13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Cindy May Siagian by Cindy May Siagian
April 19, 2026
in Esai
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Foto Sapardi Djoko Damono dan Puisi Hatiku Selembar Daun

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan problematika yang terjadi. Selain itu, karya sastra digunakan juga sebagai media menyampaikan kritik sosial, budaya, dan hal-hal yang melingkupi masyarakat.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwa karya sastra adalah hasil sastra baik berupa puisi, prosa, maupun lakon.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya tulis yang dihasilkan melalui kreativitas seseorang yang memiliki kepentingan atau tujuan si penulis.

Salah satu jenis karya sastra yang dimiliki oleh Indonesia adalah puisi. Hudhana menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang memiliki ciri khas pada bahasanya. Bahasa pada puisi mengandung estetika yang tinggi dan membutuhkan penafsiran yang mendalam untuk memahami isinya.

Secara berkala para penyair akan menciptakan puisi-puisi yang sesuai dengan aliran kesukaan mereka. Sebagai penulis puisi, saya meningkatkan pemahaman dengan membaca karya para penyair besar Indonesia. Salah satu puisi yang membuat saya jatuh cinta adalah puisi berjudul “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi Djoko Damono.

Mengapa saya jatuh cinta? Karena saya tertarik terhadap cara beliau memainkan kata-kata,  “kenapa Pak Sapardi menggunakan kata-kata yang menipu? Ini bukan makna yang sebenarnya?” Itu yang saya katakan setelah selesai membaca puisinya.

Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap disapa dengan SDD, seorang sastrawan era 1970-an kelahiran Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia anak sulung dari pasangan suami-istri Sadyoko dan Saparian. Sapardi dan orang tuanya tinggal di Desa Ngadijayan, Jawa Tengah. Ia hidup hingga usia 80 tahun. Tepat pada 19 Juli 2020, sang sastrawan kebanggaan Indonesia tersebut meninggal dunia.

Apa yang Terjadi pada Puisi “Hatiku Selembar Daun”?

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu se
tiap pagi.


1. Memuat Kata Sederhana, tetapi Menyembunyikan Makna

Setiap kata sederhana pada puisi “Hatiku Selembar Daun”, berfungsi untuk mempermanis isi puisi, tetapi tidaklah mudah memahami isi puisinya jika hanya mengandalkan pemahaman dari arti kata-kata sederhana yang tertuang.

Sebenarnya setiap kata sederhana yang termuat di puisinya sangat familier dengan kehidupan sehari-hari, seperti kata “hatiku”, “selembar daun”, dan “melayang”. Selain kata-kata sederhana, Sapardi juga menggunakan gaya bahasa. Sang sastrawan pandai untuk mengajak para pembacanya melalui permainan kata supaya mereka berpikir untuk memaknai setiap kata yang ada.

2. Memuat Makna Majas Tersirat dalam Teks Tersurat

Salah satu unsur pembangun puisi adalah gaya bahasa (majas). Sapardi menggunakan majas pada puisinya sehingga harus dimaknai secara tersirat. Majas personifikasi diwujudkan melalui judul puisi “Hatiku Selembar Daun”. Tergolong majas personifikasi karena menganalogikan atau mempersamakan antara manusia dan benda mati. Dicerminkan lewat kata “hati” yang dimiliki manusia dan “daun” berupa benda mati.

Kutipan puisi “hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput” memuat majas hiperbola karena bersifat berlebihan. Jika berpikir secara logika, hati manusia tidak boleh dikatakan selembar daun karena setiap daun yang ada pasti berbeda-beda. Lalu, tidak masuk akal jika merujuk pada selembar daun yang tidak dideskripsikan lebih jelas.

Pernyataan “hati melayang jatuh di rumput” juga agaknya berlebihan dan tidak dapat diterima logika. Majas metafora pada kutipan “nanti dulu biar aku sejenak terbaring di sini, ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;                                   sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.” Kalimat yang tertera tergolong gaya bahasa metafora karena mewakilkan maksud lain penulis dengan perbandingan yang implisit dan juga tanpa menggunakan kata penghubung.

Berdasarkan penggunaan majas ini, Sapardi menuntun para pembaca supaya tidak memaknai puisinya hanya berdasarkan kata yang tersurat. Pembaca didorong untuk berpikir secara kreatif. Kemudian, mereka dituntun untuk memaknai puisinya dengan makna tersirat melalui penghayatan yang diwujudkan lewat efek kiasan.

3. Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Bukan Makna Sebenarnya

Puisi “Hatiku Selembar Daun” memiliki dua jenis kata, yakni kata sederhana dan kata yang menggunakan gaya bahasa. Artinya bahwa kata-kata yang tertuang dalam puisi atau yang tersurat tidak dapat dimaknai hanya mengandalkan artian dari yang tersurat saja, tetapi harus dimaknai lagi dengan memikirkan apa makna yang tersirat pada kata-kata yang memuat majas.

Setelah dibantu dalam proses memakna setiap kata yang ada, saya menguraikan bahwa puisi Sapardi ini memiliki makna dengan tema ketuhanan. Puisi ini mencerminkan proses menuju kematian yang dibumbui penyesalan dan masih berharap untuk tetap hidup. Penulis merepresentasikan seseorang yang ingin memperbaiki perbuatan-perbuatannya sebelum meninggal. Selanjutnya, puisi ini menunjukkan bahwa hidup sering kali dilalui tanpa sadar akan pentingnya setiap momen kecil saat memperoleh kehidupan.

Puisi  Ini Bukan Hanya Sekadar Kata

Secara keseluruhan, puisi ini memberikan pelajaran yang dapat menjadi sebuah pengingat, yaitu bahwa setiap orang harus menghargai waktu, momen kecil yang tak disadari di didunia,  dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik supaya kelak tidak menyesal di saat ajal mendekat. Jika menerapkan ajaran ini, orang-orang dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan lebih tenang.

Misalnya, menghargai setiap momen kecil karena semua kejadian besar berawal dari momen kecil. Mengabaikan momen kecil dapat memicu peristiwa besar yang berdampak buruk. Selain itu, penyesalan dapat menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan berdamai dengan perubahan.

Artinya pada saat kita mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan yang kita pikirkan, jangan langsung menganggap itu akhir dari segalanya. Sebaliknya, cobalah tenang dan terima keadaan supaya tidak meratapi diri lagi.

Referensi

Hura, D., Giawa, P. (2024). Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5 (3), 3342-3347.

Repository Syekhnurjati. Diakses pada 17 April 2026, dari https://repository.syekhnurjati.ac.id/5572/3/BAB II.pdf

Repository Stkippacitan. Diakses pada 20 April 2026, dari https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1395/4Bab 2_Elly Nur Hayati_PBSI – Elly Nurhayati.pdf

Tags: PuisiSapardi Djoko Damono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Next Post

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Cindy May Siagian

Cindy May Siagian

Seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa karyanya telah dimuat di sejumlah media. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co