipkan. Jadi, kupikir lebih baik mengambil
jalan tengah; tidak terlalu cuek sekaligus tidak terlalu ramah.

Harga tanah dan rumah yang mahal, membuat kos-kosan
menjadi pilihan banyak orang. Kos, dari ratusan ribu hingga
jutaan rupiah tersedia. Hidup di kamar dengan budaya dan
perilaku berbeda, orang-orang yang datang dari segala
penjuru tanah air. Bahkan turis pun mencari pekerjaan
di Pulau Dewata. Bali telah berubah!

Perubahan demografi, ya, ya! Banyak orang tidak siap
dengan itu. Polemik, diskusi, bahkan debat kusir kita
lihat di media sosial. Api dalam sekam. Apalagi jika
isu primordial terus dijadikan headline media online,
dan branding politikus, itu amatlah berbahaya.
Konflik terbuka bisa terjadi kapan saja.

Di beranda kos, aku mengamati Bali yang berbeda.
Dalam kajian ilmu sosial, gosip dikatakan sebagai
alat kontrol sosial. Mungkin benar; tapi kontrol
seperti apa jika kebiasaan mencampuri orang lain
kini dianggap biasa?

Lidah tak bertulang, memang. Jangan lupa, gosip
bisa menjadi racun sosial! Omongan bisa menjalar
kemana-mana, hingga mereka yang diomongkan
menjadi sakit hati; lahirlah konflik; adu mulut
bahkan adu fisik. Tetangga yang dikenal dekat
bisa bermusuhan. Lalu pindah kos, dan di tempat
kos baru menemukan ‘racun’ yang sama: gosip!

Maka itu aku mendoakan para tetangga kos agar
rezekinya lancar. Sehingga gosip akan berkurang.
Sebab perut telah kenyang dan kantong terisi.
Jika pun masih ada yang suka bergosip; ya,
memang mereka buruk. Tidak perlu aku ladeni
lebih jauh. Tutup pintu, dan hidupkan lagu,
namanya juga kos-kosan!

2026

KEPADA BUKU HARIAN

Sebuah buku kutemukan terjatuh di jalan, rupanya itu sebuah buku harian. Aku membacanya perlahan, isinya membuat hatiku bersedih. Buku itu tanpa nama, namun agaknya dari kata-kata dan kalimatnya yang tertata rapi dan mengalir baik; ia ditulis oleh seorang penulis berbakat.

Siapa dia? Aku ingin sekali bertemu dan berbincang dengan pemilik buku harian itu. Memeluknya dalam diam, menguatkan hatinya, mengajaknya berbicara tentang hal-hal yang membahagiakan. Agar ia tak larut dalam kesedihannya.

Ditemani kopi (dan mungkin sedikit rokok), di kafe pinggir pantai yang terletak di timur kota. Bisakah aku menemukan alamat tempat tinggal penulis itu? Aku masih mencari petunjuk dan identitasnya pada lembar-lembar buku harian itu. Semoga aku menemukannya.

2026

DINI HARI UNTUK JENGKI

Apa sebenarnya yang kau rasakan?
Kesetiaan hewan melebihi manusia,
yang malu disebut binatang.
Manusia, bisa jadi malaikat sekaligus
iblis, dalam waktu bersamaan.
Terlihat religius, tapi juga jahat.

Mungkin ada baiknya kita lebih percaya
pada hewan. Seperti kekasih suka memelihara
kucing, anjing, bahkan gajah. Kebun binatang
telah pindah ke lidah orang-orang; kata-kata
terucap tanpa berpikir dulu—ibarat memakan
bangkai saudara sendiri. Gosip menikam kita.

Kucingku pergi, setelah makan dan bercengkrama
denganku. Mungkin begitu juga dengan anjing-anjingmu.
Setia menjagamu, di rumah mungil tempatmu bertapa.

Tak perlu memikirkan apakah nanti kita menikah atau tidak.
Perceraian jadi hal lumrah, sebab pernikahan hanyalah
selembar kertas tak bermakna. Cinta telah mati oleh ego.
Janji tinggallah janji—omong kosong di atas kitab.

Nanti aku ingin ngopi bersamamu. Aku berpikir soal
kata ‘Kediri’ yang engkau sampaikan. ‘Kembali ke diri’.
Guru kita sampaikan itu. Sumur kebijaksanaan abadi.

2026

TUKANG POS

Ia berkeliling membawa surat,
surat yang berisikan berita sedih
juga gembira. Ia tak peduli dengan
isi surat yang ia bawa. Tugasnya
hanya mengantarkan surat-surat.

Tukang pos itu bernama Tuhan.
Ia hanyalah saksi kesedihan
dan kegembiraan yang kita rasakan.

2024-2026

CANGGU, SELEPAS HUJAN

Jarak tempuh jauh, pernah aku mengeluh soal itu.
Kau lalu bercerita tentang ratusan orang memadati
stasiun di kotamu. Berdesak-desakan setiap hari;
berangkat pagi dan pulang malam hari. Setiap hari.

Itu yang membuatmu betah di pulau ini. Bekerja
dengan tantangan dan suasana berlainan.
Tidak pulang lagi, karena masa lalu. Luka batin
masih terasa, walau telah terjadi lama sekali.

Di parkiran, aku mendengar lagu-lagu lama diputar.
Tentang hujan di bulan November. Kegamangan
yang juga kurasakan saat malam tidak bisa tidur.

Semangat dan cinta membuat kita bertahan.
Tahun depan, kita berencana menikah.
Tak ada lagi keraguan di hati ini. Sungguh.

2025-2026

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

Next Post

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co