24 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 23, 2026
in Esai
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi

DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang, perahu-perahu nelayan bersandar di bibir pantai, dan aroma garam bercampur dengan dupa dari beberapa pura di pesisir. Orang datang ke Serangan bukan untuk melihat proyek besar, melainkan untuk sembahyang, melaut, atau sekadar menikmati jeda dari hiruk-pikuk kota Denpasar.

Di pulau kecil itu berdiri Pura Sakenan, salah satu pura penting dalam sejarah spiritual Bali yang berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha. Dahulu, perjalanan menuju pura ini harus ditempuh dengan jukung, perahu kecil dari kayu, ketika air pasang. Ada rasa teduh dan kesunyian spiritual yang menjadi bagian dari pengalaman religius masyarakat Bali.

Namun zaman berubah. Pada era Orde Baru, reklamasi besar-besaran mengubah wajah Serangan. Pulau kecil itu diperluas berkali-kali lipat melalui proyek reklamasi yang dikelola PT Bali Turtle Island Development. Laut ditimbun, garis pantai berubah, dan ruang hidup masyarakat mulai bergeser.

Modernisasi datang membawa janji kesejahteraan. Tetapi seperti banyak kisah pembangunan di Bali, janji itu tidak pernah datang tanpa harga.

Reklamasi dan Hilangnya Ruang Kehidupan

Reklamasi selalu berbicara atas nama masa depan. Kata-kata seperti investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kawasan strategis menjadi bahasa utama. Tetapi jarang ada yang sungguh-sungguh mendengar bahasa laut, mangrove, nelayan, dan pura.

Pulau Serangan perlahan berubah menjadi ruang ekonomi baru. Sebagian masyarakat memang memperoleh peluang usaha, akses jalan membaik, dan infrastruktur berkembang. Namun di sisi lain, banyak nelayan mengeluhkan perubahan arus laut dan berkurangnya ruang tangkap ikan.

Mangrove yang dahulu menjadi pelindung alami pesisir mulai terdesak pembangunan. Padahal mangrove bukan sekadar pohon rawa. Ia adalah penahan abrasi, rumah biota laut, penyaring alami, bahkan pelindung Bali dari ancaman gelombang besar.

Yang sering terlupakan, perubahan ruang fisik juga mengubah ruang batin masyarakat. Bali bukan hanya pulau wisata. Ia adalah ruang simbolik tempat manusia, alam, dan spiritualitas saling terkait. Ketika pantai berubah menjadi properti, ketika laut dipadatkan demi proyek, maka sebenarnya ada sesuatu yang perlahan retak dalam kesadaran budaya Bali sendiri.

Beberapa pura kecil dan kawasan suci di sekitar Serangan ikut mengalami tekanan perubahan ruang. Jalur upacara berubah, akses tradisional bergeser, dan sebagian masyarakat merasa hubungan sakral antara pura dan laut tidak lagi sama seperti dahulu.

Ketika Politik Mulai Memasuki Laut

Polemik baru kembali menguat ketika DPRD Bali membentuk Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP). Investigasi pansus terhadap proyek BTID membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun seolah tertutup oleh narasi investasi dan pembangunan.

Sidang, inspeksi mendadak, dan perdebatan tentang mangrove serta tukar guling lahan menjadi konsumsi publik. Media sosial dipenuhi opini. Media massa mulai terbelah dalam framing masing-masing. Ada yang melihat pansus sebagai penyelamat lingkungan Bali, ada pula yang menganggap langkah itu mengganggu iklim investasi.

Di sinilah Serangan tidak lagi sekadar nama pulau. Ia menjadi simbol perebutan makna tentang Bali.

Sebagian elit politik tampil keras membela lingkungan dan adat. Sebagian lain berbicara tentang pentingnya kepastian hukum bagi investor. Semua terdengar masuk akal dari sudut masing-masing.

Namun masyarakat kecil sering tetap berada di titik yang sama: menonton perdebatan besar sambil memikirkan harga kebutuhan hidup, biaya sekolah, dan masa depan anak-anak mereka. Juga masalah banjir, kemacetan, sampah, bunuh diri, kriminalitas dan masalah  lainnya yang belum juga terselesaikan.

Ironisnya, Bali yang menghasilkan kekayaan besar dari pariwisata justru menghadapi paradoks sosial yang semakin nyata. Harga tanah melonjak, ruang hidup menyempit, dan generasi muda lokal makin sulit membeli tanah di daerahnya sendiri.

Bali Modern dan Krisis Kesadaran

Kasus Serangan sebenarnya bukan sekadar soal legalitas proyek atau konflik tata ruang. Ia memperlihatkan krisis yang lebih dalam: Bali modern sedang mengalami benturan antara pertumbuhan ekonomi dan kesadaran ekologis-spiritual.

Bali selama ini dikenal dunia karena filosofi harmoni. Tri Hita Karana sering dipromosikan dalam seminar internasional dan branding pariwisata. Tetapi dalam praktiknya, harmoni itu sering kalah oleh logika pasar. Tri Hita Karana malah dalam tataran praktis menjadi Tri Kita Bencana: Banjir, Macet, Sampah, karena tidak selarasnya kita dengan alam.

Alam mulai dihitung terutama sebagai aset ekonomi. Pantai menjadi komoditas visual. Kesunyian menjadi produk wisata. Bahkan spiritualitas kadang ikut dipaketkan menjadi industri pengalaman.

Padahal Bali dahulu memiliki batas-batas moral yang dijaga adat dan kesadaran kolektif. Tidak semua tempat bisa disentuh. Tidak semua ruang bisa diperdagangkan. Ada rasa malu spiritual ketika manusia terlalu rakus terhadap alam.

Kini batas itu semakin kabur.

Serangan menjadi cermin kecil dari kegelisahan besar Bali. Ketika mangrove diperdebatkan hanya sebagai angka hektare, ketika laut dilihat terutama sebagai peluang bisnis, dan ketika pura terhimpit pembangunan modern, maka yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, melainkan arah peradaban Bali itu sendiri.

Serangan Zaman yang Sesungguhnya

Pulau Serangan hari ini memang sedang berada dalam “serangan zaman”. Tetapi serangan itu sesungguhnya bukan hanya datang dari investor, proyek besar, atau elit politik.

Serangan terbesar mungkin datang dari cara berpikir manusia modern yang semakin kehilangan kemampuan merasa cukup.

Pembangunan sering dianggap identik dengan beton, reklamasi, dan ekspansi ekonomi. Padahal sebuah peradaban bisa runtuh bukan karena kekurangan pembangunan, tetapi karena kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan.

Mungkin Bali tetap membutuhkan investasi. Mungkin pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: pembangunan untuk siapa, dan sampai batas mana?

Karena bila laut rusak, mangrove hilang, ruang spiritual menyempit, dan masyarakat lokal makin tersingkir dari tanahnya sendiri, maka Bali perlahan hanya akan menjadi panggung indah tanpa jiwa.

Dan ketika itu terjadi, Serangan bukan lagi sekadar nama sebuah pulau kecil di selatan Bali. Ia menjadi simbol tentang bagaimana sebuah masyarakat perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah arus besar zaman. [T]

Tags: balipulau serangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Next Post

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails
Next Post
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026
Olahraga

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya...

by Julio Saputra
May 23, 2026
Oleh-Oleh dari Baduy Luar
Tualang

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co