24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 23, 2026
in Esai
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi

DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang, perahu-perahu nelayan bersandar di bibir pantai, dan aroma garam bercampur dengan dupa dari beberapa pura di pesisir. Orang datang ke Serangan bukan untuk melihat proyek besar, melainkan untuk sembahyang, melaut, atau sekadar menikmati jeda dari hiruk-pikuk kota Denpasar.

Di pulau kecil itu berdiri Pura Sakenan, salah satu pura penting dalam sejarah spiritual Bali yang berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha. Dahulu, perjalanan menuju pura ini harus ditempuh dengan jukung, perahu kecil dari kayu, ketika air pasang. Ada rasa teduh dan kesunyian spiritual yang menjadi bagian dari pengalaman religius masyarakat Bali.

Namun zaman berubah. Pada era Orde Baru, reklamasi besar-besaran mengubah wajah Serangan. Pulau kecil itu diperluas berkali-kali lipat melalui proyek reklamasi yang dikelola PT Bali Turtle Island Development. Laut ditimbun, garis pantai berubah, dan ruang hidup masyarakat mulai bergeser.

Modernisasi datang membawa janji kesejahteraan. Tetapi seperti banyak kisah pembangunan di Bali, janji itu tidak pernah datang tanpa harga.

Reklamasi dan Hilangnya Ruang Kehidupan

Reklamasi selalu berbicara atas nama masa depan. Kata-kata seperti investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kawasan strategis menjadi bahasa utama. Tetapi jarang ada yang sungguh-sungguh mendengar bahasa laut, mangrove, nelayan, dan pura.

Pulau Serangan perlahan berubah menjadi ruang ekonomi baru. Sebagian masyarakat memang memperoleh peluang usaha, akses jalan membaik, dan infrastruktur berkembang. Namun di sisi lain, banyak nelayan mengeluhkan perubahan arus laut dan berkurangnya ruang tangkap ikan.

Mangrove yang dahulu menjadi pelindung alami pesisir mulai terdesak pembangunan. Padahal mangrove bukan sekadar pohon rawa. Ia adalah penahan abrasi, rumah biota laut, penyaring alami, bahkan pelindung Bali dari ancaman gelombang besar.

Yang sering terlupakan, perubahan ruang fisik juga mengubah ruang batin masyarakat. Bali bukan hanya pulau wisata. Ia adalah ruang simbolik tempat manusia, alam, dan spiritualitas saling terkait. Ketika pantai berubah menjadi properti, ketika laut dipadatkan demi proyek, maka sebenarnya ada sesuatu yang perlahan retak dalam kesadaran budaya Bali sendiri.

Beberapa pura kecil dan kawasan suci di sekitar Serangan ikut mengalami tekanan perubahan ruang. Jalur upacara berubah, akses tradisional bergeser, dan sebagian masyarakat merasa hubungan sakral antara pura dan laut tidak lagi sama seperti dahulu.

Ketika Politik Mulai Memasuki Laut

Polemik baru kembali menguat ketika DPRD Bali membentuk Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP). Investigasi pansus terhadap proyek BTID membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun seolah tertutup oleh narasi investasi dan pembangunan.

Sidang, inspeksi mendadak, dan perdebatan tentang mangrove serta tukar guling lahan menjadi konsumsi publik. Media sosial dipenuhi opini. Media massa mulai terbelah dalam framing masing-masing. Ada yang melihat pansus sebagai penyelamat lingkungan Bali, ada pula yang menganggap langkah itu mengganggu iklim investasi.

Di sinilah Serangan tidak lagi sekadar nama pulau. Ia menjadi simbol perebutan makna tentang Bali.

Sebagian elit politik tampil keras membela lingkungan dan adat. Sebagian lain berbicara tentang pentingnya kepastian hukum bagi investor. Semua terdengar masuk akal dari sudut masing-masing.

Namun masyarakat kecil sering tetap berada di titik yang sama: menonton perdebatan besar sambil memikirkan harga kebutuhan hidup, biaya sekolah, dan masa depan anak-anak mereka. Juga masalah banjir, kemacetan, sampah, bunuh diri, kriminalitas dan masalah  lainnya yang belum juga terselesaikan.

Ironisnya, Bali yang menghasilkan kekayaan besar dari pariwisata justru menghadapi paradoks sosial yang semakin nyata. Harga tanah melonjak, ruang hidup menyempit, dan generasi muda lokal makin sulit membeli tanah di daerahnya sendiri.

Bali Modern dan Krisis Kesadaran

Kasus Serangan sebenarnya bukan sekadar soal legalitas proyek atau konflik tata ruang. Ia memperlihatkan krisis yang lebih dalam: Bali modern sedang mengalami benturan antara pertumbuhan ekonomi dan kesadaran ekologis-spiritual.

Bali selama ini dikenal dunia karena filosofi harmoni. Tri Hita Karana sering dipromosikan dalam seminar internasional dan branding pariwisata. Tetapi dalam praktiknya, harmoni itu sering kalah oleh logika pasar. Tri Hita Karana malah dalam tataran praktis menjadi Tri Kita Bencana: Banjir, Macet, Sampah, karena tidak selarasnya kita dengan alam.

Alam mulai dihitung terutama sebagai aset ekonomi. Pantai menjadi komoditas visual. Kesunyian menjadi produk wisata. Bahkan spiritualitas kadang ikut dipaketkan menjadi industri pengalaman.

Padahal Bali dahulu memiliki batas-batas moral yang dijaga adat dan kesadaran kolektif. Tidak semua tempat bisa disentuh. Tidak semua ruang bisa diperdagangkan. Ada rasa malu spiritual ketika manusia terlalu rakus terhadap alam.

Kini batas itu semakin kabur.

Serangan menjadi cermin kecil dari kegelisahan besar Bali. Ketika mangrove diperdebatkan hanya sebagai angka hektare, ketika laut dilihat terutama sebagai peluang bisnis, dan ketika pura terhimpit pembangunan modern, maka yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, melainkan arah peradaban Bali itu sendiri.

Serangan Zaman yang Sesungguhnya

Pulau Serangan hari ini memang sedang berada dalam “serangan zaman”. Tetapi serangan itu sesungguhnya bukan hanya datang dari investor, proyek besar, atau elit politik.

Serangan terbesar mungkin datang dari cara berpikir manusia modern yang semakin kehilangan kemampuan merasa cukup.

Pembangunan sering dianggap identik dengan beton, reklamasi, dan ekspansi ekonomi. Padahal sebuah peradaban bisa runtuh bukan karena kekurangan pembangunan, tetapi karena kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan.

Mungkin Bali tetap membutuhkan investasi. Mungkin pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: pembangunan untuk siapa, dan sampai batas mana?

Karena bila laut rusak, mangrove hilang, ruang spiritual menyempit, dan masyarakat lokal makin tersingkir dari tanahnya sendiri, maka Bali perlahan hanya akan menjadi panggung indah tanpa jiwa.

Dan ketika itu terjadi, Serangan bukan lagi sekadar nama sebuah pulau kecil di selatan Bali. Ia menjadi simbol tentang bagaimana sebuah masyarakat perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah arus besar zaman. [T]

Tags: balipulau serangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Next Post

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co