19 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
in Panggung
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.”

Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai mementaskan Legong Kembang Ura di Wantilan Pura Desa, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar. Kamis malam, 14 Mei 2026.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari agenda hiburan dalam rangkaian piodalan di Pura Desa, Guwang. Selama tiga hari berturut-turut, berbagai pertunjukan seni dan budaya digelar di wantilan pura.

Malam itu, penonton disuguhi beragam tari Bali yang akrab di mata masyarakat, seperti Selat Segara, Jauk Manis, Cendrawasih, Teruna Jaya, Gopala, Margapati, Merak Angelo, hingga Legong Masatya. Namun di antara deretan tarian tersebut, satu pertunjukan paling menyita perhatian adalah Legong Kembang Ura. Bukan semata karena statusnya sebagai tari kreasi baru, melainkan karena untuk pertama kalinya tarian itu dipentaskan di Desa Guwang.

Sorot lampu panggung menimpa wajah-wajah penari yang tampil dengan ekspresi datar khas Legong Kembang Ura. Gerak mereka pelan, tegas, dan sesekali patah-patah dalam pola yang tidak biasa bagi penonton. Di beberapa bagian, tubuh penari bergerak dengan teknik “ngengsog” yang sengaja didiamkan sejenak, menciptakan kesan tegas sekaligus dramatik. Suasana wantilan pun terasa khusyuk ketika para penari mulai memasuki bagian inti tarian. Mata penonton mengikuti setiap detail gerak tangan, kepala, dan sorot mata para penari muda itu.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Salah satu penonton malam itu, Wayan Sentur (bukan nama sebenarnya), mengaku sempat salah menduga ketika pertama kali melihat para penari memasuki panggung.

“Saya kira itu bukan tari legong, karena pakaiannya seperti sisya di calonarang. Tapi tarian itu sangat menarik, berbeda dari tari Bali populer lainnya,” ujarnya.

Komentar itu menggambarkan kesan pertama banyak penonton malam itu. Legong Kembang Ura memang tampil berbeda. Tata busananya tidak menghadirkan kemewahan yang lazim ditemukan dalam tari Bali populer. Nuansa vintage dengan warna-warna kusam justru mendominasi, dipadukan dengan hiasan kepala penuh bunga yang memberi kesan klasik bagi sebagian penonton.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Bagi Mas Ayu Rasitha dan rekan-rekannya, malam itu bukan sekadar pementasan. Itu adalah hasil dari proses panjang yang dimulai sejak Desember lalu.

“Kami belajar hanya dari YouTube dengan menonton berkali-kali,” ujar Rasitha.

Tanpa pelatih yang mendampingi secara langsung, mereka mempelajari tarian itu secara mandiri, bagian demi bagian. Dari pepeson, pengawak, hingga pengecet dipelajari perlahan. Awalnya sambil duduk, hanya fokus pada gerakan kepala, tangan, dan badan. Setelah mulai hafal pola gerak, latihan dilanjutkan dengan berdiri untuk mempelajari gerakan kaki. Tahap terakhir justru menjadi bagian paling sulit, yaitu ekspresi.

“Belajar ekspresi adalah bagian paling lama dipelajari. Karena inilah kali pertama menari dengan ekspresi datar. Bahkan napas terengah-engah pun harus tetap ditahan agar tak terlihat,” kata Rasitha.

Tantangan itu terasa semakin berat karena mereka hanya belajar lewat layar ponsel. Tidak ada kesempatan melihat langsung detail teknik atau mendapatkan koreksi secara langsung dari penciptanya. Rasitha pun mengakui ada beberapa bagian gerakan yang mungkin tidak sepenuhnya sama seperti versi asli yang mereka lihat di YouTube.

“Tak dipungkiri pula pasti ada beberapa detail gerakan yang tidak sama seperti di YouTube, karena keterbatasan dalam proses belajar hanya lewat layar ponsel,” ungkapnya.

Kendati demikian, justru di situlah letak semangat mereka. Ada keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dipentaskan di Guwang sebelumnya. Ada rasa penasaran terhadap bentuk gerak yang unik dan berbeda dari tarian yang biasa mereka bawakan.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Legong Kembang Ura sendiri merupakan tari kreasi baru karya koreografer muda berbakat, Putu Parama Kesawa. Tarian ini menghadirkan nuansa yang tidak lazim dalam pertunjukan legong modern. Ada polesan vintage pada kostum, ekspresi nyebeng (cemberut) seperti potret penari era kolonial, bentuk gerak legong kuno, hingga penggunaan teknik gerak tertentu yang sengaja diperlambat untuk membangun karakter tarian.

Mengutip laman BASABaliWiki, Legong Kembang Ura merupakan karya tari baru yang mengambil esensi dari ‘kembang ura’ dalam tari Topeng Sidakarya. Dalam tradisi itu, kembang ura menjadi simbol kedermawanan dan medana-dana atau bersedekah. Maknanya berkaitan dengan kasih sayang kepada seluruh semesta agar kesejahteraan terus terjalin dan terjaga dengan baik. Nilai itu pula yang dilekatkan pada sosok Ida Dalem Sidakarya, figur yang dikenal memiliki kasih sayang tak terbatas kepada umatnya.

Dalam pertunjukan Topeng Sidakarya, masyarakat kerap melihat penaburan bunga, pis bolong, dan beras sebagai simbol kesejahteraan. Menurut Kesawa, esensi itulah yang diterjemahkan kembali ke dalam bentuk Legong Kembang Ura.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Namun seperti karya-karya baru lainnya, Legong Kembang Ura juga memunculkan beragam tanggapan di awal kemunculannya.

Made Agus Wardana alias Bli Ciaaattt, dalam ulasannya di Tatkala.co, menilai ada beberapa bagian yang kurang pas di hatinya.

“Penggunaan kostum kurang menarik terutama di bagian kepala bertaburan bunga yang sangat berlebihan seperti penari gandrung. Warna kostum tampak kusam bergaya vintage berasa sisya calonarang. Kalau vintage dengan warna kostum legong kuno barangkali pas dilihat,” tulisnya.

Wardana juga menyinggung soal penggambaran makna “ura” yang menurutnya belum terlalu terlihat dalam gerak tari.

“Dalam pikiran saya, ura berasal dari maura (bertaburan) dalam arti positif yaitu taburan bunga yang mensejahterakan. Dalam konteks cerita ini, wujud taburan berupa bunga, pis bolong dan beras tidak nampak jelas dalam gerak, padahal Dalem Sidakarya adalah figur kuat dalam sinopsis yang diceritakan,” tulisnya lagi.

Bli Ciaaattt dalam tulisannya juga memberikan apresiasi tinggi terhadap penataan tabuh karya I Made Andita. Menurutnya, komposisi musik dalam tari ini menghadirkan nuansa romantik dengan sentuhan ngumbang-isep yang kuat dalam setiap gerakan. Melodi dan strukturnya mengingatkan pada gending palegongan klasik.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Kembali lagi ke pementasan di Guwang. Malam itu, semua kritik, tafsir, dan diskusi tentang estetika seolah melebur menjadi satu pengalaman baru bagi para penari muda yang sedang belajar melampaui batasnya sendiri. Mereka mungkin belum sempurna. Beberapa detail gerak mungkin berbeda dari versi aslinya. Tetapi keberanian mereka membawa Legong Kembang Ura ke panggung desa untuk pertama kalinya justru menghadirkan energi yang terasa segar.

Malam itu, Legong Kembang Ura bukan hanya hadir sebagai tontonan baru di Guwang. Ia menjadi cerita tentang anak-anak muda Guwang yang belajar dari layar ponsel, menafsir ulang, lalu menyajikannya di panggung desa mereka sendiri.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Tags: Desa Guwangkesenian balilegongLegong Kembang Ura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Next Post

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails
Next Post
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali
Budaya

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026
Panggung

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026
‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co